Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 6 Suka apa


__ADS_3

Di dunia ini ada beberapa orang yang punya hobi tertentu. Hobi tidak biasa, atau hobi yang ia dalami sedalam-dalamnya.


“Kram itu buku isinya masih tentang supranatural?”, Rito bertanya pada Akram yang tak menjauhkan matanya dari buku.


“Ya... ", jawab Akram dengan malas. Matanya belum mau berpindah.


Kami sekarang sedang duduk di dalam kelas sambil menikmati makanan saat jam stirahat.


Tanpa mengalihkan pandangannya Akram mengambil potongan ayam dari kotak makanannya.


Orang ini bawa bekal ke sekolah. Teladan. Ia juga membaca buku saat jam istirahat. Contoh baik.


Tapi buku yang biasa dibacanya selalu bertema tentang cerita supranatural atau spiritual, mulai dari novel sampai ensiklopedia, ilmu bertapa, sampai cara pemanggilan


makhluk. Beberapa buku seperti itu setahuku tersebar luas di internet. Akram punya semua.


Salah satunya yang sedang dibaca Akram sekarang. Orang berkacamata yang kulihat dihari pertama adalah Akram. Kami mulai akrab juga karena aku mengomentari ensiklopedia mistis yang sedang ia baca. Habisnya, sampul bukunya terlihat unik.


Hanya saja aku berharap ia tidak jadi dukun beranak atau mencoba ritual yang membahayakan.


Akram in isalah satu orang yang punya kesukaan unik tersebut. Supranatural dan spiritual. Aku tahu mungkin banyak orang yang juga punya kesukaan yang sama, tapi selama 15 menjelang 16 tahun aku hidup, tidak pernah kujumpai orang yang seantusias Akram.


Apa harus kukatakan bahwa sejatinya banyak orang penakut?


Jujur aku sendiri suka dengan hal supranatural, namun jika ditanya apakah ingin mengalaminya, mungkin tidak.


“Oh, kau juga suka cerita yang seperti ini”, kata Rito sambil menengok dari samping Akram. Ia melihat halaman yang sedang dibaca Akram.


Akram terlihat panik, wajahnya sedikit memerah. “Apa salahnya kan? Aku juga pria.”


Rito tersenyum selebar-lebarnya sambil menepuk pundak Akram. Akram terlihat tidak senang. Ia tampak malu.


“Akram yang tangguh dan ketat juga sama seperti dua orang pencari mawar ini.”


Aku tidak tahu kenapa ia melirik ke arahku dengan tatapan penuh makna.


“Pencari mawar?”


“Romansa bro”, jawab Rito kepadaku.


“Oh... “


"Kurasa aku tak mau mencari mawar dengan terburu-buru."


“Apa sekolah kita punya cerita semacam ini?”, kata Rito sembari menunjuk salah satu halaman dari buku Akram.


“Entahlah, bagaimana jika tanya kakak kelas?”


Cerita macam apa? Karena penasaran aku juga melihat halaman yang ditunjuk.


Ah, itu.


“Kalau ada itu luar biasa, aku jadi ingin melihatnya.”


“Kau tidak ingin mengalaminya En?”


Aku menggelengkan kepala atas pertanyaan Rito.


Yang sedang dibaca Akram adalah romansa supranatural. Bisa dibilang kali ini ceritanya agak ke arah romantis, tidak seperti Akram yang biasanya. Walaupun tetap ada unsur supranatural di dalamnya.


Geng werewolf wanita dan bocah Sma. Sungguh judul yang penuh implikasi. Bocah tersebut mungkin akan punya haremnya sendiri. Judulnya terdengar menarik, hampir tidak ada kesan seram.


Ketika kubalik beberapa halaman aku menemukan judul bab lain, Angin cinta gadis Elf dari Dresden.  Dresden, Jerman kah?


“Biasanya werewolf banyak laki – laki."


"Hmp! Belum tentu kebanyakan laki-laki, siapa tahu memang ada yang perempuan”, Akram menimpaliku dengan nada


meyakinkan.


“Aku jadi ingin melihatnya, perempuan bertransformasi jadi werewolf”, ujar Rito. "Terkesan ada sesuatu yang janggal jika dipikirkan, tapi mendebarkan", lanjut Rito sambil membayangkan sesuatu.

__ADS_1


Kedengaran menarik. Kuharap sesekali werewolf wanita bisa populer.


“Aku tidak menyangkal”, balas Akram sambil memperbaiki posisi kacamatanya.


Rasanya ada seseorang mendekat di belakangku sekarang.


“Hei Enric.”


“Bisa kau berhenti berbisik lirih di telingaku? Aku jadi bergidik.”


Belakangan gadis ini senang sekali melakukan hal ini. Anna.


“Ada apa?”


“Mau makan sama – sama?”, Anna mengangkat bekal di tangannya.


“Aku sudah selesai.”


Kuangkat sisa sampahku di meja.


“Oh, sayang sekali kalau begitu lain kali saja. Ngomong – ngomong, soal werewolf, aku kenal


seseorang, kau tahu?”


Anna pergi meninggalkan kata – kata tersebut.  Ia mengedipkan satu matanya ke arahku. Rupanya kau mendengar percakapan kami, dan tolong jangan pergi sebelum kau menjelaskan maksud perkataanmu yang terakhir.


“Enric, sejak kapan kau akrab dengannya?”, Rito bertanya dengan heran.


“Entahlah, aku hanya mengikuti arus.”


“Aku mulai iri.” Rito mencoba menangkapku namun tidak berhasil. Fisikmu masih belum kuat sobat.


“Yang membuatku penasaran adalah ia kenal dengan seorang werewolf.” Akram terlihat serius.


“Yang itu?!”, celetuk Rito.


"Kata-katanya barusan mungkin bercanda. Jangan terlalu diambil pusing."


Lucu juga melihat wajah Akram yang seolah menimbang perkataan main-main barusan.


Kukira itu tidak bisa dibantah.


Rito menghela nafas. “Ya, ya, tuan okultis”, ucap Rito tak tertarik.


Berbicara soal okultis, rasanya aku pernah dengar sesuatu dari kakek soal pengalamannya saat berhadapan dengan sebuah sekte. Kalau tidak salah nama sektenya Morgod,


atau Mogod? Antara dua itu.


“Kram, pernah dengar nama Morgod?”


Akram menjawab cepat, “Sekte Hitam Morgod?”


“Iya itu!”


“Apa itu?”, tanya Rito tidak tahu.


“Kalau tidak salah itu sekte yang beroperasi di Eropa, mereka bahkan punya tempat untuk ibadah dan ritual resmi di suatu negara, sempat masuk ke negeri kita, namun berhasil dibubarkan oleh polisi. Rasanya.. Ah! Mereka menyebut diri


mereka pengikut naga.”


“Naga.. Kukira iblis. “Kenapa naga?”


“Karena keren kan?”, potong Rito.


Tidak menghiraukan Rito sama sekali Akram lanjut menjelaskan, “Kegagahan, kesurgawian, keberkahan, semuanya. Naga juga sering dianggap suci di banyak


negara. Apa kau tidak lihat pagar pembatas kolam di depan sekolah?”


“Ah, bentuknya naga”, jawab Rito.


Ah yang bentuknya gagah itu. Benar juga. Kalau dipikir benar juga kata Rito, naga selalu terlihat keren.

__ADS_1


“Sudah, aku mau beli air sebentar”, ucap Akram sembari berdiri dari kursinya.


“Aku ikut, aku juga mau beli air”, ucap Rito.


Aku tak kekurangan air, rasanya sudah cukup. Menunggu pelajaran berikutnya saja.


“Enric”, kata Anna menghampiriku lagi.


“Hm? Sudah selesai makanmu? Cepat juga.”


Anna menggelengkan kepalanya, ia lalu membuka kotak makanannya. “Bagaimana kalau coba?”, ia menawarkan.


Barusan aku mengatakan perutku lumayan kenyang. Tapi, biarlah dia sudah menawarkan jadi kucoba sedikit.


“Udang ini enak.” Selain udang masih ada sisa kol dan nasi setengah.


“Niatku tadi ingin berbagi denganmu, tapi karena kau bilang sudah.. “, Anna berkata dengan nada pelan, matanya tapi melihat ke arahku, “Mau sisanya?”, tanyanya dengan ragu.


Oh, biarlah. 60 gram nasi tidak ada apa-apanya. “Ya.” Aku mengambil kotak tersebut dari tangan Anna. Ia terlihat senang karena kupuji. Tapi memang benar kalau makanan ini enak.


“Ah, tenang saja, masih bersih kok, aku juga tidak memasukkan sesuatu yang aneh”, katanya mengingatkan..


Momen aku menyambut kotak ini aku bahkan tidak berpikir soal itu.


“Kau buat sendiri?”


“Ya, begini-begini aku pandai memasak.”


“Oh. Memang bayanganmu bisa memasak ada di benakku."


Mandiri kata yang mewakilkan.


“Terima kasih.”


Anna yang menerima kembali kotak bekalnya terlihat senang. “Lain kali ayo makan sama-sama”, ucap Anna dengan senyum lebar.


“Tentu.”


Aku merasa Rito dan Akram memperhatikanku dari jauh sambil melipat tangan. Mereka seakan sedang menelaah sesuatu. Kalian sudah balik dari kantin kah? Cepat sekali.


Aku mengangkat daguku sebagai gestur untuk menanyakan “Apa?”


“Pencari mawar”, kata Akram berbisik.


“Dia bilang tadi tidak terburu-buru.”


Bisik kalian kedengaran. Anna juga membalikan badannya menyadari mereka berdua.


“Jangan dibaca lebih jauh.”


“Sungguh?”, ucap Rito dengan nada tidak percaya.


Sementara Anna hanya tersenyum manis dan berkata, "Dah" padaku, lalu kembali ke bangkunya.


“Kalian ini. Kau juga terlalu suka dengan yang berbau romansa to, apa-apa dibawa ke ranah itu.”


“Tidak masalah kan? 3 tahun bro, hanya 3 tahun kita disini”, ucapnya seolah tidakbpercaya dengan apa yang kukatakan. “Kan, kram?”, lanjutnya.


“Ya, asal jangan berlebihan. Ngomong-ngomong aku tidak terlalu tertarik”, jawabnya mencoba terdengar keren.


Tatap...


Aku dan Rito menatapnya tidak yakin.


“Werewolf dan tuan tanah”, kata Rito dengan nada mengejek.


“Angin cinta gadis Elf dari Dresden.”


Akram tersipu mendengar itu. Ia berkata dengan nada yang datar sambil memperbaiki posisi kacamatanya, “Ya, sedikit tidak masalah memang, asal jangan lupa dengan tugas pelajar.”


“Keluar juga Akram si teladan”, ejek Rito.

__ADS_1


“Tapi benar kata Akram, romansa dan pelajaran adalah hak anak Sma.”


Akram mengangguk. Rito memasang ekspresi malas. Kurasa mereka berdua memang berbeda sifat.


__ADS_2