
Pulang sekolah, pilihannya ada dua. Langsung pulang ke rumah, atau tinggal untuk mengikuti klub atau ekskul. Pilihanku tentu yang pertama. Ketertarikanku untuk mengikuti kegiatan apapun belum ada. Akram mungkin sedang ada di ruang ekskulnya. Rito entah kemana. Rena dan Reka juga pulang cepat. Orang – orang dikelas semua pulang cepat. Mungkin langit yang mulai menghitam ini penyebabnya.
Tetapi kaki ini serasa belum hendak bergerak dari lingkungan sekolah. Sepertinya hatiku berkata untuk mencari lawan bicara. Ada tidak ya?
Sedari tadi berjalan di sekitar sekolah yang kujumpai kebanyakan kakak kelas. Aku masih belum berani memulai percakapan dengan kakak kelas.
Bagaimana kalau ke perpustakaan? Dipikir – pikir aku belum melihat perpustakaan disini.
Perpustakaan ada di lantai dua dari salah satu 3 gedung yang ada di depan. Kalau tidak salah di gedung paling kanan.
Mungkin disana sekarang ada ekskul yang memakai ruangan? Kalau ada agak sulit berada disana. Tapi, mari lihat dulu.
Tidak banyak siswa – siswi yang menggunakan perpustakaan sekolah untuk membaca.
“Permisi.”
Tentu tidak ada yang menyahut. Namun ada seorang murid yang duduk agak di dalam. Penjaga meja untuk peminjaman/pengembalian buku.
Baru saja aku menyadari bahwa untuk ukuran perpustakaan sekolah, ruangan ini cukup lebar. 5 kali dari perpustakaan smp ku dulu. Buku – buku disini juga banyak macamnya.
Tetapi seperti yang sudah kuduga, tidak ada siapa – siapa.
Tunggu. Kutarik perkataanku, ada seseorang yang sedang duduk membaca sesuatu. Wajahnya kukenal. Gadis berkacamata dari kelasku, Anna.
Gadis ini punya perawakan yang pas untuk ada di perpustakaan.
Karena sudah disini lebih baik kusapa dia.
“Sendiri?”
Ia mengangkat wajahnya. Dengan senyum Anna menjawab, “Memangnya ada siapa lagi?”
Benar juga.
“Tidak ikut ekskul atau sejenisnya?”
“Aku tidak tertarik, kau?”
“Sama.”
Aku mengambil kursi di hadapan Anna.
“Datang untuk membaca?”, tanya Anna.
“Tidak juga. Melihat-lihat lebih tepatnya.”
Anna menutup buku yang sedang ia baca. Dari sampulnya kelihatan seperti buku filosofi. Entah mengapa menurutku itu bacaan yang cocok dengan gadis ini.
"Hmm", gumam Anna.
Terdengar suara guntur seketika.
“Ah, hujan”, kata Anna menengok keluar jendela.
Benar saja. Diluar turun hujan yang perlahan melebat. Airnya memukul – mukul kaca dari luar. Seandainya aku pulang tadi pasti basah kuyup sudah. Hujan ini tampaknya tidak akan sebentar.
“Jadi apa kau datang untuk mendekatiku karena aku sedang sendiri?”, kata Anna dengan berani. Ia menyandarkan pipi diatas telapak kanannya.
Hm? Mataku berkedip berkali – kali.
Anna mulai tertawa. “Hahaha, jangan kaget seperti itu Enric. Bukankah dengan duduk disitu kau sudah mendekat?”, ucapnya sambil bergurau.
Orang ini. Kau bisa bercanda juga ternyata. Pikirku kau orangnya lebih kaku.
“Hahaha, kalau dipikir mendekat dalam artian mendekat yang sesungguhnya, benar juga.”
Kukira ada maksud lain. Karena itu aku jadi kaget.
“Apa kau datang untuk menggodaku?”, lanjutnya sambil mengangkat alis.
Kali ini pertanyaan yang jarang diucapkan secara langsung keluar dari mulut Anna. Apa yang diucapkan gadis 16 tahun ini?
“Kalau aku seberani itu aku sudah lakukan itu pada Rena atau kalau mau lebih jauh lagi Erika.” Kuanggap ia ingin bersendau gurau
Anna terlihat kaget. Matanya jadi agak membesar karena terkejut.
Aku tidak tahu mengapa perkataanku mengagetkan.
“Kau sadar tidak, barusan kau menyamakanku dengan dua bintang kelas kita?”
“Hm?”
“Intinya maksud ucapanmu itu adalah kalau kau berani pada dua orang itu, maka kau juga akan berani padaku”, ucapnya dengan nada meyakinkan.
Anna melipat kedua tangannya dan berkata, "Artinya aku lebih tinggi kah?"
“Seperti itukah kedengarannya?” Aku paham maksudnya.
Aku tidak berniat mengatakan bahwa Anna lebih dari dua orang itu. Kata-kataku hanyalah kiasan yang menyatakan bahwa aku tidak berani. Itu saja. Tidak sampai sejauh yang ia pikirkan.
Anna tersenyum tipis. Ia berdiri dari tempat duduk, mengembalikan buku ke rak, lalu kembali duduk lagi. Tapi dibangku yang berbeda.
“Mari berbicara sebentar, hujannya tambah lebat. Agak susah kedengaran.”
Ia mengganti posisi dan tanpa ragu duduk disebelahku agar suaranya lebih jelas. Aku tidak mengerti jarak orang ini denganku.
“Oh, tidak masalah.”
__ADS_1
Mengobrol kah? Apa yang bisa kami bicarakan?
“Meski aku berkata seperti itu, aku juga tidak tahu mau berbicara apa, hahaha.” Anna tertawa kecil.
“Sama.”
Kami berdua tertawa pelan.
Kemudian, “Hei Enric”, ucap Anna berbisik.
“Ya?”
Aku terkejut karena ia tiba – tiba saja berbisik dengan sangat dekat di telingaku. Nafasnya bahkan terasa. Tidak hanya itu, dua buah benda lembut juga mengenai tanganku.
“Kenapa kau terkejut begitu?”, tanyanya heran.
“Tidak apa – apa.”
Karena kau! Aku merasa orang ini berbahaya untuk ukuran anak Sma. Kelihatan polos, namun suara lirihnya sangat memancing. Kontras yang luar biasa. Apalagi Kilimanjaronya yang besar. Ceri sepertiku masih agak gugup dekat lawan jenis.
“Jangan-jangan kau pura-pura polos?” Tidak sengaja pikiranku terucap.
“Maksudnya?”, tanya Anna sambil memiringkan kepala.
“Tidak apa – apa.”
Dari ekspresinya, ia tidak mengerti maksudku.
“Hmm.. Aku ingin bertanya, apa kau akrab dengan Rena?”
“Entahlah, sekedar sering berbicara.”
Lagipula kami duduk depan belakang. Anna tampak heran.
"Itu yang orang bilang dengan dekat... "
Sebagai teman mungkin benar.
“Namanya juga berteman. Kau sendiri jarang terlihat bersama siapapun di kelas, apa jangan – jangan kau tidak punya teman?” Aku coba menanyakannya balik.
Seolah-olah ada panah yang menusuknya.
“Aku suka sendiri”, katanya sedikit kesal.
50% orang yang mengatakan itu artinya mereka kesepian kau tahu?
“Kenapa kau tidak coba saja bergabung dalam obrolan, mereka semua orang baik dan asik.”
Anna melipat tangannya sambil menengadah. “Kau mungkin benar. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara bergaul dengan anak muda zaman sekarang.”
“Kau mengatakannya seolah-olah kau bukan anak muda.”
Tapi aku bisa mengerti. Untuk beberapa orang, komunikasi adalah hal yang sulit. Bisa nyambung atau tidaknya kadang bergantung pada kesamaan frekuensi.
Jadi ingat Reka.
“Aku bukan anak muda, aku adalah makhluk tua yang menyamar menjadi siswi untuk mencari mangsa, kedengarannya bagaimana?”, ia berkata sambil menengok ke arahku. Anna membuat seringai yang agak menyeramkan.
Aku jadi merinding.
"Ini bukan acara horor yang berlatar di sekolah kan?"
"Bukan, tapi ini kenyataan", katanya masih menyeringai.
“Jadi kau nenek?”
Anna menghentikan seringainya.
Bercanda. Jangan tatap aku seperti itu. Tatapanmu itu kalau baik luar biasa manis, tapi kalau jahat luar biasa menusuk. Tajam sekali seperti hendak membunuh.
“Kesampingkan soal nenek. Kita sekarang kita bisa berbicara dengan mudah kan? Bukannya tidak masalah kalau kau melakukan hal yang sama dengan yang lain?”
“Hal yang sama?”
“Berbasa-basi terlebih dahulu atau lempar candaan.”
Ia menghela nafas, “ Semua orang juga tahu kalau kau tidak bisa langsung bercakap tentang hal inti dari diri seseorang jika belum akrab.”
“Apa warna celana dalammu?”
“Hah?”, wajahnya reflek jadi terheran.
Aku hanya mengetes apakah kita bisa langsung menanyakan pertanyaan inti yang bersifat pribadi. Asal jangan pukul aku tiba-tiba.
“Dasar kau ini”, katanya dengan nada kecewa. Namun kemudian, ia mengangkat kemeja yang dimasukan ke dalam rok seakan ingin melihat ke dalam. Ia mulai melonggarkan...
“Stop, bercanda. Kenapa kau anggap aku serius?!”
“Kalau mau tidak masalah”, katanya sambil tersenyum licik. “Tapi kalau terjadi sesuatu habis ini, itu bukan urusanku”, lanjutnya.
Ia mengeluarkan gawainya. Kemudian suara ceklik khas kamera berbunyi.
“Siswa mesum yang memaksa siswi lain mempertontonkan **********. Ah! Mari jadikan video saja.”
“Stop! Apa aku dijebak dengan ancaman sekarang?!”
Melihat reaksi hebohku Anna tertawa. "Barusan aku melempar candaan."
__ADS_1
Oh. Itu candaannya? Agak riskan. Memangnya gadis Sma sekarang seperti ini ya? Kalau aku dapat masalah, dana bantuanku bisa ditarik. Padahal kakek sudah memberikan tawaran dari temannya kepadaku untuk bersekolah disini. Kalau aku dapat masalah yang berkaitan dengan pelecehan, tidak hanya kakek, seluruh keluargaku juga akan kecewa.
"Apa kau suka permen karet?"
"Suka, memangnya kenapa?"
"Itu tadi basa-basi."
Kurasa sudah dari awal kita berbasa-basi. Dan Anna mengeluarkan permen karet sungguhan lalu menawarkannya padaku.
"Terima kasih."
“Ya. Kurasa itu benar, basa-basi dan candaan penting kan?” Anna mengedipkan sebelah matanya. Ia meletakkan gawainya kembali.
"Tentu. Jadi, apa kau tidak menghapus foto barusan?"
"Tidak ada yang berbahaya juga kan?"
"Ya.. Tidak ada memang."
Tapi untuk apa disimpan?
"Nanti juga bisa dihapus. Ngomong-ngomong.. “, Anna berkata sambil mengulurkan tangannya.
Bersalaman?
Aku mengambil tangan itu dan kami bersalaman.
“Jadi? Salam kenal begitu?”
Anna mengangguk. “Salam kenal, senang berteman denganmu.”
“Oh, rupanya kita sudah jadi teman.”
"Baru saja", ucap Anna sembari tersenyum.
Rasanya kalau sampai harus bersalaman seperti ini kaku sekali. Normalnya berteman ya berteman saja. Ya, terserahlah.
Aku melihat langsung mata Anna yang seakan berkilauan menatapku. Apa mungkin ini dari pantulan cahaya lampu? Tapi tidak ada lampu yang menyala seterang itu. Perasaanku saja kah?
“Ada apa?”
“Tidak apa."
Senyum itu sulit ditebak. Ah, sulit untukku melihat wajahnya lama-lama. Aneh.
Kuharap aku tidak jatuh cinta karena ini.
“Bagaimana, apa pemikatku berfungsi?”
“Hah?” Apa yang dikatakan orang ini?
Ia tertawa tiba-tiba. Seketika kesan yang diberikan Anna sedikit berubah. Kesan pendiam dan teladan yang seenaknya ada di benakku terbang begitu saja. “Kukira efeknya akan bekerja dengan lebih baik. Maaf, lupakan saja. Rupanya tatapanku belum bisa membuatmu jatuh hati.”
“Percaya diri sekali kau nona.”
“Kukira trik pandangan pertama berfungsi”, ujarnya kecewa.
“Kau terlalu mengimprovisasi trik cinta pandangan pertama! Memangnya berapa kali sudah mata kita bertemu!”
"10 kali?", jawab Anna sambil menyentuh dagunya dengan jari telunjuk.
Entahlah aku tidak hitung.
"Sayang sekali tidak berhasil", Anna lanjut berkata.
Jangan remehkan perjaka tahan banting.
Suaraku mungkin terlalu nyaring hingga menembus suara hujan sampai terdengar oleh pustakawan yang sedang piket. Ia menengok ke arah kami.
“Maaf.” Aku menyatukan telapak tanganku ke arah pustakawan tersebut.
Tawa Anna menjadi halus.
“Haah. Mungkin suatu saat jika trikmu ampuh padaku, entah dimensi mana yang hancur.” Aku mengatakannya dengan niat bergurau.
Tapi ekspresi Anna jadi serius saat mendengar itu. Hm?
“Begitukah? Sungguh Sayang sekali”, ujarnya sambil tersenyum puas.
Apa maksud senyum itu?
"Sungguh disayangkan akan ada dimensi yang hancur."
"Ya, ya, terserahlah. Tapi tentu bukan salahku."
Ah, sudahlah. Intinya orang ini bisa menanggapi candaan.
Rasanya interaksi ini menyenangkan.
Setelah itu kami terdiam tanpa mengatakan apapun. Hanya menikmati suara hujan sampai suara tersebut hilang. Pada akhirnya Anna mengambil buku lain untuk dibaca, dan aku pergi keluar karena air yang tumpah mulai jadi rintik. Saatnya kembali ke rumah untuk lompat ke kasur.
“Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa besok, Enric.” Anna melambaikan tangan.
Bukankah pembicaraan kami lumayan lancar? Hei aku bisa berbicara normal dengan perempuan! Bercanda.
__ADS_1
Tidak buruk juga. Kurasa kami bisa berteman dengan baik. Jika dipikir lebih jauh gadis ini lumayan misterius, hatiku berkata ada yang menarik darinya.
Bisa jadi salah. Karena kata hatiku kadang meleset. Dan tentu ini bukan cinta. Mm, tentu bukan.