
Taman dibelakang sekolah yang diapit dua pohon besar dan rumput hijau. Kalau gelar tikar duduk di rumput boleh juga. Lain kali ku ajak saja si gadis culun atau Rito.
"Hei, Harold."
"Hmm?"
"Kelihatannya aku jatuh cinta."
Kata orang yang sekarang duduk di bangku taman, disebelahku. Namanya Ham, teman sekelas. Kukira ada apa, karena ia mengajakku kemari dengan tatapan serius. Ternyata itu saja yang dikatakannya.
"Selamat."
Itulah yang bisa ku katakan.
.......
"Itu saja?"
Meski kau bertanya seperti itu..
"Memangnya aku harus bereaksi bagaimana?"
"Ahaha, benar juga ya", ucapnya sembari menggaruk kepala.
Ham mengambil batu dari tanah dan memainkannya sembari berkata, "Dimulai darimana ya enaknya?"
"Bisa aku tahu siapa yang kau sukai?"
"Loze."
"Oh. Sulit juga ya."
"Bantulah.. Beri aku dukungan atau saran sedikit."
"Apa yang membuatmu berpikir aku bisa memberi bantuan?"
Hal ini juga kupertanyakan? Bahkan aku tidak tahu bagaimana cara membantunya. Seumur - umur baru pria bernama Ham inilah yang meminta bantuan mengenai topik ini secara langsung.
"Eh? Kau kan dekat dengan Ana? Katanya kalian pacaran?", ucapnya yakin.
"Hah?! Mana ada! Siapa bilang?"
"Satu kelas berpikir sama kau tahu? kalian kelihatan dekat sekali, kupikir juga kalian cocok."
Ah, ya, pasti jadinya seperti itu.
Pernyataan pertama mungkin benar, akan tetapi itu hanya hubungan pertemanan. Kalau cocok.. Entahlah.
"Karena keakraban kau dan Ana itulah, kupikir kau punya tips mendekati gadis untukku."
Memangya kau anak Smp? Hajar saja.
"Intinya, kau bertanya pada orang yang salah."
Kupikir ia harus cari orang lain.
Ham menghela nafas, "Apa harus ke dukun ya?", kemudian kata - kata luar biasa dikeluarkannya.
"Oke, stop. Jangan melangkah lebih jauh. Bagaimana jika kau berusaha dulu berteman dengannya?"
Mungkin aku mengulang diriku sekali lagi, tapi rata - rata anak kelas B punya standar penampilan tinggi, begitupun Ham.
Bukan berarti penampilan jadi faktor untuk segalanya.
"Ternyata harus dimulai dari situ, aku belum pernah mengobrol langsung dengannya. Ada saran lain?"
Kapan aku bilang akan memberimu saran?
"Setelah itu tergantung usahamu mungkin. Selebihnya aku tak tahu."
Pembicaraan kita jadi berputar.
Ham melipat tangannya tampak berpikir.
"Satu lagi."
"Masih ada lagi?"
"Yang ini paling penting."
Tiba - tiba ia jadi serius.
"Selama ini aku memperhatikannya, karena itu biarkan aku memastikan sesuatu. Kau tidak ada sesuatu dengan Loze kan?"
Sesuatu? How?
"Tidak ada. kenapa kau kira begitu?"
"Selama aku memperhatikan Loze", jawab Ham sambil melihat tanah.
Ya, kau sudah bilang. Orang jatuh cinta cenderung curi pandang dengan orang yang disukainya.
"Loze, aku tidak tahu alasannya, ia sering sekali melihat ke arahmu. Aku hanya menduga - duga, namun terpikir olehku kalau ia punya perasaan padamu, tapi.. Mungkinkah ada sesuatu diantara kalian?", lanjutnya setelah jeda 5 detik.
Aku juga ingin tahu soal itu. Mungkin kau salah sangka, dia memang melihat ke arahku, tapi tatapannya bukan tatapan suka, itu tatapan yang dingin.
Bertanya pada manusianya langsung pun terasa aneh.
__ADS_1
"Aku tidak tahu soal itu. Satu hal yang bisa kukatakan, aku tidak memiliki sesuatu dengannya seperti katamu, dan kurasa Loze pun begitu."
"Malahan, aku bingung kenapa dari penglihatanmu ada sesuatu diantara kami.. ", gumamku.
Mungkin karena ia sedang jatuh cinta.
Ham masih menatapku serius, hanya wajah senyum masam yang bisa ku pasang.
"Oh, sungguh?", katanya tidak percaya.
"Sungguh, tidak ada yang kusembunyikan. Kalau kau sedang berusaha aku mendukungmu, tenang saja." Nadaku meyakinkannya.
Kali ini ia menghela nafas lega, "Baiklah, terima kasih sudah mau mendengarkan ocehanku", katanya dengan senyum lebar. "Kurasa aku harus berusaha sendiri", ucapnya kemudian.
"Semoga beruntung."
"Ya."
Ham pergi meninggalkanku di taman seorang diri.
Lebih baik aku duduk disini sebentar.
5 menit berlalu sebelum aku kembali ke kelas.
Karena ada Guntur di kelas, biar ku tanya saja dia.
"Gun, aku punya pertanyaan."
"Apa?"
Guntur sedang menyalakan rokoknya seperti biasa. Aku penasaran apa ia belum dapat peringatan dari sekolah, atau ia mengabaikannya. Jika Guntur mematik rokoknya, anak lain akan sedikit menjauh.
Tiba - tiba Rito datang, lalu duduk di kursi depanku, ikut mendengarkan.
"Kira - kira kalau ada yang menatapmu dingin di waktu tertentu tandanya apa, apa karena aku dibenci?"
"Mungkin kau pernah melakukan sesuatu yang jahat. Kenapa? Apa kau berkelahi dengan Ana?"
"Bukan, dan dia bukan pacarku. Aku hanya ingin tahu pendapatmu."
"Tinggal tanya kan, penyebabnya bisa jadi bukan hal yang kau khawatirkan. Info yang kau beri terlalu sedikit."
Ada benarnya. Tapi jahat ya, kata yang berlebihan.
Kupikir juga ada sesuatu yang salah, hanya saja seingatku tak ada hal yang kulakukan yang bisa membuat Loze marah.
"Hooh, apa ada masalah?", Rito yang dari tadi mendengarkan angkat bicara.
Belakangan ini, trio kami sering berkumpul mengobrol di kelas. Rito sendiri tidak terlalu terganggu dengan fakta Guntur yang merokok.
Rito dan Guntur melihat heran ke arahku bersamaan.
"Pertanyaanmu berubah ke arah lain", reaksi Guntur heran.
"Entah, tidak ada panduan untuk itu. Orang punya caranya masing - masing", balas Rito.
Bahkan Rito pun menjawab seperti itu. Aku hanya ingin tahu sebab aku ingat percakapanku dengan Ham kemarin. Karena Ham sudah menceritakannya, aku ingin tahu kelanjutan perjuangannya. Ngomong - ngomong, kenapa Ham tidak bertanya pada Arad tentang Loze? Mungkin aku bisa tahu sesuatu dari sana.
"Memangnya ada yang ingin kau goda?", celoteh Guntur.
"Siapa tahu jadi amunisi di masa depan."
Bercanda.
Guntur langsung melontarkan pernyataan, "Jangan terlalu memikirkan masalah wanita, nanti kau sakit kepala."
Bukannya aku selalu memikirkan wanita.
**********
"Lagi bingung?"
"No. Nih tangkap."
Aku melempar kaleng susu stroberi yang kubeli.
"Untukku? Terima kasih. Perhatian sekali."
"Jadi, apa?"
Siang tadi ia mengajakku bicara di koridor atas, dan disinilah kami, sambil memandang halaman luas yang disinari terik.
Di bawah aku melihat Arad dan Loze pulang bersamaan, Loze sempat mengarahkan pandangannya ke lantai ini, bisakah dia melihatku dari sana?
Perasaanku saja barangkali.
Ana memulai pembicaraan.
"Bisa aku minta tolong sesuatu?"
"Kau tidak akan memintaku melawan monster kan?"
Ana kebingungan, "Hah? Apa yang kau katakan?", katanya heran.
"Hanya bercanda. Jadi minta tolong apa?"
__ADS_1
Ana berjalan masuk hendak masuk ke salah satu ruangan, "Ikut sebentar."
Aku mengikutinya. Tapi aku merasakan hal ganjil, perasaanku tidak enak.
"Hei, Ana."
Aku memanggilnya, ia menoleh dan hanya tersenyum, "Tenang, ikut saja."
Tahukah dia isi pikiranku?
Kami menuju ke ujung koridor. Itu jalan buntu kan? Di kanan kiri ada ruangan tertutup. Lokasinya agak gelap karena tidak ada lagi jendela dan karena posisinya di ujung.
Mungkin ada sesuatu di ruangan itu? Mungkin ia minta tolong aku mengangkat barang?
Langkahku jadi makin berat.
Tapi, biasanya perasaanku meleset. Aku saja yang terlalu parno, jangan - jangan karena adegan horor di lorong pengap yang ku tonton dari film kemarin.
Krakk, krakk, ceklik.. Suara gagang pintu diputar.
Tidak ada udara dingin yang keluar dari dalam kan?
"Ayo, di dalam tolong bantu aku mengangkat barang."
Haah.. Ternyata memang angkat barang.
Kosong? Tidak ada yang bisa diangkat disini selain kardus kosong di pojokkan dan dua buah sapu.
"Ana, yang ma-"
Ceklik.. Pintu ditutup olehnya.
Eh?
"Ana?"
"Hei, Harold."
Krak, krak, krakkk..
Ana meremas kaleng minumannya.
Apa ia marah? Meremas kaleng yang ada isinya seperti itu bukan hal yang biasa kan? Sekuat apa tangannya?!
Jangan - jangan aku akan dipukuli..
Dipukuli seorang gadis di gudang kosong, hahaha, bukan lelucon yang bisa jadi bahan tertawaan.
"Hei, Harold?"
"Ya, Ana? A-ada apa?", suaraku sedikit bergetar.
Ia tersenyum seperti biasanya sambil mengangkat wajahnya. Itu membuatku lega.
Tapi kemudian..
"Haha. Hihi..", Ana mulai tertawa aneh.
Wajahnya berubah, senyumnya sekarang berubah jadi senyum menakutkan. Ruangan yang pengap makin pengap, dan aku merasa seperti dicekik. Kemudian ada satu hal lagi yang membuatku kaget.
"A-Ana..", terdiam di tempat seperti di tahan oleh sesuatu, tidak ada yang bisa kulakukan karena syok.
Kenapa aku tidak sadar? Padahal dia sering berinteraksi denganku.
Di depanku Ana yang tertawa sendiri, penampilannya berubah.
Mata berubah jadi biru menyala, muncul tato disekitar kepala dengan pola yang aneh. Rambutnya jadi putih dan muncul telinga panjang yang bukan milik manusia dari kepalanya. Udara disekelilingku jadi tertekan. Keringat dingin membasahi bajuku.
Keterkejutan ini tidak bisa dibantah. Apa yang bisa ku lakukan? Pertama kalinya aku melihat sesuatu yang lain dari dunia ini.
"Harold. Jangan takut. Kemarilah."
Meski kau bilang begitu.
Gerak pun tidak bisa.
"Kalau kau seperti itu, biar aku yang mendekat."
Jarak kami hanya sekitar satu kaki.
"Kau terlihat enak, bagaimana kalau kau jadi milikku selamanya."
Itulah yang dia katakan sambil menjilat bibirnya. Mataku hanya bisa terbelalak karena kaget, takut akan senyumnya yang terkesan menyeramkan.
"Hahahaha..!!"
Tawanya terdengar di dekat telingaku.
Oi!!! Aku tadi bilang melawan monster itu hanya untuk bercanda!
Ini cerita romansa kan?!!
Helppp Meee..!
Teriakku dalam hati.
__ADS_1