
Suasana kamar yang mencekam akibat Kendrick mengancam Kanilaras dengan sebilah pisu lipat, dia—gadis yang memiliki dua nama itu malah membalas ucapan pria yang masih menampilkan smrik-nya.
"Anak kecil saja tidak akan takut dengan ancamanmu itu, apalagi aku wanita yang tangguh!" hina Kanilaras dengan sebelah alis yang terangkat.
"Wanita tangguh? Ha-ha-ha ...." Mentertawakan pernyataan Kanilaras, "tidak mungkin kau bisa keluar hidup-hidup dari sini. Semua jalan keluar dari rumah ini telah terkunci, bagaimana caramu melepaskan diri dariku?" ucap Kendrick meremehkan.
"Sangat mudah," sahut Kanilaras yang saat ini sudah berdiri dihadapan Kendrick—pria yang sudah mencibir gadis ini. Semula Kanilaras tengah duduk di bibir ranjang dan sekejap mata dia sudah berpindah tempat di hadapan pria yang berusaha menghinanya.
"B-bagaimana bisa ... kau berada di dekatku?" tanya Kendrick gugup.
"Inilah keahlianku," kata Kanilaras memeluk tubuh kekar Kendrick.
Sekejap mata tubuh dua insan tersebut sudah berada di pojokan tepatnya di sebelah pintu kamar mandi. Lagi-lagi Kendrick terkejut. Dia sangat ingat di mana dia berdiri kala itu dan sedetik yang lalu dia masih bersih tegang dengan Kanilaras, bagaimana bisa dia berada di pojok kanan kamar ini sedangkan dia tadi berdiri dekat jendela sebelah kiri ranjang.
"Masih belum percaya kalau aku ini wanita tangguh?" Kanilaras kembali membawa Kendrick ke tempatnya semula.
Aku pasti sedang bermimpi. Mana mungkin aku bisa berpindah-pindah dari sana ke sini dengan rentan waktu yang sangat singkat, gumam Kendrick.
"Siapa kau sebenarnya?" Pertanyaan yang terlontar dari pria itu.
"Aku Kanilaras putri dari Raja Daneswara," katanya penuh kebanggaan.
"Ha-ha-ha ... putri raja. Kalau begitu aku anak seorang tabib istana. Yang benar saja? Dasar gadis aneh!" cemooh Kendrick sembari melepas dasi yang dia kenakan.
"Kau yang aneh! Aku putri Kanilaras berasa dari kerajaan Kastara. Istanaku terletak di bagian timur tanah Jawa," bebernya jumawa.
"Iya, iya. Benar, kau memang putri raja dan aku prajuritmu yang akan membuatmu sadar kenyataan yang saat ini terjadi," sahut Kendrick seraya menoyor kepala Kanilaras hingga mendongak ke atas.
"Dasar wanita bodoh!" Mendengus kesal.
Mulut Kanilaras menganga tidak percaya dengan respon Kendrick. Buru-buru Kanilaras menghentikan pergerakan pria angkuh nan sombong itu.
"Kau memiliki janji yang belum kau penuhi!" Menarik bahu Kendrick sampai dia berbalik menatap Kanilaras.
"Janji apa? Aku tidak pernah menjanjikan apa-apa," sanggahnya tanpa wajah bersalah.
"Bajingan! Dasar penjahat!" Sarkas Kanilaras dengan suara yang cukup kencang.
Namun, suara itu tidak bocor sampai keluar karena semua rungan di rumah ini kedap suara. Walau ada baku tembak tidak akan ada yang menyadarinya.
__ADS_1
Gadis berambut panjang berwarna hitam kemerahan tersebut melayangkan pukulan ke arah Kendrick. Walau pria kekar itu bukan kalangan pesilat, tapi dia mampu menghalau pukulan yang dilayangkan Kanilaras. Lagi-lagi dia menyeringai, tapi kali ini seringainya lebih lebar.
"Apa yang ingin kau mau dariku gadis manja," cibir Kendrick terkekeh.
"Siapa aku sebenarnya?" ucap Kanilaras seraya melanjutkan baku pukul bersama Kendrick—pria yang memiliki kuasa lebih di dunia per bisnis-an saku-saku dan juga tambang batu bara.
"Kau istriku! Istri yang aku dapatkan dari perjudian."
Deg, jantung Kanilaras berhenti memompa darahnya dan paru-paru sehatnya seketika tidak mampu menampung oksigen yang dia hirup.
Apa maksud ucapannya? Sejak kapan aku menjadi istri pria gila ini?
Gadis berparas cantik ini mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan membuka kakinya dan mengarahkan tendangan ke muka Kendrick. Beruntung pria itu bisa mengelak, jika telat sedetik saja bisa penyok hidung mancungnya.
"Cukup!" pekik Kendrick sampai suaranya memenuhi ruangan.
Perlahan tubuh mungil itu mendarat di ubin dengan senyuman jahatnya.
"Cepat katakan apa maksud ucapanmu!" sergah Kanilaras tidak mau kalah dengan Kendrick.
"Duduk!" bentaknya dan dilanjutkan dengan perintah.
Tanpa mengulang kata perintahnya, gadis yang memiliki lesung pipit tersebut duduk bersila di ranjang dan tangan kirinya menepuk kasur sebagai titahnya untuk menyuruh Kendrick duduk di sebelahnya. Kendrick memilih menarik kursi yang tersimpan di bawah meja rias, bukan apa-apa dia hanya takut gadis itu akan bertindak seperti tadi.
Dia mirip sekali denganku. Bibi Kenny berhasil mendidiknya, aku harus memberi penghargaan pada wanita tua itu.
Bisiknya pada hatinya sendiri.
"Kau mau mendengar penjelasanku yang seperti apa?" Kendrick menyanggah dagunya dengan tangan kanan.
Aku harus bertindak hati-hati. Aku yakin dia ini bukan manusia biasa, gumam Kanilaras dalam hati kecilnya.
"Semua tentangku! Aku tidak begitu mengingat siapa diriku dan apa tujuanku tinggal di istana ini," ucapnya menutupi kebenaran.
"Apa otakmu masih belum tertata rapi?" gumamnya lirih, "Ini tidak benar, aku harus menemui semua dokter bodoh itu!" desisnya tidak terima.
Mata Kanilaras terpejam sebentar dan terdengar dia menghela napas panjang.
"Untuk saat ini lupakan para tabib yang kau sebut itu! Tolong! Jelaskan asal usulku dahulu. Setelah itu terserah kau mau melakukan apa saja," desaknya dengan menekan semua perkataanya.
__ADS_1
Kening pria itu mengernyitkan, sungguh dia tidak percaya dengan segala ucapan Kanilaras. Namun, dia juga tidak tega melihat kebingungan di wajah gadisnya itu.
Kendrick memulai menceritakan peristiwa dua tahun yang di mana ada seorang pria tua tengah berjalan sempoyongan dengan wajahnya yang babak belur. Pria itu menggedor-gedor kaca jendela mobil mewah Kendrick, sontak Beril murka ingin menghabisi pria itu.
Namun, tindakannya dicegah oleh Kendrick. Pengusaha kaya itu menurunkan kaca jendela mobilnya dan melontarkan beberapa pertanyaan pada pria tua tersebut.
"Sudah lewat tengah malam begini mau ke mana?" Menatap pria itu penuh keseriusan.
"A-aku mau pinjam uang untuk melunasi hutangku pada Bos Kevin," katanya menjelaskan.
"Kau penjudi?" Mengangkat sebelah alisnya sebagai respon setelah mendengar perkataan pria ini.
"Berapa hutangmu? Jika aku membantumu, keuntungan apa yang akan kau berikan?" berondong Kendrick tanpa menatap pria itu lagi.
"Jika kau membantuku, akan aku serahkan anakku yang masih sesegar pucuk teh." Ucapan Broto itu membuat Kendrick terkesiap, dia sangat tidak percaya dengan ucapan Broto.
"Anak gadismu tidak akan selamat jika bersama denganku." Tersenyum dengan bibir rapat.
"Aku tidak memperdulikan itu. Yang aku butuhkan sekarang adalah uang yang banyak, ha-ha-ha ...." Broto tertawa sampai kepalanya terangkat.
Bajingan! Dia benar-benar manusia jahat! Geram Kendrick, pria itu memberi kode pada Beril.
"Ril, buang roti isi dan gantikan dengan sup iga!" ucapnya mencicit.
"Baik Tuan, laksanakan!" Kepala pria yang berselisih usia hanya 2 tahun dengan Kendrick itu mengangguk pelan sembari membuka pintu mobil.
"Di mana rumahmu?" Kendrick kembali melontarkan pertanyaan.
"Di ujung gang kedua dari per komplek-an mewah ini Tuan!" katanya menjawab sekian pertanyaan.
Dari kejauhan Kanilaras melambaikan tangannya ke arah sang ayah, disela senyuman manisnya. Gadis itu memanggil Broto.
"Bapak ...!"
"Kebetulan pucuk teh itu ada di sini," ujarnya terkejut melihat paras ayu Kanilaras.
Langkah kaki yang pendek senyuman yang berhiaskan lesung pipit memberikan kesan berbeda pada pria penguasa besar itu.
"Beril, urungkan niatmu! Berikan uang yang dia mau, aku tidak peduli asal gadis itu menjadi milikku seumur hidupku
__ADS_1
Tiada berkoordinasi ulang, Beril langsung memapah tubuh Kanilaras bak karung beras. Kanilaras yang kaget luar biasa langsung memukul punggung kaki tangan kedua Kendrick.
"Aku tidak akan melepaskan mu!" ancamnya cukup lantang