Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Kabar Menakutkan


__ADS_3

Di tengah gelegar petir dan guntur, Nindy kembali bertanya dengan suara lirih.


"Babe, kita mau ke mana?"


"Kamu harus bertanggung jawab atas kejadian ini," ucapnya sambil melirik sang istri.


"Maksud kamu?" Terlihat sangat bingung wanita itu, "jangan bilang kalau kamu mau menyerahkan aku ke polisi?" imbuhnya dengan rasa gelisah.


"Kita cari pria itu ke rumah sakit terdekat, kita beri pengertian keluarganya. Kalau perlu kita beri tunjangan atas peristiwa ini," kata Hardy tegas.


Pria ini memang dikenal sangat bertanggung jawab, jangankan hal sebesar ini hal kecil dan sepele saja dia melakukannya sepenuh hati tidak pernah dia mengabaikan hak dan kewajiban yang harus dia lakukan. Entak itu di rumah ataupun di kantor tempatnya bekerja.


Range Rover melaju sangat cepat membela keramaian jalanan, setiap rumah sakit mereka masuki demi mencari keberadaan Azmi—orang yang ditabrak oleh sang istri.


"Sudah 3 rumah sakit kita hampiri, tapi orang yang kamu tabrak tidak ada. Bagaimana jika beliau—" Hardy menggantung ucapannya karena khawatir.


Sedangkan Nindy terlihat terbengong. Dalam ketakutan itu, Nindy menangis lagi. Pertama, dia jelas takut jika sesuatu buruk terjadi pada orang itu. Jika itu benar terjadi, Nindy akan dihantui rasa sesal seumur hidupnya.


"Sayang, aku enggak mau masuk penjara." Dia mengulang kalimat itu berulang kali.


Seandainya rambut Nindy mampu berbicara, mungkin rambut itu menjerit sejadi-jadinya.


Hujan masih berjatuhan di langit bersama dengan gemuruh yang seakan-akan membungkam jerit ketakutan Nindy.


...****************...


Di balik selimut yang hangat, di tempat cahaya kemuning dari lampu tidur yang tertempel di dinding. Rahma mematut wajah cerah suami dan anak-anaknya pada selembar foto yang mereka ambil pada 2 tahun lalu.


wanita itu melihat sayu wajah tiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya, tiba-tiba saja dari pelupuk matanya mengalir butiran bening. butiran-buturan tersebut membasahi pipi serta jilbabnya, entah apa alasannya dia menangis yang jelas wanita itu sangat sayang terhadap lelaki yang sudah menemaninya 22 tahun tersebut.


Tanpa sengaja bola matanya bergulir ke atas menatap jam dinding yang sudah menunjukkan jam 23.38 pikirannya beradu kepada hujan yang sangat lebat, dia berpikir mungkin suami dan anaknya masih berteduh menghindari hujan malam ini.


Namun, hatinya terasa gelisah tak menentu. Pikiran boleh saja positif thinking, tapi hatinya merasakan hal yang berbeda. Takut, kalut dalam prasangka, Rahma beranjak dari ranjang untuk melakukan salat malam yang biasa dia lakukan. Dalam doa dia meminta keselamatan sang suami dan anak sulungnya, tak lupa juga dia memohon untuk kemudahan dalam melewati cobaan hidup ini.


Setelah selesai dengan salatnya Rahma kembali membaringkan tubuh di atas ranjang termaram, sambil melantunkan doa wanita itu melirik wajah putranya yang sudah tertidur sejak tadi sore. Wajah anak itu sangat mirip seperti ayahnya, bisa dibilang anak itu versi muda Azmi minim senyum.

__ADS_1


...****************...


Lain halnya dengan Muezza, gadis itu sudah duduk sangat lama di depan kafe. Begitu setia dia menunggu sang ayah datang untuk menjemputnya pulang, tapi sudah hampir satu jam dia menunggu tidak ada tanda-tanda ayahnya datang dari dua arah jalanan ini. Ponselnya pun tidak kunjung berdering, hatinya diselimuti rasa takut karena di tempat itu terlihat sangat sepi sekali.


Jalan Imam Bonjol tersebut sudah semakin sepi, rasa dingin yang ditimbulkan oleh hujan lebat yang sudah digantikan dengan gerimis membuat sembilu terasa nyeri.


"Apa ayah lupa menjemput ku? Tapi itu tidak mungkin, mana bisa dia lupa denganku?" katanya menyangkal ketidak benaran malam ini, tapi kenyataannya sudah lewat tengah malam pria tua yang menjadi cinta pertamanya itu tidak kunjung datang.


"Bagaimana aku akan pulang?" tanyanya dalam keheningan malam.


Saat dia putus asa dan marah akan hal ini, sebuah motor Moto Guzzi V7 III Stone melaju dan berhenti tepat disebelahnya berdiri.


"Kenapa belum pulang?" tanya Alun yang masih menggunakan helm.


"Ayah saya belum menjemput saya, Bos." Muezza menggenggam erat tali tasnya.


"Ayo, naik! Aku antar," perintah Alun sambil melepas jaket kulitnya.


Tidak ada alasan untuk menolak niat Alun dan mau tidak mau Muezza menerima tawaran itu. Meski malu, gadis itu tampak sumringah.


"Nomor siapa ini?" bisiknya sambil terus menatap layar ponselnya.


Alun yang risih akan nada dering Muezza merebut benda pipih itu dari tangan sahabat adiknya.


"Ya, selamat malam. Ada apa Mbak?" Pria itu mendengarkan penjelasan si penelepon di ujung telepon sana.


Sorot matanya terlihat sangat serius dan ditambah lagi alisnya yang terangkat menambah rasa penasaran Muezza.


"Siapa?" tanya Muezza penasaran, tapi Alun tidak menjawab bahkan dia memalingkan pandangannya.


Hal itu membuat Muezza kesal, "Siapa yang menelpon saya!" bentaknya seraya menghentakkan kaki.


"Nanti aku ceritakan. Sekarang kamu naik dulu!" titah Alun sesudah menjelaskan.


Motor Moto Guzzi V7 III Stone melaju dengan kecepatan tinggi, Muezza yang takut hanya bisa mengeratkan pelukan tanpa protes kepada Alun. Seperti biasa Alun menampakkan wajah flat kaya dataran kayu.

__ADS_1


Muezza yang awalnya memejamkan mata kini membuka kelopak matanya lebar-lebar cuma untuk meneliti jalanan yang dilewati Alun.


Mau ke mana di mengajakku? Ini bukan jalan menuju rumahku. Jangan bilang dia mau berbuat sesuatu hal yang aneh?


Masih berkutat dalam prasangka, Alun memanggil Muezza sambil mengendurkan gas motornya.


"Aku minta kamu yang tegar menghadapi cobaan ini. Insyaallah, Allah akan membantu kita," kata Alun seraya melirik Muezza dari kaca spion.


Apa aku enggak salah denger? Tadi dia bilang 'Allah, insyaallah'? Bukannya dia Kristen. Batin Muezza dalam bengong.


"Mue, kamu denger aku 'kan?" Alun mengelus punggung tangan Muezza yang ada di perut sixpack-nya.


"Huh, apa Bang?" tanya Muezza dengan kepala mendongak memandangi wajah Alun dari samping.


"Lupakan! Pegangan yang erat!" perintah Alun dan sekali lagi menyentuh punggung tangan Muezza sangat lembut.


Di persimpangan jalan Alun belok kanan dan semakin melajukan motornya, sesampainya di tempat tujuan. Alun menghentikan motor dan membukakan helm yang dikenakan Muezza.


Sangat lembut perlakukan Alun malam ini, penuh sayang dia menuntun Muezza masuk ke dalam rumah sakit. Gadis itu tampak kebingungan dengan kunjungannya ke rumah sakit Yunita Husada.


"Ngapain kita ke sini Bang?" Muezza menatap nanar wajah tampan Alun.


"Ayahmu mengalami kecelakaan, Mue." Penuturan Alun membuat Muezza menghentikan langkahnya.


Tentu saja pria itu ikut berhenti melangkah dan menatap gadis malang itu yang berada di belakang.


"Kenapa kamu berhenti? Kita harus cepat menemui ayahmu!" kata Alun menyadarkan Muezza dari alam bawah sadarnya.


"A-apa maksud ucapanmu?"


Tanpa suara air matanya jatuh berderai tanpa jeda. Sorot mata Muezza terlihat kosong, dengan air mata yang tiada henti gadis itu berjalan mendekati seorang perawat yang berdiri di ruang UGD.


"Maaf, apa ada korban kecelakaan yang bernama Azmi Abdullah?" tanya Muezza lirih, sesekali gadis itu mengusap kedua pipinya secara bergantian.


"Pasien baru saja dipindahkan di ruang ICU. Kakak jalan lurus sampai mentok, setelah itu belok kanan disebelah ruang Cempaka itu ruang ICU." Perawat muda itu memberi petunjuk.

__ADS_1


Suara yang sedari tadi dia tahan kini terdengar dan isak tangisnya pecah tatkala Alun merangkul bahunya.


__ADS_2