Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 15 Reka yang hampir dipukuli, lalu aku


__ADS_3

Pulang sekolah entah mengapa aku sedang berlari seperti dikejar anjing.


"Woi!"


"Sini!"


"Berhenti disana!"


Ya. Aku sedang bermain kejar-kejaran. Kejar-kejaran kami dimainkan oleh 4 orang. Bedanya adalah jika biasanya 1 orang yang mengejar dan yang lainnya berlari, maka yang ini 3 orang yang mengejar dan satu yang lari. Nafasku agak berat.


Tiga orang di belakangku kelihatan sangat ingin menangkapku. Mereka mengejar tanpa henti. Rasanya dari tadi kami hanya berputar di luar lingkungan sekolah yang kebetulan dekat dengan jalan besar. Aku berlari di trotoar jalan raya depan sekolah sejauh-jauhnya.


Padahal tadinya aku hanya ingin pulang ke rumah dan menonton drama Jepang yang baru ku unduh. Kenapa jadi begini?


"Hei! Kami hanya ingin bertanya!!"


Kau bilang ingin bertanya tapi wajahmu sangar sekali!


Mataku sempat bertemu dengan salah satu pengguna jalan yang mengenakan motor. Aku mengirim sinyal SoS melalui wajahku namun pengendara tersebut bengong keheranan. Aku tidak ingin berteriak. Aku tidak ingin memanggil polisi!


Alangkah baiknya kuselesaikan ini sebelum kami benar-benar di laporkan karena berlari di trotoar. Aku segera menyebrang menggunakan zebra cross ke seberang dan mengambil arah putar balik dari sisi lain trotoar.


3 orang tersebut, yang mengejarku sekarang adalah kakak kelas yang barusan kulihat hampir berkelahi dengan Reka. Mereka sekarang mengincarku, entah karena aku teman Reka, atau karena aku punya masalah dengan mereka.


Yang kedua tidak mungkin.


Aku cepat-cepat menyebrang kembali ke sisi seberang tepat di depan sekolahku dan segera masuk melewati pagar. Kira-kira jalur pelarian yang kutempuh membentuk angka 0.


Aku segera naik ke lantai 2 gedung paling kanan dari depan dan bersembunyi di dalam perpustakaan . Bodohnya aku, kenapa tidak ke ruang guru saja ya? Tubuhku bergerak sendiri ke perpustakaan.


"Stop!" aku setengah berteriak untuk menghentikan langkahku. Aturan jangan lari di lorong kuabaikan, tetapi aturan jangan ribut di perpustakaan tetap kutaati.


Buka pintu pelan-pelan, dan masuk dengan baik. Atur nafas dulu. Seperti biasa penjaga perpustakaan menganggukkan kepalanya saat melihatku masuk.


Sedang tidak ada siapa-siapa disini. Anna yang biasanya ada disini pun sedang absen. Dari jendela kucoba tuk mengecek keadaan di luar. Tidak ada tanda-tanda.


"Tumben, kenapa lari-lari?" tanya penjaga perpustakaan yang juga adalah seorang sisiwi. Dia mengetahui jika aku sedang berlari dari nafasku atau dari langkahku yang agak cepat tadi. Dari yang kuingat, dia ini kakak kelas kami. Karena aku sudah mengingat semua wajah anak kelas 1, jadi tidak salah lagi.


"Dikejar oleh preman."


Baru pertama kali ini aku berinteraksi dengannya.


"Preman? Apa ada preman di sekolah ini" tanyanya bingung sembari memegang dagu.


"Ada tiga orang kakak kelas yang mengejar."


Dia menepuk kedua tangannya, "Ah, itu kah?" jawabnya seolah mengerti.


Kemudian dia bertanya dengan wajah penasaran, "Apa kau ada masalah?"


"Justru itu yang ingin kuketahui."

__ADS_1


Aku bahkan tidak tahu alasannya.


"Kasihan sekali, apa kau jadi sasaran buta?" Ia bertanya dengan simpati.


Aku mengangkat kedua tanganku ke samping. "Entahlah. Mungkin saja. Ngomong-ngomong nama kakak siapa? Namaku Enric. Salam kenal."


Aku mengajaknya bersalaman.


"Elena. Baru kali ini kita berbicara langsung." Elena menyambut tanganku sambil tersenyum. Aku baru menyadari kalau Elena mempunyai tindik panjang di telinga karena barusan ia merapikan bagian poni yang tersisir ke kanan. Rupanya tindik tersebut tertutup rambutnya.


Penjaga perpustakaan ini ternyata juga anak gaul.


"Aku penasaran, kenapa tidak beritahu saja kepada guru?"


Itu solusi yang sebenarnya paling pas.


Aku mengangkat bahu. "Memang. Tapi aku tak ingin membawanya ke guru, rasanya tidak biasa."


Lagipula kalau bisa diselesaikan, untuk apa lapor guru. Mungkin aku merasa tidak jantan kalau semuanya lapor guru atau lapor guru atau lapor guru terus.


"Kalau lapor kau bisa terkenal" katanya bercanda.


"Aku tidak mau terkenal karena ini."


Biasanya kalian akan jadi pembicaraan satu sekolah.


Aku mengecek sekali lagi lebih dalam di perpustakaan.


"Oh. Apa aku terlihat seperti sedang mencarinya?" Aku bertanya agak malu. Tanganku reflek mengelus kepalaku.


"Kalian biasanya bermesraan disini" balas Elena sambil mengedipkan satu mata.


"Aku sudah sering mendengar tuduhan itu, tapi kami sekedar berteman. Selebihnya, entahlah, ada kemungkinan" aku berusaha meluruskan keadaan, namun agak ambigu.


Meski aku berkata seperti itu, aku merasa bahwa sekarang perasaanku agak terbuka pada Anna.


"Sungguh?" Elena mengakhiri pembicaraan kami disitu. Ia kembali fokus dengan buku yang ada di depannya.


Aku keluar dari perpustakaan, tiga orang tadi mungkin sudah pergi.


Atau tidak.


Bodohnya aku. Seseorang memegang lenganku saat aku berada di depan pintu keluar dari gedung.


"Ini dia! Jangan lari begitu lah? Sobat?" kata seseorang sambil mengangkat alisnya dua kali. Tangannya mencengkram lengan atasku.


Satu orang lagi seakan berpura-pura memberiku jalan dengan lengannya, "kemari sebentar", ucapnya dengan nada lembut yang berbeda dari niatnya.


"Asal jangan main tangan ya kakak-kakak?" mataku dengan senyum lebar berusaha tenang.


"Tidak usah risau" kata yang satu lagi sambil melingkarkan lengannya di pundakku. Kami berjalan menuju tempat sepi, ke sebuah kelas kosong di belakang. Aduh, kenapa harus selalu di belakang. Klise sangat.

__ADS_1


Kesan langkah jalan yang kami buat seperti teman akrab untuk menghindari kecurigaan.


"Ya." Mereka masih tidak seseram Reka tapi tetap saja aku khawatir. Dipukuli tiga orang bukan hal yang bisa dianggap remeh.


Kecuali, jika ini adalah kesalahpahaman dan mereka ingin meminta saran dalam hal cinta atau semacamnya.


Mereka bertiga berdiri mengelilingiku. Lebih tepatnya kami sedang membentuk setengah lingkaran.


"Hei, namamu Enric kan?" tanya seseorang. Dia memiliki rambut yang dicat merah setengah.


"Ya."


"Bagus, kami orang baik yang hanya ingin menanyakan sesuatu." Seseorang yang paling biasa diantara mereka berkata sambil menggosok tangannya.


Meskipun kau menggesekan telapakmu aku tidak akan memberikan apapun, kau tahu.


"Beritahu kami" seseorang yang paling tinggi diantara mereka, kakak kelas yang mengenakan anting salib di telinga kirinya memegang pundakku agak keras.


Ekspresinya kelihatan serius. Apa ini benar akan menjadi pukul-pukulan?


"Apa kau tahu, tentang itu ... "


"Tentang ... itu apa?"


Dia tampak seperti orang yang bingung harus berkata apa, matanya melihat keatas kebawah.


"Apa kau dekat dengan Rena?"


Hm?


"Ya, sekedar teman sekelas."


Apa jangan-jangan firasatku benar? Kemungkinan besar iya.


Wajahnya sedikit lega, dua orang yang lainnya juga.


"Jadi ... apa orang yang besar itu dekat dengannya?" katanya sedikit resah. Genggaman tangan di bahuku agak mengeras.


"Tentu namanya ju-"


"Benar kan!" ucapnya makin mengencangkan cengkramannya di bahuku.


"Mereka berdua berpacaran!" teriak pria rambut setengah terbakar ini.


"Haaa!" dua orang lainnya secara kompak menahan nafas kaget.


Tidak tidak tidak, dasarnya salah!


"Kurasa kalian salah paham."


Mendengar ucapanku, mereka secara kompak lagi dengan gaya yang agak lawak memutar kepalanya kemari.

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2