Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 3


__ADS_3

Seminggu berlalu dan sekolah normal dimulai. Dalam beberapa waktu ini aku sudah lumayan mengenal orang di kelas. Tapi belum dengan Arad, orang yang menyapaku disekolah pertama kali. Oh, ya aku ternyata sama - sama menyukai MMA seperti Rito, salah satu dari orang - orang yang kujuluki 3 raksasa di kelas bersama Arad dan Guntur. Rito punya pembawaan tenang, dan murah senyum. Pembicaraan kami biasanya seputar 'Fighting Sport'.



Sekarang Rito itu sedang pergi entah kemana sendirian, yang lainnya pergi ke kantin. Niatnya aku mau ke kantin, tapi..



"Kenapa kau disini?"



"Tidak boleh ya?"



"Nanti aku bisa salah sangka."



"Oh? Bukannya kita teman? Apa kau berharap lebih?"



Bukan. Karena kau yang menghampiriku duluan di saat istirahat dan kelas kosong jadinya aku sedikit kaget. Memangnya kita sedekat ini ya? Seminggu setelah itu kupikir kami jarang bicara.


Tidak, orang ini memang tidak banyak bicara dengan orang lain.



"Kenapa tidak pergi dengan anak gadis lainnya?"



"Lain kali saja." Kata Ana sambil.mengeluarkan termos berisi teh.



Dia menuangkannya untukku. Kotak berisi kue pun dikeluarkan, isinya sangat mewah.



"Cari teman sana."



"Kan aku sudah melakukannya?", jari telunjuknya diarahkan padaku.



"Maksudnya, teman yang lain, yang perempuan. Ah, sudahlah."



Tapi kuakui aku senang saat dia menghampiri, tsundere kah diriku ini atau gampangan?



Tidak terbiasa saja mungkin.



Kerahkan sikap proaktif ini pada semua orang Ana.



"Oh, blueberry cake yang enak!"



"Enak kan? Aku ahli membuat yang seperti ini."



"Kenapa tidak jadikan kue sebagai topik pembicaraan dengan gadis lain?"



"Kenapa kau dari tadi mengusirku secara halus? Apa kau tidak suka bicara denganku? Apa aku mengganggumu?"



Ah, jangan pasang wajah curang begitu.



"Bukan, bukan, aku minta maaf. Aku hanya khawatir kau nanti sendirian."



"Ooh..", tatapnya sambil gumam.



Ap - apa?



Jangan lihat kesini.



Tapi kalau ku lihat - lihat dari dekat, dia ternyata tidak buruk juga.



Ah, sudah - sudah.



Guntur masuk ke dalam kelas, namun entah kenapa ia melihat kemari dan pergi lagi keluar.



Kenapa?



Oh, kursinya disampingku dan sekarang si kacamata ini sedang berdempet disini.



Kuharap kau jangan salah sangka.



Kemudian Erika dan gadis lainnya pun tidak jadi masuk. Aku bisa melihat reaksi "Ah.." darinya. Beberapa dari mereka senyum - senyum, lalu pergi.



Jangan lagi. Jangan buat aku canggung.



Rito punya reaksi yang sama. Kuharap dia menyapaku, tapi ia lewat begitu saja menuju kursinya di pojok, sambil bersiul sekali.



Sobat, ajak aku bicara. Aku jadi tambah gugup.



Perhatian kalian tidak diperlukan.



"Sepertinya sudah mau masuk. Kalau kau mau ambil saja kuenya. Sampai nanti", katanya datar sambil mengembalikan kursi milik Guntur.

__ADS_1



"Ya. Terima kasih."



Ana juga jadi sadar diri. Mungkin ia juga merasa tidak nyaman.




**********



Suara ribut dari lapangan indoor berasal dari kelas B. Sepertinya tak perlu ditanya, penonton dari kelas lain ada disini. Sepopuler inikah kelas B? Bukannya ini terlalu cepat?



Semuanya tampak bersemangat.



"Harold! Pass!"



Ups, hampir saja. Bola kuberi ke Guntur. Aku terlalu lama memegang bola. Rito yang menyambut operan dari Guntur menyelesaikan tembakan 2 poin dengan baik. Padahal akan menarik kalau itu diselesaikan dengan dunk. Ia punya lompatan dan tubuh yang tinggi.



Aku melakukan pergantian. Arad menghampiriku sambil menawarkan air.



"Oh, terima kasih."



"Mm."



Oh, ya aku lupa mengajaknya bicara akhir - akhir ini. Padahal kejadian awal masuk sekolah itu harusnya tidak kulupakan begitu saja.



"Tidak main lagi?"



"Ah, sebentar lagi."



"Basket, apa kau menyukainya?"



"Tidak terlalu. Tapi ini permainan yang dimainkan banyak orang. Jadi.."



"Arad, ganti." Seorang siswa berganti posisi dengan Arad. Arad bersiap menghadapi game berikutnya.



"Huuh, seperti biasa. Orang itu agak menakutkan, kau tidak tahu apa yang dipikirkannya", Kata siswa yang bertukar posisi dengan Arad.



"Ahahaha, aku mengerti.."



Faktanya aku juga sedikit kerepotan. Jujur aku merasa tidak enak, karena niat Arad tulus. Tapi entah mengapa rasa canggung muncul, sekali berhadapan denganya. Sesekali kuharap bisa minta tolong pada adiknya. Tapi Loze selalu dikerumuni. Terkadang ia juga menatapku dingin, yang membuatku sedikit takut.




"Benar juga", balas siswa disampingku. Namanya Anton.



Permainan Arad sangat ketat. Rito dan Guntur saja kewalahan. Arad punya pertahanan yang bagus, reaksinya juga cepat. Rito yang banyak mengandalkan kecepatan juga jadi kewalahan.



Duel para raksasa.



Sedangkan dibagian lapangan basket sebelah, anak perempuan juga sedang bermain. Para anak perempuan pun tidak kalah dalam permainan. Erika yang kupikir biasa saja dalam olahraga ternyata bisa bergerak selincah itu. Ah, dia melakukan tembakan 3 poin.



Terlepas dari itu, ini pemandangan yang luar biasa. Jarang sekali bisa kau dapatkan dikala Sekolah. Jika kita berbicara pertumbuhan secara umum tentunya, kau tahu, anak kelas satu SMA yang memiliki tubuh bagus bak model jarang kau temui di sekolah biasa. Mereka sangat atletis. Ya atletis, sangat atletis, di berbagai bagian.



Bukan bermaksud mesum, namun saat kau melihat wanita yang berkeringat rasanya seperti..



Pantulan yang indah.



"Waw.. "



"Kau suka yang seperti itu ya."



"Ya."



"Kau suka yang memantul seperti itu ya."



"Kalau tidak memantul kau tidak bisa memainkan bola basket, ada - ada saja."



"Oh? Bukan dada yang memantul?"



Itu juga. Kau kira aku tidak suka melihat yang memantul?



"Kita tidak sedang membicarakan basket?", kataku pura - pura.



"Oh? Kukira matamu yang tajam itu sedang menggerogoti pemandangan gadis di kelas."



"Kalaupun benar, apa boleh buat kan? Aku juga pejantan."

__ADS_1



Karena kedatangan Ana, Anton jadi sedikit menjauh. Hei Bro?



"Oh, ya permainanmu juga bagus. Tidak kusangka kau bisa bergerak semulus itu."



Aku dari tadi juga mengamati permainan grup perempuan, termasuk Ana.



"Oh? Kau memperhatikannya? Aku tidak mencetak poin sama sekali lho?"



"Pergerakan, pengamatan, penempatan posisi, passing, dan penyesuaian keadaan, semuanya juga penting. Yang lainnya bisa mencetak poin bebas juga karena operan dan penempatan posisi darimu."



"Eh, kau berlebihan. Kebetulan saja barangkali", sanggahnya.



Mungkin saja.



"Tapi itu bukan karena kemampuan bermain basket, melainkan karena kau terbiasa mengamati."



Setidaknya menurut analisaku.



"Hmm.. ", gumam Ana.



Apa? Jangan terlalu melihatku.



"Kau terlalu memuji, tapi terima kasih", lanjutnya.



"Bisa jadi itu perasaanku saja."



"Time Up. Permainan selesai." Guru olahraga kami mengisyaratkan berakhirnya jam pelajaran olahraga.



Setelah diberi arahan teekahir kami bubar dari lapangan.



"Nice play. Tidak kusangka Erika hebat bermain basket."



"Ya."



Karena dia kebetulan disampingku jadi kuajak saja dia berbicara. Tapi wajahnya Erika datar saja.



"Dulu pernah ikut ekskul basket? Atau klub?"



Tingginya saja hampir sama denganku.



"Tidak. Dulu kakakku sering mengajak main."



"Oh."



Kakak ya. Terlepas dari itu, gadis ini punya percaya diri yang luar biasa. Lihat saja caranya jalan, dan pandangannya yang lurus ke depan.



"Orang yang cantik ya, wajar saja."



"Berhenti seenaknya saja membaca pikiranku. Kenapa kau selalu memotong monolog remaja yang kupikirkan untuk teks selanjutnya."



"Teks?"



"Lupakan."



Ana muncul saat Erika menjauh.



Saat itu pula seseorang melihat ke arahku. Seperti perasaan dingin di malam hari yang memyentuh kulit. Hmm? Lagi? Loze lah yang menatap kemari.



"Tapi Harold orang yang seperti itu biasanya merepotkan."



"Siapa? Erika? Padahal kau juga sama."



Dia tidak menjawab dan malah mempercepat langkahnya menuju ruang ganti perempuan.



"Kalian akrab sekali ya", Guntur memanggil di depan ruang ganti.



"Perasaanmu saja."



"Tidak juga."



Apa memang begitu? Ataukah aku saja yang dengan kasar menyanggahnya? Sepertinya.



__ADS_1




__ADS_2