
Hari yang cerah. Sungguh cerah. Tak ada awan bahkan setitik pun. Mm, benar – benar hari yang tepat untuk memulai sekolah. Aku jadi teringat lagu masa kecil, ayo sekolah! Ayo sekolah! Hore! Begitu liriknya kalau aku tidak salah. Hmm, tapi aneh sekali ya, kenapa sekarang rasanya ada bayangan hitam yang menutupiku? Bayanganku sendiri sampai terserap ke dalam. Perasaanku kah? Ah, iya! Mungkin bayanganku hilang karena tembok dibelakangku! Pantas tidak kelihatan. Pasti karena tembok pagar setinggi 3 meter ini.
Tentu bukan karena aku ingin dipalak atau dipukuli di hari pertamaku kan? Habisnya aku datang kesini dengan niat bersekolah agar ayah dan ibu bangga, ah, kakek juga.
Aneh. Jadi aku yang tidak bersalah dan polos ini mengapa harus dipelototi oleh orang yang tingginya hampir 2 meter ini?
“Anu, ada yang bisa saya bantu?”
Aku mencoba untuk sopan. Matanya seram. Ototnya berurat. Telapak tangannya sebesar kepalaku. Jangan salah, aku juga rutin berolahraga dan cukup percaya diri dengan kemampuan tubuhku. Tapi orang ini, lain ceritanya. Keringat dinginku sampai keluar.
Lagipula dia ini satu angkatan anak baru denganku kan? Kakak kelas masih mendingan, tapi di palaki rekan seangkatan saat baru masuk, rasanya lucu.
Tapi situasi ini tidak lucu. Seseorang bisa bantu tidak!
“Hmm... “
“Ada apa ya?” Aku coba bertanya padanya namun tak ada jawaban. Yang ia lakukan hanya menggumam gerutu.
“Kalau tidak ada, aku mau pergi dulu, sebentar lagi upacara.”
Plak!
Oke! Maaf, saya tidak akan lari! Tangannya menepuk tembok untuk menghalangi jalanku. Hampir. Lewat beberapa senti saja, kepalaku bisa menempel di tembok.
Sebentar, bukannya ini seperti posisi kabedon? Aku terkena kabedon! Oleh laki – laki pula! Lucu ya. Keperjakaan kabedon milikku diambil.
Lebih baik aku tidak bercanda lagi. Mari coba tatap mata orang ini, siapa tahu dengan bertatapan bisa ada pengertian diantara kami.
Mata kami bertemu. Kupikir ia akan mengalihkan pandangannya dengan mudah, ternyata tidak. Aku jadi ingin tertawa.
Matanya seram!
Orang ini tetap bergumam. “Mmm... “, kali ini suaranya lebih keras.
Aku yang mengalihkan pandanganku duluan. Orang ini menekan dengan luar biasa.
Aah. Selesai sudah. Hari pertamaku, aku ditatap dengan penuh antusiasme, kabedon pertamaku diambil, dan sekarang aku mengalihkan pandanganku dengan cepat ke arah lain. Mungkin posisiku sekarang sama seperti tokoh utama di game otome. Tapi laki – laki, dan aku juga laki – laki!
Datanglah! kalau kau ingin menyatakan perasaanmu, sekarang saatnya!
“Harinya cerah ya, namaku Enric, salam kenal.”
“...”
Orang ini masih diam. Tapi ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Reka”, gumamnya pelan.
“Hm? Apa?” Dia mengatakan sesuatu tapi tidak terdengar jelas oleh telingaku.
__ADS_1
“Mm!”
“Iya! Kedengaran jelas, siap!”
Buat kaget saja dengusmu kawan. Aku hanya bertanya.
“Kalau tidak ada keperluan lagi, aku pergi dulu. Bisa tolong geser sedikit? Aku perlu jalan.”
Orangnya tidak bergeming. Okelah, saatnya menggunakan teknik bela diriku, maju kau! Meski sekarang aku sedang keringat dingin! Ada kalanya pria harus bertempur!
Asal jangan remas kepalaku dengan tangan itu.
“Ka-, dimana!”
Ada suara seorang gadis berteriak memanggil. Arahnya kesini. Syukurlah kalau ada orang lain. Gadis itu melihat kesana kemari, seperti sedang mencari seseorang. Sampai akhirnya ia melihat ke arah kami. Kami bertatapan sejenak. Orang yang ada di depanku berbalik ke belakang. Syukurlah ia tidak mengancamku lagi. Setidaknya jika terjadi sesuatu ada saksi mata.
“Kakak! Kucari dari tadi, kemana saja? Upacara mau
mulai.”
Kau adiknya ternyata!
“Ah, halo selamat pagi”, gadis itu mengucap salam sambil tersenyum lebar.
“Ah, pagi.”
Suasana gadis ini lebih adem.
Kakaknya mengangguk.
Ternyata kau ingin berkenalan! Aku tidak tahu itu niatmu. Sungguh cara berkenalan yang persuasif!
“Asal jangan membuat orang lain kerepotan, gaya kakak selalu buat orang takut!” ucapnya tanpa belas kasih.
Kakaknya tampak murung dan merasa bersalah. Ia seperti tertusuk panah. Mulutmu tidak di rem juga ya adik.
“Maaf ya, apa ada sesuatu yang terjadi?” ia meminta maaf sambil bertanya.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit syok.”
Tidak ada masalah. Aku hanya diseret ke pagar dengan intimidasi saja. Padahal aku sedang melihat-lihat taman disini karena bunga-bunganya indah.
“Hahaha... “ gadis di depanku tertawa kaku. “Maaf ya.”
“Tidak masalah, aku masih sehat.”
Ia tertawa canggung karena gurauanku.
“Oh ya! Namaku Rena, ini kakakku namanya Reka, kami juga baru masuk hari ini.”
__ADS_1
Kakak adik kah?
“Enric, salam kenal.”
Adiknya berkata dengan sopan, sedangkan si kakak menundukkan kepalanya sambil memegang lehernya.
“Enric kah!” katanya antusias. “Maaf ya sebelumnya kalau kau merasa tidak nyaman, kakakku sedikit, ya, pemalu mungkin?” ujarnya sambil tersenyum.
Tidak! Tidak! Pemalu juga tidak seperti itu. Aku tidak tahu kalau definisi pemalu sudah berubah.
Mungkin karena melihat wajahku yang kebingungan, Rena melanjutkan perkataannya dengan penuh keyakinan, “ Tenang saja! Kakak hanya canggung saat berbicara! Dia orangnya baik, meski wajahnya agak seram.”
Kalimat terakhir Rena membuat Reka jadi tertusuk lagi. Kau bisa lihat di wajahnya.
“Oh, oke. Tidak usah dipikirkan lagi, aku hanya sedikit kaget.”
“Kalau begitu mari bersalaman.” Rena mengambil tanganku tanpa ragu.
“Ah, baiklah.”
Rena memasang senyum lebarnya.
Entah mengapa aku merasa kakak beradik ini sama-sama punya aura menekan yang luar biasa. Ia tidak ragu mengambil tanganku padahal kami baru pertama kali bertemu.
“Ayo kakak!” Rena berkata sambil membujuk kakaknya bersalaman.
Kami bersalaman. Memang tangan Reka besar sekali. Tangannya bahkan bisa menggepengkan tanganku.
Reka kelihatan senang.
“Mari kita semua berteman!” ucap Rena dengan senang.
“Mm.” Reka mengangguk
“Iya.”
Hitungannya mereka teman baru pertamaku.
Rena melihat jam lalu berkata, “Eh, ayo kita cepat ke aula!” ia menarik tangan Reka.
Rena menengok ke arah aula dan menyuruh kami bergegas kesana. Benar juga, sebentar lagi upacara tahun ajaran baru akan dimulai.
Ternyata kami ada di kelas yang sama. Saat upacara pun Reka menarik perhatian banyak orang karena perawakannya yang tinggi dan gagah. Memang tidak banyak anak – anak Sma yang punya tinggi 190 cm lebih.
Wajahnya seram pula.
Mungkin agak kasar kalau kugunakan kata seram, kaku? Atau serius mungkin?
Satu hal yang kusadari karena baru hari ini kami masuk adalah, banyak perempuan dan laki – laki di sekolah ini punya wajah cantik, imut dan tampan. Kelasnya berbeda sekali. Apa boleh buat, aku sebagai lulusan negeri jarang melihat pemandangan bagaikan taman bunga ini. Apalagi gadis-gadis di kelas kami. Mereka menarik perhatian bahkan dari barisan kakak kelas. Untuk kakak kelas sendiri aku belum banyak memperhatikan.
__ADS_1
Seperti yang diharapkan dari sekolah swasta. Isinya mungkin orang kaya semua. Untunglah ada tawaran dari teman kakek. Untuk 3 tahun ini, kalau aku bisa lulus dengan aman maka tidak akan ada masalah.
Aku berharap agar hari – hariku ke depannya menjadi hari yang terbaik!