Bukan Lelakiku

Bukan Lelakiku
Kesepakatan.


__ADS_3

Rahma buru-buru keluar. Dari ambang pintu dia dapat melihat jelas bahwa anak gadisnya tengah meringkuk menangis. Langkahnya yang tegas dan mantap melambat perlahan, seolah terkena pukulan keras hingga melumpuhkan seluruh otot-ototnya.


Dengan hati yang sama hancurnya seperti Muezza, Rahma berjalan menghampiri anak sulungnya yang masih merintih menahan sesak di dada.


Disentuh pundak kecil itu dan dipeluknya tubuh molek Muezza. “Jangan terus begini, Sayang!”


“Bunda ... tadi Mue lihat ayah. Ayah duduk di sebelah Mue,” katanya dengan isak tangis.


Air mata kedua wanita itu berderai tanpa jeda, dengan pelukan yang masih bertaut mereka saling menguatkan.


“Ayah ...," jerit Muezza lirih di dalam dekapan sang ibu.


Langit malam yang menampilkan bintang kini diselimuti awan hitam, seolah-olah langit itu turut bersedih atas kepergian Azmi. Rintik hujan yang turun menambah kepulihan dia wanita yang sangat Azmi cintai.


Seolah tidak merasakan kesedihan, Rahma mengajak anak gadisnya masuk ke dalam.


"Malam ini, Kakak tidur bareng bunda, ya." Menatap sayu wajah sedih sang anak.


Malam penuh kesedihan merikuh dan berlalu begitu saja. Cahaya lunar pun digantikan dengan caha sang surya. Cahaya kuning yang cerah menyinari sudut kamar yang lumayan luas.


Netra yang tadinya terkatup kini terbuka sedikit dan mendapati sosok pria kecil yang tengah duduk sambil menatapi wajah pucat Muezza.


"Ngapain kamu lihat aku kayak gitu?" tanya Muezza penasaran.


"Alif cuma pingin lihat Kakak saja. Enggak boleh?" kata Alif balik bertanya.


Gadis berambut panjang tersebut menghela napas panjang sambil menyelipkan rambutnya ke belakang daun telinga.


"Kamu mau sarapan apa, Dik?" ucap Muezza seraya melipat Selimut yang tadi dia kenakan.


"Entah," jawab Alif sambil menaikkan kedua bahunya ke atas.


"Nasi goreng atau roti bakar?" ujar Muezza seraya menoleh ke belakang.


Bibir Alif terkatup rapat, sedangkan matanya melihat ke atas. Seakan-akan tengah memikirkan hal penting.


"Kamu mau makan atau mau bengong di sana aja?" punkas Muezza yang tidak tahan menunggu respon sang adik.


"Roti bakar selai kacang," tukasnya takut dimarahi lagi oleh Muezza.


Gadis itu mengangguk dan berlalu pergi. Berusaha tegar seolah-olah tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Itulah keputusan Muezza ketika hendak terlelap dalam buaian malam.


Sarapan singkat itu terlewatkan dengan keheningan, setelahnya banyak tetangga dan kerabat Rahma yang datang untuk mempersiapkan acara tahlilan nanti malam. Muezza yang susah payah menepis kejadian ini merasa terganggu akan kedatangan mereka semua.


Dalam kebimbangan hati, gadis itu mengikat rambut panjangnya dengan mata yang menatap pantulan dirinya di cermin.


"Mue janji, akan mewujudkan keinginan ayah. Siapa pun yang menghalangi niat Mue, akan Mue basmi kayak kecoak!" tekatnya pagi itu.

__ADS_1


Namun, kepercayaan dirinya lenyap bersamaan dengan suara bisik tetangga yang menyayangkan kepergian Azmi. Para wanita paru baya tersebut membicarakan riwayat sang ayah dengan kekaguman yang sangat luar biasa.


Benar, Azmi selalu bersikap baik dan rendah hati. Meski dia tercipta menjadi seorang pria dingin akut di muka bumi ini.


Tangisan dan rintihan Muezza lamat-lamat terdengar oleh mereka dari balik pintu.


"Bagaimana Mue akan menjalani hidup ini tanpa bimbinganmu, ayah? Tidak ada hal yang bisa Mue lakukan," tanyanya dalam ruangan kecil dan hening ini.


Suara canda tawa mereka tidak terdengar lagi, kekosongan melanda hati dan kehidupan Muezza hari ini. Gendang telinganya hanya mendengar detak jarum jam yang sangat nyaring, netranya melirik ke sana kemari mencari pintu dan jendela.


Kamar bernuansa minimalis modern tersebut berubah menjadi bangunan tanpa cela. Tembok kokoh nan tinggi mengurungnya dalam tangisan kesedihannya. Di dalam kesedihannya dia berteriak memanggil ibu dan juga adiknya untuk membantunya keluar dari ruangan sunyi yang menyiksanya.


"Bunda! Alif, bantu kakak keluar dari sini!" teriaknya sambil memukul-mukul tembok kokoh tersebut.


Suara yang nyaring itu seakan didekap oleh tembok tinggi ini, sehingga dua orang yang dia panggil-panggil tidak ada yang datang membantunya.


"Ya Allah ... cobaan apa lagi yang engkau berikan? Kenapa hidupku seperti ini!" pekiknya dalam kepanikan.


Entah sejak kapan dadanya terasa sesak, udara yang dia hirup menghilang sehingga dia kehabisan napas lalu tidak sadarkan diri.


...****************...


Di sebuah gedung pencakar langit, ada seorang pria yang tengah duduk menikmati secangkir kopi. Pandangan mata pria itu tidak menyeramkan, tapi cukup untuk mengintimidasi lawan bicaranya.


Seorang CEO yang memiliki emosional yang stabil, membuat karakternya semakin kuat. Segala ucapannya mampu mengoordinasikan orang lain, sungguh sikap pemimpin yang sempurna.


"Sore, Bos!" sapa orang suruhannya.


Hardy mengangguk tanpa membalikkan tubuhnya sekedar melihat kehadiran lelaki tersebut. Dia bahkan menarik kuku jarinya yang sedikit sobek di sisi pinggir.


"Damn it!" ucapnya lirih sambil menarik tisu.


Jangankan makian, hanya bayangan punggung Hardy bisa menimbulkan dampak yang sangat kuat.


Sekilas CEO PT Tunas Kemuning itu melihat wajah pria yang sudah babak belur. Bisa dinyatakan wajah pria itu dipenuhi luka lebam.


"Jelaskan!" perintah singkat dari pria bernama Hardy.


Tidak perlu berkata panjang lebar, orang suruhan Hardy bisa mengerti maksud dari arah perintahnya itu.


"Dia ini yang sudah menipu uang Anda sebesar lima ratus juta. Orang yang tidak memiliki otak ini telah menghancurkan waralaba yang akan launching bulan depan," tuturnya sambil menahan tangan yang hampir memukul pelipis pria yang sudah tidak dapat dikenali.


Begitu pede pria penipu itu berlutut sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


"Saya mohon, ampuni saya! Saya bisa memberikan apa pun asal Tuan melepaskan saya!" Menggosok-gosok kedua telak tangannya.


"Lagi pula itu bukan keselahan saya yang seutuhnya," ujar pria itu sambil melirik bodyguard yang berdiri tidak jauh dari tempatnya, "saya dijebak Berlian, dialah pelaku yang sesungguhnya." Lagi-lagi pria itu menakupkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Dasar manusia tidak tahu malu, sudah terbukti bersalah." Bodyguard Hardy berhenti berkata ketika tangan Hardy terangkat.


"Apa yang bisa kau berikan padaku? Rumahmu saja reyot, tidak mungkin aku sita. Istrimu juga tidak cantik!" putusnya sambil mengejek.


Pria itu berdecih di dalam hati, dia tidak terima akan ucapkan Hardy. Meski dia bejat atau brengsek lelaki itu tetap menyayangi semua anggota keluarga kecilnya. Walau kenyataannya dia telah menelantarkan anak sulungnya.


"Ayo, jawab!" bentak bodyguard yang mengenakan kaos hitam berkerah.


"Pertanyaan yang mana yang harus saya jawab?" kata pria itu tanpa malu ataupun rasa takut lagi.


"Kau mulai melawan!" Mata bodyguard itu melotot dan lototan matanya hampir keluar.


Dengan gusar dia menyanggah pernyataan tersebut.


"T-tidak, saya ... tidak melawan. Saya hanya mencoba—" Perkataan pria ini tergantung akibat bodyguard Hardy kembali membentaknya.


"Mencoba apa, heum!"


Hardy berputar demi melihat wajah penipu yang sudah menyebabkan cabang perusahaan barunya bangkrut sebelum berjalan.


Dengan wajah santai Hardy berdiri dan menyimpan kedua tangannya di saku celana, tatapan mata Hardy menghunus ke arah pria yang berusia 45 tahun tersebut.


Sebelum kaki itu melangkah, pria yang berlutut tersebut bersujud meminta pengampunan dari seorang Hardy.


Pengusaha kaya raya tersebut menyunggingkan senyum miringnya sambil berjongkok.


“Aku memiliki penawaran yang bagus untukmu.”


Pria paru baya itu diam memikirkan langkah yang akan dia ambil. Sekian waktu dia berdiam diri, kini dia mendongakkan kepala dan membuat keputusan yang menurutnya tepat.


“Penawaran apa yang Bos tawaran? Apa aku bisa mempercayai ucapan Bos?” ujarnya mempertanyakan tawaran itu.


Hardy menepuk pipi pria itu pelan sambil menunjukkan foto gadis yang ada di ponselnya.


“Kau hanya perlu membawanya ke Luminor Hotel bulan depan,” kata Hardy dengan jumawa.


Pria itu melotot ketika melihat foto Muezza, tangannya mengepal tidak terima.


“Mau kau apa ‘kan dia?” tanya Pria itu dengan gigi yang mengerat.


“Apa yang mau aku lakukan itu bukan urusanmu! Yang harus kau lakukan bawa dia ke sana, atau kau dan keluargamu ....” Hardy sengaja menggantung ucapannya.


Dia merasa pria yang saat ini berlutut di depannya paham akan maksud ucapannya tadi.


“Tidak bisakah posisi gadis itu digantikan oleh gadis lain?” Pria itu kembali bertanya.


“Apa kau sudah bosan hidup? Jika aku bilang bawa dia, itu artinya kau harus membawanya padaku!” bentak Hardy dengan suara khasnya.

__ADS_1


__ADS_2