Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 9 Balap lari


__ADS_3

Aku berniat pulang setelahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka. Mungkin bukan urusanku. Aku sempat berpapasan dengan Gran yang berjalan dengan puntung rokok di dekat aula yang berada di seberang gedung kelas 2, tempat Erika dan Anna barusan.


Seperti biasa aku mengangguk saat melihatnya.


"Nanti dimarahi wakil ketua OSIS lagi."


Gran mendengus sambil berkata, "Hmph. Biarlah. Itu bukan urusanmu." Ia meniup asapnya ke arahku.


Brutal sekali orang ini. Aku mencoba mengibaskan asap yang berterbangan. Melihat itu, Gran menyeringai jahil. "Terasa mahal kan?"


Rokok kah.


"Aku tak bisa membedakan bau asap. Memangnya kau bisa?"


"Tentu!" jawabnya terbahak-bahak. Gran menepuk pundakku sekali, sebelum mengeluarkan kotak rokok baru dari saku celananya.


"Kau selalu bawa, apa kesehatanmu tidak terganggu?"


"Tidak juga, yang namanya kesehatan bukan bergantung pada ini" Gran menyodorkan rokoknya.


Tentu aku menolak. Dejavu macam ini lagi.


"Kau ingin tahu rasanya asap berkualitas kan?" Paksanya.


"Bagi non-perokok semuanya sama saja."


Aku mendorong tangannya. Seberapa niatnya orang ini ingin mengajak temannya menghisap rokok.


"Aku tak ingin menghabiskan uang untuk rokok."


"Oh, membosankan."


"Apa itu tidak buang-buang uang? Setahuku, rokok sekarang mahal." Pertanyaanku sungguh pertanyaan klasik yang sering ditanyakan pada para perokok.


Benar saja. Wajah Gran seolah menggambarkan bahwa pertanyaanku itu sangatlah sering ia jawab.


"Biar kukatakan, ini hanya untuk orang yang tidak kesulitan dengan uang," ucapnya percaya diri.


Perkataanya seolah-olah mengatakan bahwa ia salah satunya. Mungkin dia dari keluarga berada. Sekolah elit ... sekolah elit ... Sekolah swasta ... sekolah swasta.


"Dan kau ingin mengatakan kalau kau salah satunya."


"Ya."


Gran terlihat tengah memikirkan sesuatu. Kata-kata yang keluar dari mulutnya sungguh tidak terduga.


"Bagaimana kalau kita balapan lari?"


"Balapan lari?"


Gran menunjuk jarinya ke bawah, lalu mengarahkannya ke arah depan sekolah. Wajahnya menanntangku. "Dari sini 500 meter ke depan, bagaimana?"


"Dalam rangka apa?"


"Tidak ada. Hanya untuk mengetes. Kau kelihatannya tidak punya pandangan yang baik terhadap perokok."


"Kenapa kesimpulannya sampai disitu? Aku tidak pernah bilang bahwa aku anti."


Aku hanya tidak tahan dengan asap. Banyak yang seperti itu kan?


Gran tidak peduli dan lanjut berkata, "Terserahlah. Jadi mau atau tidak? Anggap saja ini salah satu kesenangan masa muda."


Gran mulai melemaskan otot achilles dan betisnya. Ia memasang senyum menantang. Aku cukup percaya diri dengan lariku, dan Gran hanya sedikit lebih tinggi dengan kakk yang sedikit lebih panjang. Kurasa aku masih bisa menaklukan yang ini.


Aku membalas dengan senyum menantang. "Baiklah, ayo lakukan."


"Begitu seharusnya!" teriaknya antusias.


Kami bersiap di posisi. Gran juga bersiap, yang membedakan adalah orang ini masih mengunyah puntung rokok.


"Bersiap ... 1,2,3, dan go!" Aba-aba dari Gran membuat kami langsung lari melesat. Benar orang bila, jika lari, moodmu bisa tambah bagus!


Awalnya masih seimbang, namun Gran dengan cepat memompa darahnya ke kaki. Tiba-tiba saja ia seperti kuda yang sedang berlari.


"Kau bercanda!"


1 meter aku masih percaya, 2 meter juga sama, tapi ini 20 meter dalam sekian detik. Jarak kami makin jauh! Terlalu jauh. Ia sudah 100 meter lebih di depanku. Orang ini seperti monster!


Di salah satu sudut gedung yang merupakan gedung utama kepala sekolah dan lobi pun Gran tidak mengurangi kecepatannya.


"Sudut seperti itu kelemahanku!"


Karena saking asiknya aku ingin bersainh dengan Gran, aku sampai tidak melihat ada seseorang yang keluar dari sudut gedung. Menghentikan langkahku pun tidak sempat.


Akhirnya tertabrak.


"Hyah!!" Ia menjerit. Bokongnya sampai terjatuh menghantam tanah duluan.


Sedangkan tubuhku berguling diantara aspal dan pasir karena berusaha mengerem barusan, langkahku jadi kacau.


Ah, lama aku tidak terjatuh berguling. Rasanya dunia sedang berputar hebat.


"Hei, hati-hati!"


Seruan gadis itu masuk sampai ke telingaku yang masih penging.


"Eh, kau baik-baik saja?!" Siswi tersebut langsung berlari menghampiriku yang masih tertidur di tanah.


"Tidak apa-apa, ini salahku. Apa ka-"


Saat mencoba duduk kepalaku seperti berputar.


"Eh, hati-hati." Ia memegang badanku yang hampir roboh.


Suara dan wajah ini aku kenal, kakaknya Gran. Sesaat setelahnya baru badanku normal.


"Sudah bisa berdiri?"


"Ya. Terima kasih."


"Aduh, sampai luka begitu!" serunya.


Aku hanya memasang senyum masam, "Kena batunya kata orang. Apa kakak tidak apa-apa?"


"Ya, tidak masalah. Kenapa sampai lari-lari begitu?" tanyanya heran.


"Balap lari."


Ia memiringkan kepalanya seakan tidak mengerti. "Hah? Balap lari?"


"Ahahaha... sedikit lomba dengan teman."

__ADS_1


Kakaknya Gran lalu melihat kebelakang bahuku. Ia memelototi Gran yang berjalan kemari dengan santai, masih dengan puntung rokoknya.


Ekspresinya berkata ia memahami semuanya setelah melihat Gran.


"Oh, kau menabrak kakak?" ucap Gran santai. Wajahnya terlihat acuh saja.


Kakaknya menghela nafas panjang. "Sudah kubilang Gran, jangan buat repot." Ia memegangi jidatnya.


Gran hanya mengangkat bahunya tak peduli. "Kami hanya sedikit berlari menikmati masa muda seperti iklan air minum elektrolit."


"Ah, sekarang temanmu jadi luka-luka." Ia menatap luka di siku dan pipiku.


Ia tampak ingin memarahi Gran, tapi kali ini aku yang salah. Sebelum kakaknya mulai menghardik Gran, aku berdiri di tengah-tengah mereka.


"Kali ini salahku kak, aku yang tidak lihat. Gran tidak salah."


"Sungguh, kalian ini" ucapnya gusar.


Akhirnya ia melanjutkan, "Lain kali hati-hati." Itu saja yang disampaikan pada akhirnya.


"Ya. Sekali lagi saya minta maaf."


Gran tidak mengatakan apa-apa. Ia sibuk menghisap rokoknya. Kakaknya terlihat jengkel sekilas.


"Lebih baik ke UKS, siapa tahu infeksi."


"Ya."


"Kalau begitu aku permisi dulu, masih ada kerjaan" Ia berpamitan dan langsung pergi.


"Jaga temanmu baik-baik Gran," kakaknya pergi dengan meninggalkan kalimat tersebut.


Gran sengaja mendenguns kencang.


Wakil Ketua Osis SMA kami, Louise Brotomoro. Dia dan Gran tampak selalu saling memanas-manasi. Tapi entah mengapa, aku merasa tidak ada kebencian diantara mereka. Sebatas interaksi kasar antar saudara.


"Punya kakak enak ya."


"Tidak juga," jawabnya halus.


Mungkin kau saja yang tidak jujur dengan perasaanmu Gran. Belakangan aku punya kesan kalau ia mirip seperti anjing yang mencari perhatian.


"Ngomong-ngomong Enric, aku yang menang." Gran menyengir sombong.


"Ya aku kalah. Terserah kau. Kita tidak bertaruh apapun juga. Yang ada malah ini." Kuangkat lengan seragamku, ada robek pula dibagian punggung akibat berseret sebesar tangan.


"Haa ... Ini akan sulit dijahit."


Gran tertawa, "Hahaha! Sepertinya kau harus melatih reflekmu lebih keras!" Ia menepuk punggungku terlalu keras.


"Karena kau ... "


Gran tidak menyelesaikan ucapannya. Kenapa ucapanmu terpotong.


"Tidak apa-apa."


"Kau membuatku penasaran."


Gran tidak mengindahkan dan memukul punggungku yang ada bekas sobekan.


"Aw, aw, terlalu keras!" Ketika ku mencoba menghindar pun ia masih berusaha menggenggam kerahku.


"Oi! Nanti robek baru muncul!"


"Kau tidak menyerah menawarkan itu." Aku tak bisa berkata-kata.


"Menyenangkan bukan?" Gran memamerkan giginya.


Oo ... Pria ini bisa juga tersenyum seperti itu.


"Sependapat. Berlari menyenangkan!"


"Benar, kan? Mau satu ronde lagi?"


Aku mengangkat tangan. "Menyerah."


"Apa-apa baru juga jatuh menggelinding," Sindirnya.


"Menggelinding itu sakit. Aku bukan kau. Apa-apa tenaga kuda tadi?"


Gran mengangkat ujung bibirnya, "Kau tak bisa mengejarku, kan?"


Ingin rasanya sesekali aku membalas orang ini.


"Itu dia! Langkahmu lebih panjang dan cepat melebihi pelari nasional. Kukira kakimu hilang sekejap!"


Gran mengangguk, dengan percaya diri ia berkata, "Ini masih belum seberapa."


"Yang seberapa?"


"Aku bisa berteleportasi" Nada Gran terdengar bercanda.


Namun aku mulai yakin kalau ia bisa berteleportasi.


"Apa rahasianya?"


"Makan dan latihan."


Ya aku juga tahu tidak ada jalan lain yang instan.


Jawabannya sama seperti Reka yang juga punya tubuh gila. Simpel.


"Tidak ada trik lain?"


"Kejar-kejaran dengan serigala?"


"Kau pernah melakukannya?!" Aku agak terkejut karena Gran mengatakannya tanpa ragu. Melihat hasil tadi membuatku bisa percaya dengan orang ini.


Gran kelihatan serius. Kemudian ia mengganti wajahnya dengan senyum pahit, "Tidak mudah memang."


"O-oh. Entah mengapa aku mulai percaya."


"Jangan terlalu mudah percaya jika tidak mau dilahap! Apalagi oleh serigala."


Woah, hampir saja. Kali ini aku berhasil menghindari tepukan Gran.


"Tuan putrimu datang."


Hm? Tuan putri? Mengikuti arah pandang Gran aku melihat seseorang berjalan perlahan kemari. Dia belum pulang ternyata.


"Ah. Eh, dia bukan tuan putriku!"

__ADS_1


Gran langsung pergi saat Anna mendekat kemari, meninggalkan pesan yang ambigu, "Jangan bermain terlalu malam."


"Gran! Sebentar!"


Kupikir kami bisa berbicara bertiga, Gran tanpa membalikan badan mengangkat tangannya ke arahku.


"Bukan putri kau bilang. Aku tersakiti!" Anna berkata dengan nada kecewa sambil memeluk badannya sendiri.


"Bercandamu terkadang lebay."


"Aku tidak bercanda sedikitpun." Anna menunjukkan ekspresi sedihnya.


"Ya, ya." Aku sudah mendengar itu lebih dari sekali.


Alasan kenapa aku tidak menganggap gadis ini serius adalah karena aku tidak mengerti dengan wataknya. Ada yang mengganjal di hati.


Aku tidak mampu membacanya dengan akurat.


"Jadi, bagaimana rasanya jatuh menggelinding." Anna menertawakan pakaianku.


"Bagaimana menurutmu?"


"Itu ... Agak ... pftt! Lucu. Apalagi saat melihat tubuhmu loyo menggelinding." Anna tidak bisa menahan ketawanya lagi sampai air mata keluar dari balik lensa kacamata bulatnya.


"Jadi kau lihat? Itu namanya pendaratan darurat."


"Pffft!! Maaf, aku tidak tahan membayangkannya. Haaah ... Pftt! Hahahaha!"


Aku mencoba menjawab dengan serius tetapi Anna bahkan tidak mendengarkan karena asik tertawa.


"Tertawamu makin kencang nona, bukannya kau tuan putri. Tawamu tidak elegan."


Anna mengabaikan ejekanku sampai dia berhenti tertawa.


"Biar kuulang, pendaratan darurat. Kau tahu, kan? Di acara pagi, ada yang mengatakan kalau kau lemaskan badanmu, oh! Atau pingsan kita bisa meminimalisit keretakan dikala berbenturan dengan konkrit."


"Jadi berhasil?" Suara Anna seperti meledek. Alisnya sampai diangkat berkali-kali.


Hm? Berhasil mungkin.


"Mungkin? Tidak buruk juga kan? Memang sendi dan belakang kepalaku agak sakit. Untung tidak pacah."


Mendengar itu Anna mencoba menahan tawanya lagi. Aduh, selucu itu kah?


"Gayamu seperti ikanmati saat berguling," ledeknya.


"Haaa ... Kalau memang separah itu apa boleh buat."


Aku justru kagum dengan reflekku saat mengingat sepersekian detik sebelum bergesekan dengan tanah, aku sempat melemaskan badan.


"Kau belum pulang?"


"Baru mau. Kau sendiri tadi pasti habis berkeliling seperti biasa mencari teman ngobrol kan? Lalu berpikir untuk mencariku kan? Dasar laki-laki butuh kehangatan."


"Butuh kehangatan bukan kata yang pas. Mencoba bergaul."


"Apa kau yakin kau tidak suka denganku?" tanya Anna berekspresi ragu.


"Tidak sekubik pun."


Untungnya Anna tidak marah, seperti saat bertemu pertama kali di perpustakaan, Anna bisa menampung canda. Hanya saja kadang-kadang seperti sekarang bibirnya seperti merajuk.


Lalu kembali dengan senyum ramahnya.


"Tadi ada apa dengan Erika?"


"Mau tau saja" Anna mengelak. Kami sedang menuju kelas untuk mengambil tasku yang masih ditinggal.


"Urusan perempuan? Berebut pasangan."


"Tidak sama sekali" tegasnya. "Sedikit kesalahpahaman saja."


Dia tampak tidak mau menjawab. Ya sudahlah.


"Apa kau pulang sendiri? Mau kuantar?"


Anna melihatku dengan curiga, "Untuk orang yang mengatakan tidak ada rasa, kau cukup punya inisiatif." Ia berkata tak habis pikir.


"Ayolah jangan dibaca terlalu jauh, hanya tawaran, kalau tidak aku pergi!"


Anna kembali dengan senyumnya yang halus. Cahaya dan debu yang berterbangan di jendela dekatnya berdiri membuat sekujur tubuhnya terlihat seperti lukisan.


Seandainya aku bisa menggambar.


"Tidak perlu Enric. Lain kali dengan senang hati."


"Ya."


Ada apa ini, karena senja Anna terlihat lebih misterius dari yang biasa.


Aku teringat film horor Thailand yang baru kuselesaikan.


"Duluan saja, ingat kata sahabatmu? Jangan pulang malam, banyak yang akan memakanmu nanti." Anna menjilati bibir atasnya.


"Apa kau ingin menakutiku? Biar kubilang itu tidak akan berhasi."


Anna tetap tersenyum halus denga mata dibalik lensa jadi tertutup.


Aku kembali melihat matanya yang memantulkan cahaya, seakan seperti dihisap. Dalam sepertu lubang dengan kunang-kunang akibat cahaya yang terpantul.


Peluk dia, genggam dia, bercumbulah dengannya. Apa!? Aku mendengar suara aneh di kepalaku.


Plak! Anna menepuk tangannya dengan keras yang membuatku tersentak dari lamunan.


"Sudah ayo pulang sana" Anna memaksa.


"Oh ... Iya. Jangan pergi dulu. Tidak jalan bersama ke depan?"


"Oh! Kau sungguh orang yang kesepian!" ejek Anna. Wajahnya tampak puas.


"Ah, tidak ... " Hm? Apa yang kutanyakan barusan? Itu terdengar seperti aku berniat untuk selalu bersama dengannya.


Are? Aneh sekali.


"Sudah pulang sana kau, hus, hus, aku masih ada urusan sebentar di perpustakaan." Anna mengusirku seperti mengusir kucing.


"Oh, baik. Sampai jumpa besok Ann."


"Sampai jumpa lagi En. Hati-hati di jalan." Anna membalas sambil memberi dadah.


Aku mengeluarkan kendaraan dari parkiran pun, tidak tampak tanda-tanda Anna keluar dari dalam kelas kami.

__ADS_1


Kesampingkan dulu ... Apa yang kupikirkan tadi ya?


Saat ini aku belum menyadari apa saja yang ada disekitarku.


__ADS_2