Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Kenapa Bisa Begini?


__ADS_3

Seperti yang tertulis di peraturan itu, Muezza datang lebih awal tanpa diantar sang ayah. Gadis itu turun dari motor, lalu berjalan mendekati pintu kafe.


Ragu-ragu dia membuka pintu kaca tersebut, sedikit terkejut karena pintu kaca itu tidak dikunci. Namun, dia bersikap santai tanpa takut untuk menelusuri lorong kecil menuju taman. Saat tangannya hendak membuka pintu, suara Alun mengagetkannya.


“Mau ke mana?”


Sontak gadis itu terjingkat dan menatap Alun yang sudah berdiri tepat di belakangnya.


“Ehm, saya ....” Menunjuk gugup ke arah taman belakang yang dia sukai.


“Ayo, ikut!” ajak Alun yang sudah mendahului.


Muezza membuntut di belakang pria yang mengenakan kaos polo shirt berwarna navy.


“Kau mau minum apa?” tanya Alun ketika mereka masuk ke kantor.


Tatapannya menyapu setiap jengkal ruangan yang disebut kantor oleh mereka.


“Mue!”


“T-tidak perlu, Bos. Saya enggak haus,” ungkapnya sambil menatap Alun yang sudah memasang wajah menakutkan.


Alis yang terangkat sebelah menambah kesan seram dari pria itu.


“Tolong, ya jangan membuat saya takut!” pinta Muezza terus terang, sudah cukup gadis itu berpura-pura kalem dan jaim.


Dia sudah lama menderita menahan diri untuk bersikap manis dan sok jual mahal. Kali ini dia memutuskan akan bersikap seperti mana mestinya, dia sungguh tidak peduli akan pendapat pria yang ada di hadapannya ini.


Alun yang belum tahu sifat asli Muezza hanya terbengong dengan mulut terbuka lebar.


“Bos!” pekik Muezza menyadarkan Alun dari lamunan sesat.


Mulut itu terkatup dan dia bergeser untuk mengambil gelas yang ada di rak pojok. Mungkin orang akan merasa aneh akan suasana kantor Alun, yang bisa dibilang kantor ini lebih tepatnya digunakan untuk berjualan es Mambo atau semacamnya.


Kenapa begitu? Karena banyak peralatan minum di dalam sini. Entah karena rusak jadi dia gunakan untuk menghias kantor atau memang dia suka mengoleksi barang-barang itu.


“Kau takut aku racuni?” tutur Alun menebak.


Muezza menunjuk wajah Alun dengan sorot mata yang tegas, “Enggak seperti itu.”


“Lalu, apa alasanmu menolak tawaranku?” Menuang kopi ke gelas.

__ADS_1


Muezza memalingkan pandangan, gadis itu lebih tertarik memandangi lukisan besar yang tergantung di sisi lemari.


“Apa aku ini hantu sehingga kau takut melihatku?” tandas Alun tidak terima akan perilaku sahabat adiknya.


“Bukan begitu Bos!” tukas Muezza dengan tangan yang bergerak cepat untuk menolak ucapan bos muda itu.


Alun duduk di sofa sambil menikmati kopi buatannya sendiri, sedangkan Muezza masih berdiri di tengah ruangan ini. Tidak ada kegiatan yang mereka lakukan, hanya saling mencuri pandang satu sama lain.


Tidak puas akan keadaan ini, Alun menegakkan tubuhnya dan memerintahkan gadis itu untuk duduk.


“Aku menyuruhmu datang lebih awal hanya ingin mengobrol santai. Tapi, kau selalu ngegas menjawab pertanyaanku!” ucap Alun sedikit menekan suaranya.


Muezza ya Muezza. Gadis itu sibuk memainkan jari-jarinya sambil melihat ujung sepatu Alun.


“Apa sepatuku begitu menarik, sehingga kau lebih memilih menatapnya?” cibir Alun sambil memijat pangkal hidung.


“Maaf!” balas Muezza singkat.


“Astaga Mue ....”


Gadis yang mengenakan kaos berlengan panjang itu maju dan menyanggah dagunya dengan kedua tangan, senyum tersuguhkan.


“Apa ada masalah yang mengganggu Anda?” Kelopak mata itu berkedip bagai boneka Barbie.


Muezza sedikit tersentak mendengar kata ‘kebiasaan wanita’ hatinya terasa retak dan ini bukan pertama kalinya Alun membuat hati itu hancur. Sudah ratusan bahkan ribuan kali pria itu mematahkan hati Muezza, tapi gadis itu masih saja memuja pria yang duduk di hadapannya.


Dengan hati yang sakit Muezza bertanya, “Memangnya wanita yang Bos suka seperti apa orangnya? Apa Bos tahu apa hobi dan kesukaan gadis itu?”


Alun tersipu mendengar pernyataan Muezza, tampak jelas wajah itu berubah.


Sedikit berpikir Alun menjabarkan wanita itu, “ Dia gadis yang lucu. Setiap dia berbicara selalu tersenyum dan tidak pernah menyela pembicaraan temannya. Bisa dibilang kalau dia perhatian kepada semua orang, terkadang dia bersikap konyol juga.”


Muezza menekan rasa cintanya dalam-dalam dia tidak ingin pria itu tahu kalau dia menyimpan rasa. Sekali lagi gadis ini berusaha tegar dan memberi saran.


“Sebaiknya, Bos lekas-lekas mengutarakan cinta!”


“Aku bodoh dalam hal ini, Mue. Apa ada saran lain?” Menatap penuh keseriusan.


“Coba saja tanya hal kecil yang dia suka,” kata Muezza dengan kening yang berkerut.


“Hal kecil? Kalau kamu sukanya apa? Dan hadiah apa yang kamu inginkan jika memiliki pacar?” tanya Alun sambil mengelus dagunya.

__ADS_1


“Aku?” tunjuknya dengan jempol.


Alun mengangguk kecil dan menyandarkan tubuhnya di black pillow.


“Kalau Mue ... lebih suka menghabiskan waktu bersama. Menurut Mue itu momen yang tidak bisa dilakukan setiap pasangan,” jelasnya dengan mata yang berbinar-binar.


Alun tidak berkedip saat memandangi gadis itu tengah berbicara, sampai-sampai dia tidak sadar Muezza tengah melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.


“Anda baik-baik saja?” tanya Muezza khawatir.


Alun berdeham untuk menetralisir kecanggungan yang menyelimuti hati.


“Apa ada lagi yang ingin Bos tanyakan?” tanya Muezza memastikan.


“Satu lagi,” ujarnya dengan jari yang mengacung.


Gadis itu kembali terduduk dengan wajah polosnya.


“Bisakah kamu mempraktikkan gadis itu demi aku?” pungkas Alun ragu-ragu.


Kenapa mesti aku? Kalau nanti aku baper dan tidak bisa mengendalikan emosi ini bagaimana? Gumam Muezza dengan kedua mata yang terkatup rapat.


“Jika tidak mau, yes oke.” Beranjak dari tempat duduknya sambil merapikan lengan baju.


Perlu keberanian besar untuk me


nyetujui permintaan atasannya itu, meski sakit mendengar permohonan Alun. Namun, Muezza setuju tanpa menghiraukan ratusan luka sayatan di hatinya.


“Baiklah, saya akan pura-pura menjadi wanita pujaan hati Bos.” Bibir berucap penuh senyum, tapi hati menangis merintih menahan sakit.


Layaknya adegan sinetron kapal terbang, Alun berakting menabrak Muezza saat berjalan.


Ketika pria itu berbalik hendak melanjutkan aktingnya, Muezza mencebik dan mencemooh rencana Alun.


“Basi Bos! Ini terlalu klise jika dilakukan dan kesannya Anda terlihat sangat kaku,” cibir gadis itu sambil mengikat ulang rambut panjangnya.


“Lalu aku harus bagaimana?” tanyak Alun sedikit kesal.


Muezza menjelaskan beberapa adegan film dan dia meminta bosnya itu bersikap lebih natural tanpa menyertakan kegugupan. Namun, penjelasan Muezza tidak dapat mengubah sikap kaku dan datar pria itu.


“Kita sudahi saja adegan ini, saya capek!” protes Muezza sambil memijat pelipisnya.

__ADS_1


Terasa nyeri dan tegang urat leher gadis itu, terlebih ini bukan kisah cintanya. Muezza meraih jaket dan juga ransel yang dia bawa masuk ke kantor ini, dia benar-benar tidak habis pikir dengan nasibnya siang ini.


Muezza melewati Alun tanpa menoleh sedikit pun, ketika gadis itu berlalu Alun mencekal pergelangan tangan Muezza. Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya, sepasang mata mereka bertemu.


__ADS_2