
Rito mengajakku untuk berbicara berdua di taman belakang. Tumben sekali. Normalnya ketika mengibrol kami selalu mengajak Akram, lengkap bertiga. Sekarang Rito sedang membelikan yogurt stroberi di kantin. Tidak biasanya dia mentraktir.
Ah hari ini cerah. Duduk dibawah pohon membuatku ingin terlelap.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin diatas kepalaku. Ternyata Yogurt stroberi pesananku .
“Bro, ” ucapnya sambil membanting diri di sebelahku di iringi suara khas kaleng soda yang dibuka.
“Hm? Apa? Yogurt dingin di hari cerah memang pas.”
“Kau suka sekali itu ya? Lebih pas soda.” Ia mengangkat kalengnya ke atas.
Apa yang kau katakan soba? Menurutku tidak ada yang tidak suka yogurt dingin di hari yang sejuk. Meskipun mendebatkan kesukaan dengan Rito tidak ada gunanya. Kami sudah beberapa kali berdebat soal hal kecil.
“En, ada yang ingin kutanya dan kukatakan.” Rito menggengam dengan sedikit tenaga kaleng sodanya.
Wajah Rito jadi serius. Ia tampak ragu-ragu sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka mulut.
“Kelihatannya, aku suka pada Rena,” ungkapnya dengan nada ambigu.
Kenapa orang ini mengatakannya dengan ambigu?
"Jika benar, artinya bukan 'kelihatan', katakan saja kau suka dengan Rena."
Rito menatapku tanpa ekspresi, "Kau jadi terdengar seperti Akram, memperhatikan kata kecil seperti itu."
Aku hanya mengangkat bahu. "Ya, ya. Aku sudah tahu. Kelihatan dari gelagatmu."
"Sungguh?" katanya kaget.
Dia tidak sadar. Kurasa Rena pun sedikit-sedikit sadar. Tapi tak perlu mengatakannya pada Rito.
“Jadi, kau tahu ... itu, bagaimana?”, sambung Rito seakan mengharapkan sesuatu dariku.
“Bagaimana apanya?” Apa maksud orang ini?
“Maksudku Apa Rena punya pacar, atau orang yang disukainya?”, tanya Rito gugup.
“Entahlah, aku tidak tahu. Atas dasar apa kau mengira aku tahu soal urusan pribadi Rena?”
Lagipula aku tidak pernah menanyakan hal itu padanya. Pacar mungkin tidak tapi kalau orang yang disuka mungkin saja ada.
“Kenapa tidak tanya langsung?”
“Mana mungkin kan?” balasnya. Ia meneguk soda miliknya.
“Haah, soda memang pas. Kalau ditanya langsung, nanti
niatku ketahuan.
"Hahaha.... "
Kurasa perasaan dan niatmu sudah kelihatan. Tapi aku tak bisa mengatakannya juga pada Rito.
Ia melirik ke arahku, "Kulihat kalian dekat. Jadi kukira ... ada sesuatu." Ia sulit mengeluarkan kata-kata.
"Kau selalu mengatakan itu tentang setiap perempuan di kelas yang ku kenal."
"Habisnya kau bilang tidak punya banyak teman perempuan, tapi kenyataannya tidak seperti itu," tukasnya.
"Teman sobat, teman. Tidak ada arah ke romansa."
Rito menghela nafas panjang kemudian berkata, "Akram juga sama, si kacamata okultis itu bahkan akrab dengan salah satu kakak kelas."
"Oh, benarkah?"
"Benar sekali!" sahutnya nyaring. "Kemarin saat mau ke ruang ekskul-"
"Stop. Nanti saja." Aku segera menutup mulutnya sebelum ia mulai mengoceh.
Kembali ke topik awal, Orang ini ingin memastikan tentang perasaanku pada Rena.
__ADS_1
Aku memberi jempol pada Rito. "Lakukan sesuai hatimu saja kawan. Aku tidak mengerti urusan cinta."
Ia menatapku tak yakin. "Hm ... Sungguhkah itu?"
"Ya, ya. Aku mendukungmu. Lalu?”
“Lalu.... “ Rito berpikir.
Aku juga tidak mengerti kenapa ia sampai harus menanyakannya padaku. Mereka bilang sebelum janur kuning melambai kan?
“Kau tidak suka Rena?” ucapnya setelah pikir panjang.
“Suka sebagai teman.”
Aku juga tidak mau ikut dalam peperangan.
“Menurutku pribadi, kalian berdua terlihat
serasi dari jauh, ”ucap Rito. Ia menengok ke atas langit.
Begitukah?
"Jangan membuatku jadi percaya diri." Aku berpura-pura berdiri. "Saatnya, menuju Rena."
"Oi, tunggu!" Rito menarik tanganku.
"Ya, ya. Sudahlah, aku mendukungmu."
“Kalau begitu Terima kasih! Jadi tolong lihat aku dari jauh dan bantu jika aku kehabisan topik!”
“Eh.... “
"Sesama manusia yang tidak punya pengalaman!" guraunya sambil mengangkat kaleng soda ke arahku.
Mendengar suara engganku Rito menepuk pundakku. Ia memasang senyum lebar dan berkata, “Uang minumnya kan
sudah.” Rito menunjuk yogurt yang sudah setengahnya kuminum.
“Kurang.”
“Iya, iya. Tapi aku tak tahu harus apa selain mendukungmu, jangan harap lebih.”
Rito memberi jempol. Giginya yang putih ia pamerkan.
Entah apa yang harus kulakukan. Kurasa untuk sisanya manusia ini harus berjuang sendiri.
“Kurasa cepat atau lambat ini pasti terjadi.”
“Apanya En?", tanya Rito bingung.
Aku menggelengkan kepala.
Aku melihat dua orang siswa-siswi yang sedang duduk di bangku yang berseberangan dengan kami. Sekilas terbayang
disana Rito dan Rena yang duduk.
“Kalau ditolak, jangan menangis padaku.”
“Kau menganggapku sudah pasti ditolak?!”
teriak Rito tidak terima. Kemudian dengan semangat ia mengeraskan kepalnya di udara.
“Akan kutunjukkan, Rito bukanlah orang biasa!”, sambungnya dengan mengangkat kepal ke atas.
“Oo... “ Aku ikut mengangkat tangan.
“Reaksi tipis, apa kau tidak suka? Jangan-jangan kau sunggu-“
“Aku hanya tidak yakin.” Aku memotong Rito sebelum ia mengatakan apa-apa lagi.
“Kau teman yang jahat!”, katanya sedikit kesal.
__ADS_1
Aku tersenyum masam. “Bercanda To, tidak ada yang tidak mungkin”, kataku coba menghiburnya.
Mungkin aku terlalu pesimis, mungkin juga aku hanya ingin mencandai orang ini. Enak jadi Rito, bisa terbuka pada
siapapun. Seharusnya manusia ini mudah berinteraksi dengan siapa saja. Kecuali Rena. Orang ini tidak bisa menyembunyikan kegugupannya di hadapan Rena.
“Mulai besok kau harus banyak berbicara dengannya.”
“Ya.”
“Jangan kaku, dan jangan tunjukkan wajah merahmu.”
“A-aku tidak seperti itu!”, bantahnya. Ia tampak malu. “Sulit tahu, melihat wajah Rena”, gumamnya sambil menutup wajahnya.
Ada sesuatu yang menggelitik wajahku ketika melihat pria, Rito tepatnya jika tersipu. Mm. Ini lebih dari yang kuduga.
Orang ini benar-benar ditembak 10 cupid sekaligus.
Aku menepuk punggung Rito yang sedang meminum soda sekerasnya. “Apapun yang terjadi. Semangat!”
“Ohok, ohok, ohk! Ah, aku tersedak.”
“Maaf, maaf.”
Rito melihatku dengan tidak terima, “En, kalau aku mati tersedak sebelum menyatakan perasaanku bagaimana?”
“Aku akan menggantikanmu untuk menyatakannya.”
“Ah! Sudah kuduga, sialan kau En!” Rito melingkarkan lengannya diantara leherku dan mulai mengacak-acak rambutku.
“Iya, iya. Stop!”
“En sialan. Rasakan ini!”
Rito tertawa sambil menjitak kepalaku pelan. Bercanda seperti ini dengan teman adalah hal yang indah.
Hanya saja, momen ini aku belum menyadari, bahwa pertengkaran karena cinta dan kesalahpahaman bisa terjadi
dengan mudah. Dan pertemanan, bisa hancur dalam waktu yang singkat.
**********
Sepulang sekolah di hari yang sama aku tak sengaja mendapati Erika dan Anna yang sedang berbicara di dalam salah satu kelas yang kosong, entah mengapa mereka mengobrol di dalam kelas kakak kelas 2. Seperti biasa, aku terlalu lama menunggu di sekolah, jadi aku berpikir untuk berkeliling, mencari orang yang bisa diajak bicara. Aku juga sempat ke perpustakaan tadi untuk mencari Anna, namun orangnya tidak ada. Ternyata mereka ada disini.
Tidak kusangka Anna dan Erika ternyata sedekat ini. Dua orang ini sangat jarang berinteraksi dalam kelas. Mereka bertingkah seolah tidak punya urusan dengan yang lain. Tapi ternyata, mereka diam-diam seperti ini.
Apa mungkin ini salah pahamku? Jangan-jangan mereka bertengkar pula.
Aku jadi penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Bayangan idealku mereka berdua berdiri disana dengan canda tawa. Tidak ada canda tawa disana. Bahkan Anna melipat tangannya di depan dada dan memasang wajah serius. Erika pun memasang wajah serius.
Kuharap tidak ada yang mulai menjambak. Aku tidak suka melihat perempuan berkelahi.
Coba mendekat saja. Baru juga satu langkah, kepala mereka secara kompak melihat ke luar jendela dalam, ke arahku yang perlahan melewati lorong. Ketahuan. Padahal niatnya aku ingin berpura-pura duduk dibalik tembok.
Dari tatapannya mereka sudah sadar. Lebih baik aku masuk dan menyapa mereka.
"Hai, belum pulang?" Suaraku mungkin terdengar canggung.
Kuharap aku justru tidak mengganggu percakapan gadis. Bisa jadi juga mereka sedang bertengkar karena cinta. Kelihatannya aku mulai tertular Rito.
"Baru mau," jawab Anna. "Sudah lain kali saja," ucapnya kemudian pada Erika.
"Maaf mengganggu."
"Tidak masalah kan?" kata Anna sambil melirik Erika yang dibalas dengan anggukan.
Anna kemudian keluar dari kelas dan berkata, "Sampai jumpa lagi Enric, Erika, aku duluan." Ia terlihat buru-buru keluar. Niat awalku mencari dia tapi orangnya malah pergi.
Erika kemudian menghampiriku. Berdiri dihadapannya seperti ini tatap muka baru pertama kali. Tingginya 2 cm lebih daripada tinggiku.
"Hati-hati di jalan pulang" katanya masih dengan wajah datarnya seperti biasa sebelum pergi.
__ADS_1
Aku masih menatap punggungnya yang menjauh serta mencerna perkataannya. Kata perpisahan yang jarang kudengar keluar dari mulut seorang teman kelas.
Ancaman? Aku tidak mengerti apa itu caranya mengucapkan sampai jumpa, atau benar peringatan dari wajahnya. Ekspresinya sulit ditebak!