
Hari itu sepulang sekolah, tidak biasanya Anna meminta tolong padaku untuk mengangkat barang dari sebuah ruangan penyimpanan di lantai 2 dekat perpustakaan. Setahuku ruangan itu dipakai untuk menyimpan barang dari perpustakaan, mungkin ada banyak buku atau sejenisnya disana. Aku belum pernah masuk kesana.
"Permisi"
"Ah, kemari" suara Anna terdengar dari balik lemari yang terbuka.
Aku melihat ada kursi bekas dan buku serta dokumen yang berserakan di lantai karena rak di atas penuh semua.
"Ini kah?"
Tumpukan buku.
"Iya, karena kebetulan aku ada di perpustakaan aku dimintai tolong oleh guru." Anna terdengar Enggan.
"Makanya cari tempat bertengger yang lain."
Anna menghela nafas.
Kupikir tempat ini akan lebih berdebu, tapi ternyata lebih bersih daripada bayanganku.
"Yang ini kan?"
Anna tidak menjawab. Kenapa dia tiba-tiba terdiam?
"Oi, An-"
Ap-!?! Suaraku tertelan. Anna yang sedang berdiri menatapi dengan senyum seringai lebar. Pipinya sedikit memerah dan kesan yang ia berikan berubah. Apalagi matanya berubah tepat menjadi biru tua. Itu dia, mengapa mata manusia bisa berubah dari hitam menjadi biru tua dalam sekejap? Banyak pertanyaan tertumpik di dalam kepalaku.
Aku mulai merinding, terutama karena senyumnya. Ditambah tanduk sepanjang 15 cm seperti bor yang mulai muncul secara perlahan dari dua sisi kepalanya
"Hihihi ... hihihi" Anna tertawa melengking.
Seketika aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku hingga aku jatuh ke belakang mengenai tumpukan buku.
"Ah, sungguh. Saat-saat yang ditunggu." Wajah Anna terlihat bahagia, dan rambutnya berubah warna menjadi putih.
Ia melepas ikatan sanggul dan kacamatanya. Rambut putih yang terurai dan mata yang asing, serta ekspresi bahagia yang berlebihan seperti orang yang habis mengkonsumsi obat berbahaya.
Situasiku tampaknya tidak baik. Aku tidak mengerti?
"Kau, A-Anna kah?"
Anna menjawab dengan senyum lebar sampai ke pipi. Itu membuatku teringat akan sebuah adegan di film horor.
Tunggu, apa sekarang aku mengalaminya? Tapi kan diluar masih terang!
"Tunggu! Kau bukan Anna!" Aku berusaha mundur ke belakang namun tidak ada tempat lagi hingga punggungku menyentuh lemari.
"Jahat sekali" ucap Anna sambil menggigit jarinya. "Aku Anna." Secara perlahan Anna melangkah hingga berhenti tepat di depanku.
"Sudah kutahan hasrat ini dari dulu, ingin segera ku melahapmu, tapi ... " Anna terlihat kesal sesaat.
Aku hampir menjerit.
"Kau tidak perlu takut!" ucapnya sambil menepuk kedua tangan. "Aku bukan kesal padamu!"
Anna menunggangi perutku. Ekspresi ekstasinya bukan main, seolah anak kecil yang menemukan makanan favoritnya.
__ADS_1
"Anna, kita bisa bicarakan, kau tidak akan jahat kan?" Meskipun berusaha tuk tetap tenang, suaraku bergetar.
"Tidak, aku hanya ingin memakanmu."
Itu namanya kanibalisme! Makhluk apa dia ini!
"Jangan takut, kau akan merasakan mimpi indah. Ini akan jadi ciuman terbaikmu."
Kata-katanya sungguh manis namun berbanding terbalik dengan ekspresi dan niatnya!
Mencoba melawan aku tidak berdaya. Rasanya tubuh ini begitu berat. Menyingkirkan tangannya yang dari tadi menyentuh wajahku pun tidak sulit.
"Selamat makan. Dan semoga mimpi indah bersamaku," desahnya di telingaku.
"Tu-!" Tak sempat aku berteriak, mungkin sia-sia juga. Teriakanku yang sebelumnya juga tidak terdengar karena tidak ada orang yang datang.
Anna sudah mengunci bibirku. Serasa seperti ada sesuatu yang disedot dari dalam tubuhku.
Seseorang tolong! Help me!
Makin lama Anna melakukan ini, makin terasa lemas tubuhku. Makin tenggelam pula lah aku dalam buaian misterius.
Ah, selesai sudah. Diumurku yang masih muda aku sudah melihat kaleidoskop kehidupanku, yang juga tidak banyak.
Ceklek. Suara pintu terbuka. Seseorang tampak masuk dari luar.
Syukurlah, karena Anna melepaskan bibirnya dan fokus ke arah pintu. Anna mendecakkan lidahnya nyaring.
Dengan sedikit tenaga aku menolehkan kepalaku ke arah tersebut. Seseorang yang ku kenal yang juga teman sekelas. Rambut pirang emas dan ekspresi datar tak berubah.
Erika. Ia mulai mendekat ke arah kami.
"Kau bisa menembusnya" gumam Erika. Ekspresi gelisahnya tak bisa disembunyikan bahkan sampai menggigit kukunya.
"Lebih baik jangan, " ancam Erika.
"Heh!" Anna berdengus. Meskipun begitu, tampak di mataku yang masih bisa terbuka, Anna sedang berkeringat dingin.
Ada angin yang mulai berhembus makin lama makin kencang. Aku pun bisa merasakannya. Itu berasal dari Erika.
Anna menggertakan giginya kesal.
"Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak melakukan apapun di sekolah ini" Gaya bicara Erika berubah lebih seram.
Anna masih berusaha melawan dengan tatapannya.
"Kurasa aku tidak perlu bertanya, apa kau pernah merasakan kepalamu dipecahkan?"
Fushh! Seperti ada angin kencang menghempas tubuh Anna hingga punggungnya membentur tembok dengan keras. Ia sampai terbatuk-batuk.
"Gah! Tu-!Tunggu!" Anna langsung mengangkat tangannya karena panik. I
Aduh! Bisa tolong taruh kepalaku pelan-pelan! Aku sedang tidak bisa bergerak!
"Aku akan pergi! Aduh! Kau tidak perlu sampai menghempasku seperti itu! Dasar penghisap darah!" Anna mengeluh hebat.
Penghisap darah! Aduh kesadaranku hampir hilang.
__ADS_1
"Setidaknya aku tidak seceroboh kau. Tolong tahan hawa nafsumu, Succubi," balas Erika datar.
"Hah! Terserah kau lah!" Anna dengan kesal beranjak tanpa mempedulikanku lalu berjalan terburu-buru ke arah pintu. Antara takut atau kesal dengan Erika.
Ceklak! Suara gagang pintu ditutup kencang.
Anu, kalau bisa tolong jangan injak tanganku ketika lewat Anna. Aku yang lemas ini sedang ... tidak ... berdaya.
Pandanganku agak buram. Ini batasnya, badanku juga makin dingin, kesadaranku sudah diambang batas. Hal terakhir yang kulihat adalah wajah Erika yang menatap dengan tatapan datar seperti biasanya.
Saat bangun, aku masih di dalam sana. Kupikir aku akan terbangun di kasurku, ternyata tidak. Habisnya, kuharap itu semua mimpi. Anna yang kulihat tidak menyeramkan seperti itu.
"Oh, sudah siuman?" tanya Erika sambil jongkok disampingku.
Ia menutup dengan baik sudut roknya.
Ternyata aku tak bisa melihat apapun dari sisi ini saat dia jongkok seperti itu. Roman yang kubayangkan dari cerita tidak terjadi. Sudahlah, untuk apa juga.
"Sudah, tapi kepalaku masih agak sakit."
"Kau bisa berdiri? Sudah 1 jam kau pingsan. Agak aneh menggotongmu keluar, jadi lebih baik kau bangun sendiri." Erika mengatakannya seolah tak acuh.
Kukira dia akan lebih khawatir, ternyata tidak. Erika tetaplah Erika. Ekspresi yang datar, tindakan yang sewajarnya. Apa yang kuharap? Mungkin dalam hatiku ada harapan untuk merasakan adegan romantis bersama primadona kelas.
Hahaha. Sangat disayangkan.
"Oh 1 jam kah ... "
Tidak lama. Aku mencoba berdiri namun sedikit tidak seimbang.
"Tak apa?"
"Tidak apa, hanya sedikit kaget."
Aku masih mengingatnya, apa yang terjadi satu jam lalu. Jujur aku ingin bertanya. Hanya Erika mungkin yang bisa menjawab.
"Apa kau ingin bertanya?" kata Erika sesaat menatap balik wajahku. Ia seakan tahu pikiranku.
Aku mengangguk.
Erika mengangkat satu jarinya, "Gampangnya sesuatu yang bukan manusia itu ada."
"Aku tahu barusan."
Ia mengangkat jarinya yang lain menjadi dua, "Mereka yang seharusnya tidak mengganggu manusia."
"Tidak mengganggu ... penuh implikasi sekali."
Erika kemudian mengangkat jarinya yang terakhir, "Mereka ada disekitar kita."
Seperti kata Erika, pengalamanku barusan membuktikan bahwa makhluk yang tak terbayangkan juga ada disekitarku. Sangat disayangkan ia adalah Anna.
Tapi ...
"Kalau begitu, kau juga salah satunya?"
Aku ingat kalau Erika juga mengeluarkan aura dan kekuatan misterius yang bisa membuat Anna terpental.
__ADS_1
"Ya" Erika menjawab sembari mengangguk.
Berarti ada dua, dan kemungkinan lebih. Kemungkinan juga masih banyak lagi di sekolah ini.