
Sudah seminggu aku bersekolah disini dan hampir semua teman sekelasku sudah mulai mengenal satu sama lain secara perlahan, termasuk diriku. Tidak buruk. Mengingat tidak ada teman dari smp yang ku kenal ada disini. Terima kasih kepada kakek karena bisa membuatku masuk disini. Kakek berpesan padaku jika ada kesempatan, temui kepala sekolah disini untuk berbicara dan mengucapkan terima kasih.
Lain kali saja lah. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjumpai kepala sekolah secara normal selain jika bertemu secara kebetulan atau ada keperluan penting. Kakek juga berkata jika ada kesempatan.
Gran yang sempat membuat heboh di hari pertama pun tidak melakukan hal – hal aneh seperti yang diekspektasikan orang.
Aku juga tidak punya masalah dalam berkomunikasi.
Tentu tidak ada masalah.
“Hm.”
“Hm.”
Kecuali yang satu ini. Apa yang bisa kubicarakan ya?
“Ototmu besar sekali.” Berapa kali sudah aku
mengatakan ini?
“Hm. Kau benar,” jawab Reka sambil menggulung lengan
bajunya. Ia tak bosan menjawab. Ia juga bingung mau bicara apa.
Begini ternyata rasanya mencoba berbicara dengan orang ter-pendiam.
“Apa kau sering latihan?”
“Ya, kadang – kadang.”
“Oh.”
Tidak tampak seperti kadang – kadang.
Reka tidak terlalu banyak bicara. Dari yang kuperhatikan, selama seminggu ini dia tidak banyak bicara kepada siapapun. Pendiam juga ada batasnya! Untungnya, selama seminggu lebih ini dia mulai mengucapkan sepatah dua patah kata, meski patah – patah. Awalnya dia banyak menjawab dengan suara gumam. Beberapa kali pula Rena ikut ke dalam pembicaraan agar rentetan kata tetap bersambung diantara Reka dan yang lainnya. Apakah ini bisa disebut perkembangan?
Rena yang dari jauh memantau sambil berbicara dengan teman – temannya melihat dengan senyum hangat kemari. Ia juga memberi tatapan yang seolah berkata “Semangat!”, pada kakaknya.
“Mm.” Reka membalas dengan anggukan sembari mengangkat jempol.
Melihat ini aku hanya bisa tersenyum masam.
Menurutku, orang yang berbadan besar namun tidak banyak bicara selalu punya imej mengintimidasi. Mungkin akan menarik kalau Reka mengenakkan jubah yang dipakai biksu biasanya. Penampilannya bisa mirip dengan
biksu petarung yang sedang mengembara.
Terlepas dari monologku barusan, aku sudah berjanji akan berteman baik dengannya. Ada saatnya aku harus menyeretnya ke pembicaraan grup yang lebih besar.
Memangnya selama ini apa yang kau lakukan? Aku sampai ingin bertanya padanya. Kepribadiannya berbanding terbalik dengan Rena yang bisa nimbrung kesana – kemari.
Kami sekarang sedang berdiri di selasar sambil bersandar di tembok, memperhatikan orang lalu lalang.
“Apa kau suka bela diri?”
“Ya, sangat,” balas Reka.
“Oh, pantas.” Aku menunjuk tangan Reka.
Tekstur tangan Reka tebal, dan ada beberapa luka di telapak dan kepal tangannya. Dari situ saja sudah ketahuan.
Reka tersenyum sedikit.
Oh, baru kali ini aku lihat orang ini tersenyum normal. Ia memegang telapak tangannya sambil menyelintik kapalan kering di telapaknya.
“Keras kan?” tanyanya.
“Keras, tapi keren. Sangat laki.” Aku menganggap bekas seperti itu sebagai hasil dari kerja keras. “Lihat aku juga punya sedikit?” Aku menunjukkan bekas luka kapalan di tanganku juga.
“Oh ... “ kata Reka seolah kagum.
Tidak. Tidak. Ini tidak ada apa – apanya dibandingkan milikmu.
“Sekali hantam. Mungkin kau bisa memecahkan tengkorak manusia.”
Ekspresi Reka jadi agak serius. Ia terdiam seakan memikirkan sesuatu.
“Kau benar,” ucapnya seakan melihat masa lalu yang
jauh.
Eh? Jangan bilang kalau kau pernah melakukannya? Apa
kau benar – benar warrior monk?
“Mungkin kau punya pengalaman perkelahian asli?”
Reka terdiam sambil menatapku. Tolong jangan diam
seperti itu, kau membuatku takut. Orang ini kalau menatap sambil hening aura intimidasinya banjir keluar.
“Ada beberapa,” jawabnya singkat.
“Itu luar biasa! Kompetisi kah? Atau jangan-jangan tarung jalanan?”
__ADS_1
Rasa antusiasku membuat Reka kerepotan, ia agak sulit berkata-kata.
“Agak rumit untuk dikatakan.”
“Oh. Tidak masalah, jangan dipikirkan.”
Wajahnya seakan kesulitan untuk menjawab jadi apa boleh buat. Mungkin ada hal yang bersifat pribadi yang membuatnya susah berkata-kata.
Apa ada kaitannya dengan perawakan dan sifatnya sekarang? Entahlah. Aku hanya menduga-duga.
“Kalau kau punya pengalaman seperti itu, itu sangat luar biasa.”
“Luar biasa?” Reka menyahut kebingungan.
“Mm. Luar biasa, sangat pria sekali.”
Reka terdiam sejenak sambil menatapku. Sudah kubilang berhenti menatapku dengan bisu!
“Terima kasih.”
Hm? Ada sedikit rona senang di wajahnya.
...
Hening melanda kami lagi. Tidak ada yang bisa diteruskan. Lebih baik aku menuju kantin. Reka tidak ikut dan kembali ke dalam kelas.
Masih ada 10 menit lagi, mudah – mudahan susu di tempat paman belum habis
"Aduh!"
“Ah, maaf.”
Aku tidak melihat seseorang berjalan cepat dari dalam kelas. Tidak sengaja ku menyenggolnya yang keluar dari pintu.
“Ah, aku minta maaf tidak melihat ke depan,” kata gadis yang kusenggol.
“Tidak, aku yang tidak melihat dengan baik.”
Kalau tidak salah namanya Anna. Diantara manusia yang ada di kelas 1 -3 ini, Anna adalah siswi yang paling biasa. Kacamata bulat, pakaian yang sangat rapi, dan rambut yang diikat sanggul, sekarang sedang membawa buku. Gambaran murid teladan. Mungkin beberapa orang mengatakan bahwa gayanya ini culun.
“Apa ada sesuatu?” Ia menatapku dengan serius seperti sedang mengamati sesuatu. Apa ada yang aneh di wajahku?
Kalau diperhatikan, bibirnya agak tebal dan matanya agak belo. Aku ingin segera mengalihkan pandanganku. Aku menyadari Rena yang ada di kejauhan juga menatap kesini.
Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya.
Ada apa memangnya? Ada yang salah kah?
“Oh, tidak ada. Permisi.”
Kenapa barusan ia menatapku seperti itu? Heroine
potensial kah?
Tiba-tiba eseorang menaruh lengannya di pundakku. “Ada apa kawan, kekasihmu kah?”
Gran berkata padaku dengan nada bergurau. Orang ini baru pertama kali bergurau denganku seperti ini.
“Kuharap itu bisa terjadi.”
Gran memasang wajah curiga, “Berharap saja kah? Apa yang seperti itu seleramu. Penampilannya biasa saja,” ucapnya sambil menepuk pundakku.
Aku hanya bisa mengangkat bahu. Dekat saja tidak, bagaimana mau bicara soal selera.
“Kau sendiri, apa seleramu yang seperti itu?” Aku menunjuk ke arah Rena.
Rena balik melambai kemari.
“Tidak buruk. Tapi aku memilih yang seperti itu.” Ia
menunjuk ke arah Erika yang sedang berjalan dari kantin. Rambut pirangnya yang pekat sangat mencolok.
“Kau menunjuk area yang penuh persaingan. Alasannya?”
“Penampilan,” kata Gran dengan percaya diri. Jawabannya simpel.
Sungguh? Kukira kau mau bilang sesuatu tentang aura atau sejenisnya.
“Kukira ada sesuatu yang lebih istimewa selain penampilan.”
“Jika ada pun tidak akan kuberitahu,” jawab Gran.
Hm? Maksudnya?
Melihat ekspresi bingungku Gran hanya tersenyum sambil menepuk pundakku dengan keras 3 kali.
“Tidak ada.” Gran berkata lalu pergi
Saat menuju ke kantin pun seseorang menghampiriku lagi, Rena.
“Hei, apa kabar?”
“Baru kemarin kita bertemu, baik nona.”
__ADS_1
“Apa pembicaraan dengan kakak lancar?”
Wajahnya penuh ekspektasi. Adik ini sangat ingin kakaknya bersosialisasi.
Aku mengangkat bahuku. “Lancar, mungkin."
“Oh, syukurlah!” jawab Rena lega. “Kuharap kakak
punya teman normal seusianya,” kata Rena meneruskan.
“Apa dari dulu memang seperti itu?”
Mungkin Rena bisa menjawab. Tetapi ia juga memasang ekspresi yang kesulitan.
“Ada banyak hal yang terjadi di lingkungan sekitar kami, itu saja yang bisa ku katakan,” jawab Rena dengan senyum masam.
Rupanya memang ada sesuatu. Bukan tempatku untuk berbicara kalau begitu.
“Oh.” .
Ah. Kesampingkan soal Reka, mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya hal yang selalu membuatku penasaran. Warna rambutnya.
“Hei Rena kalau boleh bertanya, apa ini asli?”
“Eh?!” Rena menjerit nyaring.
“Ah, maaf!”
Rasa penasaranku sedikit naik sampai aku memegang rambutnya. Wajar saja ia terkejut. Tapi sungguh rasa penasaranku hanya pada rambut ini, bendanya! Bukan ada maksud tertentu. Astaga, sekarang aku jadi gugup. Saatnya lihat sekitar! Tidak ada yang memperhatikan.
Bagus.
Rena yang terkejut jadi memerah. Ups. Aku tidak membangkitkan bendera apapun. Sentuhan itu tidak dihitung.
“Hahaha. Aku kaget,” kata Rena sambil mencoba menghilangkan merah di wajahnya.
“Aku juga, dalam banyak artian. Maaf.” Bukan sehelai dua helai, tapi segepok!
Rena menggelengkan kepala.
Aku menunjuk rambut Rena. “Aku hanya penasaran apa itu asli atau tidak, karena tidak sengaja rambutmu kupikirkan seperti benda, jadi, ya, tidak sengaja kusentuh.”
Rena tertawa kecil. “Kau orang ke 100 yang bertanya.”
“100 kah, bukan yang pertama. Ada perayaan untuk yang ke seratus?” Aku berusaha mengubahnya jadi suasana bercanda.
“Sehelai untuk diteliti?” katanya dengan nada sungguh- sungguh.
Aku tidak perlu sehelai rambut. Lagipula bagaimana caraku menelitinya? Dengan mikroskop?
“Kalau bisa beritahu saja.”
“Ini asli.”
“Wah, ternyata asli. Itu luar biasa. Baru kali ini aku melihatnya.”
Siapa yang punya warna seperti ini yang kukenal? Tidak ada.
“Wajar kalau orang menyangka ini palsu, banyak rambut seperti ini dicat bukan?” kata Rena sambil memainkan poninya.
“Keturunan kah? Rambut Reka hitam biasa saja.”
“Ya, tapi agak jauh. Kalau tidak salah dari nenek buyut kami. Keturunan dari daerah eropa utara atau semacamnya. Aku tidak pernah bertemu, hanya dengar dari cerita.”
Kelihatannya gen itu menurun ke Rena. Termasuk hidung dan dagu. Mungkin itu juga alasan kenapa Reka punya badan yang besar.
“Begitu.”
“Kalau mau lihat yang lebih langka, bukannya kita punya seseorang di dalam kelas?”
Mata Rena tertuju ke arah Erika yang berjalan bersama 3 teman lainnya melewati kami. Ia juga melihat ke arah kami.
“Benar kan?” ujar Rena.
Kalau itu aku tidak bisa membantah. Rambut panjang pirang emas Perawakannya seperti model dan lebih tinggi dari Rena. Auranya ada kalau orang bilang.
“Aku baru kali ini melihat yang bukan hitam, di sekolah ini saja.”
“Aku baru pertama melihat yang keemasan seperti Erika,” timpal Rena. “Banyak dari kakak kelas sudah melakukan pendekatan dari yang kudengar.”
Sudah dalam ekspektasi jika hal itu terjadi.
Rena tiba - tiba tertawa halus. “Tapi kalau dipikir-pikir, yang memegang rambutku secara langsung saat pertama kali bertemu hanya Enric saja yang berani.”
Aku jadi malu. Mudah-mudahan Rena tidak punya klub penggemar yang ingin membunuhku.
“Itu ... Hahahaha.”
Yah, apa bisa dikata. “Apa ada perayaan?”
“Mau kubelikan minuman?”
“Boleh!”
__ADS_1
“Ini juga sedikit terima kasih untuk kakak.”
Sungguh adik yang peduli!