
Suara bola basket memantul menggema di lapangan indoor sekolah kami. Sekarang sedang jam pelajaran olahraga. Semua orang tampak bersemangat. Suara ribut dari bangku penonton pun terdengar. Memang ini kenyataan kelas 1-3 yang populer, sampai-sampai murid yang baru saja selesai jam olahraga, dan yang dari luar menonton.
Terkadang aku merasa hanya kuseorang yang tidak populer.
“Enric, pass!”
Ups.
Hampir saja. Aku terlalu lama memegang bola. Fokusku tadi terbagi. Ke dalam pikiran, dan ke lapangan sebelah, tempat yang perempuan bermain.
Kalau begitu siapa yang kosong, oh, Gran.
Gran yang menyambut bola dengan cepat berlari ke depan. Namun jalannya dihalangi oleh dua orang.
“Enric!” Ia mengembalikkan bola padaku.
Ini kesempatan yang bagus. Mari kita coba masukan. Berjuanglah achilles tendon, gastrocnemius, dan hamstring-ku, pompa darah lebih kencang!
Aku berlari dan melakukan lay up, sayangnya ada sosok yang berdiri menggantung dihadapanku. Ah. Dejavu hari pertama.
“Hm!”, gerutu Reka sembari memblok bola.
Ah, lepas. Mudah sekali baginya.
Untungnya masih Ada orang lain yang menyambutnya di luar dan melakukan tembakan 3 poin. Lalu masuk dengan mulus.
“Bagus!”
“Ayo siap mundur!”
Teriak mereka semangat sekali. Mereka mungkin sedang mencari perhatian, atau mencoba menunjukkan dominasinya kepada yang lain.
“Kau ini susah sekali ditembus”, kataku pada Reka.
“Benarkah?”, katanya biasa saja.
“Tinggimu pas, larimu juga cepat, apa kau pernah membayangkan batu raksasa yang berguling dari tebing landai?”
Reka terlihat bingung dengan maksudku. Wajahnya seolah berkata, "Apa maksud orang ini?"
“Kesanmu saat lari seperti itu, cepat dan seram.”
“Ah... “, wajahnya berkata antara paham dan tidak paham. Ia menatap langit-langit gedung seperti sedang berpikir. "Tidak salah lagi, kau orang ke 100 yang berbicara seperti itu."
Artinya sudah banyak yang bilang. Rasanya ini dejavu lagi.
"Oke, apa ada perayaan untuk yang ke seratus?"
Reka kembali berpikir serius.
Hei sobat! Jangan dipikir serius! Canda, canda.
Belum sempat aku berkata-kata, Reka membuka mulutnya, "Protein?" Wajahnya terlihat serius.
"Kedengarannya boleh juga, tapi aku tadi hanya bercanda." Kutepuk punggungnya.
"Hm. Begitukah?" Setelah mengucapkan itu Reka kembali berlari menghadang bola.
“Enric ganti!”
Pak guru berteriak dari pinggir lapangan.
“Yo, kerja bagus”, kata seorang siswa sambil menawarkan minuman.
“Ya.”
Namanya Rito. Ia salah satu orang yang lumayan akrab denganku akhir-akhir ini, bersama dengan satu orang lagi yang bernama Akram, yang juga masih ada di lapangan.
Permainan Reka dan Gran sangat ketat. Mereka punya fisik yang luar biasa. Gran mampu menyeimbangi Reka. Tidak kusangka ia adalah orang yang merokok kemarin.
“Kalian ini hebat sekali ya, Akram juga, kau juga. Aku tidak terlalu mencolok di bidang olahraga, melihat kalian membuatku iri”, ucap Rito menyayangkan.
"Lihat kan otot ini?" Ia menggulung lengan bajunya dan mencoba untuk menunjukkan ototnya yang hampir tidak kelihatan.
“Aku juga idak seberapa kalau dibandingkan dengan yang disana.” Aku menunjuk ke Reka dan Gran.
“Benar juga”, ucap Rito setuju. “Aku juga tidak setampan Akram", sambungnya.
__ADS_1
“Sama.”
Eh, apa? Kenapa Rito menatapku dengan tidak yakin begitu. Benar kan yang kukatakan? Kurasa ini wajah biasa saja.
“Haah... “, Rito menghela nafas. “Lihat kesana saja lah”, Rito lanjut berkata. Matanya mengarah ke lapangan sebelah.
Aku ikut duduk jongkok disampingnya.
Disana sesuatu yang menarik sedang terjadi.
"Enric!", Rito menepuk bahuku sambil menunjuk ke lapangan yang dipakai grup sebelah.
""Eh!?"" Semua orang terkejut secara berirama, bahkan yang sedang menonton dari kelas lain.
"Itu dunk kan? Kakinya sekuat dan sedleksibel apa memangnya? Baru kali ini aku melihat dunk!", Rito berkata terkejut. Ada nada antusias di dalamnya.
Aku paham perasaanmu. Yang tadi itu luar biasa.
"Terlepas dari itu, Reka juga mungkin bisa melakukannya."
"Itu Reka, yang ini Erika! Ada anak perempuan yang bisa melakukan dunk, kau lihat kakak kelas disana sampai bertepuk tangan."
"Ya benar memang."
Di kejauhan Erika juga dikelilingi oleh gadis-gadis lainnya yang memandangya dengan kagum.
Permainan masihlah berlanjut.
Disini juga tidak kalah ternyata. Aku sudah punya firasat kalau Erika yang dari awal masuk sudah jadi pusat perhatian akan unggul dalam bidang fisik. Gerakannya lincah dan cepat. Lompatannya barusan juga mengejutkan. Agak tidak biasa untuk level Sma. Tapi yang justru agak tidak disangka adalah Rena. Dia bisa menyeimbangi Erika. Kakak beradik memang tidak beda jauh. Bahkan si gal kelas tidak kalah.
Tapi selain itu bagaiamana mengatakannya ya, ini sungguh pemandangan. Pemudi yang sedang melakukan bagian dari masa mudanya, berkeringat, dan berteriak. Masa pertumbuhan memang luar biasa.
Lalu memantul. Ya. Memantul. Dengan sangat luar biasa. Apalagi Erika dan Anna. Depan belakang.
Rito juga memperhatikan dengan seksama. Hei, kawan kalau kau terlalu fokus seperti itu nanti mereka sadar. Kudengar perempuan punya insting yang tajam saat sadar bahwa ada yang memelototi mereka dengan wajah seperti yang kau tampilkan sekarang.
Apa boleh buat, kurasa aku punya wajah yang sama sekarang.
Berhati-hati untuk tidak dituduh mesum. Bukannya bermaksud pula, Hanya saja gadis – gadis yang berkeringat, setiap gerak-geriknya, rasanya ingin berkata...
“Pantulan yang indah.” Ucapan tersebut keluar dari mulut Rito.
“Kau suka yang seperti itu ya.”
“Tentu.”
"Yang disukai laki-laki?"
"Ya."
“Yang memantul setiap kali dibawa lari.”
“Ya."
“Hooh.”
“Kalau tidak memantul, kau tidak bisa bermain dengan bola basket. Dan tentunya disukai laki-laki. Ada-ada saja kau ini.”
Aku menghadap ke Akram yang sudah ada disebelahku.
"Akram sahabatku, mari santai melihat bola yang memantul.
“Bukan yang di sini yang memantul maksudmu?”, celetuk Rito tiba – tiba. Ia memegang dadanya
Kami menatap Rito yang tengah bercanda.
Itu juga memang. Kau kira yang satu itu tidak menarik perhatian saat memantul?
Akram menatap Rito sinis.
Rito melakukan gestur damai, “Peace, kita berbicara basket kan?”, ucapnya sambil mengarahkan matanya ke arahku.
“Entahlah, hanya pejantan yang tahu.”
“Pejantan tidak akan diam – diam, langsung kesana", kata Akram dengan nada serius.
Hei Bro? Kali ini aku dan Rito menatap Akram.
__ADS_1
“Ada nyali?”, tanya Rito menantang.
“Sayangnya belum, kecuali jika aku bisa dapat ramuan pelet", sanggah Akram dengan gurauan lain.
Pelet. Berpengaruhkah? Dosanya besar pula.
"Perangsang bagaimana?", gurau Rito.
Aku tak pernah tahu jenis ramuan seperti itu, dijual di toko obat kah?
Akram menggelengkan kepalanya seolah berkata, " Tidak baik, tidak baik." Ia menghela nafas.
"Hahahaha!", Rito tertawa kencang.
Priiit!
Peluit berbunyi dan permainan selesai.
Semua orang berkumpul di barisan.
Erika pas berdiri disampingku. “Permainan bagus, tadi itu luar biasa.”Aku coba mengajaknya berbicara.
Erika dengan wajah yang datar menyanggah, “Tidak juga."
Kalau dilihat-lihat, kakinya memang panjang. Erika yang sadar dengan tatapanku kebawah kakinya bertanya lewat ekspresinya yang seolah berkata, "Apa?"
“Apa kau pernah ikut klub basket?”
“Tidak. Dulu ada yang sering mengajakku main”, katanya masih datar.
Begitukah.
Kenapa ada hawa dingin disamping kananku ya?
“Erika orang yang cantik ya”, bisiknya lewat telingaku. Kemudian ia berdadah pada Erika. Erika tampak bingung dengan lambaian Rena.
Ia pergi mengambil minum setelahnya.
Oh, ternyata Rena.
Kalau itu aku setuju. “Ya.”
“Kalau dilihat – lihat, caranya membawa diri juga beda dari yang lain. Percaya diri namun tidak arogan, kan?”, kata Rena lagi.
“Dewasa dan tenang.”
Rena tersenyum sambil mengangguk, “Mm! Mm!”
"Semua berkumpul!" Pak guru berteriak. Kami berkumpul di dalam barisan.
"Apa Enric bisa melakukan dunk?" Rena masih disebelahku bertanya.
"Tidak, kau bisa? Siapa tahu bisa menyaingi Erika."
"Tidak", jawab Rena. " Tapi untuk informasi, kakak bisa."
"Yang satu itu aku sudah sadar."
Tidak ada yang akan terkejut jika Reka bisa melompat tinggi. Kemarin saja waktu kuminta untuk tes meremas tanganku, karena aku ingin tahu secara pasti bagaimana cengkraman Reka, belum 30℅ kekuatan saja sudah mau remuk ini tangan.
"Kakak dari dulu memang selalu kuat", ucap Rena seolah lega. " Kami banyak tertolong karena kekuatannya.
"Oh."
Rito yang agak jauh di depan memutar badanya ke arahku dengan tatapan kesal.
Apa?
Ia menunjuk diam-diam ke kananku. Rena kah?
Ia seolah berkata, “Aku iri!”, lewat ekspresi wajahnya. Apa boleh buat. Dia yang mengajakku bicara duluan.
Untuk bergurau dengannya, aku memasang wajah sombong yang seolah mengatakan, “Hehe, apa kau lihat itu?”
“Ehem!" Pak guru terbatuk. "Mau bercanda tunggu bapak selesai dulu."
Kami berdua tersenyum canggung sambil meminta maaf.
__ADS_1
Rena yang ada disampingku tertawa cekikikan.