
Mood dimana ujian semester sudah dekat. Tinggal satu bulan lagi. Karena masih masa awal ujian semester, semua orang masih santai saja. Padahal kudengar ujian untuk kelas 1 saja sudah sulit. Apa mereka semua tidak khawatir karena mereka kaya? Kau tahu kan, uang menyelesaikan segalanya.
Sudahlah Enric. Aku tidak mau memikirkan soal kaya, sekolah elit, biayaku ditalangi atau semacamnya. Faktanya aku bisa sekolah dengan tentram, temanku ada, tidak pernah di-bully. Tak ada lagi yang hendak kuminta dengan muluk-muluk.
Beberapa kejadian terjadi, tapi itu semua sudah di belakang. Contohnya kejadian di ruang penyimpanan dengan Anna. Sampai hari ini, aku tidak bisa melupakan kejadian tersebut. Setiap kali mengingat-ingat kembali apa yang terjadi, ada keanehan pada tubuhku. Johnny bereaksi. Aku ingin tahu, apa ini sebenarnya pesona dari succubus?
Seperti biasa, kelas di pagi hari sangat sibuk dengan orang yang mengobrol.
Reka yang sedang berdiri di sebelah bangkuku, tampak berbicara dengan Gran. Pemandangan yang langka. Tapi wajah mereka serius.
"Pagi gentleman. Sedang apa?"
Gran yang selalu penuh senyum percaya diri menepuk lengan Reka. "Hahahaha! Baiklah kawan, nanti saja!"
Dia ingin menyudahi pembicaraan dengan Reka. Tampak Reka tidak senang dengan Gran yang menyudahi pembicaraan secara sepihak.
"Apa aku mengganggu? Kalau begitu aku menjauh dulu?"
"Tidak usah! Kami sudah selesai, kan?" ucap Gran sambil mengangkat alis meminta persetujuan Reka.
Reka yang awalnya ragu-ragu menganggukan kepalanya. Sebelum kembali ke kursi, ia menepuk pundak kananku.
"Sampai nanti" katanya.
Padahal aku hendak mengobrol sebentar dengannya.
"Orang yang serius sekali" ucap Gran bosan.
"Ada apa memangnya?"
"Urusan kecil. Aku tidak sengaja menyenggol adiknya," jawabnya enteng.
"Haaa ... separah itu kah?"
Aku melihat sekeliling dan mencari Rena. Dia tidak ada. Bangkunya pun kosong.
"Dimana Rena?"
"Sedang ke kantin mungkin."
"Oh."
Gran menyenggol Rena, dan Reka sampai seserius itu. Aku tidak tahu apakah Reka yang overprotektif atau kata menyenggol dari Gran punya makna lain. Tidak mungkin sampai ada luka parah, kan?
2 menit setelah aku menaruh tas, Rena masuk ke dalam ruang kelas. Pantas saja tidak ada ranselnya di bangku. Dia masih menenteng ranselnya di punggung.
"Enric! Pagi! Gran juga pagi!" Rena melambai dengan riang seperti biasanya.
Tidak terlihat seperti orang yang kesal dengan Gran.
"Pagi! Seperti biasanya semangatmu menular!" Aku menjawab Rena dengan heboh untuk menyamai energinya.
"Ya, pagi." Gran menjawab sembari mengangkat tangannya.
Rena tersenyum dan Gran seperti biasanya, tidak ada yang janggal. Mungkin dugaan pertamaku benar. Reka bisa jadi tipe kakak yang sangat overprotektif. Tetapi aku salut, karena kepedulian mereka serupa.
Aku bersimpati pada Rito. Jika kau macam-macam sampai menyakiti adiknya tengkorakmu akan terkena skull-crusher Reka.
Aku menatap Rito yang sedang duduk di bangkunya yang agak berjauhan. Dia tampak ingin bergabung kesini tapi ragu-ragu. Tidak biasanya, apa karena ada Gran? Aku tahu orang itu agak kurang nyambung dengan Gran.
Rautnya berubah bingung saat melihat ekspresi kasihan dan jempolku yang kuangkat di udara.
"Berjuanglah." Aku mengucapkannya menggunakan gestur bibir. Berapa kali sudah kuucapkan kata ini.
__ADS_1
Pada akhirnya Rito tidak kemari. Rena duduk di bangkunya sembari bersenandung, mengeluarkan buku dari dalam tasnya satu per satu.
Akram absen dari sekolah. Dia tidak datang sama sekali.
Saat kelas berlangsung, aku sesekali melihat ke arah Rena di depanku. Rena selalu memegang pundak kanannya setiap kali dia menggerakan pulpennya dengan durasi lama.
Aku mengetuk sekali pundaknya tersebut dan wajahnya agak meringis.
"Um ... maaf Rena."
"Tidak apa," jawabnya masih sambil mencoba tersenyum,
Dia kemudian mencoba menggoyangkan bahunya untuk menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa. "Tadi malam aku salah tidur, karena habis berolahraga, jadi rasa lelahnya berkumpul disini. Ceroboh sekali kan! Hahaha!" Rena menertawakan kekikukkannya.
"Pasti pegal sekali."Aku teringat saat dulu aku pernah salah tidur.
Rena kemudian mengetuk-ngetuk bahunya tiga kali. "Tenang saja! Yang seperti ini, setengah hari juga sembuh!" katanya yakin sekali.
"Kurasa akan sembuh karena optimismemu." Aku mencoba memuji pandangan optimis Rena.
Setahuku, pegal otot minimal perlu waktu satu hari paling cepat untuk pulih.
"Hehehe ... itu sifat kebanggaanku!" Rena keceplosan dengan suara nyaring.
"Sssstt!"
Rena menutup mulutnya. Kami sedang ada di jam pelajaran bahasa inggris, dimana ibu guru yang mengajar termasuk galak.
Karena kami ketahuan mengobrol, bu guru memelototi kami tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia mengingatkan kami untuk tidak berbicara di dalam kelas dengan matanya.
Aku dan Rena hanya bisa terdiam sambil menunduk.
Seusai jam pelajaran bahasa inggris, Rito menghampiri kami dengan gayanya yang penuh semangat.
"Hei kalian berdua! Tadi asik ngobrol, memangnya apa yang kalian obrolkan?" tanyanya penasaran. Ada sedikit raut cemburu saat dia menatapku. Dia bahkan sengaja menepuk pahaku empat kali.
Aku mendukungmu! Jadi berhentilah mencengkram pahaku! Tadi itu aku hanya memastikan!
Wajah kami seolah berbicara. Raut Rena yang melihat kami dari samping menjadi bingung.
"Oh ya, kenapa Rena dari tadi pegang bahu terus?" tanya Rito kemudian.
Kau juga sadar rupanya. Dia memang memperhatikan Rena selalu.
Rena tertawa canggung mendengar pertanyaan yang sama.
"Bahunya To, sakit karena salah tidur."
"Oh! Baik-baik saja kah? Atau masih sakit?" tanya Rito dengan peduli.
Rena menggelengkan kepalanya. "Sudah lumayan."
Rito dengan gestur berpikirnya berkata, "kalian pasti pernah berpikir, kan? Jika ada salep yang bisa menyembuhkan pegal dan luka dalam sekejap, pasti berguna sekali?"
"Banyak merek seperti itu kan?"
"Itu namanya pereda abang, bukan penghilang," ujar Rito sambil berkacak pinggang.
"Mungkin pengobatan non-medis, ke paranormal bisa jadi ampuh untuk mengatasinya?"
Rito terbahak karena candaanku. "Ke dukun maksudnya? Kurasa sama saja! Malahan bisa jadi ada efek samping. Apa coba, ke dukun untuk mengobati pegal! Sekalian saja pelet!" kelakar Rito.
Rena menyentuh dagunya sambil bergumam, "dukun, pelet."
__ADS_1
"Eh? Apa Rena tertarik dengan hal seperti itu?"
"Tidak, aku penasaran apakah yang seperti itu memang manjur?" dia seakan bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin saja kan?" lanjut ucapnya dengan ambigu.
Rito mengangkat tangannya tak habis pikir, "rasanya tidak sesuai kalau melakukan sesuatu pakai dukun. Zaman sekarang ada yang namanya fisioterapis."
"Kau benar!" jawab Rena mengiyakan.
Berbicara soal topik tersebut.
"To, mana si ahli supranatural kita?"
Akram tidak ada kabar.
"Entahlah, aku juga tidak dapat kabar," Rito menjawab tidak tahu, "terakhir kali ini isi pesannya." Rito menunjukkan isi percakapannya dengan Akram.
Aku menatapnya seperti habis akal. "Kenapa sapaanmu selalu dengan kata ko****?"
"Ssst!" Rito segera membungkam mulutku. Dia tersenyum kaku kepada Rena. Dia berbisik pelan, "jangan baca yang itu kampret."
Rito tampaknya tak ingin Rena mendengar isi sapaan dari pesan dungunya.
Aku menyingkirkan tangan Rito dari mulutku. "Iya, oke. Sini lihat."
Isi pesan di hp Rito hanya kata-kata, "Bro. Aku menemukan permataku!"
"Aneh. Permata?"
"Cewek mungkin?" ucap Rito penuh implikasi.
Ah. Yang diceritakan Rito kemarin
"Apa kau sendiri yang melihatnya?"
"Waktu itu aku sendiri, tapi siapa tahu ada orang lain yang mendapati mereka?"
"Kalian bicara apa?" tanya Rena penasaran.
"Ada, Akram kemarin melakukan ... " Akram kemudian berbisik pada Rena.
"Hoh!" ujar Rena terkejut.
"Apa mungkin dia terlalu senang sampai jantungnya berdegup tidak bisa istirahat lalu sakit?" kata Rito seolah berpikir.
"Atau karena dia teleponan sampai pagi?" sambung Rena dengan antusias.
Aku punya pemikiran lain. Jangan-jangan mereka pergi ke suatu tempat dan melakukan sesuatu yang berbahaya.
Mm. Pikiranku kotor. Tidak ada pemberitahuan dari orang tuanya juga, jadi pasti masih aman.
"Kasihan Akram, nanti tersedak kalau terus kita bicarakan."
"Benar." Rito menutup tema candaan tentang Akram dan lanjut mengajak Rena berbicara.
Aku hanya mendengarkan mereka dari samping sambil mengeluarkan bekal yang hari ini kubawa. Pembicaraan mereka berputar di banyak hal mulai dari acara tv, drama, berita, sampai makanan.
Aku menengadah ke langit dan memikirkan kata-kata Erika. Mereka ada banyak, di sekolah ini juga.
Tidak mungkin kan?
Aku melirik ke arah Anna. Dia membalasnya dengan tersenyum dan lambaian tangan.
Rito bilang kakak kelas.
__ADS_1
Terbesit di benakku kalau ada succubus lain di sekolah ini. Dalam artian tertentu, Akram menemukan apa yang dicarinya.
Kuharap ini sekedar prasangka burukku.