Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 7 Pengakuan ganda


__ADS_3

Kami berempat tidak sengaja menjumpai wajah yang familiar disana. Ia sedang berdiri di dekat pohon. Aku, Rena, Rito, dan Asami tengah memperhatikannya. Oh ya, Asami adalah teman sekelas kami. Ia gadis yang berpenampilan seperti gal.


Asami berbisik diantara kami berempat yang sedang berpura-pura duduk di bangku taman. Urutan dari ujung kiri, Rito, Rena, aku, dan Asami. Baru hari ini aku tahu kalau sekolah kami punya taman di belakang. Tempat ini biasanya dipakai untuk santai para siswa. Terdapat bangku-bangku panjang disini, dari salah satu bangku itulah kami memperhatikan gadis tersebut.


"Pria macam apa yang membuat perempuan menunggu", kata Asami mengejek.


"Benar sekali, di tengah hari pula", jawab Rito setuju.


"Mungkin ini bukan pengakuan seperti yang kita bayangkan?"


Mereka tidak menghiraukan perkataanku. Orang-orang ini bersemangat sekali. Coba lihat Rena, dia lebih kalem. Dari tadi Rena diam saja dengan ekspresi seriusnys. Ditangannya ada gawai yang sedang membuka aplikasi kamera.


Hm, kamera?


"Kalau difoto akan lebih bagus. Mm. Mm." Rena menganggukkan kepalanya.


Kau juga sama antusiasnya.


Jujur aku pun tidak bisa bohong bahwa yang akan kami lihat mungkin adalah hal menarik. Erika, teman kami sedang menunggu seseorang di bawah salah satu pohon taman belakang. Tidak ada legenda di pohon itu seperti yang biasanya muncul di cerita anime seperti pemersatu pasangan atau apa. Malahan itu pohon beringin. Justru legenda yang berbeda malah munucl.


"Tapi apa benar infonya?", Rena bertanya pada Asami yang sedari tadi masih mengunyah permen karet.


"Benar, saat kita di kelas tadi, ada yang membicarakannya. Ada yang akan menembak Erika sepulang sekolah."


"Dan sekarang orangnya belum datang."


"Itu dia! Tadi ada yang melihat isi hp Erika dan janjinya sepulang sekolah." Asami dengan sigap mengeluarkan gawainya dan menunjukkan grup pembicaraan salah satu aplikasi.


"Disini juga sedang jadi pembicaraan!" Katanya dengan meyakinkan.


Kami bertiga melihat sedikit isi percakapan tersebut.


"Ini kan grup sekolah!?", teriak Rito terkejut sambil memegang gawai Asami.


"Ah, kau benar." Rena menengok dari sebelah Rito. Tindakannya membuat Roti tersentak.


Kenapa wajahmu memerah kawan?


"H-heeh, jadi berita ini", kata Rito berusaha mengalihkan pandangannya dari Rena.


"Benar kan?", jawab Asami.


Aku takjub dengan cepatnya informasi menyebar. Jangan-jangan Asami yang menyebarkan informasinya.


Rito berkata, "Pantas penontonnya bisa banyak."


"Pantas saja dari tadi rasanya ada hawa keberadaan selain kita disini."


"Sungguh?" Asami melihat sekeliling.


"Benar kata Enric. Hahaha... ", Rena menimpali.


Maksudku dibangku depan kami, 5 meter disebelah kiri, bahkan ada yang berlagak duduk dibawah pohon pisang tapi lirik-lirik, bersembunyi dibalik tembok dengan masker dan kacamata hitam. Hm, masker? Kacamata hitam?


Aku coba menyipitkan mataku namun tidak bisa melihat mereka dengan jelas


"Terlalu mencolok."


"Mungkin", balas Rena padaku. Ia melihat arah yang sama.


"Tidak masalah kan? Yang penting tidak mengganggu", kata Asami sambil memegang pundakku. Ia menunjukkan senyum yang lebar.


Setiap melihat wajah Asami aku jadi gugup. Jangan bilang kalau ini.. Ah. Perasaan ini kenapa tidak ada kronologinya sama sekali? Ingin kupegang tangan yang sekarang ada di pundakku.


Aku disadarkan oleh perkataan Asami, "Hei itu!" Ia menunjuk ke arah Erika diam-diam.


"Seseorang datang!", ucap Rito.


Saat melihat siapa yang datang, aku yakin kami berempat punya pemikiran yang sama.


"Hm? Perempuan?"


Ia terengah-engah karena berlari.

__ADS_1


"Maaf! Tadi guru menyuruhku mengembalikan perlengkapan presentasi ke gedung atas", ucap gadis itu sambil mengatur nafas.


"Oi." Kata tersebut secara spontan keluar dari mulutku. Kami bertiga melihat Asami bersamaan. Wajahnya terlihat bingung pula.


"Are? Hahaha, aneh ya. Yang datang malah gadis", katanya sambil tersenyum kaku.


Gelagatnya seperti mengatakan dialah orangnya. Tapi tidak mungkin gadis itu kan?


Kemudian ada satu lagi anak laki-laki yang menghampiri mereka dengan cepat. Melihat itu Asami segera menunjuk kesana dengan penuh momentum, "Itu! Mungkin itu!", katanya heboh.


"Tidak, tidak kalau sudah bertiga seperti itu tidak mungkin ini adegan pengakuan cinta. ", ujarnya kecewa.


Bahkan Rito pun menyangkal Asami. Rena dari tadi hanya tersenyum halus, "Sudahlah. Tidak apa. Mungkin salah paham."


Asami tertawa canggung, "Ha-ha-ha, bi-bisa jadi." Antusiasme Asami jadi berkurang. Wajahnya terlihat kecewa. "Sayang sekali", sambungnya.


Lagipula awalnya kenapa kami bisa disini? Kami berempat hanya diminta mengembalikan barang ke gudang belakang, lalu Asami mengajak kami untuk menonton ini. "Sesuatu yang menarik akan terjadi!", katanya seperti itu.


Aku bahkan tidak tahu soal grup sekolah, Rito juga. Apa kami termasuk golongan tidak dianggap?


Wajah Rito berubah bingung kenapa aku menatapnya sedih.


Tiga orang tersebut masih berdiri disana. Untungnya suara mereka masih terdengar samar-samar.


"E-Erika. Ada yang ingin kukatakan", gadis itu terlihat gugup. Laki-laki yang ada dibelakangnya terlihat mendorongnya sedikit.


Seharusnya suasana diluar tidak hening. Tapi entah mengapa ada keheningan misterius diantara kami. Karena keheningan aneh ini aku bahkan bisa mendengar seseorang yang bersembunyi dibalik pohon berusaha menahan teriakannya karena digigit semut rangrang.


Ada jeda sesaat sebelum gadis itu membuka mulut.


Jangan-jangan?


"Erika aku suka padamu!"


""Eh!?""


Yuri! Dan sudah kuduga semua orang menguping! Serempak pula kagetnya.


Rito memukul-mukul pahaku dari seberang Erika, "En, yuri!", ia mengucapkan isi pikiranku.


Sementara Asami yang justru sibuk mengambil foto.


"Bunga makan bunga!", ucap Asami bersemangat.


Mungkin karena tersipu malu gadis itu tidak menyadari kalau banyak penonton disini. Siswa yang ikut dengannya yang sadar menggaruk-garuk kepala sambil tersenyum canggung ke sekitar.


Kebetulan mataku sempat bertemu mata Erika selama 5 detik setelah pengakuan dari siswi tersebut.


Ia terdiam. Kebingungan kah? Mungkin karena melihat teman sekelasnya ia seakan ingin meminta bantuan. Asami sekedar memberi jempol.


Seperti yang diharapkan dari Erika, ekspresinya tidak banyak berubah.


"Bukan yang laki-laki tapi yang perempuan, En aku menyaksikan Yuri pertamaku", ucap Rito seakan puas.


"Tenang, masih pernyataan cinta, yurinya masih belum sempurna."


"Ada apa dengan kalian tiba-tiba?", Rena bertanya heran karena melihat kami beruda antusias.


Mereka bertiga tidak ada yang bicara lagi. Semua orang tegang menunggu apa yang akan dikatakan oleh Erika selanjutnya. Asami mengubah mode kamera gawainya menjadi video. Apa ia berniat menyebar video ini nanti?


"Asami, apa kameramu menyala dari tadi?"


"Dari awal gadis itu berbicara. Tapi lama sekali mereka, cepat katakan sesuatu!", ujar Asami tidak sabar.


Aneh juga situasi ini. Erika memegang pundak gadis yang terlihat memejamkan matanya. Semua orang menahan nafas. Entah mengapa Rena dan Asami mencengkram lengan baju dan pahaku.


"Terima kasih, tapi tidak ada apa-apa lagi yang bisa kulakukan. Perasaan saja cukup", jawab Erika singkat.


Gadis itu membuka matanya dengan malu melihat wajah Erika dari bawah. Mereka punya perbedaan tinggi sekitar 20 cm. Ia tampak tersenyum memaksa.


"Eheheh, aku tahu. Aku hanya ingin mengatakannya. Terima kasih sudah mendengarkan", katanya mencoba tersenyum.


Erika mengulurkan tangannya. " Terlepas dari itu, kita bisa berteman."

__ADS_1


"Ya", ia mengulurkan tangannya sedikit gemetar.


Perasaan sedih, senang, dan lega ada di wajah gadis itu.


Apa boleh buat mungkin. Perempuan dengan perempuan agak sulit.


"Manis! Manis masam dimulut!", kata Asami.


"Kau benar."


Siswa yang dari tadi berdiri dibelakangnya sekarang maju ke depan Erika. Oh ya, kenapa dia juga ada disitu? Aku hampir melupakannya.


"Ehem." Siswa tersebut membersihkan tenggorokannya. Ia maju menghadap Erika. "Erika." Matanya lurus memandang.


"Aku suka padamu, mau berpacaran denganku?", tanyanya frontal.


Ronde 2!?


"Enric! Yang ini asli!", Rito berteriak.


"Pernyataan ganda! Apa ini yang asli yang barusan kamuflase!" Asami menggoyangkan pahaku dengan kuat.


Iya aku tahu. Apa yang sebenarnya sedang terjadi, setelah si perempuan, sekarang si laki-laki. Siswa tersebut sedikit menunduk dan mengulurkan tangannya.


Erika seolah sedang berpikir, ia melihat ke arah kami lagi.


Semua orang menahan nafas untuk kedua kalinya.


"Maaf, tidak bisa", jawab Erika tanpa basa-basi.


""Aw"", suara orang serempak.


"Sayang sekali. Tapi aku lega", ucap siswa tersebut. Oh, dia tidak goyah dan menegapkan posturnya. Ia mencoba menerima dan memasang senyum puas pada Erika. Kawan, ujung bibirmu sedikit bergetar.


"Terima kasih", sambung siswa tersebut. Suaranya terdengar lega. Siswi yang juga masih ada disana memegang pundaknya.


"Keras, memang keras. Benar kan Enric?", kata Rito sembari mengangguk. Ekspresinya mengatakan seolah ia paham betul perasaan siswa tersebut. Rito lanjut berkata, " Keberanian itu yang penting."


Keberanian kah?


"Pasti lega, dan sedih tentunya, tapi beri dia jempol atas keberaniannya", Asami menyambung kalimat Rito.


Keberaniannya untuk ditonton pula. Lututku pasti sudah gemetar jika ada di posisinya.


"Sayang incarannya terlalu tinggi!", ucap Asami agak mengejek.


"Hahaha, tidak masalah. Beri dia penghargaan", kelakar Rito.


Agak menggelitik. Menembak bergantian, ditolak bergantian.


"Kita melihat hal yang bagus." Asami berkata puas.


"Gusar pasti dirasa oleh mereka", kata Rena.


"Kala harapan berbalik kenyataannya", timpal Rito.


Mereka bertiga menatapku serentak. Eh? Kalian ingin aku menyambungnya? Kenapa kalian tiba-tiba jadi membuat puisi dengan kompak? Gus, ka, nya, nya, apa ya... Nya...


"Nyanyi penghibur menanti mereka."


""Selesai"", mereka berkata kompak. Dipimpin oleh Asami, kami menepuk telapak tangan kami sekali.


"Apa yang sedang kita lakukan?" Aku sampai bergumam.


Penonton sudah mulai bubar. ******* tercapai. Beberapa siswa mendatangi siswa-siswi barusan yang sudah mulai pergi agak jauh dari pohon. Sementara Erika yang melihat kami langsung melangkah kemari. Asami melambaikan lolipop di tangannya.


"Yeay!", Asami mengajak Erika kompak. "Bagaimana rasanya?", tanyanya penasaran.


"Agak menggelitik", jawab Erika.


Ia memikirkan hal yang sama denganku.


"Kurasa yang seperti itu akan banyak lagi menghampirimu, entah di dunia nyata atau meta", ujar Asami.

__ADS_1


"Ya, firasatku mengatakan demikian", kata Erika pasrah. " Apa mau dikata?", sambungnya sembari mengangkat bahu.


Ini hanya satu dari sekian banyak rapsodi kelas kami.


__ADS_2