
Alya mendekap erat lembaran dokumen dalam amplop coklat. Berdiri dengan tatapan tajam didepan sebuah gedung tinggi di Kota Besar ini. Langkahnya begitu tegas dengan semangat yang berapi-api. Beberapa orang terlihat heran melihat Alya. Tak banyak juga perempuan dan laki-laki berpakaian kantor di sekitar Alya nampak membicarakan Alya dengan keanehannya.
Plak!!
“Aw.. sakit!” Alya melirik sinis kearah tangan seseorang yang memukulnya dari samping.
“Selamat ya akhirnya kesampaian juga bisa bekerja di perusahaan besar” Tegur Reza, lelaki yang sudah menjadi kekasih Alya selama 5 tahun ini dan juga salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan yang sama.
“iih apaan sih, ini kan berkat kepintaran dan kecerdasan aku.. ya walaupun tak luput dari dukungan keberuntungan sih” Ucap Alya yang tiba-tiba menunduk.
“hush udah ah yuk kita masuk, jangan lupa banyak-banyak berdoa di dalam sini banyak orang-orang yang jauh lebih sadis jika dibandingkan dengan senior kamu sebelumnya”. Ledek Reza sambil berjalan mendahului Alya.
Ya hari ini adalah hari pertama Alya bekerja di perusahaan besar yang sangat dia impikan. Alya memang berasal dari keluarga yang bukan orang kaya. Sehingga Ia memiliki impian yakni menjadi seorang karyawati di salah satu perusahaan besar di Negara ini. Namun dengan level otak Alya yang bisa di bilang sangat pas-pasan banyak perusahaan yang menolaknya. Bahkan saat melihat CV pun sudah menolaknya.
Bagaimana tidak? Saat sekolah dulu Alya memang tergolong agak telat dalam berfikir. Semua tugas sekolahnya yang memiliki nilai bagus tidak luput dari bantuan teman-temannya. Alya sudah bekerja keras setelah lulus SMA bahkan sebelum Alya mendapatkan Ijazah kelulusan ia sudah bekerja di salah satu perusahaan fashion sebagai Karyawati.
Keadaan yang membuat Alya ingin cepat bekerja walaupun dalam hatinya ia sedih karena tidak bisa melanjutkan Study ke Universitas tinggi.
Berbekal kegigihan dan kerja kerasnya, Alya dapat melanjutkan kuliah walau sambil membagi waktu dengan bekerja.
Berpindah-pindah perusahaan sudah biasa baginya. Tak peduli dengan kehidupan keras yang selalu menindasnya ia tetap teguh dan berusaha keras membayar ketinggalannya. Sehingga ia mampu memperoleh nilai terbaik.
Namun semua ini berkat Reza yang mampu mendidik Alya dengan baik.
__ADS_1
Flashback Pertemuan
Alya dan Reza bertemu disalah satu Mall terbesar di Kota nya. Saat itu Alya sedang menunggu Bus di halte Mall tersebut. Sedangkan Reza sedang melintasi jalan itu dengan sepeda motornya. Bukan motor besar bukan juga motor mahal. Tetapi Reza mampu membuat semua orang melirik ke arahnya. Ketampanannya membuat para wanita yang merangkul pasangannya segera melepasnya. Kacamata hitam menutupi wajahnya, helm tanpa kaca dan senyum manis seraya menunduk jika ada yang menegurnya.
Tanpa disadari motor Reza pun berhenti didepan Alya berdiri. Ya. Saat itu Alya sedang menunggu bus dan bergegas pulang. Alya seorang karyawati di salah satu toko yang ada di Mall tersebut. Alya cantik namun terlihat lebih tomboy seakan menutupi kecantikannya. Hidungnya memang tidak mancung tapi Alya memiliki lesung pipi yang akan terlihat manis jika semakin Ia menarik senyumnya. Padahal Ia hanya memiliki satu lesung pipi yang terlihat. Sedangkan sebelahnya tidak begitu terlihat. Rambutnya terlihat kusut dan berantakan. Rambut Alya memang keriting dan mengembang sehingga banyak orang yang memanggilnya Si Rambut Singa.
“Alya?” Tegur Reza menganggetkan Alya.
“Ya. Saya. Siapa ya?” jawab Alya acuh sambil buang muka dan sedikit-sedikit melirik wajah Reza.
*Gila ganteng juga nih orang. Pake helm ga ada kacanya cuma pakai kacamata hitam. Rambut gondrong, sepatu bersih. Celana belel tapi tetep ok di pake dia. Eits sweaternya dong robek robek tapi kenapa di pake dia malah keliatan mahal sih? Ups harum banget. Gila ini laki macem apa ya perfect banget. Ngidam apaan emaknya punya anak bisa sampe begini.* Kesan Alya dalam hati mengomentari Reza sore itu.
“Ehem”.
“eeh iiiya.. tadi kamu panggil nama aku?” Tanya Alya gugup.
“iyah. Kamu Alya kan? Alya Cantika?” Senyum Reza meruntuhkan tembok besar yang di bangun di dalam hati Alya untuk tidak memberikan hatinya pada siapapun sebelum mimpinya terwujud.
“Perkenalkan Namaku Reza. Kamu ada waktu untuk minum kopi denganku sore ini?” Lagi-Lagi Reza mendobrak hancur tembok besar dalam hati Alya.
“eh. Maaf aku ga bisa. Hari ini aku ada janji dengan Ibu ku untuk membantunya” ucap Alya berbohong
*Iya sih lu tampan. Keren. Tapi gue bukan cewek gampangan juga kali gampang banget diajak ngopi. Eits salah ga ya kalau gue nolak ajakkannya? * kembali tenggelam dalam gemuruh hatinya
__ADS_1
"Hei, gimana?" tegur Reza lagi
"Iya.. Eh ngga.. Hmm Iya.. Ngga ngga bisa" jawab Alya kikuk
Tanpa sadar dibelakang motor Reza sudah banyak mobil mengantre dan menyebabkan kemacetan sehingga mau tidak mau Alya menerima ajakkan Reza.
Saat itu Reza merupakan mahasiswa tingkat akhir. Bukan di Universitas terkenal bukan juga di universitas terbaik. Namun hanya universitas biasa yang berisi mahasiswa pekerja yang mengejar gelar demi peningkatan jabatan.
Orang tua Reza pernah menjadi orang kaya, bekerja di salah satu perusahaan pertambangan. Namun semakin dimakan usia dan karena tertipu oleh saudaranya hingga jatuh miskin. Saat ini Reza kuliah di bantu oleh saudara Ayahnya yang lain. Reza mampu membuktikkan bahwa kecerdasannya mendatangkan manfaat yang baik buat keluarganya. Sehingga uang untuk biaya kuliah dapat digunakkan untuk biaya hidup mereka sehari-hari. Beasiswa untuk mahasiswa terbaik selalu diraih oleh Reza.
Di sebuah Coffee Shop Alya terus mendesak Reza berusaha mengetahui dari mana dia bisa tahu nama Alya. Terlebih lagi Nama lengkapnya.
Ya. Reza sudah mulai mencari tahu tentang Alya sejak lama. Reza mulai mengikuti jejaring sosial Alya dan banyak mengetahui tentang Alya. Hingga Reza memberanikan diri untuk dekat dengan Alya.
Tak langsung menerima tawaran Reza, Alya sering kali menolak kehadiran Reza. Namun kedewasaan Reza dan kesabarannya mampu meluluhkan hati Alya.
Semenjak saat itu Alya dan Reza semakin dekat hingga mereka memutuskan untuk menjalin hubungan. Reza yang dewasa sedangkan Alya yang kekanakkan saling menutupi kekurangan masing-masing.
Reza banyak mengajarkan arti hidup kepada Alya sehingga Alya tumbuh menjadi gadis yang mandiri dan dewasa. Walaupun didepan Reza masih selalu terlihat kekanakkan.
Hingga 5 tahun lamanya mereka menjalin hubungan. Sekarang Reza menjadi pria yang sukses dan mapan. Kerja kerasnya membuahkan hasil yang baik untuk dirinya dan keluarganya.
Sedangkan Alya selalu menolak bantuan keuangan dari Reza. Begitupun dengan Reza yang selalu menerima keadaan, kekurangan, bahkan sifat kekanakan Alya.
__ADS_1
Bersambung..