
"Aku disini lagi ... "
Tetap pada akhirnya aku datang ke perpustakaan. Tempat biasanya Anna berada.
Entahlah. Aku tak tahu apa yang kuharapkan. Terlintas lagi di benakku mengenai kejadian tersebut. Kakiku sedikit bergetar. Di kanan tidak ada orang, di kiri juga sama.
"Haah ... " Aku menarik nafas sedalam-dalamnya.
Kubuka pintu dihadapanku perlahan. Di dalam ada 3 atau 5 orang yang sedang berdiri dan mencari-cari sesuatu di rak
buku. Mereka pengunjung perpustakaan. Aku tak melihat Anna sama sekali.
"Apa yang kau lakukan?"
"Woah!?"
Mengagetkan saja! Kukira siapa tadi yang memegang pundakku dan berbicara langsung di telingaku! Ternyata Erika! Aku sampai melompat dari tempatku dengan lucu. Reaksiku sampai mengundang tontonan dari 5 orang di dalam dan murid yang menjaga perpustakaan juga melihat ke arahku.
"Maaf."
Karena kami masih berada di dekat pintu, aku menutup kembali pintu perpustakaan dan keluar.
"Kau membuatku kaget?"
"Kenapa sampai seperti itunya?" tanya Erika heran.
Mm. Wajahnya benar-benar heran. Agak susah menjelaskannya. Aku tadi mengira kalau dia adalah Anna.
"Aku sedang mencari seseorang."
"Anna kah?" Erika langsung mengetahuinya.
"Ah, ya." Secara reflek aku memegang leherku karena malu.
"Hm ... " Erika melihatku dengan serius.
"Meski sesuatu terjadi padamu, kau masih ingin berbicara dengannya" ujarnya heran.
"Ya, itu ... "
Bagaimana ya? Dalam hatiku aku masih merasa bahwa ada kesempatan. Benar. Masih ada kesempatan untuk berteman
kembali. Aku tidak mengerti apa ini tindakan yang benar atau tidak.
Maksudku ini pengalaman pertamaku. Bagaimana mungkin aku bisa tahu cara yang terbaik untuk mengatasinya kan? Yang bisa kulakukan hanyalah berharap dan berharap. Agar tidak ada penyesalan.
Persetan dengan romansa SMA yang sering kulihat di anime, dimana teman tokoh utamanya adalah makhluk yang bukan manusia atau apalah itu. Perasaanku sekarang bukan yang seperti itu. Sulit dijelaskan. Tapi yag pasti aku ingin memperbaiki hubungan dengannya, dengan Anna.
Sebagai teman.
"Kau sedang melamun memikirkan sesuatu kah?"
Aku menggelengkan kepala.
"Kurasa tidak perlu memikirkan banyak hal. Aku sudah tahu
jawabannya." Kuangkat jempolku pada Erika.
"Benarkah?" balasnya datar. Aku tidak tahu apakah dia mengerti pikiranku atau tidak.
"Mungkin kau akan mencoba berbaikan, meski aku ragu akan semudah itu. Makhluk seperti kami terkadang punya ego dan kepentingannya masing-masing."
__ADS_1
" 'Kami' kau bilang. Sepertinya kau tidak membantahnya sama sekali, kalau kau juga sama."
Erika mengangguk pasrah, "Aku tidak keberatan, jika kau saja yang tahu" katanya dengan santai.
"Ngomong-ngomong, apa kau bisa memberitahuku apa kau sebenarnya?"
Aku tidak mengenal Erika dengan baik. Kami banyak berbicara pun baru kemarin. Jika dia masih tak mau memberitahu apapun, aku tak bisa memaksa.
Erika menutup matanya dan mengangkat ujung bibirnya sedikit. "Kira-kira aku apa ya?" ia menanyakan balik.
Tapi sepertinya itu bukan pertanyaan untukku, melainkan untuk dirinya sendiri.
Ia membuka sebelah matanya. Bola mata kanan Erika berubah menjadi warna merah, ia kemudian membuka
mulutnya.
Kakiku secara spontan mundur selangkah karena terkejut.
Erika berkata pasrah, "Wajar saja", saat melihatku mundur selangkah.
Apa ini reaksi manusia jika dalam bahaya? Rasanya sekujur tubuhku seperti dicengkram oleh tangan-tangan tak terlihat. Aura dan tekanan dari tubuh Erika sangat terasa. Seperti ada partikel merah tua yang tipis berterbangan disekeliling Erika.
Mungkin saat di gudang kemarin, aku belum menyadari bagaimana tekanan yang diberikan oleh Erika pada Anna.
Tekanan yang sesungguhnya. Dugaanku yang sekarang sedang diperlihatkan olehnya bahkan belum seberapa. Karena satu hari yang lalu, auranya lebih pekat dari ini.
Lorong lantai 2 yang agak remang meskipun siang hari karena matahari tidak masuk dari jendela yang jauh. Erika,
sembari melipat tangannya berkata dengan usil, "Apa kau tahu sekarang, apa aku?"
Aku mengangguk sambil menelan ludah. Aku melihat diantara gigi-giginya, ada dua pasang taring.
"Klasik sekali."
Benar. Aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan salah satunya. Tidak bahkan aku tak menyangka, kalau eksistensi mereka sedekat ini.
Lalu dengan senyum yang jahat, Erika membuka mulutnya, "Tahukah kau? Aku lebih berbahaya dari Anna."
"Jangan mengatakan hal yang seram, telapak tanganku jadi berkeringat dingin."
"Tenang saja, aku hanya bergurau. Tapi benar memang, Anna bisa memberikan mimpi indah, sedangkan aku
memberikan sengatan kematian" Erika tersenyum lebar sambil menunjuk lehernya.
"Uuuh." Bulu kuduk di sekujur tubuhku berdiri secara berderet. Seolah ada listrik yang mengalir.
"Aku bisa melihat partikel seperti aura. Apa ini normal?"
"Tidak semua orang bisa melihatnya. Aku sudah pernah bilang, bahwa kau punya aura dan energi yang sangat memancing, otomatis sebenarnya matamu lebih peka" Erika
menjelaskan.
"Aku tidak pernah tahu."
"Hanya saja, kau tidak pernah melatihnya. Itu terserah padamu."
Masih dalam pose yang sama, Erika lanjut berkata, "Makin lama kau terpapar dengan yang bukan manusia, makin
tajam indramu."
"Sungguh?" Kedengarannya agak menakutkan. Apa mungkin aku bisa melihat hantu atau semacamnya?
__ADS_1
Tanpa tahu apa yang kupikirkan Erika mengatakan hal yang membuatku tegang. "Ah. Mungkin kau bisa melihat arwah." Nada Erika seperti mengatakan bahwa itu hal yang biasa.
"Nadamu terdengar biasa, tapi Itu bukan hal yang biasa kan!?"
"Mm. Tidak juga 1 : 10000 orang di dunia yang bisa melihat sesuatu diluar dunia ini cukup banyak kan?" jawab Erika tak bergeming.
"Itu tidak banyak!" Aku tak bisa menahan reaksiku yang agak heboh. Aku menghela nafas dalam. Tekanan yang dikeluarkan Erika sedikit berkurang dari tubuhku.
"Maaf dan terima kasih sudah memberitahuku."
Aku sedikit senang dan lega karena dia mau memberitahuku.
"Ya."
"Tapi, aku penasaran, apa kau tidak punya hasrat seperti Anna untuk, itu, kau tahu, menghisap?" Dalam hati sebenarnya aku ragu bertanya. Tapi aku sangat penasaran.
Erika tersenyum pahit dan berkata dengan nada yang seolah bertanya, "Entahlah. Bagaimana menurutmu?"
"Eh? Ada kah?"
Melihat reaksiku yang agak takut, Erika mencoba menahan tawanya yang hampir keluar. "Tidak usah khawatir, aku lebih ahli dalam menahannya. Dalam kasusku banyak cara yang bisa kulakukan sebagai alternatif, tapi untuk si succubus itu mungkin beda cerita" jawab
Erika sembari mengangkat bahunya.
"Oh, benarkah?"
"Perbedaan pengalaman."
Perkataannya membuatku mengelus dada.
"Kau ingin bertemu Anna, kan?" ucap Erika spontan mengalihkan pembicaraan.
Erika menunjuk ke ujung lorong. Tepat di belokan tembok menuju tangga.
"Cepat disana dia. Kau disitu kan?" Erika memanggil ke sudut tembok.
Momen Erika berkata demikian, aku mendengar suara lidah mendecak. Kelihatannya Erika benar, ada orang disana. Tapi sejak kapan?
Aku mencoba menghampirinya dan pergi meninggalkan Erika. "Terima kasih Erika!"
"Sama-sama."
Tidak ada keraguan di langkahku.
Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang menuruni tangga.
Aku sedikit menengok ke belakang, melihat Erika yang masih berdiri disana memperhatikan. Anehnya di momen seperti
ini, aku malah memikirkan hal yang tidak-tidak.
Bagaimana ya rasanya digigit vampir?
Aku terjatuh ketika membayangkannya
karena ada bagian lantai yang licin. Ah, wajah duluan.
"Pfftt! Haha!"
20 meter di belakangku, Erika berusaha menahan tawanya yang hampir meledak.
Aaaah ... aku tahu kalau ini lucu.
__ADS_1
Aduh hidungku sakit.