Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 11 Anna yang sesungguhnya (II)


__ADS_3

Ini ... dimana ya?


Harusnya aku ada di rumah, kenapa aku ada di tempat yang misterius macam ini... tempat tidur besar, kanopi ... lalu selimut warna merah. Kucoba membalikan badanku ke sisi kiri. Tidak ada siapa-siapa. Aku tak tahu darimana penerangan di ruangan ini, tapi sekelilingku terang remang-remang.


Eh? Seharusnya aku tidak disini. Aku mencoba mengangkat tubuhku perlahan. Anehnya tempat ini nyaman. Rasa hangat dari kasur dan selimut yang menutupiku sangatlah pas.


Apa aku dipindahkan? Atau diculik makhluk halus? Atau jangan-jangan pindah ke masa lalu!?


Tentu tidak! Kamarku di masa lalu mungkin bekas rawa, tak mungkin ruangan sebagus ini!


Aku merasa bagian bawah kasur di dekat kaki ku turun ke bawah, artinya ada yang naik kemari, tampaknya perempuan. Masa adikku?


Wajahnya tidak bisa kulihat sampai ia benar-benar mendekat.


"Anna!?" Aku tidak salah lihat! Tapi Anna yang dihadapanku bukan Anna yang bersanggul dan berkacamata bulat culun, melainkan Anna yang berubah total menjadi wanita yang mengerikan!


Kalau dipikir-pikir, wajah Anna kemarin memang menyeramkan karena seringai lebarnya, tapi jika diperhatikan, ia berubah menjadi sangat cantik. Seperti yang kulihat sekarang.


"Kau tidak ingin macam-macam kan?"


Atas pertanyaanku yang agak gemetar, Anna menunggangi pinggangku. Dejavu lagi. Bedanya wajahnya lebih normal dari yang kemarin.


"Huhuhu ... " Anna berguman.


Kutarik perkataanku, wajahnya tiba-tiba jadi seperti orang yang hiper. Senyumnya seolah menginginkan sesuatu.


Ia mulai menanggalkan dasi dan kancing kemejanya. Ia mengenakan baju sekolah.


"Sebentar! Bukannya aku tidak mau! Tapi penjelasan dulu."


Seperti kemarin badanku tak bisa bergerak setelah dalam cengkraman Anna. Hanya suaraku yang masih bisa keluar.


Aku tahu apa yang akan ia lakukan, dan entah mengapa separuh dari hatiku merasa senang.


Succubus. Seperti penjelasan Erika, mereka memang ada. Bahkan punya wujud fisik dan tidak sekedar gaib.


"Tenang saja" bisik Anna halus di telingaku.


Tiba-tiba seluruh tubuhku jadi lemas dan hangat. Aku tak ingin melawan lagi. Bahkan ketika aku merasa celanaku dipeloroti, atau ada bibir basah yang menyerang mulutku.


Kasur bergerak ke atas bawah. Indra di tubuhku berkata bahwa ini nyata.


Kalau tidak salah, succubus punya kemampuan masuk lewat mimpi dan memberikan targetnya mimpi indah.


Mimpi?


Kriiiiiiing!


"Hah!? Dimana dia?! Suara apa tadi!?" Sekelilingku tidak ada siapa-siapa.


"Anna!"


Kamarku sendiri. Kasurku pula. Selimutku pula. Tidak ada tempat tidur besar barusan. Yang terpenting, tidak ada Anna.


"Hahaha ... "


Rupanya itu sekedar mimpi. Hm, dibalik selimutku Johnny sedang bersemangat sehingga mengeluarkan keringat. Tapi berwarna putih.


Aku tidak percaya aku memimpikan temanku. Tapi, hei, kalau dipikir apa boleh buat kan?


Sudah tanggung, ayo lanjutkan. Sekolah masih 2 jam lagi. Aku melakukan ritual sakral di atas kasur.


***


Di perjalanan sampai sekolah pun aku masih terbayang-bayang. Banyak yang terjadi kemarin hingga efeknya sampai ke mimpiku pagi tadi. Aku tak tahu apakah itu mimpiku murni, atau Anna yang memang bisa masuk ke dalam mimpi layaknya succubus yang kubaca dari cerita internet.


Setelah kejadian kemarin Erika menceritakan beberapa hal padaku. Fakta bahwa ia juga bukan manusia. Namun ia tak mau mengatakan wujudnya yang sesungguhnya, karena ia juga tidak mengganggu.


Kasus Anna kemarin seharusnya tidak terjadi, begitu menurut Erika.


Hanya saja aku tidak mengerti apa maksud dari 'harusnya tidak terjadi', kukira yang bukan manusia bisa lebih leluasa.


Ya, kalau punya tubuh fisik memang agak sulit.

__ADS_1


"Hei bro!" Rito menepuk punggungku dari belakang. Langkahnya tampak ringan sekali.


"Lancar kah?"


"Tentu!" balasnya sambil memberi jempol.


Memang beda orang yang sedang di mabuk cinta.


"Aku merasa sinergi saat berbicara kemarin" ucap Rito bahagia.


"Syukurlah. Berhati-hatilah kawan, biasanya jika kau bilang ada sinergi itu adalah pertanda bahwa sebenarnya tidak ada sinergi."


"Oh, ayolah! Kau selalu pesimis padaku, kenapa wajahmu lemas? Atau ritual tidak bisa dilaksanakan? " tanya Rito sambil menyenggol rusukku. Kemudian ia menggerakan tangannya yang di kepal ke atas dan ke bawah.


"Tidak apa, sedikit mengantuk." Dan kepikiran soal kemarin pastinya.


Haaa ... Bagaimana cara menghadapinya hari ini?


Rito langsung berlari menuju seseorang di depan kami. Dia adalah Akram. Wajahnya juga terlihat lesu saat kuhampiri.


"Kau kehabisan nutrisi?" kelakar Rito. "Apa kau ada masalah?"


"Tidak ada. Sekedar kurang tidur saja" jawab Akram.


"Kenapa alasan kalian mirip dan membosankan?"


"Tidak ada yang salah dengan kurang tidur" tegas Akram.


Ketika ku berkata, "Salahnya adalah kurang sehat", Akram hanya menggerutu pelan.


Dari dekat wajahnya bahkan lebih kusut dari wajahku. Tidak biasanya.


"Ada film horor baru di bioskop To?"


Rito mengangkat bahunya, "Tidak ada seingatku."


Akram langsung duduk di bangkunya dengan wajah yang kelelahan. Sementara Rito yang tidak mau mengganggunya berlari ke arah Rena yang ada di lorong depan kelas dengan momentum yang cepat.


Berjuanglah.


"Haaah ... " Aku mendatangi bangku Reka lalu bersandar di sampingnya. Reka terkejut.


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Aku sedang bingung."


"Bingung?"


Apa bisa menanyakan orang ini soal pertemanan? Kurasa tidak.


"Bagaimana caranya memperbaiki pertemanan?" aku mencoba bertanya pada Reka.


Ia menatapiku dari samping. Wajahnya mengatakan ia tidak mengerti.


"Hm."


Reka tampak berpikir. "Bermaafan?" jawabnya justru dengan nada bertanya.


Oh, wow Reka mau menjawab.


"Haha, kurasa kau benar." Tapi masalahnya bukan soal bermaafan.


Aku masih ingin berteman baik, namun ada sedikit ketakutan dalam hatiku.


Erika yang baru datang langsung menghampiriku.


"Masih baik-baik saja?" tanyanya.


"Ya."


"Syukurlah."


"Hei, boleh aku bertanya lagi?" bisikku. "Apa Succubus bisa menyerang lewat mimpi?"

__ADS_1


"Apa kau kena?" jawabnya cepat.


"Sebenarnya aku mimpi sesuatu yang ... " Sempat ragu ku menjawab.


Erika yang menyadari hal itu berkata, "Normalnya bisa, cara memastikannya adalah menanyakan langsung pada orangnya."


Erika melihat sekitar. Tidak menemukan Anna, ia berbalik lagi ke arahku, "Ada kondisi tertentu, dimana sang target harus memikirkan hal mesum sebelum tidur."


"Hal mesum ... mungkin tidak?"


Rasanya aku tertidur cepat kemarin.


"Atau dia sudah ditandai." Erika menunjuk ke arah bibirku.


Ah, iya! Ciuman pertamaku sudah hilang!


Itu kemungkinan terbesarnya.


"Normalnya jika mental kuat dan ingat Tuhan sebelum tidur, gangguan seperti itu akan sulit."


"Oh, ngomong-ngomong, apa makhluk seperti kalian percaya dengan Tuhan."


"No komen" pungkasnya.


Rupanya dia tidak mau menjawab.


"Maaf kalau aku memanggil kalian makhluk, kesannya agak tidak sopan."


Erika menggelengkan kepalanya, "Tak masalah, karena faktanya kami bukan manusia. Sebisa mungkin, kau juga jangan banyak berbicara soal kami" ucapnya dengan nada serius.


"Aku juga ingin hidup normal di masyarakat" lanjut Erika menegaskan.


"Ya."


"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk bertanya padaku, atau kepala sekolah. Dia tahu tentang murid-muridnya."


Kepala sekolah ... artinya benar kenapa mereka bisa ada disini bukan kebetulan, tapi karena diizinkan. Kakek bilang untuk menemui beliau, namun aku belum tahu orangnya seperti apa.


"Lalu yang terakhir" kata Erika sambil menunjuk dadaku. "Kau itu punya aura dan energi yang disukai Non-manusia."


Aku jadi takut, "Anu, apa itu artinya hantu-hantu yang menyeramkan juga?"


Erika mengangguk. "Berhati-hatilah."


Emak, aku takut!


Erika pergi ke bangkunya setelah memperingatkanku.


Bek berbunyi dan Anna datang di saat-saat terakhir. Jujur saat aku melihatnya aku agak tersentak, ditambah dia sempat melihat ke arahku sekilas. Setelah kelas selesai pun, antara Erika dan Anna tidak ada apa-apa, mereka bersikap seperti tidak terjadi apapun. Layaknya dua manusia yang tak peduli, mereka berdua tak acuh.


Yang mana kau yang sebenarnya Anna? Yang bersembunyi dibalik kacamata itu, atau yang kemarin bertanduk. Apa ada kenyataan lain yang tidak kusadari?


Aku masih ingin berteman. Ada perasaan janggal dari dalam yang tak bisa kujabarkan.


Aku melirik-lirik ke arah dua orang tersebut hingga Rena memanggilku.


"Enric! Bagaimana kerja kelompoknya?"


"Ah, iya aku tidak masalah."


"Oh, okelah." Rena menjawab sambil berusaha menerka pikiranku.


"Kau dari tadi melihat kesana, ada sesuatu kah?" tanyanya sambil melihat ke arah Anna.


"Oh, tidak! Ayo ke kantin!"


"Ha? Oh ... ya." Rena menjawab heran.


Hari itu dan hari setelahnya, aku tidak ada berinteraksi sama sekali dengan Anna.


Sampai-sampai Rito terus-menerus bergurau denganku.


"Apa kekasih sedang berkelahi?" tanyanya terus dengan wajah yang menyebalkan.

__ADS_1


Niat sekali dia mengejekku.


__ADS_2