Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 2


__ADS_3

Guntur yang sempat bersitegang kali ini hanya duduk dengan tenang di kursinya setelah seorang guru menanyakan beberapa hal padanya. Ia tampak tidak tertarik menjawab pertanyaan dari guru tersebut, jawabannya pun sembarangan. Tapi semua sudah selesai dan upacara akan segera dimulai.



Bel pun berbunyi dan pengeras suara memerintahkan kami menuju ke halaman depan. Tidak perlu berjalan jauh, kelasku hanya berjarak 10 meter dari halaman depan.



SMA Angkasa tempatku meneruskan pendidikan ini disebut sebagai sekolah swasta elit terbaik di kota, bahkan negeri. Hanya yang beruntung yang bisa berada disini, katanya. Tidak mudah untuk diterima di SMA Angkasa entah dari segi biaya, ataupun dari segi tes. Mungkin aku masuk ke dalam orang beruntung tersebut. Terima kasih kepada kepala sekolah.



Kepala sekolah SMA Angkasa adalah orang yang ku kenal. Biaya dan rekomendasi untuk masuk kemari pun dibantu oleh orang itu. Meski ujung - ujungnya tes harus kujalani. Kupikir jalur pintu belakang tersedia untukku sepenuhnya. Sayang sekali, ternyata aku tetap disuruh ikut tes. Bagaimanapun juga aku berhasil masuk ke sekolah yang digadang - gadang elit ini. Jika dilihat dari hasil tesnya saja bisa dikatakan ini sebuah kesuksessan tanpa sogok - menyogok.



Agar tidak menyia - nyiakan bantuan biaya dari kepala sekolah mungkin aku akan sedikit berusaha.



Seperti biasa upacara bendera diisi sambutan untuk murid baru. Pidato formal tidak banyak diperhatikan. Beberapa siswa tahun kedua dan ketiga tampak bosan di barisan. Hal yang kulihat disini adalah ternyata aku satu barisan dengan Arad dan Loze, berarti kami satu kelas. Arad tetap dengan wajah kerasnya, dan Loze yang cantik manis dengan senyumnya yang tadi sempat menyapaku lagi. Aku jadi penasaran bagaimana kalau Arad tersenyum. Agak kasar memang, tapi wajah tertawa seorang mafia lah yang terbayang.



Kelas B memiliki orang - orang yang mampu bahkan sudah jadi pusat perhatian. Dari tadi orang - orang curi pandang kemari. Apa ini maksud perkataan dari kepala sekolah kemarin? Kelasku tidak akan jadi kelas yang membosankan, ucapnya. Apalagi ada insiden dengan Guntur tadi.



Maksudku Lihat! Ada 3 raksasa disini! Dan ada apa dengan perempuan - perempuan model di kelas ini? Mereka anak SMA kan? Tekanan apakah ini yang kurasakan. Sisanya.. Masih normal. Tapi siapa tahu ada orang yang luar biasa lagi diantara 28 orang ini. "Kelasmu akan dipenuhi oleh orang - orang langka", kata kepala sekolah padaku sebelumnya.



Upacara selesai. Siswa dipersilahkan kembali ke kelas.



"Ah, maaf." Seseorang melewatiku dan tanpa sengaja aku menyenggolnya.



"Tidak. tidak jangan dipikirkan."



Oh, seseorang dari kelas kami yang belum ku kenal. Ia seorang gadis biasa dengan kacamata dan gaya culun. Dari semua yang kuamati mungkin dia yang paling normal. Di tangannya ada sebuah buku kecil mirip buku saku.



"Apa ada sesuatu?", kaget karena ia menatap mataku langsung. Aku jadi ingin mengalihkan pandangan dari tatapan kuat itu.



"Oh, tidak ada."



Ia pergi begitu saja.



Ada apa memangnya?



Heroine potensial kedua kah?



"Ada apa kawan, kekasihmu kah?"



"Kuharap itu bisa terjadi."



Guntur memegang pundakku.



"Hanya berharap? Apa yang seperti itu seleramu? Penampilannya biasa saja", kata Guntur.



Aku hanya bisa mengangkat bahuku.



"Kalau kau sendiri, apa yang seperti itu?", aku menunjuk ke arah Loze.



"Tidak buruk tapi aku memilih yang seperti itu." Guntur menunjuk seorang gadis tinggi berambut pirang menyala. Dia juga dari kelas B.



"Alasannya?"



"Penampilannya saja."



Simpel.



"Kupikir kau akan mengatakan sesuatu seperti aura pembawaan atau apalah."



"Kau kira aku punya indra keenam yang bisa menebak sifat orang dalam sekali lihat?", Guntur tertawa dan pergi.


__ADS_1


Benar juga.



Ah, langitnya jadi gelap, mau hujan.



**********



Sambil ditemani hujan aku berkeliling saat jam pulang. Seorang diri. Tidak ada wajah familiar diantara murid, semua wajah baru. Tak ada teman SMP yang masuk ke SMA Angkasa. Mengakrabkan diri dengan mereka perlu waktu.


3 hari bebas diberikan pada siswa untuk bersosialisasi, bukan masa orientasi akan tetapi. Ekskul dan klub melakukan promosi di 3 hari yang diberikan.



Perpustakaan.



Aku melihat seseorang duduk di dalam, orang yang ku kenal.



Ana. Gadis berkacamata yang tersenggol olehku saat upacara selesai.



Sendiri kah dia? Karena sudah terlanjur kemari, lebih baik kusapa dia.



"Sendiri? Kenapa tidak melihat ruang ekskul yang sedang promosi?"



Aku mengambil kursi di depannya.



"Ya, jelas kan? Aku duduk sendiri disini", ucapnya.



Benar juga. Tapi basa - basiku rupanya dibalas, aku sempat berpikir kalau ia akan mengabaikanku. Slot pengalaman ditolak perempuanku masih kosong.



"Jadi, apa kau datang untuk menggodaku, mendekatiku, karena aku sendiri dan terlihat lemah?"



Hmm?



"Bukan. Kalau aku berani, aku pasti mendekati Loze atau Erika dari awal, bukan kemari menggodamu."




Perlahan kupastikan ekspresinya yang tampak biasa saja, tetap dengan senyum tipis.



"Maaf." Kegelisahanku disadari tampaknya, ia sekedar tertawa dan menggeleng.



"Tidak apa - apa kok."



Cari topik lain Harold.



"Loze dan Erika memang terlihat punya kelas yang tinggi, tapi kau juga punya keunggulanmu sendiri Harold, aku tidak terkejut jika kau akhirnya berpacaran dengan mereka." Ana memulai pembicaraan ini lagi.



"Sayangnya percaya diriku kecil. Jangan memancingku. Aku tidak sekeren Guntur atau setampan Rito."



"Ah, sayang sekali. Jadi apa yang kau tanya tadi?"



"Apa kau tidak berkeliling melihat - lihat ekskul?"



"Sudah. Tapi aku tidak tertarik."



"Oh, kupikir kau akan jadi pustakawan sekolah."



Ana berdiri mengembalikan buku ke rak. "Aku senang membaca, suasana disini memang tenang dan cocok untukku. Tapi tidak ada niat untuk jadi pustakawan", ujar Ana. Ia melangkah ke luar perpustakaan.



"Sebentar Ana, aku ikut."



"Sudah kuduga kau mengincarku dari awal, kau datang kesini hanya untuk menemuiku kan?", Ana bergurau.


__ADS_1


Mana mungkin aku tahu kau ada disini kan? Kalau begitu..



"Haha, benar sekali, bagaimana? Mau menuju wonderland baby?". Biar kubalas gurauan mu.



........



Ana diam menatap, lalu berjalan menjauh sambil menghela nafas.



Eh, what? Tunggu sialan! Aku belum siap! Itu bercanda! Kau bercanda juga kan tadi! Jangan buat ini jadi pengalaman pertamaku ditolak. Meski aku tidak berniat melakukannya karena kukira kau bercanda!



"Oi, tunggu! Itu bercanda kau lihat!", Aku mengejarnya.



"Iya, aku tahu. Kau orang yang lucu, jadi aku tidak tahan."



Lucu? Atas dasar apa perkataanmu itu Ana Rocetta?



Dia malah tertawa. Heeeeh? Aku tidak pernah menulis pelawak dalam kertas bimbingan kaririku. Gadis ini..



"Kalau benar aku menyukaimu dan menyatakan perasaanku, apa yang akan kau lakukan?"



Dia berhenti. "Ku terima mungkin?", Ana memainkan rambutnya.



Ohh, ohhh.. Perasaan manis apa ini?



"Tapi tidak jadi, mungkin akan ku tolak", katanya datar.



Mm, sudah kuduga. Sepertinya jiwa perjakaku dipermainkan. Jika harus digambarkan, aku sekarang sedang tersungkur sambil disorot lampu. Musik sedih diputar. Kemudian aku berkata, "Oh My Valkyrie."



"Ahahaha..!", Ana tertawa.



Sungguh, apa ini? Aku baru bertemu sekali dengannya kan? Aku heran kenapa kami bisa bercanda seperti ini.



"Ya, ya terserahlah. Selama kau senang."



Kesan yang muncul saat melihatnya adalah penyendiri dan pendiam. Tapi, Hei, ternyata dia orang yang ceria.



"Mungkin saja perlahan aku akan jatuh cinta padamu."



.........



Krik.. Krik..



Ups.



"Kau bisa menjatuhkan bom di tempat yang tepat ya Harold."



"Tapi aku tidak tahu bom macam apa itu."



Ana jadi terdiam sesaat. Apa perkataanku mengenainya?



Biarlah. Mari berteman selama 3 tahun ke depan Ana.








__ADS_1



__ADS_2