
Hmm. Kelas 1 – 3. Tidak jauh dari halaman depan, di seberangnya. Ini kelasku.
Ada yang mencolok di kelas ini sekarang. Di depannya ada seorang siswa yang sedang merokok. Kalau tidak salah dia tadi juga ada di barisan kami. Artinya teman sekelas. Punya nyali juga dia. Baru selesai upacara langsung merokok di depan kelas. Aku takjub.
Setelah ini memang tidak ada pelajaran karena baru hari pertama, jadi masih bebas. Tapi sungguh bebas sekali orang ini. Sekolah elit memang beda.
Rasanya tanpa perlu membaca buku aturan sekolah yang dibagikan sebelum masuk pun kita harusnya sudah tahu bahwa tidak boleh merokok di lingkungan sekolah, apalagi secara frontal di depan kelas. Memangnya siapa yang masih membaca buku aturan sekolah?
Siswa-siswi kelas 1 yang lalu lalang melirik- lirik ke arahnya.
Mungkin akan ada yang segera datang memperingatinya.
Karena kami sekelas, coba sapa dulu.
“Selamat pagi.” Aku memasang senyum paling ramah.
Siswa ini hanya melirik sekilas, mengangguk, dan mengalihkan pandangannya tak menghiraukan.
Ya, apa boleh buat.
“Hei.”
Ia memanggilku sesaat aku sudah melangkah ke dalam kelas. Apa yang dikeluarkannya... Ah. Dari dalam kantong ia mengeluarkan kotak rokok merek ternama lalu menawarkannya padaku.
“Mau sebatang?”
Tentu tidak, aku bukan perokok. Aku menggelengkan kepala.
“Tidak, terima kasih.”
“Oh, membosankan.” Ia mengalihkan pandangannya lagi tak acuh.
Hahaha, apa yang kau harap pak. Wajahku sekarang pasti sedang tersenyum kaku.
Okelah, semuanya mungkin tidak berjalan lancar di hari pertama.
Suasana di dalam kelas pun berputar di siswa barusan.
Beberapa siswi sedang membicarakan siswa yang merokok diluar tadi, apa boleh buat mungkin? Yang seperti itu tidak pernah terjadi. Berandal pun berpikir untuk merokok di depan kelas tanpa peduli, di hari masuk pertama pula.
“Uwah, dia merokok.”
“Bukannya gila kalau berani seperti itu?”
Aku mendengar dua orang gadis sedang berbicara.
Dimana ya tempat duduk milikku? Ah di dekat jendela barisan nomor 3.
“Enric.”
Oh, Rena. Ia mendekat dan langsung duduk di depanku. Berarti disini kursinya. Reka dimana? Oh, di ujung kiri depan dekat pintu. Orang ini besar sekali badannya. Reka juga orang yang mencolok disini, selain yang di depan merokok tadi. Duduk saja masih terlihat seperti menara.
“Hei,” Rena memanggil. Ia menunjuk ke depan lorong.
“Itu, luar biasa bukan?” Rena berucap sambil menggelengkan kepalanya.
Oh.
Aku mengangkat bahuku sambil tersenyum. “Luar biasa dari berbagai aspek.”
__ADS_1
Rena membalikkan badannya sambil agak bercondong ke arahku. Ia menaruh tangan kirinya disebelah mulut seakan berbisik.
“Kelas ini menarik ya?”
Entah mengapa ia sangat antusias. Aku hanya bisa menganggukkan ucapannya.
Mungkin benar katanya. Bagaimana tidak, coba bayangkan. Ada Reka disana, siswa yang merokok di selasar depan, ada gadis berambut pirang yang menarik banyak mata tadi barisan, ada orang berkacamata yang sekarang sedang membaca buku tebal di ujung kiri belakang, hm? Apa itu? Novelkah atau kamuskah?
Menurutku Rena juga salah satunya. Gadis ini punya ekspresi dan aura yang halus. Aku penasaran apa warna rambut platinum itu asli. Kalau dicat, itu sendiri pun sudah luar biasa. Rasanya kita tidak boleh mengecat rambut berlebihan juga kan? Nanti kutanya.
Secara pribadi, yang paling menarik perhatianku adalah, siswi yang duduk di bagian tengah kelas dari total kelas berisi 25 orang ini.
Kalau boleh jujur, gaya dan wajahnya menarik perhatianku. Agak mencolok dengan tindik di telinganya. Punya mata yang sayu. Caranya membawa diri juga terlihat sangat terbuka.
Gampangnya agak ke gal-an, dan aku suka itu.
Oh, diluar tampaknya terjadi sesuatu.
“Gran, jangan buat repot kakak,” ucap seseorang dengan nada mengancam. Suaranya terdengar sampai dalam hingga semua orang hening. Beberapa orang di kelas menengok lewat jendela bagian dalam.
Ada seseorang yang sedang memarahi siswa yang merokok tadi.
“Enric, itu,” Rena memanggilku sambil menunjuk keluar lagi.
Mari kita lihat. Dari jendela dalam kami menengok keluar.
Siswa bernama Gran tersebut mencoba tidak menghiraukan, namun ia tak bisa menghindari tatapan dari siswi tersebut.
Dia bilang kakak kan tadi? Apa itu kakaknya. Ada ban Osis di lengannya, kakak kelas kami nampaknya.
“Iya, iya. Urus saja urusan lain sana.” Gran mencoba mengusir.
“Kalau sudah habis.” Gran membalas kata ancaman tersebut seolah tidak mau kalah.
Ada apa dengan suasana menegangkan antara mereka berdua ini. Mereka berdua bertatapan seakan siap memukul.
“Ibu memintaku menjagamu, jadi jangan melakukan hal yang justru membuatmu dapat masalah. Buang,” katanya masih menunjuk rokok di mulut Gran. Ia sedikit menaikkan suaranya.
Gran mendecakkan lidahnya. Orang ini keras juga ya.
“Coba saja ambil dan buang sendiri,” Gran berkata dengan senyum memprovokasi.
Mereka jadi pusat perhatian. Semua memperhatikan. Bahkan siswa – siswi yang lewat pun berhenti menonton.
Siswi Osis tersebut dengan cepat berusaha menepuk rokok di mulut Gran. Gran dengan santainya menghindar ke samping, masih dengan senyum provokasinya.
Oh! Akan terjadi pertarungan kah? Menontonnya aku jadi ikut tegang.
“Oi!” Gran berteriak tiba - tiba.
Oh! Tendangan yang mengarah ke ************! Pasti sakit itu kalau kena.
“Jangan kesitu! Gila kau!” teriak Gran kesal. Apa boleh buat, biji meledak masa depan suram.
“Silahkan saja kalau kau mau kesal.” Siswi Osis tersebut berkata dengan santai sambil mengibas rambutnya ke samping.
Siswi Osis yang menang.
Rokok Gran jatuh ke tanah dan langsung diinjak olehnya. “Sekarang sudah selesai,” ucapnya dengan nada rendah seakan misinya sudah selesai.
__ADS_1
“Cih,” ucap Gran masih kelihatan tidak senang.
"Kau ini." Siswi tersebut menyentuh dahinya seolah pusing.
“Urus saja urusanmu sendiri,” kata Gran dengan gumam yang masih kesal.
Masih menatap Gran dengan wajah marah, siswi Osis itu menghela nafasnya. “Sudahlah, nanti kau pasti dipanggil. Siswa – siswi yang lain, maaf atas keributannya. Silahkan bubar,” ucapnya sambil menunduk sedikit ke siswa – siswi yang berkumpul.
“Maaf kalau orang ini merepotkan,” ia lanjut berkata sambil membungkukkan badan sedikit. Ia melihat ke arah Gran. Matanya menyuruh Gran untuk meminta maaf. Tapi Gran tidak menghiraukan. Ia terus menatap Gran.
Gran akhirnya menyerah. Masih dengan wajah yang tidak terima, ia membungkukkan badannya sekali.
Kelihatannya orang ini bisa jatuh juga karena tekanan kakaknya.
“Sesuatu yang menarik baru saja terjadi Enric,” bisik Rena di telingaku. Jadi dari tadi kau disampingku kah?
“Kau benar.”
Mudah-mudahan kelas kami tidak dicap sebagai pencari masalah.
Setelah keributan ini selesai, semua orang bubar. Gran yang berusaha pergi dari tempat dipaksa untuk ikut oleh kakaknya. Tampaknya keributan ini sampai ke telinga guru. Ada seorang guru yang datang dan menanyakan beberapa hal pada Gran. Ia menjawab semua pertanyaan tersebut dengan asal. Kakaknya yang masih bersama dengannya ikut kerepotan. Mereka lalu pergi bersama dengan Gran yang tampak enggan. Mungkin ke ruang guru atau ruang BK.
Aku tidak tahu, hari pertamaku sungguh luar biasa. Sebagian dari diriku merasa kalau bisa berteman dengan orang-orang yang agak nyentrik seperti Reka atau Gran maka hidupku akan menarik. Meski aku tidak tahu apa nyentrik kata yang tepat. Sebagian lagi merasa khawatir, mungkin?
“Baik-baik saja kah?”
“Baik-baik saja kok,” Rena menjawab dengan senyum manisnya.
Aku tersenyum malu.
Gumamku rupanya didengar oleh Rena. Gadis ini dari tadi mengeluarkan senyum yang lembut. Aku yakin ke depannya akan banyak yang mengincarnya pula.
Mungkin benar apa kata Rena. Baik – baik saja.
******************
Saat Gran kembali ke kelas, hawa canggung sangat terasa karena kejadian tadi. Tapi ia tidak mempedulikannya dan berjalan tanpa ragu ke kursinya. Ternyata Gran duduk di sebelah kiriku.
“Yo, salam kenal,” Gran berkata. Ia duduk sambil mengangkat kaki di meja dan bersandar ke belakang, sambil menutup mata. Bebas sekali orang ini.
“Ah, salam kenal.”
Ia menyapaku lagi. Hm, orang ini, kalau diperhatikan lagi, sebenarnya keren.
“Apa?” tanyanya sambil membuka sebelah mata.
“Tidak ada, apa itu tadi kakakmu?”
“Ya,” balasnya tidak peduli.
“Maaf bertanya, apa hubungan kalian buruk?”
Kukira siapa saja akan marah kalau keluarganya membuat ketidaknyamanan. Ah, pertanyaanku terlalu pribadi.
“Tidak juga, hanya berbeda prinsip. Lagipula untuk apa kau tahu itu?”
Benar juga. Itu bukan urusan yang harus kuketahui.
Biarlah, mari berteman dengan baik terlebih dahulu.
__ADS_1