Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 16 Tiga penggemar (yang bersaing dengan sportif)


__ADS_3

Reaksi mereka sangat lucu. Seperti patung otomatis yang menggerakan kepalanya ke arah yang sama.


"Maksudmu?" kata seorang yang paling biasa diantara mereka.


"Mereka bukan pacaran, mereka kakak adik."


Hening, sampai tampak wajah lega dan bersalah dari si rambut terbakar.


"Oh! Jadi salah paham saja!" katanya sambil berteriak. Dia mengangkat tangannya ke udara. Katanya lanjut, "Boleh kupastikan lagi bahwa kau juga bukan pacarnya?"


Orang ini akhirnya tersenyum dengan penuh antusiasme, seperti anjing yang tahu kalau tuannya tidak mengabaikannya. Bagaimana kalau kujawab berlawanan dengan ekspektasinya?


Aku mengangguk dua kali, "Tentu, bukan." Mana kuberani, kan?


Kakak kelas ini mengelus dada, begitupun dua yang lainnya.


"Kami sangka Rena diganggu, dan kami pikir laki-laki berandalan itu memanfaatkan Rena, lihat saja mukanya."


"Tuduhan yang tak baik."


Aku teringat saat pertama kali berpapasan dengan Reka.


Mm. Aku pun bersalah. Aku mengerti mereka.


Tapi, hei, tiga kroco ini tidak buruk juga?


"Ngomong-ngomong, siapa nama kakak?"


"Hm? Untuk apa? " tanya seseorang yang beranting dengan suara yang masih saja disangarkan. Wah, Jangan-jangan yang satu ini memang karakternya seperti ini.


Biar aku tidak memanggil dengan kroco atau si rambut terbakar h, si biasa, atau si pemakai anting-anting. Kasihan yang menulis cerita ini.


"Hanya bertanya, biar lebih enak dipanggil."


Si anting menangkap tanganku dengan momentum yang luar biasa keras seperti menapak, "Hiru", jawabnya sambil menatapku.


Dekat, kepalamu terlalu dekat.


Si rambut terbakar menjawab penuh percaya diri, "Anson."


Si biasa, dengan biasa mengucapkan namanya, "Didi."


"Enric."


Mereka tampak selesai dengan urusan mereka. Sepertinya hanya itu saja.


"Ngomong-ngomong, apa di antara kakak-kakak ini ada yang suka dengan Rena?"


Ketiganya menjadi malu dan menggaruk kepala.


"Ya, suka dibilang suka, penggemar juga ... " jawab Anson bergumam.


Wajar saja. Hal seperti ini sudah pasti terjadi. Sainganmu luas Sobatku Rito. Luas dalam berbagai hal tentunya.


Temannya yang lain mengangguk. "Kami semacam penggemar" sambung si bi- eh bukan Didi.


"Oh. penggemar tapi pengen?'


Anggukan mereka menandakan ya.

__ADS_1


"Biar kutebak, apa ini yang disebut bersaing dengan adil?"


"Mungkin?" jawab Didi memiringkan kepala.


Anson dengan yakin dan tidak yakin, "Tidak, penggemar, tidak boleh, tapi ... " Anson mengeraskan kepalan tangannya.


"Oh, baiklah semoga beruntung."


Dari gelagatnya mereka tampak seperti orang yang tidak berani mengutarakan perasaannya. Penggemar jauh?


"Kalau begitu artinya tidak ada pukul-pukulan, kan?"


"Tidak. Lagipula kau junior yang baik" jawab Anson dengan senyum lebar.


Di sisi lain Hiru menghentakan sepatunya, "Tapi kalau macam-macam dengan kami, kau seharusnya tahu kan?" Hiru menyambung perkataan Anson dengan raut mengancam.


Sepertinya aku salah sangka. Kupikir Anson akan lebih berandal, ternyata Hiru yang lebih bertingkah seperti preman sekolah.


"Baik! Siap! Kalau begitu saya pamit! Mau beristirahat dulu kakak-kakak! Kakak-kakak sekalian juga harus rehat! Supaya bisa selalu sigap dan kuat dalam mengagumi idolanya!"


"O ... oh-oh, siap" jawab Anson terbata.


Aku sengaja mengatakannya dengan nada yang heboh dan penuh semangat disertai hormat. Mereka sempat heran menatap gayaku, dan pada akhirnya membiarkanku pergi.


"Kami lupa mengatakan sesuatu Enric!" Anson berteriak memanggilku.


Bukan hal yang buruk ternyata. Kupikir aku sungguh-sungguh akan diincar oleh kakak kelas. Tahulah, aku tidak mau cari masalah.


Saatnya pulang.


Sesampai di rumah setelah memarkirkan motor di garasi, aku melihat di halaman luar ada motor yang tidak kukenal. Di teras depan juga ada sepatu yang tak kukenal.


Benar saja. Saat aku masuk, aku melihat Nika sedang berbincang dengan dua orang temannya, seorang laki-laki dan satu lagi perempuan.


"Permisi" kata si perempuan dengan segan.


Yang laki-laki hanya mengangguk dengan tersenyum.


Hm? Temannya yang perempuan menatapku dengan tatapan aneh, kenapa wajahnya cemas?


Tenang saja aku tidak akan memakanmu. Aku bukan Ghoul.


"Kak, kenapa?" Nika melihatku dan temannya perempuan bergantian. Dia tampak heran.


Aku yang ingin bertanya.


"Kenapa Rik?" Nika bertanya juga pada temannya yang perempuan.


"Ah, tidak ada apa-apa!" balasnya panik sambil menggelengkan kepala dengan cepat.


"Ya sudahlah, nikmati waktu kalian." Aku segera menuju kamar di lantai 2 setelah mengatakan hal tersebut.


Apa itu? Aku melirik sedikit ke belakang dan temannya tersebut masih mencoba curi-curi pandang seakan ingin memastikan sesuatu.


Apa ada yang salah dengan wajahku?


"Haa ... hari ini lewat begitu saja."


Belakangan aku jarang sekali berbicara dengan Akram. Mungkin dia sedang sibuk di klub. Rito tetaplah Rito yang biasa diajak bercanda dan masih mendekati Rena. Rena juga orangnya terbuka pada siapapun. Kuharap Rito tidak cepat GR.

__ADS_1


Aku membuka hp ku sejenak untuk mengecek apakah ada kontak atau pesan masuk. Tidak ada, selain pesan Rito yang tidak jelas bertuliskan "Dada atau paha?"


Jelas paha ayam, karena berlemak.


Aku menjawab kepala.


.


Tak lama kemudian, ada lagi pesan masuk dari Rito yang sontak membuatku terperanjat dari kasur.


"Bro, aku barusan dapat kecup" itu isi pesannya. Bagaimana aku tidak syok coba.


Jangan bilang kalau Rito sungguh-sungguh ...


Sesaat kemudian ia mengirimkan foto percakapan antara dirinya dengan satu akun yang namanya tak kukenal.


"Kau senang sekali cuma gara-gara emoji." Pesan serupa kukirim.


Rito mengirim simbol wajah songong dan wajah kacamata.


"Bagaimana dengan Rena?" Pesan serupa kukirim lagi.


Rito hanya berkata "aman."


Di dalam pesannya kemudian, dia hanya mengatakan bahwa yang mengirimnya pesan tersebut adalah anak dari kelas lain.


"Kau punya penggemar juga ternyata."


Lalu ada pesan lajn masuk. Isinya adalah bagaimana jika ada orang lain yang menyukaiku atau semacamnya dan bagaimana perasaannya pada Rena atau semacamnya.


Sekali kirim pesan saja aku bisa melihat kalau orang ini sedang merasa di atas angin.


Kalimat pesa dari Rito berikutnya seolah menjawab pertanyaanku.


"Apa jangan-jangan, aku keren dan populer katanya."


Aku menjawab mudah-mudahan. Aku juga mengingatkannya untuk jangan lupa dengan modusnya terhadap Rena. Dimana dia kemudian mengirim banyak pesan berisi antusiasme dan cerita tentang percakapannya dengan Rena yang membuatnya makin berpikir bahwa mereka cocok.


Kalau iya syukur, kalau tidak dan itu hanya perasaanm


seorang maka kau akan merasa malu sobat.


Dia mengirimkan pesan lagi saat aku hendak mengganti baju dan masuk ke wc untuk bab. Pesan tersebut kembali membuatku terkejut.


Isinya adalah tentang Akram. Rito melihat Akram berciuman dengan seorang gadis yang diduga adalah kakak kelas. Di dekat lobi.


"Akram, berani sekali kau nak. Kau bahkan sudah sejauh itu ... "


Aku juga turut senang dan terharu. Ternyata Akram tidak hanya memikirkan dunia gaib di pikirannya.


Rito mengirim pesan lagi yang terdengar seperti ironi. "Aneh ya, dia yang dapat duluan. Lihat kita, masih perjaka mulut" dia menulis kata-kata tersebut dengan emot tertawa sambil terbahak dan kemudian berubah menjadi emot emosi sambil tersenyum.


Mm. Hmm.


Maaf kawan. Tapi aku juga sudah duluan. Sayangnya aku ikut geng Akram.


Malahan rasanya aku duluan yang lulus dari keperjakaan mulut. Secara paksa pula. Oleh Anna di ruang penyimpanan barang lantai 2.


Bedanya mungkin tidak seromantis Akram.

__ADS_1


Aku mengirim simbol berbentuk telapak tangan yang disatukan, meminta maaf, yang dibalas Rito dengan tanda tanya.


__ADS_2