
Betapa terkejutnya Muezza tatkala mendengar si kakek gaul mengucapkan sebuah kalimat yang mencengangkan.
“Semua minuman di sini tidak bisa memuaskan rasa hausku, tahu kenapa?” ujar kakek itu dengan mata yang mengerling.
Muezza menggeleng, dia tidak bisa menjawab pertanyaan kakek itu.
“Karena kepuasanku ada di senyum manismu, cantik!” Sontak para pelanggan bersorak mendengar gombalan kakek gaul.
Usia bisa bertambah tapi sifat orang tidak dapat berubah. Jika dia orang yang humoris selamanya dia akan menjadi orang humoris, seperti kakek William ini.
Sepanjang hayatnya dia dikenal sebagai kakek gaul yang suka mengumbar gombalan maut untuk para gadis muda, tapi tidak ada satu pun yang serius. Dia melakukannya berdasarkan kesenangan belaka, tidak ada niatan untuk menjadi kakek-kakek hidung belang.
Di sudut kanan seorang pelanggan wanita bersiul dan berteriak cukup kencang.
“Pepet terus sampai KUA!”
Hati Muezza dirambati rasa malu, kegusaran tampak jelas di wajahnya. Bagaimana tidak pipi tirus itu sudah blushing akibat teriakan semua pelanggan, sedangkan kakek William menikmati sorak-sorai pelanggan lain.
“Kau tahu, kenapa aku masih duduk tanpa memesan?” tanya Kakek William lagi.
Lagi-lagi Muezza berdiri tanpa bergaira untuk melihat wajah para pelanggan.
“Kau diam karena aku tidak mengunjungimu di malam-malam kemarin. Atau kau marah melihatku berdiam diri tanpa membelai rambut hitammu penuh mesra?” tutur Kakek William tanpa malu ataupun ragu.
Satria terlihat jengkel dengan kelakuan Kakek William, tapi dia tidak bisa membawa Muezza pergi dari hadapan lelaki tua itu.
“Dasar lelaki tua tidak tahu diri!” cibirnya sambil meletakan pesanan.
“Jangan baper, bro!” saran seorang pelanggan.
Satria menatap tajam pria yang duduk di meja nomor 5.
“Dia karyawan baru. Kalau dia sampai berhenti karena malu, apa kau mau menggantikannya bekerja, huh?” ketus Santri tidak terima.
“Slow bro! Jangan emosi.”
Satria berlalu dengan emosi yang merajai hati dan pikirannya.
Tanpa disangka-sangka gadis berusia 18 tahun itu menjawab pertanyaan Kakek William.
“Jika rembulan dan matahari bersatu maka dunia tidak memiliki cahaya, fenomena alam ini ibaratkan kita berdua saat ini. Kau matahari dan aku rembulannya,” putus Muezza meninggalkan kakek gaul penuh pesona playboy.
__ADS_1
Suara tepukan tangan memenuhi ruangan, semua pelanggan sangat bersemangat malam ini. Begitu juga dengan semua karyawan Yoman kafe, terutama Mario.
Pria itu sangat kagum dengan mental Muezza, penampilan Muezza yang kalem menutupi sifat berani dan tegasnya.
“Salut aku sama kamu, Mue.” Fenny merangkul Muezza sambil mengelus lengan gadis itu.
Di dalam ruangan Alun melihat semua kegiatan stafnya yang giat bekerja tanpa terlihat lelah. Ke empat karyawannya tersebut memiliki energi yang sangat kuat, setelah bekerja seharian masih bisa bercanda kala melakukan tugas penutup yakni bersih-bersih ruangan.
Sepuluh menit lagi, keempat orang itu akan pulang meninggalkan ruangan ini. Alun yang sedari tadi sibuk memeriksa laporan keuangan, kini sudah berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan mereka semua.
Ketika Muezza hendak keluar, buru-buru Alun menghampiri gadis itu.
“Kau pulang dengan siapa?” tanya Alun tanpa ekspresi.
“Dengan priaku!” ujar Muezza tegas.
“Apa ... priaku? Kau sudah pacaran? Masih kecil pacaran. Apa ibumu tahu tentang ini?” berondong Alun menghakimi.
Muezza hanya mengerutkan kening dalam-dalam karena terkejut akan respon Alun.
“Aku pulang dengan ayahku, Bos!” tukas Muezza, dia tidak ingin dikira cewek gampangan.
Hanya kata ‘priaku’ bisa mengubah pikiran orang lain.
“Apa ... ayahmu sudah datang?” tanya Alun menuangkan sampah di tempat penampungan sampah.
Muezza berbalik melihat tempat kerjanya, sesekali dia menelisik sekitar kafe.
“Sepertinya beliau belum datang, Bos.”
“Bibirmu tidak bisa mengucapkan kata abang?” pungkas Alun mempertanyakan hal yang sama seperti tadi siang.
“Saya karyawan Anda. Saya tidak bisa memanggil Anda dengan seenaknya,” kilah Muezza halus.
“Kau itu ....” Alun menghentikan langkahnya.
“Saya kenapa?” Muezza ikut berhenti dan berbalik menatap Alun malu-malu.
“Kau itu teman adikku, jadi anggap saja aku abangmu dan jangan panggil aku bos!” beber Alun menegaskan panggilan dirinya.
Jadi, dia menganggap ku sebagai adik. Bodoh! Tentu saja dia akan begitu, umurku dan Ayas sama dan kami teman dekat. Jadi untuk apa ku berharap banyak darinya, batin Muezza berusaha tegar menerima kenyataan.
__ADS_1
“Baiklah, saat ini juga saya berjanji akan memanggil Anda dengan sebutan Abang,” putus Muezza sambil merebut sekantong plastik sampah dan dia letakan penuh semangat di tempat penampungan sampah berwarna hijau.
Setelahnya mereka berdiam diri di depan kafe. Muezza yang canggung mengusir secara halus pria yang selama ini dia impikan sebagai pacar.
“Anda bisa pulang terlebih dahulu, B-bang!” usirnya dengan penuh rasa canggung.
“Kau yakin? Di sini banyak preman dan kafe ini bekas pemakaman cina dahulunya,” beber Alun sambil menunjuk kafenya.
Reflek Muezza melangkah maju sampai di bibir trotoar. Melihat respon gadis itu, Alun semakin bersemangat menceritakan hal ghaib pada Muezza. Ketika Alun hendak mendekat suara klakson terdengar dari kejauhan.
Sorot lampu motor ayah Muezza menyorot tajam ke arah mereka berdua berdiri. Muezza tersenyum menang melihat penyelamatnya telah tiba di sana, dengan percaya diri gadis itu berkacak pinggang.
“Super Hiro saya telah tiba, Bang. Setan atau apa pun itu tidak akan berani menakuti saya!” tegasnya dengan mata yang berbinar.
Alun yang malu hanya bisa menunduk lalu menyugar rambutnya ke belakang. Tatapan mata Azmi memiliki banyak arti dan itu menimbulkan rasa tidak nyaman di hati Alun.
Sambil mengangguk Alun menyapa ayah Muezza, “Malam Om.”
“Hmm.” Hanya itu jawaban dari pria yang menyandang predikat sebagai ayah.
“Mau gangguin Mue?” Pertanyaan menohok Azmi membuat pria itu gugup, tapi rasa gugupnya dia sembunyikan dengan baik.
Bahkan dia menyuguhkan senyum tipis untuk mengalihkan rasa gugupnya.
“Beliau ini bos Mue, Yah!” sahut Muezza cepat.
Dia tidak ingin ayahnya salah paham dan membuat kesalahan seperti dulu ketika dia menjalani PSG.
Alun pikir ayah Muezza akan memperlakukannya lebih santai setelah mengetahui statusnya. Namun, Azmi cuek bahkan dia tancap gas meninggalkan Alun tanpa berucap apa pun.
Miris bukan? Jika manusia datar dan dingin bertemu kembarannya. Haduh, jika semua penghuni dunia ini seperti Azmi dan Alun modelannya. Bisa dipastikan banyak wanita yang mati kutu dibuatnya.
“Serem amat tu bapak-bapak,” keluh Alun yang menatap punggung Muezza yang semakin menjauh.
Sesampainya Muezza di rumah, Azmi mengajak anak sulungnya untuk duduk bersamanya di depan rumah. Rumah minimalis Azmi memiliki halaman yang cukup luas dan di depan rumahnya ada sebuah dipan kayu yang terbuat dari bambu.
Di bawah pohon kersen mereka berdua duduk berdampingan, hanya ada Azmi dan Muezza.
“Kamu takut, ayah ajak berbincang seperti ini di sini?” tanya Azmi santai tanpa melihat sedikit pun wajah sang anak.
Muezza yang sedari tadi gusar hanya mengangguk tanpa bersuara. Betapa khawatirnya dia malam ini, tampang ayahnya yang sudah tegang sejak lahir membuatnya takut dan malam ini dia harus dihadapkan situasi seperti ini lagi.
__ADS_1
Selamat aku dari amukan ayah, ya Allah. Pinta Muezza pada doanya dalam hati.