
Aku menuju perpustakaan saat pelajaran sekolah berakhir di hari itu. Kakiku berasa seperti ingin pergi kemari. Tidak ada tujuan pasti seperti membaca buku. Mungkin aku hanya mengingat kejadian saat awal sekolah, saat aku mendapati Ana sendirian disini makanya langkahku terbawa kemari.
"Tidak ada.. Apa yang kuharapkan."
Siapa tahu dia ada disini. Tapi tidak seperti yang kupikirkan. Mungkin aku berharap bagian ini akan mirip seperti di anime. Ana ada disana, duduk santai dan kami terkejut disaat bersamaan. Kemudian setelah itu saling berbicara dengan sedikit kecanggungan, namun akhirnya semua kembali normal. Lalu aku tahu rahasia besar yang dimiliki Ana beserta alasannya dalam menjalani hidup. Aku yang mengetahui alasan tersebut memutuskan untuk membantunya. Menghadapi musuh kuat sembari ikatan yang dalam antara kami terjalin selama petualangan bertumbuh!
Bercanda.. Tentu tidak bisa terjadi semudah itu.
Balik badan!
"Waaaa!", aku terkejut karena ada orang dibelakangku.
"Wa?!! Apa??!!", ia juga ikut terkejut.
Kupikir setelah berbalik badan Ana akan muncul tiba - tiba hingga aku terkejut, seperti di anime pula.
Eh, yang muncul malah Ham.
"Jangan teriak tiba - tiba, kupikir kau lihat hantu."
"Kau sedang apa Ham?"
"Mengembalikan buku yang ku pinjam."
Ham menggoyangkan buku di tangannya, masuk ke dalam dan menaruh buku tersebut di rak paling pojok.
"Kau sendiri sedang apa? Berdiri melamun di depan pintu perpustakaan."
"Membayangkan hal yang menyenangkan", ujarku bercanda.
"Apa - apaan? Awas kesurupan."
Ham mengajakku keluar mengobrol dan seperti biasanya ditanganku ada susu stroberi yang baru kubeli dari kantin.
Ham memulai ceritanya dengan bersemangat sambil berjalan dan yang bisa kulakukan adalah mengangguk. Karena tak terlalu fokus pada ocehan Ham, pikiranku langsung pergi ke tempat lain.
2 hari sudah berlalu tanpa ada komunikasi berarti antara Aku dan Ana. Tentunya ini jadi topik lagi di kelas. Kami dikira bertengkar, kemudian aku harus memberi alasan kalau itu tidak benar dan sejak awal situasi ini terjadi bukan karena hal yang kalian kira. Entah apa kau bisa menyebut kami sedang bertengkar. Kami tidak bisa menyapa satu sama lain. Ana terlihat tidak peduli lagi, tapi aku tidak tahu apakah penyebabnya karena ancaman Erika kemarin atau ia merasa tidak punya keperluan lagi denganku.
Teman lain juga menanyakan hal ini pada Ana. Jawabnya sama sepertiku, kurang lebih kami tidak punya hubungan lebih dan sejak awal kami hanyalah teman, katanya.
Aku ingat Ana ada bilang soal keperluan ras.
Apa itu?
"Kurasa aku sudah bisa menutup jarak."
Pikiranku terhenti oleh kalimat dari Ham.
"Oh.. Baguslah."
Sambil mendengarkan cerita manis dan petir yang diucapkan oleh Ham kami mengambil posisi duduk di kursi taman belakang.
"Awalnya gugup sih, tapi aku merasa senang", ujar Ham.
"Itu karena kau sadar diri kalau kau suka dengannya."
"Mungkin juga", Ham membalas sambil menggaruk kepalanya.
Beda memang orang yang sedang dilanda perasaan manis petir. Ham terlihat senang. Orang ini punya sisi polos juga.
"Tapi sobat, kau sekarang dekat dengan Erika ya, apa incaranmu bukan Ana lagi? Kau berani juga. Lawanmu ada banyak."
Kau suka sekali dengan topik percintaan ya? Kau terlalu dibuat mabuk olehnya Ham.
"Bukan lah, Aku punya keperluan bisnis dengannya. Aku tidak punya niat terselubung sepertimu."
Tapi harus kuakui berada di dekat Erika buruk untuk jantungku.
"Sebut itu usaha kawan", balas Ham sambil meninju pundakku.
"Hei Ham, kau pernah lihat peri?"
Ham melihatku bingung. Pertanyaanku terlalu tiba - tiba dan tak ada kaitannya.
"Tidak pernah. Aku akan senang kalau bisa bertemu dengan salah satunya."
Dia ada di kelasmu, beserta satu makhluk lain.
"Ada apa memangnya? Tiba - tiba bertanya. Jangan bilang kau pernah bertemu dengan peri?", nada Ham meragukanku.
__ADS_1
Setiap hari kalau boleh kubilang.
"Entahlah, aku juga akan senang jika bertemu dengan mereka."
Ham tertawa, "Benar juga, peri terdengar seperti lelucon di masyarakat moderen. Hahahaha.. "
Ya, lelucon yang tidak lucu, sampai kau bertemu dengan yang sungguhan.
Ham mulai lagi bercerita seputar pengalaman pertamanya dalam percintaan. Sungguh, kenapa dia bisa semurni ini? Kenapa kau terbuka sekali menceritakan hal ini padaku? Kupikir pria umumnya jarang mau membicarakan topik ini selain membicarakan, "Hei ada perempuan cantik disana'', "Wiuw.. Badannya seksi!", "Oi lihat! seperti itu seleraku", atau pembicaraan ero pada umumnya.
Biarlah, ia tampak senang. Bisa dianggap kalau dia hampir berhasil kan?
"Biarlah, asal kau senang."
"Hmm? Bilang sesuatu Harold?", Ham bertanya karena mendengar gumamanku.
"Tidak, lanjutkan."
"Lanjutkan?", Ham bertanya.
"Cerita tentang cintamu."
"Oh. Jadi aku berniat menyatakan perasaanku dalan waktu dekat."
Really?
"Apa tidak terlalu cepat?"
Perasaanku baru beberapa hari lewat.
Ham melipat tangannya, "Kau pikir begitu?"
"Ya, tapi sebagai orang yang tidak tahu masalah cinta - cintaan, tentunya kau tidak bisa mempercayaiku."
"Mmmm.. Ada benarnya. Meski aku barusan bilang waktu dekat pun, belum terpikirkan sama sekali hari atau momen yang pasti saat menyatakan perasaanku. Bagaimana ya? Mungkin aku harus menunggu lebih lama."
"Aku ingin tahu, apa yang membuatmu yakin seandainya ia akan menerimamu.
"Kupikir karena kami serasi?", katanya seolah menyatakan dengan kalimat tanya.
"Benar - benar samar.. "
Ham langsung melanjutkan perkataannya cepat, "Lalu, dia selalu bisa menanggapiku dengan baik. Ia juga selalu tersenyum padaku, dan tidak pernah menolak saat ku ajak bicara."
Kukira Loze memang orang yang sikapnya seperti itu pada semua orang.
Namun ia sudah memutuskan. Akhirnya terserah padanya sendiri.
"Yah, kalau kau ditolak akan kubelikan kau dua kotak susu stroberi."
"Oi! Kenapa cuma dua?!", balasnya.
Eh? Yang itu?
"Malah jumlah susu."
"Hahaha, kalau ada kemungkinan ditolak, aku juga harus mempertimbangkan kompensasi."
"Dan minta kompensasi itu dariku?"
Ham tertawa.
Aku mengangkat bahu sambil menghela nafas.
"Oke, 3."
"Oh! Sobat!", balasnya sambil melingkarkan tangan di bahuku.
************
Setelah berbicara dengan Ham yang bercerita terus - menerus secara sepihak. Kali ini aku sungguh ingin pulang saja. Masalah dengan Ana mungkin urusan lain waktu karena hari sekolah sudah selesai. Orangnya juga sudah pergi.
Dari jauh aku melihat Guntur sedang berbicara dengan seseorang di depan kelas.
Oh, itu kakak kelas kami yang menceramahi Guntur di kelas saat hari pertama. Dia bilang itu kakaknya. Apa Guntur kena masalah lagi?
Ini tidak akan jadi dogfight lagi kan?
__ADS_1
Sepertinya mereka baik - baik saja, mereka berbicara normal.
Guntur melihatku yang berdiri memperhatikan mereka. Sudah pasti, jarak antara kami hanya 20 meter.
"Temanmu?", tanya kakaknya.
"Ya."
"Kau punya teman normal juga ya", ujar kakaknya sambil melihatku.
"Apa itu sarkas?", kata Guntur.
Kakaknya tidak membalas.
Kusapa ia duluan, "Selamat siang."
"Siang. Kau temannya orang ini kan? Perkenalkan namaku Ariela, kakak dari laki - laki berwajah seram ini."
Tidak kusangka ia akan dengan ramah memperkenalkan diri duluan.
"Harold. Salam kenal."
"Oh, aku ingat. Kau yang waktu hari pertama duduk di samping Guntur! Maaf untuk yang waktu itu."
"Ah, tidak masalah."
"Heh, kau memberi kesan kasar untuk adik kelasmu", sahut Guntur yang ditujukan untuk kakaknya.
Ariela menghela nafas, "Haaah.. Itu gara - gara kau. Sudahlah. Aku masih ada urusan. Harold sampai jumpa, kau juga Guntur."
Ia pergi begitu saja dengan rambut peraknya yang berkibas dihadapan kami. Aku suka warna rambut itu. Ada bau harum yang tertinggal di belakang.
"Kakakmu cantik."
Guntur geleng - geleng, "Dia Wanita
merepotkan."
"Rambut itu apakah warna asli?"
"Ya. Rambut yang mirip dengan nenek kami. Hanya dua orang yang punya rambut seperti itu di keluarga kami."
Warna yang langka. Rupanya ada orang dengan rambut berwarna perak disekitarku.
"Jangan bilang kau memanggilnya nenek karena warna rambut yang kelihatan seperti beruban itu?"
"Memang karena itu."
"Oh. Tapi aku suka, ada kesan unik."
"Preferensi pribadimu kah?"
Aku mengangguk.
"Kalau boleh tanya, orang seperti apa kakakmu?"
"Dia orang yang pekerja keras, bahkan terlalu berlebihan. Itu yang membuatku tidak senang."
Maksudmu kau tidak ingin melihatnya bekerja berlebihan?
"Kau peduli pada kakakmu ya."
Guntur melangkah pergi, "Entahlah. Ayo pulang."
"Ya."
Niat awalku memang untuk segera kembali ke rumah.
__ADS_1