
Aku masih ragu-ragu untuk menuju perpustakaan. Aku tahu Anna past disana. Nampaknya aku belum siap sepenuhnya. Erika bilang tidak masalah, kalau ada apa-apa, aku bisa memanggilnya. Erika juga mengatakan, Anna tidak akan melakukan hal yang sama lagi, ia mengatakannya dengan yakin. Dia juga menerangkan bahwa posisinya adalah seperti penjaga di lingkungan sekolah. Jika ada yang bukan manusia berani berbuat sesuatu, apalagi ketahuan olehnya, ia tidak akan segan meladeni mereka.
Kepala sekolah kah … Aku mulai merasa bahwa kakek juga tahu sesuatu.
“Haah … “
“Kenapa berwajah sulit seperti itu? Kalau depresi jangan di depan situ” celetuk Asami yang muncul di sebelahku. Aku sedang terhenti di depan lemari dingin salah satu kantin.
“Hibur aku.”
“Hah? Apa yang kau katakan sambil melamun di depan lemari dingin? ” tanyanya terdengar bingung dan heran.
Asami menunjuk ke arah jus kotak rasa apel. "Ambilkan itu satu."
"Ini."
“Terima kasih. Apa kau tidak apa-apa? Di belakang ada yang mengantri" ucapnya sambil menunjuk ke belakang kami.
"Tidak ada apa-apa.”
Kami berdua pergi meninggalkan kantin setelah membayar kepada paman yang menjaga.
"Wah!! Jus di hari yang panas memang enak!" ucap Asami lega.
"Kau benar. Ngomong-ngomong, apa itu di tanganmu?"
"Oh, ini? Tugas kemarin" Asami menunjukkan buku di tangannya. "Aku lupa mengerjakanya. Untung masih diberi kesempatan."
"Kau mengatakannya dengan enteng. Bukannya tugas pelajar adalah belajar?"
"Cih, cih, cih. Bukan itu saja, kita harus menikmati masa muda kita juga" jawab Asami sambil menggerakan jari telunjuknya ke kanan kiri di depanku.
Yah, kalimat tersebut sungguh klasik. Namun sedikit tidak berlaku untukku yang dapat semacam beasiswa. Sekolah swasta disini mahal. Biayanya sampai dua angka.
"Masa muda kah?"
Asami mengangguk-angguk dengan ceria. Aku suka dengan gadis ceria seperti ini.
Oh … Dengar apa yang kukatakan.
“Ngomong-ngomong apa temanmu sedang berusaha?” tanya Asami sambil menyengir.
“Yang mana?”
“Rito lah, siapa lagi?”
“Itu, iya.”
Gelagatnya orang itu kelihatan sekali.
Karena dia ingin ke ruang guru, sekalian aku menemani Asami sampai ke ruang guru.
“Sebentar lagi semester 1 mau selesai, lalu libur. Melakukan apa enaknya ya?”
“Benar juga.”
Mau jalan-jalan denganku? Sempat terlintas di benakku untuk bertanya. Namun nyaliku masih belum kuat.
“Enric biasanya ngapain?”
“Libur? Eh … entahlah … berolahraga dan membaca buku mungkin.”
Asami tertawa, “Teladan sekali kau ini!”
Aku hanya bisa mengangkat bahu. “Kecuali ada yang mengajakku jalan.”
Asami menatap dengan senyum lebar. Ia melipat kedua tangannya di belakang, melihatku dari bawah.
“Apa kau ingin kuajak jalan?” ucapnya dengan nada jahil.
__ADS_1
"Kalau kau tidak keberatan." Aku sedikit terbata.
"Tidak masalah kok! Kita bisa ajak yang lain."
"Oh. Ternyata."
Ah ternyata seperti itu. Kukira hanya kami berdua.
Asami kemudian memasang wajah curiga setelah menatap wajahku, "Apa kau ingin berkencan denganku?"
Ekspresinya seperti ingin mengusikku.
"Haha, boleh juga." Aku mencoba menjawab sedatar mungkin.
"Hm .... " Asami menyipitkan matanya. "Jika ada kesempatan aku tidak masalah. Hahaha!"
Gadis ini mengatakannya tanpa ragu.
“Hahahaha … “
"Apa kau senang?"
"Tidak juga."
"Bohong." Asami menuduhku karena tidak yakin.
Kuharap ia tidak menyadari apa-apa. Aku mulai kepikiran kalau aku juga termasuk orang yang gampang ditebak seperti Rito. Meski aku tak ingin disamakan dengannya.
"Tidak masalah kok, kalau mau main" Asami mengeluarkan gawainya dan menyodorkannya padaku. Ia menunjuk ke layar.
"Kontak, aku belum punya kontakmu? Nogomong-ngomong Enric, apa kau punya kontak semua orang di kelas?"
"Kurasa tidak semua." Aku mengeluarkan gawai milikku juga.
Hore! Aku berhasil mendapat kontak Asami! Dia juga berkata tidak masalah jika ingin bermain dengannya saat liburan.
Aku kagum dengan inisiatifnya. Suara kontak tersimpan dari gawai kami masing-masing berbunyi.
"Uwah, ini foto karakter kan?" kata Asami ketika melihat foto profilku.
"Ah, iya."
"Rasanya aku pernah melihat ini, ah!"
Momen sesaat Asami ingin mengatakan sesuatu, kami yang berjalan melewati ruang olahraga mendapati beberapa orang sedang berteriak marah-marah.
"Muka santai kawan, jangan mentang-mentang tinggi!"
"Maaf."
"Kurang keras, mana hormatnya, hah?!"
Tentu aku tidak melewatkan kejadian itu, begitu pula dengan Asami yang ada di sampingku.
"Uwah, masa muda sekali disana" ucap Asami kagum.
"Apa itu masa muda yang baik?"
"Itu Reka kan?" Asami mengabaikan pertanyaanku.
Ya, aku bisa melihatnya dengan jelas. Reka dikerubungi oleh 3 orang. Dirundungi bukan kata yang tepat, 3 orang itu terlihat seperti salah pilih orang, agak komikal karena Reka yang lebih tinggi dari mereka.
"Jangan diam saja!" Seseorang menapak lengan Reka dengan keras, tapi Reka tidak bergeming.
Seseorang mencoba mendorongnya, hasilnya sama, ia tidak bergeming.
"Ini saat yang tepat untuk membantu! Maju!" Asami mendorongku.
"Tapi aku tidak tahu masalahnya."
__ADS_1
"Ini adalah saatnya untuk menunjukkan pertemanan kalian yang kuat" paksa Asami.
"Benarkah?"
Reka memang kerepotan, tapi bukan karena takut, melainkan karena tidak tahu cara keluar dari sana. Jujur saja kurasa yang ada dalam masalah adalah 3 orang tersebut yang kurasa adalah kakak kelas.
Apa yang harus kulakukan?
Reka menatap kemari. Tiga orang lainnya juga ikut melihat ke arahku. Ayolah, aku tidak ingin perhatian. Asami bersembunyi di belakangku. Aku tidak tahu apa ia benar-benar takut atau hanya ingin melihat sesuatu yang menarik.
"Kakak-kakak, ada apa? Kekerasan tidak baik."
"Hah, temannya kah?" kata seseorang sambil menunjuk Reka.
Aku mengangguk. "Lebih baik jangan macam-macam, jangan pasang wajah sok sangar seperti orang ini!"
Wah, mereka emosian. Tapi ini lucu, tiap kali mereka ingin menunjul Reka, malah mereka yang terdorong ke depan. Apa karena emosi mereka tidak sadar dengan tembok besar bernama Reka.
Satu orang maju ke depan ikut mengintimidasiku. "Lihat mata ini, kalau berani!" pelototnya.
Aku berusaha mengangkat tanganku tanda damai. Tiba-tiba Reka menghalangi jalannya.
"Jangan kasar" ucapnya pelan.
"Hah?" Bersamaan dengan ucapan itu orang di depan kami menendang Reka.
Pak!
"Tolong jangan main kekerasan di sekolah" tegas Reka.
"Kenapa kau jadi dikelilingi mereka?" bisikku pada Reka.
Ia menggelengkan kepala, "Entahlah, mereka tiba-tiba saja mengajakku dan mengucapkan banyak tuduhan."
Kurasa aku agak mengerti.
"Kau sih seram."
Reka bingung sambil menengok ke arahku di belakang.
"Jangan-" Belum menyelesaikan kalimatnya, orang itu langsung kesakitan karena tangannya di remas Reka.
"Aww! Adaaafda!"
"Oh, maaf" kata Reka dengan sungguh-sunnguh.
"Aku minta maaf jika ada salah." Reka menundukkan kepalanya. Ia kelihatan tidak ingin berkelahi.
Dua orang lainnya tampak ingin maju.
"Bu disini! Mereka disini, ada yang berkelahi!" ada suara hentak kaki seseorang berlari.
KetigaKetiga siswa tersebut saling tengok lalu kabur dari tempat karena suara Asami.
Pantas tidak ada hawanya dibelakangku tadi.
"Oke selesai!" ucap Asami dari balik tembok. Anehnya dia sendiri. "Mengusir berandal berhasil!" sambungnya dengan pose peace.
"Jadi kau sendiri yang berlari, pantas saja."
"Hehe, ampuh kan? Tapi kenapa kejadian?" Asami menanyakan Reka.
Reka menjawab singkat, "Entahlah."
"Mungkin sekedar salah paham dan sok jagoan, kau lihat perawakan orang ini, memancing emosi kan?" Aku mencoba bercanda dengan Reka.
"Hahahaha! Benar juga!"
Reka seolah terkena pukulan ganda.
__ADS_1
"Tenang saja, kau tetap keren." Kucoba menghiburnya.