Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)

Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)
Kantor


__ADS_3

Sebulan sudah Alya bekerja di perusahaan ini. Kepolosannya membuatnya sering dimanfaatkan oleh orang disekitarnya. Alya terkenal sebagai gadis periang namun juga sebagai pembuat onar karena keteledorannya.


Alya sebagai karyawati di Departemen SDM. Ia menjabat sebagai Assistant Manager HRD. Hasil kerjanya sangat memuaskan walaupun teledor, Alya mampu menyelesaikan semua masalah pekerjaannya.


Hingga suatu hari Alya mendapat kabar bahwa Reza naik jabatan dan akan dipindahtugaskan ke luar kota untuk jangka waktu yang lama.


Bergegas Alya memasuki ruangan Reza.


“Tok-tok” ucap Alya dengan murung memasuki ruangan milik Reza yang tak terkunci bahkan pintu terbuka.


Reza saat ini memiliki jabatan sebagai kepala Finance. Karir yang melejit tinggi. Semua karyawati sangat segan terhadapnya. Bukan hanya kecerdasan dan keramahan yang dimilikinya namun paras tampan dengan tubuh atletis yang membuat mereka tidak terima bahwa Alya merupakan kekasih Reza yang sudah menjalin kasih selama 5 tahun ini.


“hey kenapa wajahmu ditekuk seperti itu?” Tanya Reza sambil memegang dagu Alya.


“Jadi, benar kalau kamu akan pindah keluar kota? Kapan? Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya? Bagaimana dengan aku nanti kalau kamu pergi sangat jauh? Terlebih lagi aku dapat kabar bahwa kamu di luar kota hanya 2 bulan selebihnya kamu akan tinggal lebih lama di Luar Negeri” Ucap Alya tanpa jeda sehingga membuat Reza tertawa terbahak-bahak.


“lalu aku harus jawab yang mana dulu kalau kamu memberikan aku pertanyaan seperti itu sayang?” seru Reza sambil membungkuk meletakkan keningnya di bahu Alya dan memegang erat pinggang Alya dari belakang.


“jangan pergi. Ku mohon” Ucap lirih Alya yang kemudian membalikkan badannya menatap pilu Reza dan menangis sekuat-kuatnya hingga memecah keheningan suasana kantor. Semua karyawan yang berada di luar ruangan Reza serempak menoleh kedalam ruangan Reza.


Reza melirik kearah karyawan sambil tersenyum dengan memberikan isyarat tangannya seolah memberitahukan kepada semua orang bahwa keadaan baik-baik saja dan meminta mereka kembali bekerja.


"Hiks.. Hiks.." masih dengan isak tangis Alya yang langsung tenggelam dalam dekapan dada bidang Reza.


Reza membelai lembut rambut dan punggung Alya sambil terus menenangkannya. “Tidak apa sayang. Semua akan baik-baik saja. Kita masih bisa bicara lewat telepon bahkan video call.”


Ya. Alya memang sangat sedih, takut, bahkan khawatir jika jauh dari Reza. Karena Reza adalah satu-satunya Pria yang mengisi hari-harinya. Merubah keadaan hidupnya. Merubah sifat Alya yang sangat tomboy dan berantakan menjadi wanita yang lebih anggun walau hanya sedikit. Tak ada satupun pria yang mau berkencan dengannya saat sekolah sehingga tidak terlintas dalam pikirannya untuk menjalin hubungan dengan pria manapun.


Hanya Reza lah yang mampu merubah segalanya dari Alya. Reza banyak mengajarkan hal yang mengubah Alya menjadi lebih baik. Hubungan mereka pun jarang sekali bertikai. Mereka sangat romantis dan tak sedikit orang mengira bahwa mereka akan berjodoh dan bahagia selamanya.

__ADS_1


...


Malam hari Reza mengajak Alya untuk berkencan. Menonton film dan mengajaknya makan malam romantis.


Reza sudah menyiapkan kejutan manis untuknya. Dari mulai bioskop yang sengaja di sewa hanya untuk mereka berdua bersama sekertaris Ardi yang selalu setia menemaninya.


Ya. Ardi adalah sahabat terbaik Reza sejak kecil. Ardi sangat mengenal Reza. Bahkan Ardi selalu mendampingi Reza walau dalam keadaan tersulit sekalipun.


Setelah menonton film, Reza mengajak Alya memasuki Restaurant besar yang sangat mewah. Kali ini Reza tidak menyewa untuk mereka saja. Sesuai permintaan Alya.


Berbagai macam menu manis tersaji. Bunga Lily menjadi hiasan meja makan mereka malam ini. Alya terlihat sangat bahagia. Namun di balik kebahagiaan yang terlihat, hati kecil Alya menjerit menahan tangis. Ia tahu bahwa Reza berusaha membahagiakannya.


Malam pun larut, Reza mengantarkan Alya menuju rumahnya. Reza memberikan ciuman manis di kening Alya. Mencium punggung tangan Alya dan memeluk erat tubuh mungil Alya.


"Besok tidak perlu kekantor ya Sayang. antarkan aku ke Bandara. Aku sudah meminta izin kepada Lucky" Mohon Reza kepada Alya.


Reza hanya tersenyum, memandang wajah Alya yang menunduk kemudian memegang dagu Alya dan mengarahkan pandangan Alya kepadanya


"Aku tidak mau hari esok cepat datang. Aku tidak mau kamu pergi. Tinggallah disini." Rengek Alya


"Jangan bersedih. Kasihan lubang dipipi mu pasti tidak akan terlihat jelas. Tersenyumlah" Pinta Reza sambil menusuk pipi Alya.


...


Di Bandara..


Alya tak henti-hentinya menggenggam tangan Reza sambil menahan air matanya terjatuh. Reza pun tak henti memandang wajah Alya sambil menekan telunjuknya ke lubang pipi Alya. Ya. itulah kebiasaan Reza. Karena lesung pipi Alya lah yang membuat Reza jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Sayang 15 menit lagi kamu harus pergi. Jaga diri kamu baik-baik. Jangan sakit. selalu berikan aku kabar. Jangan mengganti Nomor teleponmu. Tidurlah yang cukup. bla bla bla …..” dan ribuan kalimat petuah yang diucapkan Alya tanpa jeda yang diulang-ulang sepanjang perjalanan hingga Reza semakin hafal. Tak segan Reza mengikuti kalimat-kalimat Alya.

__ADS_1


Hanya senyum yang terlihat di ujung bibir Reza.


“Sayang, aku sudah harus berangkat. Aku pasti akan kembali menjemputmu dan membawamu bersamaku. Tinggallah bersamaku. Jadilah Ibu dari anak-anakku. Ayo kita raih mimpi bersama” Ujar Reza dengan senyum manis sambil mengalungkan sebuah kalung berisi cincin kepada Alya.


“aaa ini apa Sayang?” Alya pun sontak kaget


“Jaga baik-baik hubungan kita yah. Biar jauh tapi kamu selalu ada disini dan disini” Reza menyentuh kepala dan dada Alya sambil memberikan kode ibu jari dan telunjuk yang membentuk pola hati dan mengedipkan satu matanya kepada Alya.


Reza paling tahu bahwa Alya sangat menyukai drama korea dan sering mempraktikannya kepada Reza setiap saat.


Kecupan dikening dan bibir Alya mengantarkan Reza. Alya hanya bisa menangis terisak isak memandangi punggung Reza yang semakin jauh. Berulang kali Reza menoleh dan memberi isyarat dekapan tangan seolah memeluk dan menghapus air mata Alya.


Alya hanya bisa menangis melihat kepergian Reza.


Sepanjang perjalanan pulang, Alya diantar oleh Ardi. Kali ini Ardi tidak menemani Reza. Karena Reza memerintahkan Ardi untuk menemani Alya.


"Mas Ardi, Apakah Reza akan pergi lama?" tanya Alya polos sambil menunduk


Ardi tidak menjawab satu katapun. Lirikan matanya ke arah spion memperhatikan Alya yang sudah terlihat sangat berantakan.


*maafkan aku Alya. karena Ardi mungkin tidak akan kembali lagi ke negara ini * ucap Ardi dalam hati.


Sampai dirumah, Alya berlari memasuki kamarnya. Ibu Alya khawatir melihat anaknya yang menahan tangis. Kemudian Ibu Alya menghampiri Ardi dan berkata "kamu juga akan berangkat menemani Reza nak?"


"Mungkin 2 bulan kedepan saya akan menyusul Reza Bu. Saya harus menyelesaikan pekerjaan yang ditinggalkan Reza selama masa pelatihan di Luar Kota." jawab Ardi sambil memegang cangkir teh yang sudah disiapkan Ibu Ani sebelumnya.


"Kasihan Alya. Pasti Alya akan sedih jika mengetahui bahwa Reza akan pergi dalam jangka waktu yang cukup lama" keluh Ibu memegang dadanya dan mengusap kening kemudian menggesernya ke pipi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2