Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
45


__ADS_3

Aku harus pergi dari tempat ini, aku tidak mau mati sia-sia tanpa mendapatkan apa-apa. Aku tidak mau usahaku tanpa ada pencapaian, gerundel Katra di sela kebingungannya mencari jalan keluar.


Sedangkan Kanilaras dan Ananda tanpa bersiap ingin melawan Raja Gendra yang telah berubah menjadi dua wujud, meski bingung dengan perubahan wujud Raja Gendra mereka berdua tidak peduli.


“Kau siap melawannya?” tanya Kanilaras kepada Ananda—pemuda yang dia kenal sebagai keponakan ayahnya.


“Hmm,” gumam Ananda sambil mengangguk cepat.


“Baiklah, kita pertaruhkan nyawa kita demi ketenteraman dan kelangsungan hidup manusia,” kata Kanilaras yang telah menarik pedang bulan dari sarungnya dan gadis berambut panjang tersebut telah bersiap.


Ananda melihat Kanilaras telah mengambil posisi segera menyerang dari arah samping kiri, sedangkan Kanilaras memperkuat kuda-kuda untuk melawan serangan dari Raja Gendra. Namun, sayang usaha dua manusia tersebut tidak mendapatkan hasil yang bagus.


Serangan yang mereka rasa kuat nyatanya hanya sentilan semut bagi Raja Gendra, terlebih serangan Ananda. Raja Gendra rasa pukulan yang diberikan Ananda tidak lebih belaian seorang wanita yang tengah merayu, sungguh tidak membantu sekali.


Di pertarungan ini Katra berlari ke dalam goa, yang ada di dalam pikiran pria itu cuma cara menyelamatkan dirinya dari Raja Gendra dan juga Kanilaras. Dia tahu betul bagaimana kemurkaan Kanilaras, jika gadis itu mengetahui bahwa seluruh keluarganya yang mati kala pertarungan malam naas itu diakibatkan olehnya.


“Biadab! Kenapa aku selalu kalah satu langkah dengan iblis itu? Dan ... kenapa bisa dia berubah sekuat itu? Tidak mungkin karena amarah saja dia bisa sekuat itu,” gumam Katra yang menyayangkan posisinya saat ini.


Katra masih menyusuri goa sambil terus mencari tempat membuka jalan lain dari perut goa yang gelap ini. Saat kaki pria itu melangkah lebih dalam ke perut goa, telinganya menangkap suara erangan sangat lirih. Tentu saja Katra berhenti dan menolehkan kepalanya ke belakang demi memastikan siapa yang berada di belakangnya.

__ADS_1


Netra pria itu masih menatap tajam setiap jengkal goa ini, meski gelap dia dapat tahu siapa yang bersembunyi di area perut goa tersebut. Berkali-kali dia memastikan, tapi bola matanya tidak menangkap sosok manusia ataupun binatang yang mengusiknya.


Sekian lama berdiam akhirnya Katra kembali bergerak maju untuk keluar dari goa ini, dia bisa saja menggunakan kekuatannya untuk berpindah tempat sekejap mata. Namun, dia lebih menghemat tenaga demi kelangsungan rencananya yang telah dia rancang sejak bertahun-tahun lalu.


"Akan kupastikan dunia ini menjadi milikku," ucap Katra seraya menempelkan telapak tangannya di dinding goa.


Di luar goa, Kanilaras dan juga Ananda masih sibuk melawan, biarpun tubuh mereka dipenuhi luka dan meski tenaga mereka terkuras habis. Demi keadaan yang membaik Kanilaras menggunakan ajian sukmo penghancur, tetapi sebelum dia siap menggunakan ajian tersebut dia melayang mendekati Ananda dan berbisik lirih.


“Lindungi aku sekuat tenagamu! Aku akan menggunakan ajian pamungkasku.” Sambil berbisik gadis itu melawan Raja Gendra, tetapi pria iblis tersebut tertawa mengejek lawannya bertarung.


Tubuh Kanilaras dan Ananda terhempas ke sembarang arah, pukulan kecil saja mampu membuat dua insan itu terkulai tidak berdaya.


Kanilaras mendudukkan dirinya, dengan tubuh yang terhuyung gadis itu melakukan ajian sukmo penghancur.


Kanilaras berteriak sekuat tenaga dan tubuhnya melayang memancarkan cahaya biru muda dengan mulut yang mengangah menyedot raga Raja Gendra. Awalnya tubuh pria iblis tersebut bergerak sedikit, tetapi seper detik kemudian Raja Gendra menghentakkan kaki kirinya di tanah lantas sedotan ajian sukmo penghancur tidak berguna.


Tawanya yang terbahak-bahak terdengar menggelegar, lantas dia memutar tangannya dan mengarahkan ajian tapak mustika ke arah Kanilaras. Beruntung gadis yang menggunakan Maxi dress tersebut dapat menghindarinya. Jika tidak, hancurlah tubuh Kanilaras seperti pohon yang terkena ajian tersebut.


Apa yang harus aku lakukan Sang Hyang Widi? Haruskan aku menyerah? Kasihan manusia yang tidak bersalah di bumi ini jika berhadapan dengan manusia biadab seperti Gendra. Kanilaras berdiri di atas dahan sambil memperhatikan Raja Gendra.

__ADS_1


Awalnya gadis itu tidak mengerti jika Raja Gendra telah bersatu dengan Ratu Kegelapan yakni Arimbi. Sekian lama memperhatikan ujung kepala Raja Gendra, barulah dia memahami dua jiwa persatuan itu.


Dulu semua pendekar mempertanyakan wujud Arimbi yang dikira hanya legenda dan yang membuat tercengang adalah jiwa wanita iblis itu selalu abadi meski telah dihancurkan berkali-kali. Dalam kesempatan ini, Kanilaras dapat mengetahui kesaktian Arimbi yang tidak pernah dilihat wujudnya.


Pikiran dan hati Kanilaras seakan tidak seimbang saat melihat fenomenal aneh ini, jiwa Arimbi bisa menyatu dengan jiwa dan raga Raja Gendra yang notabene-nya masih hidup di bumi ini.


Sejak kapan mereka menjadi satu? Bagaimana caranya aku melenyapkan mereka berdua? Cara membangkitkan jiwa pedang naga saja aku masih kurang paham dan aku tidak mau mengorbankan 77 gadis hanya untuk menggugah gairah iblis pedagang naga, gerutu Kanilaras dengan mata melebar melihat Raja Gendra yang masih sembunyi di balik pohon beringin yang begitu besar.


“Bibi Kanilaras, tolong ...!” teriak Ananda yang menjadi bulan-bulanan Raja Gendra.


“Berteriak 'lah! Sudah lama aku tidak melihat wajah ketakutan manusia. Ayo, memohon demi kehidupanmu!” sahut Raja Gendra memerintah.


“Ini tidak bisa dibiarkan,” tekad Kanilaras seraya berjalan santai sambil menyeret pedang bulan yang membuat garis yang cukup dalam.


“Kau datang lagi? Apa kau pikir bisa mengalahkan ku? Ha-ha-ha ....” Raja Gendra terus-terusan mengejek Kanilaras dan Ananda.


Seakan dialah penguasa muka bumi ini dan dia merasa cuma dia manusia terkuat di alam semesta. Dia benar-benar manusia laknat yang lupa akan pencipta muka bumi dan segala isinya, buka lupa! Raja Gendra memang sengaja melupakan sang pencipta sesungguhnya.


“Kemari bocah tengil!” hinanya sembari bergelantungan di akar pohon beringin.

__ADS_1


Suara teriakan Kanilaras memekakkan telinga dan kedua tangannya yang menggenggam erat pedang bulan terangkat ke atas. Diayunkan pedang tersebut ke berbagai arah dan sesekali kakinya bergerak maju menendang, tapi tendangannya tidak bisa mengenai tubuh Raja Gendra; jangankan tubuhnya bulu kakinya saja tidak bergoyang terkena embusan tendangan Kanilaras.


Lantas bagaimana Kanilaras bisa memusnahkan iblis itu dari muka bumi ini?


__ADS_2