Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)

Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)
Tolong Aku Tuan Iky


__ADS_3

60 menit kemudian


Alya sudah mengenakan dress hitam selutut. Tanpa sadar dress yang dipakai selaras dengan kemeja santai yang dikenakan Iky saat itu. Hatinya berdegup kencang. Kakinya terasa lemas. Dengan ragu, Alya membuka pintu kamar. Ibu dan Ayah sudah memasang wajah geram menunggu Alya.


Rasa takut Alya melihat Ibu lebih dari rasa takutnya melihat pria-pria seram itu. Diperhatikannya hanya wajah damai Iky lah yang membuatnya ingin berlindung. Alya pun berlari kecil ke arah Iky. Alya begitu takut melihat tatapan Ibu yang tidak lelahnya lepas dari Alya.


"Tuan.. Lindungi aku. Ada apa dengan wajah mereka. Mengapa seolah mereka menerorku? Apa hari ini adalah hari kematianku? Sehingga mereka semua ingin menjemputku menuju jembatan akhirat?" Alya mengumpat di balik lengan besar Iky.


Iky pun tersenyum melihat perilaku kekanakan Alya. Ia pun menarik lengan Alya dan menggesernya kedepan dirinya. Kemudian ia memperkenalkan pria sedikit bule yang sedang duduk berhadapan dengan Ayah. Wajah pria tersebut sangat mirip dengan Vino. Alya pun celangak-celinguk mencari Ardi dan Vino. Saat melihat sekeliling dia menemukan Vino yang sedang berdiri di dekat tangga. Sedangkan ia tidak melihat keberadaan Ardi


"Tuan, dimana Mas Ardi? Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatnya" Alya heran.


"Kau fokus saja dengan pria gendut yang disana. Anggap saja dia itu Mas mu!" Iky berbisik kepada Alya.


Alya pun mencubit lengan Iky dan kemudian menundukkan kepalanya dan memperkenalkan dirinya. Tak lama pria itu memperkenalkan diri dan membicarakan maksud kedatangannya. Pria tersebut adalah Ayah Vino, sang Ajudan yang membesarkan Iky. Ia tinggal di Eropa akhir-akhir ini karena harus mengurus perusahaan Iky disana. Kemudian ia mengatakan bahwa kedatangannya yaitu ingin melamar Alya. Alya pun terkejut karena mengira bahwa lelaki itulah yang akan menikahinya.


"Tuan, tolong aku!! Bawalah aku pergi dari sini. Aku tidak mau menikah dengan lelaki tua itu." Bisik Alya yang kemudian menggeser tubuhnya kebelakang Iky.


Semua orang sontak tertawa terbahak-bahak kecuali pria berjas hitam yang berdiri siaga.


"Hahahaha Bukan aku yang akan menikahimu Nak Alya. Tapi Tuan ku yang sudah ku anggap seperti anakku sendirilah yang akan ku nikahkan denganmu. Ya. Pria itu lah yang tak hentinya kau genggam tangannya dari tadi. Ternyata kalau sudah begini kita tidak perlu repot menunggu benih cinta itu tumbuh. Hahahah" Ucap Ajudan itu.


Alya perlahan melepaskan tangannya yang mencengkram tangan Iky. Namun sekarang gantian. Iky yang menggenggam tangan Alya.


"Tuan dan Nyonya, saya sudah berjanji pada Reza akan melindungi Alya semampu saya. Karena terlalu merepotkan mengurus Alya yang memiliki energi dan perasaan tanpa batas jika berada jauh dari saya. Maka saya akan melamar anak anda Tuan. Semoga anda merestuinya." Iky pun membuka pembicaraan.


*apaa? sudah gila mereka semua*


"Aku mendengar suara hatimu Nona" Iky kembali berbisik kepada Alya.


"Aaah yang benar? aku tidak mengatakan apapun Tuan, jangan sungkan meledekku dengan memanggilku Nona" Mereka pun sibuk berdebat dalam bisikan

__ADS_1


Usai perbincangan dan makan-makan, Alya pun mengajak Iky menuju Gazebo yang berada di atap rumahnya.


"Tuan, apakah kamu serius melakukan pernikahan ini? kita bahkan tidak saling mencintai. Kamu berhak mendapatkan wanita yang layak untukmu. Bukan aku!.." Panjang lebar Alya berusaha menolak pernikahan ini.


"Aku tidak pernah merasakan cinta. Bahkan aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Sedangkan kamu memiliki Ayah dan Ibu yang menyayangimu. Aku juga ingin merasakannya. Cinta perlahan pasti akan tumbuh jika kita bersama." Iky menggenggam jemari Alya dan menatap Alya.


Alya merasa hatinya berdegup kencang. Ia merindukan Reza yang sering sekali menatap dan menggenggam jemarinya seperti saat ini. Tanpa disadari air matanya pun menetes. Lebih terkejut lagi Iky menghapus air mata di pipi Alya dan menyentuh lesung pipi Alya.


"Kau tau Tuan, dalam lubuk hatiku masih tersimpan dengan baik cintaku pada Reza. Aku tidak ingin menyakitimu." lirih Alya mengucapkannya.


"Tidak apa. Kita akan mencobanya pelan-pelan. Semua akan hadir jika ada waktunya" Iky pun memeluk Alya. Sedangkan Alya hanya diam terpaku menangis tanpa membalas pelukan Iky.


"Hari ini aku sudah mengatur jadwal. Kita akan pergi bersama mengunjungi Boutique dan toko perhiasan Almh. Ibuku dan membeli perlengkapan yang kau butuhkan" Imbuh Iky.


Seharian ini mereka habiskan bersama. Mereka di temani oleh Vino. Hingga malam pun larut. Iky mengantarkan Alya pulang. Mungkin lelah sudah memaksa Alya untuk memejamkan matanya. Lagi-lagi Alya tertidur pulas. Kali ini Alya tertidur di bahu Iky disampingnya. Iky dengan refleks menyanggah kepala Alya dan membelai lembut wajah dan rambutnya.


...


Keesokan harinya. Seperti biasa Alya berencana bangun siang. Diraihnya jam digital diatas nakas.


Baru saja menguap dan garuk-garuk kepala di atas tangga, Alya sudah melihat rumahnya ramai dengan saudara-saudaranya. Jam 13.00 lewat Alya baru keluar dari kamarnya. Rumah pun dipenuhi dengan saudara-saudaranya yang juga ingin memeriahkan pernikahan mereka. Alya masih tidak berpikir kesana. Ia hanya menganggap bahwa mereka hanya sekedar berkunjung.


"Duh calon pengantin bangunnya siang sekali." Sapa Bibi


"Hai Paman dan Bibi. Tumben sekali kalian berkunjung kerumah kami." Alya pun menyalami mereka.


"Lho. Kami diberitahukan oleh Ayah Ibumu kamu akan menikah besok. Kami pun akan menginap disini. Kapan lagi kan hadir di pernikahan mewahmu!" Ledek Paman yang selalu begitu.


"Apaaa? Besok? Benarkah Bu?" Alya pun merengek kepada Ibunya. Ibu hanya mengangguk menjawab Alya.


"Kenapa cepat sekali? Aaaahhh Kenapa Ibu tidak memberitahuku?" Alya kembali merengek dan menghentak-hentakan kakinya ke lantai. Namun tiba-tiba saja ia teringat Ardi.

__ADS_1


"Oh Iya Bu, Apa ibu melihat Ardi akhir-akhir ini? Biasanya walau aku tidak ada dirumah Ardi sering sekali mengunjungi Ibu. Dengan alasan hanya untuk makan masakan Ibu lah atau apalah. Apa ia tidak melakukannya lagi?" Tanya Alya heran.


"Kamu tidak tahu Alya? Ardi sudah pergi bekerja di Eropa. Ia sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Pak David. Sekarang Ia bekerja di perusahaan yang di kelola calon suamimu" Jawab Ibu.


"Ah.. Berarti sekarang tidak ada lagi yang bisa menolongku.. huaaaa Mas Ardi kembalilaaah!!" Alya merengek kembali.


Mereka pun bersenda gurau. Suara keponakan Alya dan sepupunya meramaikan rumahnya kala itu. Tidak sekali Alya pun berkejaran dengan anak-anak tersebut. Berulang kali ia mengadu kepada Ibu karena kelelahan di ledek oleh sepupu dan keponakannya.


Saat berlarian mengejar sepupunya, Alya pun menabrak pria blesteran yang baru saja tiba. Sengaja Iky tidak memarkirakan mobilnya masuk kedalam pekarangan rumah Alya. Karena di rumah itu sudah terlihat penuh dengan mobil-mobil dan penuh dengan banyak orang.


Brukk..!!


"Aduuuh.. Sakit." Alya mengelus-ngelus keningnya.


Semua sepupu perempuan Alya tercengang dengan ketampanan Iky. Tak ada yang mengedip sedikit pun. Mereka seperti drakula yang haus akan darah saat melihat Iky.


"ehem dasar bocah ingusan ngga bisa lihat pria tampan sedikit. Cepat bersihkan air liur kalian. Bisa bahaya jika rumahku tenggelam air liur kalian!!" Ledek Alya yang tanpa sadar menggandeng tangan Iky masuk kedalam rumahnya.


.


.


.


Bersambung


.


.


Mohon bantuannya untuk like, rate dan vote nya ya.. Aku masih newbie banget bikin Novel. Mohon saran dan masukkannya agar aku bisa memperbaiki lebih baik lagi.

__ADS_1


Salam Hangat dan selamat menikmati


😘


__ADS_2