
Keesokan paginya.
Pagi-pagi sekali Alya sudah bangun. Alya tak ingin Iky bangun lebih pagi darinya seperti kemarin. Alya pun menuju dapur menghampiri Pak Supri yang sedang mengawasi para koki yang sibuk memasak.
"Selamat pagi Pak. Selamat pagi semua." Alya menyapa semua orang. Para pelayan pun sontak memberi salam dengan kompak.
"Wah sedang masak apa? Boleh aku membantu?"
"Tidak boleh Nona. Nanti Tuan bisa marah kalo mengetahui Nona bantu-bantu kami."
"Aaah tidak apa. Kan aku yang mau. Lagi pula aku ingin jadi Istri yang bermanfaat untuk suamiku. Boleh yaaah Pak.. Ku mohon" Rengek Alya.
"Baik Nona. Tapi mohon berhati-hati Nona"
"Yesss.." Alya segera menghampiri para koki.
"Jadi, apa yang akan dimasak untuk sarapan ini?"
"Kita akan masak nasi goreng kambing"
"Waaah kalau begitu aku saja yang memasak untuk suamiku. Kalian biar mempersiapkan hidangan untuk para pelayan dirumah ini." ucap Alya sambil mengikat rambutnya tinggi dan meraih celemek didalam laci.
Alya kemudian memainkan pisau, mengiris daging dan sayuran. Menyiapkan bumbu dan kemudian dengan lihay nya mulai memasak. Tidak lupa sesekali Alya berjoget riang sambil memutarkan tubuhnya bak Artis Kpop wanita yang sedang berdendang. Pak Supri senang melihat Alya yang sepertinya sangat pandai memasak. Saat nasi goreng sudah terhidangkan. Alya juga menambahkan telur mata sapi sebanyak 2 buah. Sengaja Alya membentuk telur mata sapi seperti terlihat bentuk wajah yang sedang tersenyum. Menambahkan selada diatas telurnya sebagai hiasan rambut. Ia pun sangat fokus sampai tak menyadari Iky sudah duduk di kursi tepat dekat meja bar kitchen set.
"Tadaaa~~~.. Bagaimana Pak, apa terlihat cantik sarapan yang ku buat ini?"
Pak Supri hanya menunduk dan bergerak mundur. Alya dengan cueknya menuju meja makan tanpa melihat Iky.
"Selesai." monolog Alya.
"Waaah sudah bisa ku makan?"
"Sejak kapan kamu ada disini? kau mengaggetkanku saja. Untung jantungku tidak jatuh karena ulahmu"
"Ulahmu lah. Gara-gara kamu masak sepagi ini aku jadi tidak bisa pergi berolah-raga. Tapi akan ku maafkan jika kamu membayar hutangmu tiga kali lipat"
"Appaaaa??? Hutang?"
"Ya. Kau lupa apa yang kau lakukan semalam? bukannya membayar hutang malah seenaknya tidur pulas. Aku hitung itu sebagai tambahan hutangmu. Dan pagi ini kau menggagalkan olahragaku." Iky sambil memasukkan nasi goreng kedalam mulutnya.
"Duduk dan makan lah. Kau harus memiliki banyak tenaga untuk membayar hutangmu!"
*Huh seenaknya saja dia*
__ADS_1
...
08.00
Alya mengikatkan dasi Iky dan memasangkan jas abu-abu. Kemudian merapihkan anak rambut Iky. Tentu saja Iky sangat bahagia. Iky pun menarik punggung Alya mendekatinya, mendorong tengkuk Alya hingga hanya berjarak beberapa senti dengan wajahnya.
Deg..deg..deg
Jantung Alya berdetak sangat kuat. Mereka saling berpandangan. CUP. Iky mencium kilat bibir mungil Alya dan disusul oleh ciuman lembut dibibirnya. Alya yang hanya terdiam saja pun ikut terbawa suasana. Mereka pun menikmatinya.
Alya mengantarkan Iky sampai dipintu depan rumah utama. Mencium tangan Iky dan kemudian dibalas pelukan serta kecupan manis di kening Alya. Sudah seperti pasangan suami istri yang saling mencintai. Alya kembali kekamarnya. Menutup pintu dan bersandar dibalik pintu. Hatinya berdegup kencang. Alya meraba detak jantungnya.
*Rasa apa ini? Apa aku sungguh-sungguh sudah jatuh cinta dengannya? Bagaimana jika dia kembali kepada Clara. Apa dia akan meninggalkanku seperti yang dilakukan Reza kepadaku?* Alya menangis sejadi-jadinya.
...
Dikantor Iky.
"APAAA?? breng**k!!! Dia mulai main api dengan kita. Bagaimana bisa dia menyelundupkan keuntungan sebanyak itu?" Iky menggebrak meja kantornya saat melihat laporan keuangan yang anjlok.
"Dia sudah main api denganku. Vino lekas urus masalah ini. Aku tidak main-main akan kuputarbalikkan keadaan." Iky melempar asbak kelantai.
"Baik Tuan." Vino segera menuju ruangan khusus yang hanya Vino dan Iky yang mengetahuinya. Diruangan tersebut berisi banyak monitor yang menampilkan layar cctv. Belum lagi layar komputer seri terbaru yang hanya perusahaan Iky lah yg memproduksinya. Database teknologinya pun lebih canggih dari yang orang lain tahu. Bagaimana tidak teknologi inilah yang dijual Iky kepada Agen-Agen khusus kepolisian dan detektif di Eropa-Amerika. Tapi Iky selalu menolak jika para mafia ingin membelinya.
Vino mulai memainkan jarinya. Meretas database kecurangan yang dilakukan Pak David. Hanya membutuhkan waktu 30 menit, semua data terdeteksi. Hasil keuntungan tersebut dialihkan kepada Mafia yang berkuasa di negara ini. Vino pun segera menghubungi Iky. Tak berapa lama Iky pun sampai diruangan tersebut.
"Tunggu! Coba kau zoom bagian kiri bawah itu. Data apa sebesar itu? Mengapa dialihkan kepada Project pertambangan yang tidak ku support?"
Iky berpikir keras. Vino pun dengan lihay memainkan jemarinya.
"Ini hanya manipulasi Tuan. Peralihan dana untuk jual beli senjata."
"Baiklah Record semua data ini. Kita akan gunakan jika waktunya sudah tiba. Biarkan dia bermain-main dulu"
"Jangan dulu tarik saham dan aset kita!"
Vino pun memulai kembali aktifitas jemarinya. Iky memperhatikan dengan seksama. Geram dan marah akan perilaku Pak David.
"Tunggu. Kau akan membayarnya berkali-kali lipat karena sudah mengkhianati bisnis ini." monolog Iky.
Iky pun kembali keruangannya. Ia duduk dan berpikir cara untuk membongkar kejahatan Pak David. Dilihatnya Foto pernikahan mereka diatas meja. Iky pun menyentuh foto Alya.
*Apakah kamu sudah bisa mencintaiku? Apakah kamu sudah bisa melupakan Reza? Siaaall mengapa sulit sekali membuatmu menganggapku.! Perset** dengan semua ini. Siaaall*
__ADS_1
Tapi Iky tidak bisa marah dengan Alya. Diambil ponsel di sakunya. Ia pun menekan kontak yang bertuliskan nama *Nona Liar*
Tut
.
Tut
.
Tut
"Hallo?" Suara Alya menjawab.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Membaca buku-bukumu diruang baca."
"Apa kau sudah makan siang?"
"Wah jangan tanya kalau makan siang mah. Aku bahkan menunggu para Koki saat mereka menyiapkannya. Hei ada apa? tumben sekali kamu menelpon ku"
"Memang seorang suami tidak boleh menghubungi istrinya. Mengapa kamu menyebalkan?"
"Aaah. Jangan marah. Aku kan hanya tanya. Mungkin kamu butuh sesuatu"
"45 menit lagi aku sampai dirumah. Tunggu aku. Bersiaplah untuk membayar hutang-hutangmu! Gunakan pakaian yang sudah ku siapkan di nakas ruang ganti yang ada di bawah. Pakai itu!"
"Hah? Apa maksudmu?
Tut..tut..tut.. Telepon terputus
Iky hanya cengengesan. Sedangkan Alya panik bukan kepalang. Iya tak tau apa yang harus dilakukannya. Berlarian kesana kemari karena bingung apa yang harus dilakukannya. Walaupun ia pernah melakukannya, tapi dengan rasa yang baru saja dia sadari membuatnya bingung harus bagaimana.
.
.
Bersambung
.
.
__ADS_1
Bantu like, rate dan vote nya ya kak.
🙏🙏