Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)

Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)
Aku Benci Kamu


__ADS_3

"Tidak Mungkin. Jika memang tahu pasti ia akan segera melepaskannya" Alya menunjukkan kecemburuannya.


"Itu tidak seperti yang kamu lihat Non" Ardi menambahkan.


"Ternyata sama saja semua pria itu" Alya menambahkan kata-kata itu dan menangis.


Tak disangka dibelakang Alya sudah berdiri Iky menatap punggungnya dengan penuh penyesalan. Iky menunduk menahan rasa bersalahnya. Dan perlahan mundur selangkah ketika mendengar ocehan Alya.


"Aku benciii suamiku... Mengapa ia tidak bisa menolaknya??? Apa terlalu mudah mempermainkan perasaanku? Bersembunyi dibalik sifat pahlawannya. Berkata mencintaiku tapi apaaa?? sebatas itu? semudah itu perasaannya kepadaku? Kenapa ??? kenapaaa Maaass??? Aku lelah dengan perasaan ini." Alya berdiri dan berteriak dihadapan Ardi. Ardi tahu bahwa Iky memperhatikannya. Saat Iky beranjak pergi dan kemudian mengurungkan niatnya. Iky pun berjalan mendekati Alya. Memantapkan hatinya menghadapi masalahnya.


"Maaf.. Maafkan aku.." Iky menunduk memegang jemari Alya yang hanya diam tidak menjawab. Hanya bisa menangis menahan sakit.


"Aku salah. Sangat Salah. Aku tidak berniat mempermainkan perasaanmu. Aku sungguh mencintaimu." tambah Iky


"Jangan membenciku. Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika harus hidup dengan kebencianmu". Setetes Air turun daru pelupuk matanya.


"Kamu pikir ada wanita yang bisa memaafkan suaminya yang sedekat itu dengan wanita lain?? wanita yang jelas-jelas mencintaimu? Kalau kamu tidak mau aku membencimu.. harusnya kamu tau apa yang harus kamu lakukan.. Terlebih lagi didepanku.. Dihadapanku.. Kaaauuu..." Alya menahan kata-katanya. Tubuhnya gemetar menahan amarah.


"Sudahlah... Aku lelah... Pergilah... Aku tak ingin bertemu kamu.. Pergilah dengan Clara.." Alya melepaskan genggaman tangan Iky dan berjalan meninggalkan suaminya yang diam terpaku. Hati Iky terasa hancur mendengar ucapan Alya. Ardi terlihat bingung, ingin mengejar Alya namun Iky terlihat terpukul. Akhirnya ia menghampiri Iky.


"Tuan.. kejarlah Alya. Pertahankan ia. Jangan sampai salah paham ini membuatmu kehilangannya." Ungkap Iky yang hanya disambut tepukan di bahunya kemudian pergi ke arah yang berbeda. Ardi pun mengejar Alya.


Sementara itu, Vino masih sibuk menyapa para investor dan tamu undangan. Ia tahu Clara sejak tadi memperhatikannya di kursi tamu. Bahkan matanya tak henti berpaling dari setiap gerakan Vino yang mengartikan bahwa ia menunggunya. Tak lama ia pun menghampirinya, duduk di disamping Clara hanya terbatas satu kursi kosong ditengah.


"Apa yang kamu mau?" Tanya Vino tanpa menoleh


"Kamu pasti tau yang ku mau" Senyum tipis Clara.


"Tak semudah itu.. Semua sudah berakhir." Vino masih terlihat dingin.


"Aku akan menghancurkan Alya. Aku akan membunuhnya." Tatap Clara kedepan mengancurkan paper cup ditangannya.


"Takkan ku biarkan itu terjadi" Vino kemudian pergi meninggalkan Clara.

__ADS_1


*sialaaan... aku tak main main Vino. Aku akan membuat dia menyesalinya* Clara


...


Di rumah.


Alya termenung di gazebo kamarnya, memeluk kedua kakinya, menahan tangisnya. Di otaknya berputar-putar tentang kenangan manisnya bersama Reza. Ia merindukan saat-saat itu. Diraihnya kalung berliontin cincin di lehernya. Membelai lembut cincin itu. Kemudian menangis.


*Sayang.. Aku rindu.. sangat rindu.. apakah kita masih bisa bersama lagi seperti dulu? Aku masih mencintaimu.. sangat mencintaimu..* Alya menangis dengan menyentuh dadanya yang terasa sangat sesak.


Sampai jam 10 malam, Iky juga belum pulang. Alya pun seakan sudah tidak memperdulikannya. Bahkan Alya sudah menyiapkan beberapa pakaian miliknya di dalam koper. Ia berniat pergi meninggalkan rumah itu dan kembali pulang. Sampai pagi menjelang Iky juga tidak nampak pulang. Sedikit khawatir dihati Alya namun tertutup rasa cemburunya. Ia tahu bahwa Iky bisa saja bermalam bersama Clara. Tanpa mau tau, Alya bergegas pergi meninggalkan rumah itu diantar Ardi.


Diperjalanan Alya hanya diam menahan tangisnya. Bahkan sesekali ia menghapus air matanya, menekan dadanya yang terasa sakit. Ardi memperhatikan Alya melalui kaca spion. Ardi sedih melihat Alya seperti itu. Biar bagaimanapun Ardi mengenal Alya sangat lama. Hati Ardi pun terasa sakit melihat kondisi Alya saat ini. Ingin rasanya menghubungi Reza, karena ia tau bahwa Reza lah yang mampu membuat Alya tersenyum kembali. Tapi Ardi tak mau membuat keadaan semakin parah.


Sampainya dirumah, kedua orangtua Alya terlihat sedang bercengkrama di kursi taman. Belum sempat Ardi membukakan pintu mobil, Alya sudah keluar dari mobil dan berlarian kearah orangtuanya. Memeluk Ibu dan menangis sekuat-kuatnya hingga kedua orang tuanya heran. Ibu hanya membalas pelukan Alya, tersenyum dan kemudian membelai lembut rambutnya.


"Jika kamu tidak mau cerita sekarang tidak apa. Masuklah. Akan Ibu buatkan cemilan untukmu." Ajak Ibu merangkul Alya masuk kedalam rumah. Ibu mengajak Alya ke sofa diruang tamu.


"Jangan pergi Bu.. temani aku dulu" Alya kembali memeluk erat tubuh Ibu.


"Jadi, kamu masih mau menutupinya?" Ayah menatap Ardi yang selalu membuang wajahnya menghindari pertanyaan Ayah.


"Anak kurang ajar.. Kamu sudah berani-beraninya melawan Ayah ya!" Ayah mencoba mencari celah kelemahan Ardi.


"Sudah yah ampun. Ayah tau aku tidak punya Ayah lagi. Hanya Ayah yang sudah kuanggap sebagai Ayahku sendiri. Tapi jangan jadikan kelemahanku ini untuk melewati batas pekerjaanku yaaah.." Ardi merengek pada Ayah. Ya. Ardi memang selalu manja dihadapan Ayah dan Ibu Alya. Karena ia sudah dianggap seperti anak sendiri. Bahkan sering kali merengek tanpa malu hanya mengucap rindu pada Ayah dan Ibu.


"Terserah..." Ayah mencari cara lain dengan meninggalkan Ardi berharap Ardi memanggilnya kembali dan menjelaskan apa yang terjadi. Ardi hanya menghentak-hentakkan kakinya dan menggerakkan tangannya ke atas dan kebawah seakan menunjukkan kerisauannya.


...


Diapartemen Iky.


Iky terlihat sangat kacau. Matanya memerah. Wajahnya terlihat kusam dan sendu. Puntung rokok dan beberapa botol minuman berserakan. Vino hanya bisa menunggunya diluar tanpa mengganggunya karena Vino harus menghandle pekerjaan Iky disaat Iky seperti ini.

__ADS_1


Braaak!!!


Iky menendang sofa


Braaakk!!!


Iky melemparkan beberapa pajangan di nakas ke lantai..


Praaang!!!


Iky memecahkan lemari kaca hingga punggung jarinya meneteskan darah segar.


Vino pun segera memaksa masuk kedalam kamar. Kamar sudah terlihat berantakan. Vino menghubungi Roby Dokter keluarga Iky. Hanya membutuhkan waktu 30 menit, Roby sudah sampai bersama perawatnya. Kemudian Roby memeriksa keadaan Iky. Sedangkan perawat membersihkan lukanya. Beberapa pelayan Apartemen yang juga karyawan Iky berdatangan membersihkan ruangan. Iky terlihat kosong pandangan seakan tak menyadari orang-orang disekitarnya. Ia hanya diam membisu.


Untung saja semua orang disana paham betul sikap Iky. Tak ada satupun kata-kata keluar dari mereka. Hingga selesai pengobatan Roby keluar dan mengajak bicara Vino untuk mengtahui apa yang terjadi. Roby adalah salah satu sahabat Iky dari kecil. Orang tua Roby adalah seorang Dokter keluarga yang merawat Ayah dan Ibu Iky. Dan sekarang menurun ke Roby.


"Vin, Apa yang terjadi? Apa dia sedang patah hati?" Tanya serius Roby kepada Vino yang hanya dibalas senyuman


"Ya. Kita pasti akan mulai sibuk sekarang. Bersabarlah Vin.. Aku pergi dulu ya kembali ke Rumah Sakit." Roby menepuk Bahu Vino dan kemudian meninggalkannya.


.


.


.


Bersambung


.


.


Mohon maaf terlambat Up.. pasti akan up lebih banyak lagi.. terima kasih yang sudah setia menunggu..

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan komentar, like, dan vote ya kakak


Terima kasih 😊


__ADS_2