
Baru pertama kali masuk sekolah ini aku sudah disambut oleh seseorang yang terlihat ingin memukulku. Uratnya terlihat punya definisi yang bagus, dan lebih tinggi 20 cm. Wajah yang keras seperti hendak mengganggam kepalaku. Mungkinkah hari ini adalah hari dimana aku akan dipukuli oleh orang tak dikenal? Tapi bagaimana kalau ia kenal denganku namun tidak sebaliknya? Apa kesalahan diriku di masa lalu yang berkaitan dengan orang ini?
Menggali otak di kepalaku tidak berguna. Tidak ingat.
"Kau."
"Ya?"
"Mari berteman."
Oh, oke.
.....
Wait, what? Berteman? Itu saja?
Belum pernah ada yang mengajak berteman dengan formal seperti ini. Umumnya pertemanan disekitarku selalu dimulai secara alami tanpa perlu basa - basi. Apa itu negerinya yang berbeda atau lingkungannya dulu yang berbeda.
Tidak.
Tidak ada bedanya.
"Ya, mari berteman."
Tidak enak menolak ajakannya yang tulus. Ya, meski wajahnya sedikit seram.
"Namaku Arad, salam kenal."
"Harold, salam kenala Arad."
Ia mengulurkan tangannya kepadaku. Dilihat dari dekat tangannya memang penuh dengan urat. Saat berjabat sekarang pun aku bisa merasakan ototnya yang keras. Telapak yang lebih besar dari ku. Binaraga profesional kah? Petarung Jalanan?
"Sampai jumpa. Jangan khawatir, nanti kita selesaikan di lain waktu." Pria ini mengatakan sesuatu yang luar biasa sambil tersenyum.
Tolong jangan remas tanganku lagi. Lagipula, apa maksudnya dari 'ayo selesaikan di lain waktu', kita bukan rival abadi. Baru 2 menit tadi berkenalan. Jangan buat pondasi pertemanan di atas kekerasan. Ujung - ujungnya mungkinkah aku akan dihajar? Apa jangan - jangan ini pembulian terselubung? Berteman lalu paksa mereka dengan kekerasan, palak, dan peras? Terlepas dari itu jangan buat monologku kebanyakan hanya karena satu kejadian ini.
Setelah cengkraman itu lepas Arad pergi menuju tempat lain, ke dekat taman tepatnya. Berusaha mendekati siswa - siswi yang lalu lalang, tampak kaku saat menyapa. Lihat, orang yang disapanya kerepotan. Arad siswa yang unik. Ah, ada yang kabur melewatinya.
"Permisi."
Seorang gadis memanggilku dari belakang. Kalau ternyata bukan dan malah om - om berjambang, apalah durhakaku pada ibu. Oh, syukurlah, perempuan asli. Rambut pirang tipis setinggi bahu. Untuk seorang gadis remaja ia cukup tinggi, 178 cm, kakinya panjang, putih pula.
"Harold kan, tadi aku dengar pembicaraan kalian. Terima kasih sudah mau berteman dengan kakak. Aku adiknya Loze. Kadang - kadang orang sulit menebak sifatnya karena takut duluan, walau sebenarnya ia orang baik."
Hmm, begitu ya. Pola yang sering kau temui. Asumsi akan perbedaan dapat membuat manusia takut padamu bukan karena kau menyeramkan tapi karena ia pikir kau 'berbeda'. Perbedaan itu menakutkan, jika kau tidak tahu itu apa. Ketidakpastian membuat orang was - was. Arad mungkin orang baik, tapi kecanggungannya membuat orang curiga. Wajah kaku, aura mengintimidasi, dan datang ke arahmu seperti hendak memukul. Namun harus kuakui lagi wajahnya memang garang.
Faktanya 4 menit lalu kupikir ia akan memukulku.
"Pasti sulit ya."
__ADS_1
"Hmm?"
"Tidak, kupikir aku bisa berteman baik dengan Arad." Ia mengingatkanku akan seseorang.
Loze hanya memberi senyum manisnya. Itu sedikit membuatku berdegup. Loze, adik Arad yang cantik. Kau harus melewati kakaknya dulu jika ingin mendapatkannya, hanya bayangan yang kupikirkan. Loze pun kelihatan peduli pada sang kakak.
Oh, kelasku di depan. Kelas B. Beberapa siswa di dalam kelas tampak sedang mengobrolkan sesuatu, atau seseorang? Cepat juga mereka akrab. Apa ada kejadian sebelum aku datang ya. Untuk sekarang ambil tempat duduk di pinggir agak ke tengah.
Normal. Satu hal yang diluar dugaan adalah tetangga yang duduk di sebelahku sedang merokok di dalam kelas dengan santai sembari menaruh kaki di atas meja.
Karena aku melihatnya terus ia jadi menengok sambil mengeluarkan kotak rokok. "Mau satu?", tanyanya seketika.
"Tidak terima kasih. Aku hanya penasaran, apa tidak masalah kalau merokok disini? Nanti ada yang melapor."
"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa."
"Sudah terbiasa, kah?" Mungkin maksudnya sudah sering bermasalah karena rokok?
"Ya. Benda seperti ini hanya bisa dinikmati oleh mereka yang bisa berdiri sendiri dengan kemampuan mereka. Jika seseorang memiliki cara untuk menopang hidupnya, tak masalah jika ia ingin menikmati benda mahal dan berbahaya seperti ini. Itu hak orang yang kaya dan berkuasa."
"Oh. Jadi kau orang yang seperti itu?"
Ia mendengus, "Entahlah, bagaimana menurutmu?", asap yang dihembusnya mengepul di satu titik membentuk awan.
Ada benarnya, tapi jika kau masih di sekolah
setidaknya tahan dulu. Hanya saja jika orang ini memang kaya seperti katanya, katakanlah milik pribadi dan bukan dari orang tua, maka tidak ada yang bisa ku katakan lagi. Tanggungan sendiri tanpa meminta. Dengan hak miliknya sendiri ia membeli sesuatu. Yang kuat yang bebas.
Saat itu juga...
"Guntur, matikan rokoknya."
"Sebentar lagi mau habis, tunggu saja nenek."
Aku sedikit kaget karena ada orang dari luar yang masuk lalu memberi peringatan ke tetanggaku ini, Guntur. Perempuan yang memperingati Guntur mengerutkan dahinya. Kukira tadi itu guru, ternyata sesama murid. Kakak kelas kami kah? Dasi mereka warna biru. Warna biru untuk kelas 3.
Itu terjadi dalam sekejap. Tangan yang tadinya berada di samping tubuhnya langsung menyerang dengan serangan pisau tangan ke kepala Guntur. Sepertinya yang diincar adalah rokok di mulutnya.
Guntur memang luar biasa. Ia menangkapnya dengan tepat, tanpa menurunkan kakinya.
Suasana jadi agak sedikit tegang, aku menyaksikan ketegangan ini dari samping. Tolong jangan sampai serangan kalian nyasar kesini. Gunakan saja Wing Chun atau semacamnya.
"Sekali lagi Guntur, matikan."
"Diamlah nenek, kubilang ini mau habis." Guntur memprovokasi.
"Jangan panggil aku nenek, aku masih 17."
"Oh, kalau begitu bertingkah saja seperti remaja 17 tahun. Menjeritlah bersama temanmu sambil melihat barang imut, bukan malah menasihatiku seperti nenek - nenek."
__ADS_1
Ah, ia tampak kesal dan mulai berusaha menjatuhkan Guntur dari tempat duduk. Kali ini Guntur turun dari kursinya, berdiri sambil memegang kedua tangan wanita itu. Dari segi kekuatan murni, Guntur memang unggul. Tapi ini bukan perkelahian murni. Karena Guntur tidak membalas dan hanya menghindar. Ah, dia menendang tulang kering Guntur. Kemudian dari sana berlanjut ke serangan lain. Tujuan wanita itu tampaknya rokok yang ada di mulut Guntur, bukan Guntur secara langsung, dan Guntur menerima tantangannya.
"Boleh juga." Ucap Guntur.
"Berhenti, sudah cukup."
"Hah? Jangan seenaknya menyerang lalu berhenti begitu saja, kau lagi datang bulan apa?"
"Rokokmu sudah jatuh. Aku yang menang."
Ah, benar rokoknya jatuh dan wanita itu menginjaknya.
"Sial, aku terlalu keasyikan menghindar sampai lupa." Guntur tampak tidak puas, namun ia kembali ke tempat duduknya.
Eh.. Lalu apa yang terjadi? Ada apa ini sebenarnya?
"Maaf atas keributannya." Ia meminta maaf kepada semua orang, termasuk aku yang menonton mereka dari dekat tanpa mengubah posisi.
"Setidaknya jaga sedikit sikapmu di sekolah. Ibu memintaku menjagamu."
"Berisik, urusanmu sudah selesai kan? Pergi sana."
Setelah Guntur mengusirnya pergi, ia pergi tanpa mengucapkan hal lain. Semua jadi hening. Tapi tak berselang lama, semuanya kembali normal. Kejadian ini menarik perhatian sedikit orang di luar. Mungkin akan ada guru datang mengecek.
Benar - benar awal yang luar biasa, aku bisa melihat 'dogfight' antar manusia di hari pertama.
"Itu kakakku."
Aku sedikit menduga itu.
"Apa hubungan kalian buruk?"
"Tidak juga. Hanya perbedaan prinsip. Bukan berarti kami punya permusuhan."
"Ooh, perbedaan prinsip ya. Itu membuatku tertarik."
"Heh, nanti saja jika kau sudah kuakui sebagai orang yang bisa dipercaya."
"Aku menantikannya."
Aku melihat seorang guru menanyakan sesuatu pada murid di luar. Masalah tadi kah? Guntur hanya melirikku sekilas, kemudian memejamkan matanya. Kurasa asyik jika bisa akrab dengan orang macam ini. Entah kenapa saat ini aku bisa bilang kalau tetangga sebelahku ini orang yang menarik. Mungkin aku takkan bosan jika bersahabat dengannya.
__ADS_1