Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
30


__ADS_3

Perlahan tapi pasti Kanilaras mendekat dan melihat pedang bulannya berputar-putar di atas tubuh Kendrick yang tengah terbaring di ranjang tempat tidur yang berukuran besar. Gadis itu benar-benar terkejut melihat fenomenal ini, pasalnya selama dia membawa pedang bulan. Belum pernah sekalipun dia melihat pedang bulan begitu agresif bergerak. Ditambah lagi pusakanya tersebut bergerak melayang dengan ujung pedang yang menghunus dada Kendrick.


Akal sehatnya menentang peristiwa yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Namun, kesadarannya membuat hati gadis itu berkata-kata dan menerka siapa Kendrick sesungguhnya.


"Aku yakin, kamu bukan orang sembarangan." Masih menatap inten tubuh Kendrick yang memancarkan cahaya kemuning.


Ketika Kanilaras hendak meraih pedangnya, tiba-tiba saja dia mendengar suara yang sangat familier di telinganya.


"Akhirnya kau menemukan keberadaan ku, cah ayu. Sudah lama aku menunggu kedatanganmu, Mendekat 'lan cah ayu!"


Suara bariton yang sangat familier di telinga gadis itu, dia sangat tercengang akan hal ini.


Segenap keberaniannya, dia bertanya.


"Siapa Anda sebenarnya? Dan apa yang membuat Anda menunggu kedatanganku di sini? Apa Anda yang membawa kami ke tempat ini?"


"Akulah jiwa dari pedang bulan dan anak ini titisan dari keturunan Naga Balawan. Kau harus berterima kasih pada manusia serakah kekuasaan itu!" ungkap belahan pedang bulan yang bersemayam berpuluh-puluh tahun lamanya di raga Kendrick Adinata.


"Manusia serakah?" Ulangnya dengan kening yang berkerut membuat kedua alisnya hampir menyatu.


Pedang bulan masih berputar seperti tadi dan jiwa pedang naga masih tersegel di dalam raga lelaki yang memiliki 4 karakter tersebut. Selain mengalami trauma berat yang membuat Kendrick mengidap penyakit DID, dia juga harus menyeimbangkan diri dari hawa napsu yang sering bergejolak kala melihat darah yang menetes dari lawan jenisnya.


Bukan titisan drakula, melainkan efek dari pedang naga yang tersimpan di tubuhnya yang membuat pria itu ingin membunuh lantas meminum darah tersebut.


Mengerikan, tentu saja. Sejarah pedang naga yang di hancur leburkan oleh Empu Brawaseta dan pertapa itu mengutuk semua keturunan Naga Balawan. Setiap anak laki-laki akan menggantikan posisi kakek buyut mereka yang menyebabkan kekacauan berabad-abad lamanya.


Kebetulan sekali, Kendrick terlahir dari rahim seorang wanita yang masih keturunan Naga Balawan yang ke 7 dan kelahirannya bertepatan dengan bulan purnama separuh persis seperti malam ini. Pada jam 1 malam, Kendrick Adinata terlahir dengan menggenggam sebuah benda kecil yang berukir nama pedang naga tersebut.


Sungguh tidak masuk akal. Namun, ini benar-benar terjadi. Dalam ruangan itu Kanilaras masih berbincang serius dengan jiwa pedang yang selama ini dia cari dan sewaktu suara itu memberitahu cara menariknya keluar Kanilaras menolak. Dia tidak dapat menyetujui apa yang dilontarkan oleh suara tersebut.


"Aku tidak mau melakukan hal itu. Aku akan berusaha mencari jalan lain selain melakukan hal yang tidak masuk akal tersebut," tolak Kanilaras dengan suara lantang, sehingga pria yang semula terlelap terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


Bangunnya Kendrick membuat pedang bulan kehilangan keseimbangan, lantas pedang itu jatuh. Sedetik saja Kanilaras telat menangkap pedang bulan, mungkin Kendrick akan tertidur untuk selama-lamanya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kendrick dengan suara parau.


"A-aku?" tunjuknya dengan wajah yang cengok.


Kendrick mengangguk pelan, lalu menyandarkan dirinya.


"Aku ...." Kendrick masih menatap menunggu jawaban Kanilaras.


Meski gadis itu berbohong Kendrick akan setuju tanpa curiga, tapi otak Kanilaras seakan membeku sehingga tidak dapat memikirkan alasan apa pun. Ya, pada dasarnya dia tidak bisa berbohong sehingga lidahnya keluh.


"Apa jangan-jangan—" Kendrick terkejut sampai tubuhnya tersentak tatkala Kanilaras menyambar perkataannya dengan suara yang menggelegar.


"Aku khawatir dengan keadaanmu."


"Khawatir atau rindu?" cibir Kendrick dengan nada geli yang disembunyikan dengan baik.


Kendrick terkekeh mendapati semburat merah di wajah gadis galak seperti Kanilaras dan tanpa dia sadari, dirinya sudah mulai berubah. Dari yang semula jarang berbicara kini semakin sering bertanya dan manusia kaku itu juga sudah mulai memahami keadaan, sehingga dia mulai bersikap lembut dan sedikit romantis.


****************


Di suatu tempat yang jauh nan berbeda, ada dua manusia setengah iblis saling berbisik lirih.


"Sudah terlalu lama kita tidur di tempat lembab dan tidak memiliki pergantian waktu atau musim ini. Apa mungkin kita akan membusuk di sini?" tanya pria itu melalui suara batin.


"Hamba kurang paham," sahut pria lainnya.


"Bajingan tengik itu telah mempermainkan ku!" katanya dengan suara yang berat nan menakutkan.


"Semalam hamba mendengar percakapannya dengan seseorang," ucap Alingga ragu-ragu.

__ADS_1


Ya, benar. Dua pria yang tengah berbincang itu adalah Alingga dan Raja Gendra.


Namun, Alingga yakin kalau itu suara Katra—pria yang menyebabkannya terjebak dalam ruang lingkup yang aneh.


"Apa yang dia katakan?" Raja Gendra masih dalam posisinya 24 bulan purnama yang lalu dan penampilannya tidak berubah meski sudah melewati waktu dan keadaan.


Suara Alingga seakan tercekat sehingga dia tidak dapat meneruskan pernyataan yang sangat penting menurutnya. Lain dengan Alingga dan Raja Gendra, Arimbi—wanita iblis tersebut tidak dapat bergerak ataupun bersuara. Entah faktor apa yg membuat wanita itu terbujur kaku, padahal namanya tersohor di pelosok pulau Jawa.


Siapa pun yang mendengar nama Arimbi akan buru-buru membungkam mulutnya sampai wanita itu berlalu pergi.


****************


Kanilaras yang kini tengah terbaring di ranjang tidak dapat terlelap meski dia telah berusaha sekeras mungkin. Ucapan jiwa pedang itu mengusik ketentraman hati seorang Kanilaras, sekian lamanya gadis itu tidak merasakan yang namanya khawatir atau cemas.


Namun, untuk kali kedua gadis berambut panjang tersebut merasakan kekhawatiran dan kecemasan yang sangat amat luar biasa sehingga dadanya terasa sesak bukan main.


"Apa aku harus melakukan saran pedang naga, atau ... aku abaikan saja?" Kanilaras mencebik sambil menjambak rambut panjangnya dengan kasar.


"Tapi ... aku tidak sejahat itu!" sambung Kanilaras yang sudah tidak tahan.


Sesekali gadis itu melempar barang dan memekik kecil tidak terima dengan kalimat syarat penuh makna yang di katakan pedang naga.


"Ayahanda, Laras harus bagaimana? Tidak mungkin Laras melakukan hal kejam itu." Kanilaras melempar kembali tubuh mungilnya ke atas ranjang.


Entah sejak kapan gadis itu tertidur, mungkin karena dia audah cukup lelah dengan pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya. Bisa jadi dia memang sudah mengantuk akibat pertarungan ringannya tadi sore.


Baru saja gadis itu tenang dalam tidurnya, ketenangannya kembali terusik saat dia melihat sebuah cahaya bulat mengitari dirinya dan terdengar suara wanita tua yang menyadarkan tubuhnya di batu besar.


"Ini bukan tempatmu! Pergi dari sini, cepat!" perintah wanita bercadar tersebut seraya mengangkat tinggi sebuah tongkat.


Apa maksud ucapan nenek ini, Kenapa aku tidak boleh beristirahat di sini? tanya Kanilaras dengan sorot mata yang menghunus.

__ADS_1


__ADS_2