
Setelah wajahku mencium tanah tadi,
aku mencoba berlari mengejar Anna. Kenapa dia lari? Apa dia juga merasakan
kecanggungan dan kekhawatiran yang sama denganku? Hei bukannya kalian makhluk
tua? Mengapa kita harus kejar-kejaran seperti anak Sma yang menikmati masa
mudanya sekali?
Ah, aku memang masih Sma. Menuruni
tangga, lalu kemana dia … oh! Itu! Aku melihat siluetnya berlari kearah samping
gedung.
Tunggu sebentar!
“Maaf, permisi!”
“Oh, hei! Hati-hati!”
Aku melewati kakak kelas dengan
terburu-buru sambil minta maaf. Siapa itu tadi? Osis kah? Kakaknya Gran?
Ke arah belakang! Aku berlari
mengejarnya. Mulai dari melewati samping bangunan sekolah sampai belakang dekat
taman. Untungnya kami tidak berpapasan dengan banyak orang. Ada Gran yang
sedang merokok di bawah pohon bersiul ke arahku. Aku mengabaikannya.
Jika mataku tidak salah aku melihat
Anna masuk ke dalam salah satu kelas yang kosong. Berapa kali putaran sudah?
Rasanya kami sudah berkeliling sekolah sampai 2 kali.
Ini namanya latihan fisik. Anna juga
masih terus berlari. Ugh, kalian yang bukan manusia punya fisik curang.
Jika mataku tidak salah, aku melihat
Anna masuk ke salah satu kelas yang kosong.
“Ann-“ Seketika aku seperti
tersandung oleh kaki. “Aduh!” Wajahku kembali menghantam lantai. Kumohon
kuatlah hidungku. Nanti aku tambah tampan.
Anna yang berdiri dengan tangan
dibelakang, bersandar di pintu masuk kelas yang terbuka. Ekspresinya biasa saja
seakan tidak bersalah.
“Hidungku sakit.” Aku protes pada
Anna yang memandangiku dari atas.
“Oh. Mau kubantu sembuhkan?” ujar
Anna dengan ekspresi jahat. Ia menjilat bibirnya.
“Stop!” Aku memastikan tidak ada
yang berdarah. “Untung hidungku kuat. Bantuanmu tidak diperlukan.”
Kulihat tidak ada gelagat Anna yang
mau membantuku berdiri jadi aku berdiri sendiri. Dalam sehari orang ini jadi dingin
sekali.
“Jadi?” kata Anna sambil masuk ke
dalam kelas dan duduk di kursi guru. Ia berpura-pura membaca absen kelas di
atas meja.
“Apa kabar?” Di antara semua yang
bisa kukatakan, aku menanyakan apa kabar.
Anna heran dengan pertanyaanku. “Apa
kabar? Bukankah kemarin kita baru bertemu.”
“Benar juga” Jawabanku terdengar canggung.
Baru kemarin, tepatnya 2 hari yang lalu.
“Itu pun dalam keadaan yang langka,
setidaknya bagiku.” Aku mencoba menertawakannya.
Anna hanya bergumam. “Hmm … “
Baiklah dari mana mulainya? Aku
duduk di salah satu kursi di hadapan Anna. Anna tidak terlalu menatap kesini.
“Yang kemarin itu gila ya? Tidak
kusangka Anna seperti itu, aku kaget!” kataku dengan nada senang. “Tapi, hei,
kurasa itu keren, maksudku aku punya teman succubuss? Hebat kan!” Perkataanku
yang spontan tak disusun keluar begitu saja. Kucoba tuk mencairkan suasana.
Anna menatapku kali ini sambil
berkata, “Jangan katakan kata-kata succubuss dengan nyaring.” Ekspresi Anna
agak tidak suka.
“Maaf.” Apa mau dikata? Niatku
adalah mencairkan suasana namun tampaknya itu gagal. Orang-orang selalu mengatakan,
tertawakan pengalamanmu jika kau ingin membuat lawan bicaramu jadi cair.
Siapa yang bilang ya?
Anna tiba-tiba menahan mulutnya
sambil tertawa.
“Ada yang lucu kah?”
“Tidak. Aku sekedar membayangkan
dirimu yang barusan.”
“Apa maksudmu diriku yang
terjerembap?”
__ADS_1
Anna mengangguk dan membiarkan
tawanya lepas.
“Jahat sekali kau ini.”
“Yah. Kau menarik sekali” ucap Anna.
Ia menatap mataku langsung sambil menyandarkan pipinya di tangan. Meski tahu
Anna bisa melakukan sesuatu dengan matanya, aku tak mengalihkan pandangan. Dia
sedikit tersenyum.
Anna langsung terlihat puas
setelahnya. “Haah. Aneh juga” ucapnya yang kemudian menunduk.
“Maaf.”
Aku mendengar jelas perkataan Anna. “Ya.”
Anna tak mengatakan apapun setelah
itu. Makanya, aku memberanikan diri untuk bertanya. “Apakah hasrat itu
sebenarnya sangat kuat?”
Anna memasang wajah yang tidak
percaya, seolah berkata ‘apa yang dikatakan orang ini?’
“Wanita itu pasti sudah menceritakan
sesuatu padamu kan?”
“Ya. Yang bukan manusia itu ada,
mereka juga punya hasrat, Anna adalah succubuss, ternyata mereka ada di dekatku
… lalu … “
“Lalu?”
“Dari yang kuketahui, apa benar
kalian makhluk tua?” Jujur aku penasaran.
“Ya benar” senyum Anna jadi sedikit
menakutkan. Dia mengangkat tangannya seperti ingin menyelintik.
“Damai! Sekedar bertanya!” Aku panic
segera mengangkat tanganku. Siapa yang tahu apa yang bisa dilakukan oleh Anna
dengan energi atau semacamnya.
“Ada juga yang masih muda kau tahu?”
kata Anna sambil menarik tangannya.
“Contohnya?”
Anna mengingat-ingat kembali. “Aku
pernah bertemu anak yang berusai 96 tahun.”
“96 tahun, aku tidak mengerti
hitungannya.”
96 tahun disebut anak? Kembali lagi
“Kalau Anna?”
“Memangnya aku mau memberitahu?”
Anna menolak cepat.
“Ayolah, kau kemarin sudah
menyerangku?” Aku membujuknya sambil mengangkat alis. Kartu andalanku adalah kejadian
kemarin. “Sekedar ingin tahu.”
Anna kemudian menyerah dan
memberitahukan usianya. “807.”
“Wow! Selama itu! Mendengarnya
langsung membuatku tercengang!”
Anna langsung membuang wajahnya
cemberut.
“Pasti sulit hidup selama itu dan
menyesuaikan diri dengan zaman.”
“Itu dia. Manusia cepat sekali
berkembang” Anna mengatakannya dengan tangan diangkat. Ekspresinya
menggambarkan seolah-olah ia lelah.
Pastinya. Perkembangan manusia itu
sekejap mata. Lihat saja keadaan teknologi sekarang.
“Kembali soal hasrat, aku masih
penasaran, apa itu bisa ditahan? Erika mengatakan sesuatu tentang ditahan.”
“Kau ini penasaran sekali ya”
jawabnya muak.
“Ya, apa boleh buat?” Aku hanya
memasang senyum masam.
“Terkadang ada alternatif. Namun
tidak ada yang bisa mengalahkan santapan asli, apa lagi untuk kami” Anna
kembali menatapku dengan tatapan yang sama saat berada di gudang penyimpanan.
Tatapan yang siap memangsa.
“Tolong jangan bercanda, kita baru
berbaikan.”
“Apa boleh buat kan? Naluri itu
namanya?” ujar Anna setengah bercanda. “Apalagi kau salah satu manusia yang
punya energi unik.”
__ADS_1
“Itu lagi.” Energi unik kah?
“Lalu aku sudah lama tidak
bersenang-senang, jika nenek tua itu tidak datang, mungkin aku sudah melepas
celanamu.”
Mari kita abaikan saja perkataan
Anna barusan. Mengabaikan … tetapi pikiranku kesana kemari. Apa mungkin aku
akan lulus dari keperjakaan.
“Polos tidaklah selalu polos” Kata
tersebut keluar saat aku membayangkan dua sisi Anna.
“Apa yang kau katakan barusan?” tanya
Anna tidak mengerti.
Aku menggelengkan kepala dan
menjawab, “Artinya Anna punya banyak pengalaman?” kata-kataki agak tersirat.
Barulah Anna memasang wajah paham. “Aku
succubuss yang ada dalam cerita, hidup lebih dari 5 abad, hal seperti itu pasti
terjadi kan?” Dia menjawab seolah itu tidak ada artinya.
Tidak salah lagi, namun perasaan
kecewa apa ini? Ah! Kembalikan harapanku! Habisnya! Succubuss polos terdengar
menarik jika memang ada.
Anna melihat keluar jendela dan membuat ekspresi yang kesal. Ia menghela nafas dalam.
"Iya, aku tahu. Aku tidak macam-macam."
Aku penasaran dengan siapa dia berbicara namun kemudian menyadari bahwa Erika berdiri diluar sambil memberi gestur oke. Ada sekitar 15 meter dari jendela kelas dia berdiri. Baik sekali dia ingin memastikan keadaan kami. Kira-kira apa hubungan dan mengapa mereka bisa ada di sekolah ini?
Memangnya succubuss dan vampir perlu sekolah? Rasanya tidak perlu.
"Hus! Ganggu saja. Urusanmu sudah selesai" Anna mengusirnya dengan tangan.
Aku sampai tersenyum melihat itu.
"Kau tadi bilang nenek, apa kalian tidak akur?"
"Caramu mengatakannya sama seperti sedang membicarakan hewan. Aku tidak cocok dengannya, itu saja."
Kelihatannya ada sesuatu. "Apa kalian punya sejarah yang terjadi diantara kalian?"
Anna menjawab tak peduli, "Hah? Ya. Sudah lama sekali."
Tampaknya dia tak mau menjawab. Namun ia mengatakan hal yang menarik, "Coba kau tanya berapa umurnya, pasti reaksinya menarik!" ujar Anna sambil cekikikan.
"Aku tidak mau bersimbah darah. Erika kelihatannya akan jadi seram kalau marah." Terbayang di benakku sosok Erika yang marah dengan rambut yang berkibar-kibar.
"Uuh." Kembali aku merasa buluku naik.
"Haha. Mungkin kau benar, tapi kurasa tidak masalah jika kau menanyakannya dengan polos" kata Anna enteng.
"Polos ... aku tidak paham bagaimana caranya bertanya dengan polos."
Memangnya aku bisa bertanya seperti itu? Aku meragukan diriku.
"Lagipula dia orang yang membuat Anna takut, aku tak ingin membuat orang itu mengamuk."
Anna terlihat tidak terima dengan perkataanku. Tapi itu kenyataan yang terjadi, kan? Masih jelas di ingatan saat Anna panik dan angkat kaki ketika diancam Erika.
"Rupanya kau melihat" ucapnya dengan cemberut.
"Hei, tidak terjadi apa-apa juga, kan?"
"Terserahlah" ucapnya kemudian dengan nada yang terdengar tak peduli.
Aku masih ingin mendengar banyak hal, mengenai perjalanannya, kehidupannya, asalnya, terutama pengalamannya. Hidup 807 tahun tidaklah mungkin jika dipikir-pikir dalam standar manusia kan?
Kesampingkan itu dulu, aku bisa menanyakan dan mengenalnya perlahan.
Aku mengajak Anna bersalaman. "Ingat waktu itu kita berbicara di perpustakaan saat pertama kali?"
Anna tertawa kecil mendengarnya, "Ya. Apa ini yang dibilang berbaikan?" tanyanya dengan senang.
"Tidak hanya itu."
"Tidak hanya itu? Lalu?" Anna bertanya tanpa memudarkan senyum.
Awalnya aku tidak tahu yang mana dirinya yang asli. Gadis culun berkacamata yang ada di depanku sekarang, yang sekilas terkesan sederhana, ataukah wanita cantik agak menyeramkan yang penuh dengan keberanian serta nada suara yang memikat, yang mana yang harus kulihat?
Karena itu aku bertanya, "Yang mana kau sesungguhnya?"
Anna sedikit tersentak, namun segera ia menggantinya dengan senyum yang manis. "Yang mana menurutmu?"
Sungguh klise sekali percakapan ini. Percakapan pasaran yang ada di dalam cerita romansa cinta, dan sekarang, aku mengalaminya.
"Mungkin bukan yang ada di hadapanku sekarang. Tapi .... "
Anna kelihatan sedang menikmati momen-momen menunggu perkataanku selanjutnya.
Jawabannya, tentu saja juga klise. Apa yang bisa dikeluarkan oleh perjaka normal adalah jawaban paling payah dan tidak menarik.
"Menurutku dua-duanya asli. Apapun itu, yang ini atau yang lain! Karena itu mari lanjut berteman!"
Aku menggenggam erat tangannya yang sedang kusalami. Jika diraba lagi, tangannya seperti tangan gadis biasa, sedikit lebih kecil dariku, dan halus.
Dia tersenyum halus, wajahnya tampak puas. "Kau orang ke 10 yang berkata seperti itu."
Oh dejavu!
"Aku kecewa, kukira aku orang pertama." Aku sengaja menggunakan intonasi pura-pura sedih.
Anna tertawa kemudian ia membalas, "Karena itu ... " Dia mendekatkan bibirnya namun ke pipi. Aku yang sempat reflek mundur tidak sempat karena tanganku yang ditarik.
Awahehajeh!
Ah! Ya ampun! Wajahku sekarang pasti sangat bingung.
"Kenapa kau syok sekali?" katanya sedikit nakal. "Yang kemarin kan lebih parah dari ini?"
Betul! Aku juga tidak tahu mengapa! Pasti karena suasana yang berbeda! Yang kemarin dalam suasana mencekam, yang ini ... uwah aku tak ingin mengatakannya.
Anna terlihat puas karena berhasil membuatku tersipu.
"Atau mau lebih?"
"Tidak lain kali saja." Aku panik dan spontan melepas genggaman tangan Anna.
"Masa? Sayang sekali."
Orang ini spontan mengangkat kerahnya. Aku kan tidak siap!
"Hahahaha! Reaksimu lugu sekali!"
"Tertawalah sepuasmu."
Aku punya firasat buruk cepat atau lambat Johnny akan terbang tinggi melesat di udara.
__ADS_1
Erika sudah tidak ada di luar jendela.