Bukan Masa Mudaku!?

Bukan Masa Mudaku!?
Chapter 5


__ADS_3

Tenangkan dirimu Harold, tenangkan dirimu. Kepanikan ini terjadi karena aku terlalu terkejut. Sekarang aku tidak boleh heboh atau panik.



Ia berdiri di jarak yang dekat sekali denganku. Wajah kami bertemu. Suara yang terdengar lembut di telinga, yang mampu membuatmu bergidik. Ana menjilati leher sampai ke belakang telingaku. Aku bisa merasakan kehangatan disekujur tubuhku.



"Ana, t-tunggu.. Ahh.. Mmm.. Mmm.. Ah.. Mm."



Ana dengan agresif memakan seluruh bibirku.



Ternyata pengalaman ciuman pertamaku akan jadi seperti ini, sungguh diluar kehendak. Ana tidak melepaskannya, hingga tubuhku terasa ringan dan jatuh ke lantai dengan posisi Ana berada di atas tubuhku sambil menahan tanganku dilantai. Padahal tidak banyak energi yang kukeluarkan tapi rasanya seperti melayang. Akal sehatku pun ikut terbang entah kemana.



Ana tidak memberiku kesempatan bernafas. Kalau ini berlanjut, aku bisa kekurangan udara. Aku merasa lemas.



Akhirnya ia melepaskanku sedikit. Tatapannya mengarah lurus dengan wajah penuh gairah.



"Time, time out.. Ha.. Haaa.. Haaaaa.. "



"Hehehehe.. ", Ana cekikikan.



Apa yang ada disekitarku sudah tidak bisa kurasakan. Hanya orang di depanku ini saja yang keberadaannya kuat. Terlepas dari itu, entah apa aku bisa menyebut wanita ini orang. Wujudnya jadi lebih dewasa dengan tambahan aksesoris non - manusia.



Kalau dilihat lagi wujudnya yang baru lebih cantik.



Apa aku berada dalam pengaruhnya? Apa sebenarnya dia ini? Hantu? Siluman? Peri? Elf? Iblis? Malaikata? Yang terakhir jelas bukan.



Tidak ada gunanya, aku merasa lelah.



"Kalau kau ku dapatkan pasti situasiku sedikit berubah", bisik Ana.



Aku tak memikirkan maksud dari kalimat itu karena kelelahan.



"Ana, Haaa.. Haaa... Aku tidak tahu tujuanmu.. Tapi.. Bisa kita bicarakan?"



"Eeh? Bicara? Nanti saja sesudah aku menikmatimu."



Menikmati? Kalau kau memakanku tidak ada yang bisa dibicarakan lagi namanya.



Pandanganku sedikit buram, tapi aku melihat Ana melepas kancing bajunya.



"Jangan bergerak Harold, serahkan saja padaku, kau akan merasa nyaman.. "



Pernyataan yang luar biasa ambigu itu dilontarkan Ana, namun sebelum itu terdengar suara pintu dibuka yang membuat Ana memasang wajah serius.



Ceklik.. Krak..



Tadi pintunya dikunci kan?



Pintu terbuka seseorang yang begitu familiar masuk.



"Sebaiknya jangan kau lanjutkan lebih jauh."



Erika, gadis yang terkenal dari kelas kami, ialah yang membuka pintu dan dengan santainya mengeluarkan kalimat ancaman pada Ana.



Aku sedikit memutar badanku untuk melihat Erika. Wajah Ana yang juga terlihat dari sisi sampingku sangat tidak senang.



Hampir saja, setidaknya Ana memberiku ruang untuk bernafas karena kedatangan Erika.



Tapi, kenapa Erika? Apa yang dilakukannya disini?



"Kusarankan kau menyingkir kali ini, kita sedang berada di sekolah."



Ana mengerutkan dahinya, "Hoo??? Dari awal aku sedikit curiga padamu karena kau terlihat berbeda. Kau ini apa? Kau pikir aku akan mendengarkanmu?"



Erika maju satu langkah.



Debuk!!



"Ap?!!", Ana terbelalak.



Mata Erika berubah menjadi merah menyala dengan aura keemasan yang tampak jelas di mataku.


__ADS_1


Ana tersentak, seperti sedang terintimidasi.



Erika maju dua langkah.



Gedebuk!



Tiga langkah.



Duarrr!



Makin maju langkah Erika, Ana makin panik. Nafasnya jadi terengah. Ana mundur ke belakang menyingkir dari atas tubuhku.



"Lebih baik kau jangan macam - macam disini."



"Kenapa kau ada disini??! Kenapa?! Seharusnya tidak begini jadinya!", Ana histeris.



"Orang itu masih berbaik hati, kau dan aku masih diizinkan berada disini dan hidup normal. Aku tidak bisa membayangkan kalau orang itu tahu kau melakukan sesuatu di sekolah ini. Tapi apa boleh buat kan? Kau tak bisa menahan diri kan? Ya, aku tidak akan menceramahimu soal keperluan rasmu. Hanya saja kau kurang beruntung karena aku memergokimu."



Erika menggertakan tangannya sambil memberi ancaman.



Ana panik ketakutan.



"Oh. Satu hal lagi. Lebih baik kau berhenti mengincar anak ini kalau kau mau selamat", mata Erika serius seperti hendak menghabisi.



Ana kaget sekaget - kagetnya, "Apa maksudmu?!!"



Tanpa menghiraukan Ana, Erika melanjutkan, "Aku tidak ingin ada pertumpahan darah, jadi kalau kau menyerah sekarang kau masih bisa menjalani kehidupan dan sekolah yang normal."



"Kiiih!!! Sial.. ", meski berusaha berwajah kuat, tapi ia tidak bisa menyembunyikan tangannya yang bergetar. Tiap kali ia mengangkat wajahnya menghadap Erika, ia selalu mengalihkan pandangannya yang takut. Semenyeramkan itukah wajah Erika?



Karena Erika berdiri di depanku sekarang, hanya punggungnya yang bisa kulihat.



"Baiklah! Aku menyerah! Aku tidak akan mengganggunya lagi"', ujar Ana sambil mengangkat tangannya tanda menyerah.



"Itu yang terbaik."




Artinya ini selesai kan? Syukurlah.



Ana mengangkat tubuhnya yang gemetar dan berjalan perlahan keluar.



Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut yang acak - acakan.



Mau memanggil namanya pun aku tidak punya tenaga cukup untuk berteriak. Selain itu, apa yang harus ku katakan padanya setelah ini..?



"Masih kuat?"



"Sedikit."



Erika merunduk di dekatku tampak mengecek keadaan tubuhku. "Tidak ada luka luar, kau baik - baik saja", katanya.



"Dilihat dari luarnya iya."



Saat aku mencoba bangun tubuhku rasanya sedikit tidak seimbang. Pandangan mataku masih sedikit buram.



Erika menopangku yang hampir jatuh.



"Haha, sepertinya aku perlu berebah 10 menit."



Tapi bau yang enak kucium dari Erika, inikah bau wanita?



Disaat seperti ini insting priaku masih saja aktif.


Paha, dada, leher.. 'Well, I'm straight pervert'.



"Kalau boleh pinjam pahamu untuk jadi bantal.. "


Erika berhenti bergerak, melihatku, dan mengambil posisi duduk, meletakkan kepalaku diatas pahanya. Eh, sungguhan? Awalnya niatku hanya bercanda. Dia sungguh melakukannya. Tapi kalau posisinya begini..



"Erika, kepalaku terbalik.. "



"Ah, maaf."

__ADS_1



Hendak bergurau kah?



Yah, itu juga boleh sih. Wajahku langsung di pahanya. Bantal paha gaya profesional. Hahaha, bercanda.



Sekarang posisi ini cukup sulit untuk jantungku. Bisakah jangan tatap aku langsung terus menerus?



Berkedip - tolong berkedip.



Canggung.. Tapi apa yang harus kukatakan?



Wajahku tidak memerah kan?



Posisi bantal paha ini oke sih.



Sekarang kalau kulihat dari dekat, gadis ini sungguh tak banyak mengubah ekspresinya, tetap dengan wajah dingin.



"Tenang saja, ia tidak akan macam - macam lagi."



"Ya, terima kasih.. "



........... *hening



"Kau tidak ingin bertanya apapun?"



"Banyak yang ingin ku tanyakan, tapi biarkan aku menanyakan satu hal, apa Erika juga sama seperti Ana? Bukan manusia?"



"Setengah benar. Kami manusia, tapi juga bukan. Apa kau takut?", Erika menatapku serius.



"Awalnya mungkin ia, tapi aku tidak membenci Ana dan aku berterima kasih pada Erika. Lagipula dengan keadaanku sekarang jika Erika melakukan sesuatu, aku hanya bisa diam."



"Selain itu kesempatan seperti ini jarang datang padaku, mungkin para penggemarmu akan gigit jari", sambungku.



Posisiku yang ada di dekatnya sekarang maksudnya.



"Oh, begitukah?"



Tetap datar ya.



"Kalau kau ingin tahu sesuatu, lebih baik tanyakan pada kepala sekolah. Dia orang yang pas untuk ditanyakan."



"Kepala sekolah kah.. "



Memang benar. Orang itu mungkin bisa menjelaskan semua ini, apa ada alasan tersembunyi kenapa ia memasukkanku di sekolah ini.



Mungkinkah?!? Kisah keren fantasi SMA-ku akan dimulai?



Lima menit lewat tanpa berbicara dan tanpa kusadari juga kesadaranku terbang ke tempat lain dikarenakan perasaan nyaman yang kurasakan. Entah kenapa perasaanku seperti bayi yang terlindungi dari bahaya yang berani mendekat. Itu kenyamanan yang kurasakan ketika di dekatnya hingga aku jadi hilang kesadaran. Penyebabnya aku tak tahu.



Bangun - bangun diluar sudah senja dan Erika tetap dalam posisi yang sama menungguku bangun. Hampir satu jam berlalu. Erika pun berkata tidak masalah saat aku minta maaf. Apa kakinya tidak kesemutan atau kram ya? Dia terlihat biasa saja. Saat aku pulang, sekolah sudah mulai sepi dan Ana sudah menghilang, setelah apa yang terjadi, aku masih penasaran dengan keadaannya.





















__ADS_1



__ADS_2