Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)

Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)
Air Mata Pengorbanan


__ADS_3

2 hari kemudian.


Sudah dua hari ini Alya tidak bekerja. Jangankan untuk bekerja, berjalan saja rasanya terlalu lemas. Wajah Alya terlihat pucat pasi. Hatinya terasa diporak-poranda angin ****** beliung. Alya masih terus mengingat semua kenangan bersama Reza. Hatinya sakan tidak nenerimanya. Rasanya Alya ingin sekali merebut Reza kembali. Membawa pergi Reza dan hidup bersamanya walau hanya di pulau terpencil sekalipun. Bahkan bisikan setan menghantui Alya memintanya untuk menghabisi nyawanya sendiri. Untung saja Alya memiliki suara hati yang selalu tulus. Memberikannya semangat. Dan selalu memberikan petuah-petuah positif kepadanya.


Esok adalah hari pernikahan Reza. Seluruh karyawan dari level Up hingga karyawan biasa semuanya diundang untuk menghadiri acara tersebut. Tak terkecuali Alya. Alya pun mendapatkan undangan tamu VIP. Karena Alya merupakan salah satu karyawan yang memiliki prestasi terbaik.


Namun bukan hanya hal itu saja yang menjadi pukulan terbesar Alya. Ya. Hari pernikahan itu pun bertepatan dengan hari ulang tahun Alya. Alya selalu bertanya-tanya mengapa harus disamakan tanggalnya?


Tahun-tahun yang lalu Alya masih mendapatkan kejutan manis dari Reza. Dari kejutan sederhana, sampai kejutan mewah. Siapa sangka bahwa tahun ini Alya sudah tidak berhak mendapatkannya. Lebih lagi tahun ini menjadi kejutan paling menyakitkan buat Alya.


Hari ini Ibu sudah mengetahui semuanya secara tidak sengaja saat melihat undangan VIP yang terjatuh dari tumpukan map di meja kerja kamar Alya. Akan tetapi Ibu tidak mau memperlihatkan kesedihannya kepada Alya. Lebih sakit lagi yang Ibu rasakan ketika Alya mengunci dirinya dan menangis seharian. Tidak hanya Ibu, bahkan Ardi pun mengunjungi Alya. Tetap saja, Alya tidak juga membukakan pintu kamarnya.


Sepanjang hari Ibu terlihat tidak sedetik pun meninggalkan pintu kamar Alya. Ayah yg melihatnya hanya bisa terpukul. Ribuan kali Ayah merayu Ibu untuk beristirahat namun sama halnya seperti Alya, Ibu pun enggan mendengarkan orang lain selain suara hatinya.


Malam pun tiba.


Semua keluarga Alya pun resah dengan sikap Alya. Khawatir karena anak satu-satunya hanya menangis dikamarnya, makan pun ia tidak mau. Tiba-tiba saja datanglah seorang pria blesteran bertamu dirumah Alya.


Ibu pun mempersilahkannya masuk. Ibu sudah mengenal pria tersebut saat tempo hari mengantar Alya pulang. Pria tersebut menggendong Alya hingga masuk kedalam kamarnya. Membaringkan Alya dengan lembut, dan memberikannya selimut halus untuknya. Membelai lembut keningnya dan sedikit banyak berbincang dengan Ibu. Entah apa yang diperbincangkan. Iky pun meminta Ibu merahasiakan kejadian malam itu pada Alya. Saat itulah pertama kali Ibu bertemu dengan Iky.


Ibu terlihat khawatir dan penuh harap agar Iky bisa menghibur Alya. Ibu juga mengetahui bahwa Iky adalah seorang pria yang sedang berjuang untuk memenangkan hati wanita yang hanya melabuhkan hatinya pada pria lainnya.

__ADS_1


Iky tidak mengetuk pintu kamar Alya. Yang hanya Iky lakukan berdiri terdiam didepan pintu kamar Alya. Iky mendengar isak tangis Alya yang begitu menyayat hati. Tangan Iky pun mengepal, rahang Iky bergerak seakan menahan amarah. Tak lama Iky menghembuskan nafas dengan kuat dan memanggil Alya.


"Alya, ini aku Iky. Bolehkah aku masuk menemuimu?"


Tak ada jawaban dr dalam kamar, hanya isak tangis yang menyesakkan begitu jelas terdengar. Iky hanya bisa menyentuh pintu kamar, menunduk, dan menunggu sesaat. Masih tak ada jawaban dari Alya. Saat Iky membalikkan badannya, pintu pun terbuka. Ibu merasa lega akhirnya Alya mau membukakan pintu.


Iky menghentikan langkahnya. Dengan wajah yang menunduk seakan bersiap untuk menoleh namun tiba-tiba saja Alya memeluknya dari belakang. Tangannya dengan kuat mendekap tubuh besar Iky. Tangisannya memecah keadaan yang ramai di luar kamar Alya. Ibu terlihat memegang dadanya lega. Ibu hanya bisa memandangi Iky dengan tulus berharap Iky mengerti maksud tatapan Ibu. Kemudian Iky membalikkan badannya dan mengajak Alya kembali kekamar. Iky pun meraih nampan yg sudah Ibu siapkan untuk Alya dan kemudian menggandeng Alya masuk. Ibu percaya bahwa Iky akan mengendalikan keadaan Alya.


...


Didalam kamar Alya


Iky pun membelai lembut rambut Alya yang sudah tidak nampak seperti rambut singa. Aroma rambutnya membuat Iky nyaman menghirupnya. Wangi sekali. Perlahan Iky melepaskan dekapan dan menghapus air mata di pipi Alya saat tangisan Alya sudah terkendali. Iky meminta Alya duduk di sofa dan menghabiskan makanannya.


Suap demi suap Iky menyendokkan lauk-pauk dan juga nasi untuk Alya. Tak ada sepatah katapun yang mereka keluarkan. Alya masih menunduk sambil menerima suapan dari Iky. Sedangkan Iky hanya tersenyum berharap Alya akan baik-baik saja. Sampai akhirnya Iky membuka suara lebih dulu.


"Berbahagialah! Gadis manis sepertimu tak pantas bersedih seperti ini. Lupakan dia, dan hiduplah sewajarnya. Pikirkan bahwa dia telah mengambil keputusan yang benar untuk melindungimu." pesan suara berat Iky yang sedikit membuat Alya tenang.


"Apa aku masih pantas bahagia Tuan?" lirih Alya


"Ya tentu saja. Kamu layak hidup bahagia. Aku yakin Reza pun melakukan ini berharap kamu bisa hidup bahagia." tambah Iky.

__ADS_1


Tak begitu lama ketukan pintu kamar pun terdengar kuat. Iky pun langsung membukakan pintu. Terkejut Iky saat melihat Reza terengah-engah berdiri didepan pintu. Wajahnya terlihat khawatir. Mata merah Reza seolah menahan amarah.


Iky langsung menarik kerah kemeja Reza dan mendorongnya ke dinding kamar Alya.


"Sial. Apa yang kamu lakukan disini? Kamu tahu tidak hal yang kamu lakukan ini akan membahayakan Alya?" Posisi tangan Iky sudah mengepal bersiap melepaskan tinju ke wajah Reza.


Reza hanya diam menatap pilu Alya seolah tidak peduli dengan celoteh Iky. Perlahan Iky menyadari tatapan itu dan melepaskan cengkramannya. Reza pun mendekati Alya. Menyentuh pipi Alya dan menangis kuat. Air mata mereka pun memecah. Reza memeluk erat tubuh Alya begitupun dengan Alya. Iky hanya bisa diam menahan sakit di dadanya, rasa sakit yang semakin sakit melihat pemandangan didepannya. Iky bergerak mundur dan menutup pintu kamar Alya meninggalkan mereka berdua.


Ibu pun ikut menangis dan jatuh lemas dilantai. Ayah dengan sigap memeluk Ibu. Ardi menghampiri Ibu dan membantu ayah membopoh Ibu untuk duduk di sofa. Sedangkan Iky masih terlihat kosong. Tak tau apa yang harus dilakukan Iky.


.


.


.


**bersambung kakaaakk


Tunggu update selanjutnya yaaa.. sebentar saja..


akan ada cerita menarik lagii setelah ini.. selamat menikmati

__ADS_1


__ADS_2