Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)

Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)
Rencana Dibalik Rencana


__ADS_3

"Nak. Apa yang terjadi? Kemarilah dan ceritakan kepada Ayah" Ayah menepuk sofa disebelahnya. Sofa berwarna hijau tosca dengan balutan lembut bludru mewarnai design ruang tamu bertema minimalis itu. Ardi hanya berdiri disamping Ayah sedangkan Alya masih dalam pelukkan Ibu menjawab pertanyaan Ayah dengan menggelengkan kepala. Alya tak mau mengatakan masalahnya kepada Ayah dan Ibu. Ia sama sekali tidak mau memberikan beban berlebih kepada kedua orang tuanya.


"Silahkan diminum Nona Alya dan Tuan Ardi. Bibi permisi kebelakang" Ucap Bi Minah meletakkan secangkir teh beraroma mawar. Bibi juga membawakan sepiring kue donat dengan topping meses kesukaan Alya.


"Waah Bibi tau aja nih Alya mau kesini. Bibi repot-repot membuatkan kue donat." Ardi kemudian mengambil satu dan memakannya dengan sekali lahap sambil melirik ke Alya. Ardi ingin mencairkan suasana


"Hei..... punya ku tauu" Ucap Alya yang membuat semua tertawa.


"Hahahaha.. kamu sibuk nangis sih. Aku mah sama donat ini ga bisa kompromi" Ardi menjulurkan lidahnya meledek Alya.


"Aaaahh Ayaaah Ibuuu Mas Ardi tuh nyebelin banget" Alya langsung mengambil piring donat dan meletakkan dipangkuannya melahap satu donat dan menghapus air matanya.


"Jadi, kamu kenapa tiba-tiba datang menangis seperti? Apa permen kamu diambil Iky?" Tanya Ibu yang meledek Alya.


"Tidak Bu.. Aku hanya rindu Ayah, Ibu, dan donat buatan Bibi" Alya berbicara dengan mulut yang penuh berisi donat.


"Wah Non, sama donatnya saja? Sama Bibi nya ga kangen Non? Padahal Bibi kangen banget loh sama Non.." Bibi meledek Alya


sambil membersihkan dapur yang jaraknya terlihat dari ruang tamu.


"Lah iya dong Bi.. Kalo ga kangen Bibi aku ga bisa makan donatnya.. Hehe" Alya mengambil donatnya lagi.


"Aku bagi dong Non, sedikit saja" ucap Ardi.


"No.. kamu bikin aja sendiri. Bi gausah di bikinin Bi" Ucap Alya berteriak ke arah Bibi. Wajah Ardi yang keki saat itu membuat semua tertawa.


Alya memutuskan untuk menginap dirumah kedua orangtuanya. Tentu saja Ardi juga ikut menginap. Ardi juga punya kamar miliknya dirumah ini. Ibu pun menemani Alya tidur dikamarnya.


...


Apartemen Iky


"Tuan, Apa anda sudah membaik?" Tanya Vino kepada Iky yang sedang berbaring di ranjangnya.

__ADS_1


"Yap." Jawab Iky singkat. Perasaannya memang masih tidak menentu. Tapi ada hal yang lebih penting untuk dilakukannya esok. Bertepatan dengan ulang tahun perusahaan, Iky dan Vino mengadakan pesta yang sudah direncanakan jauh hari. Sengaja mereka akan membongkar kejahatan Pak David.


"Aku akan memberikan perangkap untuknya. Hingga terbongkar semua kejahatan yang telah dilakukanya." Iky kemudian berdiri menatap jendela kamar apartemen dengan pemandangan kota yang sangat indah. Lampu-lampu berkelip seperti bintang-bintang di langit.


Keesokan paginya.


Di Bandara terlihat dua pasangan suami istri yang baru saja tiba dari Eropa. Sang istri terlihat sangat menempel kepada suaminya yang acuh. Ya. Reza dan Putri Pak David. Penampilan Reza saat itu sangat tampan. Wajah campuran Jepang-Jawa membuatnya sangat terlihat mempesona. Semua perempuan melirik ke arah Reza yang memakai kacamata hitam. Rambut lurus dengan gaya quiff haircut menyempurnakan messy look nya.


Sedangkan Istrinya dengan tinggi semampai, berkulit putih, memiliki rambut panjang dengan layer yang bergelombang ditambah poni dengan sentuhan belah tengah membuat mereka tampak serasi.


Mereka akan menghadiri pesta ulang tahun perusahaan Iky yang juga sebagai pemegang saham terbesar di perusahaan milik mertua Reza. Mereka memang sengaja di undang Vino. Tanpa rasa curiga dan kejanggalan mereka hadir tanpa paksaan.


Dirumah Alya, Alya terlihat sibuk didapur membantu Bibi menyiapkan makanan untuk makan siang. Ayah dan Ibu sebenarnya juga diundang Vino untuk menghadiri acara tersebut. Namun mereka tau bahwa anaknya sama sekali tidak mengetahui pesta itu. Mereka pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih tinggal bersama Alya dirumah.


"Ayah.. Ibu.. makanan sudah jadi.. Ayoo kita makan aku sudah sangat lapar nih... Mas Ardiiiiii kamu tidak usah makan ya. Jatahmu buatku" Panggil Alya memecah keheningan rumah. Semenjak Alya pindah kerumah Iky, rumahnya tak lagi seramai rumahnya dulu. Ibu dan Ayah pun terlihat lebih hangat. Sesekali Ardi pulang dan memanjakan dirinya kepada kedua orang tua angkatnya. Sangat berbeda dengan Alya gadis semata wayangnya.


"Ayah, biarkan aku yang menuangkan lauknya ya buat Ayah dan Ibu.... Kalau kamu ambil sendiri!" ucap Alya yang mengambil sendok lauk dan menempatkan berbagai macam lauk di piring kedua orangtuanya sambil acuh kepada Ardi.


Ardi juga tidak menghadiri pesta itu.Ia diperintahkan untuk menjaga Alya dirumah sehingga Ia tidak ada tugas untuk datang mengawal pesta.


Drrrrttt..... Drrrrrttt.. Drrrtttt..


Ponsel Ardi bergetar. 'Vino' terpampang dilayar ponsel itu. Alya melirik ponsel Ardi Kemudian Ardi pun beranjak dari kursi diruang makan mencari tempat aman untuk mengangkatnya dan memastikan jauh dari Alya. Alya yang awalnya acuh namun saat melihat gerak gerik Ardi yang tak biasanya membuat ia curiga dan mulai menguntitnya dari belakang. Ardi celingukan memastikan kondisi aman dan mengangkat teleponnya. Ardi tak menyadari bahwa Alya menguping pembicaraannya.


"Ya"


"Baik"


"Aman"


"Saya pastikan Nona tidak hadir ke pesta ulang tahun perusahaan. Akan saya jaga Nona dengan baik."


"sama-sama"

__ADS_1


Ardi menutup ponselnya dan kembali ke meja makan yang sudah ada Alya disana.


*syukurlah dia tidak mendengarnya* Ardi


*Apa? Pesta ulang tahun? mengapa aku tidak boleh menghadirinya? Ada apa sebenarnya? Apa suamiku akan datang bersama Clara? siaaalll. Lihat saja nanti. Ini semua karena aku tidak membawa ponselku.. Aaahh kenapa seceroboh ini* Alya


Ibu dan Ayah tidak mencurigai Alya yang tadi tiba-tiba pergi ke toilet padahal mengikuti Ardi. Setelah makan mereka tidak ada yang beranjak dari meja makan. Mereka masih berbincang-bincang bersama.


"Alya nanti antarkan Ibu ke Supermarket disana ya. Beberapa kebutuhan pokok sudah habis. Kamu juga tumben-tumbennya makan terus. Sampai-sampai stok cemilan juga habis" ucap Ibu.


"Beuh mungkin kamu dirumah Tuan Iky malu-malu ya makannya? Jadi pas dirumah kamu melahap semua sisa lauk... Hahaha" Ardi mentertawakan Alya.


"Iiihh apasih. Aku seperti biasa kok." Alya kesal dengan sikap Ardi.


"Iyah kamu makannya banyak. Dan mudah sekali marah. Apa si bulan sedang bertamu?" Tanya Ibu kepada Alya.


"Belom waktunya bu. Lagi pula aku biasa aja buuu" Tanpa sadar Alya mengambil roti dan mengoleskan selai strawberi.


Kedua orangtuanya dan Ardi hanya bisa terkekeh pelan takut menyinggung Alya lagi. Usai mereka makan siang Alya kembali ke kamarnya. Membuka isi lemarinya. Melihat satu persatu baju pestanya. Mencocokkan pakaian mana yang akan ia kenakan malam ini. Alya memang berencana akan datang diam-diam tanpa sepengetahuan yang lain.


Sementara Iky masih sibuk menyiapkan berkas-berkas yang akan ditunjukkan malam ini kepada semua orang. Vino juga membantunya. Mereka berada di dalam ruangan rahasia.


"Semua harus berjalan sesuai dengan rencana kita. Apa kamu sudah menghubungi orang yang ku suruh? Minta mereka datang sesuai waktu yang sudah ditentukan." Mata tajam Iky menatap layar lebar yang menampilkan wajah Plontos Pak David.


.


.


.


Bersambung ya kak


Mohon bantuan vote, like, dan komentarnya. Semoga berkenan membacanya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2