
Kejadian kemarin sore masih terbayang di kepalaku bahkan sebelum tidur pun aku masih memikirkannya. Ana yang ternyata punya wujud asli sedikit berbeda dengan manusia. Penampakan yang jelas di hadapanku. Tidak masalah kurasa, karena aku pun sering berkhayal berjumpa dengan gadis cantik bertelinga panjang seperti di kisah fantasi. Kuharap aku bisa tetap berteman dengannya. Kira - kira orangnya datang ke sekolah kah hari ini setelah kejadian kemarin? Entah kenapa aku jadi sedikit deg - degan.
Hmm? Apa itu Ham yang sedang berbicara dengan Loze di depan kelas? Mereka tampak asik. Aku tidak melihat Arad dimana pun, bahkan di dalam kelas. Aku lewat di depan mereka berdua tanpa mengganggu kesenangan mereka.
"Pagi, Harold."
"Yo."
Loze dan Ham yang ternyata duluan menyapaku. Aku hanya mengangguk.
Ham memberikanku jempol diam - diam.
Tentu saja aku pun membalas jempol itu.
Kemudian seperti biasa aku langsung duduk di dalam.
"Yo, Harold. Saat ekskul kemarin aku lihat kau pulang agak sore. Aku juga sempat lihat Erika bersamamu, apa yang kalian lakukan?", tanya Rito sembari menghampiri.
"Tidak ada. Aku sedang melamun hingga tertidur di uks lantai atas dan tanpa kusadari sore tiba. Kebetulan aku berpapasan dengan Erika. Kalau kau lihat aku kenapa tidak kau panggil?"
"Sudah ku lakukan, tapi kau tidak mendengarku. Kau kelihatan sedang memikirkan sesuatu sambil melamun", jawab Rito.
Ah.
"Mungkin.. Aku masih setengah sadar."
Tidak bisa kukatakan soal kejadian kemarin tentunya.
Rito menatapku seakan sedang memastikan perkataanku, "Asal berhati - hati saja saat jalan. Nanti ditabrak motor."
"Motor belum bisa menghancurkanku, bawakan truk jika kau ingin menghancurkan seorang Harold", kataku sambil menepuk dada.
Rito meninjuku ringan, "Aku tidak ingin dengar itu dari orang yang melompat kesakitan karena kelingking kakinya tersantuk kaki meja", ucapnya bercanda.
"Berisiklah kau."
Enak saja, kakiku sudah terbiasa tersantuk meja.
"Ngomong - ngomong Ana belum datang?"
Biasanya dia datang cepat tapi sekarang sosoknya tak terlihat.
"Belum, kurasa? Tumben kau mencarinya. Biasanya kau tsundere sekali saat dibilang kalian kombinasi yang serasi", Rito melingkarkan tangannya dileherku.
Rito berniat bercanda. Tapi aku sedang tidak ingin membalas gurauan yang ia lontarkan.
"Ah, Ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Sebenarnya itu hanya alasan. Aku sekedar ingin tahu kabarnya. Tampaknya suasana pembicaraan kami, aku dan Ana, akan jadi berbeda kedepannya.
"Apa terjadi sesuatu sobat?"
"Tidak ada, bukan masalah besar."
"Berarti ada masalah kan?"
Rito kelihatan penasaran tapi ia tidak melanjutkan.
"Kau sesekali melihat ke pintu keluar? Kau sedang menunggu Ana kan?"
Darimana kau tahu?
"Sesekali pandanganmu juga mengarah ke kursi belakang."
Entah itu karena Rito saja yang jeli, atau karena semua tampak jelas di wajahku. Padahal aku melakukannya diam - diam.
"Mata tidak bisa berbohong."
Ia mengatakannya dengan wajah menggurui, tentunya ku balas, "Apa itu kata bijak atau nasihat? Aku pernah dengar soal menebak perasaan orang lewat mata memang."
"Tepat sekali", katanya berdengus sombong.
__ADS_1
"Mata tidak bisa berbohong tapi ekspresi bisa. Kau tidak pernah tahu kalau dengan ekspresi normal seperti ini ternyata aku adalah orang mesum yang ingin mencuri celana dalam semua gadis di kelas"', aku mencoba membantah pernyataannya.
"Ah... "
Oi, jangan mengangguk seolah - olah itu hal yang lumrah.
Ngomong - ngomong dekat jam pertama Arad juga belum muncul, apa dia sedang diluar? Biasanya dia sudah duduk di kursinya yang sekarang kosong.
Lalu sampai jam pertama hendak dimulai dengan waktu tersisa lima menit lagi barulah Ana datang. Bagi orang lain mungkin tidak ada yang berbeda, tapi lain lagi untukku. Aku terlalu sadar dengan kejadian kemarin. Ana kelihatan biasa saja seakan tak ada yang membuatnya khawatir. Ia lewat seperti biasa disampingku.
Apa aku harus menyapanya sekarang?
Di momen ini barulah kusadari sejak awal selalu ia yang menyapa dan mendatangiku duluan.
Haaaa..
Mengapa jadi sulit begini..
Mungkin saat istirahat nanti..
Rito menggetuk lenganku menunjuk dengan matanya ke Ana seolah berkata, "Itu orang yang kau cari."
Aku hanya bisa memberi senyum sambil mengangkat tangan.
***********
Awalnya aku hanya duduk seorang diri di taman belakang sekolah menikmati susu stroberi kesukaanku saat jam istirahat pertama.
"Apa keadaanmu normal?"
"Ya kurasa."
Erika tiba - tiba datang menghampiriku dan duduk disebelah.
"Apa kau sudah menghubungi kepala sekolah?"
Kudengar juga ia baru kembali 1 minggu lagi.
"Erika aku ingin tahu. Setelah kejadian kemarin aku mulai berpikir 'apakah ada banyak orang seperti Ana disini'. Bagaimana? Apakah iya?"
"Iya kurang lebih, agak aneh kalau dipikir memang", kata Erika.
"Tidak juga, kupikir banyak hal yang mungkin terjadi yang juga tak diketahui khalayak umum. Tidak bisa dipungkiri pula bila normalnya manusia tetap terkejut melihat sesuatu yang aneh, meski mereka memikirkan kemungkinan itu."
Seperti yang kualami tentunya. Erika diam sebentar kemudian mengeluarkan sebatang coklat merek terkenal.
Eh? Tiba - tiba saja dia memberi coklat? Apa ini caranya menunjukkan kepedulian?
"Makan saja, itu untukmu. Makanan manis diperlukan untuk menambah energi."
Tapi kadar glukosa tinggi juga bisa menaikan gula darah, ucapku dalam hati. Tetap aku berterima kasih dan menerima coklatnya.
"Terima kasih. Tidak kusangka karena hal kemarin aku bisa berbicara denganmu seperti ini."
Ia diam kemudian melihat ke arah lain, "Sungguh?", ucapnya.
Karena kau terlihat bukan orang yang akan memulai pembicaraan duluan.
Melihat sosoknya dari samping aku jadi terpesona. Ia gadis yang keren dan cantik.
"Jikalau memang makhluk seperti itu berada disekitar dan berbaur, apa jenis mereka umumnya bisa berubah wujud jadi manusia?"
"Pada dasarnya iya. Mereka bisa mengubah diri menjadi manusia dan hidup normal. Yang tahu keberadaan mereka hanya orang tertentu. Di dunia ini kau bisa menyebut mereka 'makhluk lain'. Jenisnya juga bermacam - macam."
"Kalau Ana? Dia itu apa?"
"Ras peri. Orang sering menyamakan mereka dengan ras elf. Ras peri disebut sebagai ibu dari ras elf, namun kebanyakan, mereka tidak senang disamakan. Selain itu yang dianggap sama dengan kategori ras peri yaitu ras kurcaci, succubus, incubus, dan druid, kemudian masih banyak lagi."
__ADS_1
Wow..! Aku mendengar hal yang sangat fantasi sekali.
"Itu nama makhluk yang sering dipakai dalam cerita. Saat mendengarnya langsung dan mengalaminya langsung terasa sangat berbeda."
Melihatku yang sedikit bersemangat mendengar itu, Erika bilang, "Kurasa kau harus lebih berhati - hati karena sama seperti manusia, mereka juga punya niat masing - masing. Waspada saja agar kejadian sama tidak menimpamu seperti di lantai atas kemarin sore."
"Ahahaha.. ", kan kuingat itu.
Intinya sama seperti manusia, ada sisi jahat dan ada sisi baik.
"Kalau begitu Erika? Apa kau juga bukan manusia?"
"Aku setengahnya. Aku punya darah manusia, dan juga darah vampir."
"Vampir, benarkah? Itu hebat."
Jadi vampir juga ada.
"Vampir sangat jarang diketahui keberadaannya karena mereka lebih memilih untuk tidak mengusik siapapun."
Erika tersenyum, tapi ada sedikit corak sedih yang kulihat dari eksperesinya. Kuabaikan apa yang kulihat dan terus bicara.
"Berarti Erika setengah vampir ya. Karena itu kau terlihat kuat kemarin."
"Kau tidak takut?", tanya Erika serius.
"Takut? Kenapa?", apa yang dia tanyakan?
"Saat melihatku."
Oh.. Hal itu. Jawabanku sudah pasti.
"Tentu tidak! Habisnya vampir! Gadis setengah vampir yang kubayangkan ada dalam cerita fantasi sekarang ada disampingku! Bagaimana aku tidak senang?"
Ia sudah menolongku kemarin! Mungkin kalau aku belum tahu apa - apa dan ia menunjukkan aura seperti kemarin bisa jadi aku panik dan terbirit. Tapi! Momen kemarin merubahnya. Tidak ada yang harus ku takutkan karena Erika tidak terlihat seperti orang yang akan menyerangku begitu saja. Selain itu dia yang menyelamatkanku. Jadi! Tidak ada masalah sama sekali.
Aku terlalu bersemangat. Erika sedikit terkejut dengan tensiku yang naik.
"Selain itu aku suka dengan mata merahmu."
"Oh.. Terima kasih?", Erika tersenyum bingung.
Eh? Apa itu terdengar seperti aku sedang merayunya?
Maksudku aku suka mata berwarna merah..
Ini salah satu roman pria ku!
"Maaf sedikit kelepasan." Ku tengok ke sekitar untuk memastikan tak ada yang mendengar, apa jadinya kalau mereka dengar pembicaraan kami.
Abaikan itu, kurasa karena ia setengah vampir ia punya perawakan yang cantik dari atas bawah. Yang sering kubaca dari literatur biasanya vampir digambarkan dengan penampilan mereka yang menawan atau kulit putih seperti mayat. Apa karena Erika setengah jadi ia tidak seputih mayat?
"Vampir adalah ras yang mendekati manusia, hampir tidak ada bedanya. Beberapa juga bisa berjalan di siang hari. Vampir murni juga punya kulit yang pucat", Erika melanjutkan ceritanya.
Oh, baru saja dia mengkonfirmasinya.
"Oh.. Tunggu. Kalau Erika setengah vampir, apa kau juga minum darah?"
Aku menanyakan pertanyaan itu apa adanya. Sejujurnya aku tidak tahu apa ini pertanyaan yang boleh ku tanyakan.
"Tidak juga. Aku pernah minum darah tapi tidak sering. Secara umum vampir tidak perlu selalu minum darah, seperti yang kubilang vampir makhluk yang mendekati manusia. Tapi memang tak bisa dibantah kalau beberapa dari ras vampir menemukan kesenangan meminum darah."
Jadi begitu ya.
Walaupun tidak semua hal bisa kutanyakan karena saat yang belum tepat. Tapi kurasa setelah itu kami cukup banyak bercerita sambil menghabiskan waktu jam istirahat pertama.
Ah, aku lupa soal Ana.
__ADS_1