
Di sebuah bangunan tua.
Alya mulai membuka matanya. Semua pandangan terlihat samar. Kepalanya terasa berat. Pusing. Badannya terasa sakit. Alya mencoba menggerakkan kepala dan membuka matanya hingga pandangan semakin jelas. Ia tidak bisa menggerakkan kaki dan tangannya. Karena terikat disebuah kursi. Mulutnya pun tidak bisa bicara. Ia memperhatikan sekitar. Seperti berada didalam gudang. Kotor dan banyak sarang laba-laba. Semua terasa dingin. Alya pun berteriak sambil menggerakkan badan dan berusaha melepaskan ikatannya. Namun tak ada satupun orang disana.
Alya mencoba menggerakan kedua pergelangan tangan dan terus mencoba melepaskannya. Rasa takut terus menghantuinya. Semakin ia berusaha semakin keras ikatannya. Ia hanya bisa menangis dan terus berusaha menggerakkan kursinya.
*Ya Tuhan. Aku dimana? Tolong aku Tuhan*
*Suamikuu tolong aku. Aku takut*
Hiks.. hiks
Sementara Iky masih didekat mobil yang dikendarai Alya menunggu kabar Vino yang sedang mengecek CCTV sedangkan para ajudan Iky mengejar jejak mobil yang membawa Alya. Mereka terhubung melalui earphone dengan Vino. Tom, salah satu sahabat Iky yang juga bekerja sebagai Agen Rahasia Kepolisian terlihat menenangkannya. Tak begitu lama dering ponsel Iky berbunyi. Salah satu pimpinan ajudan menghubunginya.
"Apa? Digudang? Baik aku dan Tom akan menuju kesana. Pastikan tak sedikitpun ada luka ditubuh istriku!."
Tom melarang Iky mengendarai mobil, ia pun mengambil alih aktifitas itu dan sangat cepat. Agen terlatih dapat menguasai jalan tanpa harus menghambat rambu-rambu lalu lintas. Iky sengaja hanya menghubungi Tom dan tidak dengan semua tim kepolisian. Karena ia tau jika menghubungi polisi pun akan membahayakan istrinya. Tak lama mereka pun tiba. Jauh dari kota. Tapi masih dipinggiran pusat kota.
Sekeliling gudang itu hanya ada beberapa mobil milik Iky. Tak ada tanda ada orang lain. Iky bergegas masuk. Ditemuinya pimpinan Ajudan yang sudah memakai seragam antipeluru.
"Dimana Alya?"
"Kami belum menemukannya Tuan. Beberapa dari kami sedang menelusuri bangunan ini. Namun sepertinya tidak ada satupun orang mereka disini."
...
kkkrrrkk..kkkrrkk
Suara earphone terhubung.
"Kami menemukannya Pak"
"Baik segera kesana. Lindungi Nona"
__ADS_1
Mereka berlari menuju lantai bawah. Mendobrak sebuah pintu. Iky pun melihat Alya sudah terjatuh dari kursi. Matanya terlihat sembab menangis. Iky membukakan lakban dan ikatan dikakinya sedangkan Tom membukakan ikatan di tangan dan pinggangnya. Setelah semua ikatan terlepas Alya segera memeluk Iky dan menangis.
"Aaaku takuuut"
"Tidak apa. Jangan takut. Aku sudah disini."
Mereka berjalan keluar gudang tersebut. Iky menggendong Alya karena kakinya terluka. Sedangkan Para Ajudan siap siaga memperhatikan sekitar takutnya ada musuh yang menyelinap. Namun Clear! dan mereka
segera membawa Alya menuju Rumah sakit miliknya. Sedangkan para Ajudan kembali ke kediaman Iky.
...
Di Rumah Sakit.
"Aneh Tom. Mengapa mereka meninggalkan Alya sendirian disana? Apa ini ulah Pak David? Atau ulah beberapa musuh mafiaku?
"Kita akan segera memecahkan permasalahan ini. Kamu beristirahatlah. Biar aku dan Vino yang akan menemukan biang keladinya." ucap Tom memandang wajah geram Iky dan menepuk bahunya.
"Permisi Tuan. Nona Alya manggil anda." Ucap salah satu Perawat.
"Haai.."Iky menyapa disambut dengan senyuman hangat istrinya sambil merentangkan kedua tangannya yang disambut balik oleh Iky.
"Maafkan aku suamiku.. " Alya pun menjelaskan kejadian yang menimpanya kemarin.
"Tidak apa. Tom akan mengurus semuanya bersama Polisi. Kamu hanya akan diminta keterangan saja oleh mereka." Iky membelai lembut rambut Alya yang benar-benar sudah tidak nampak seperti rambut singa.
Benar saja. Tak begitu lama salah satu Detective pun datang untuk mencari tahu siapa biang keladi penculikan ini. Tom pun mendampinginya saat meminta keterangan kepada Alya. Alya pun menceritakan semua kejadian itu. Penculikan aneh menurut Iky. Tidak ada satupun orang di gudang itu. Hanya ada Alya yang dibekap disana. Apa tujuan para penculik itu.
...
Keesokan pagi.
Sinar hangat matahari pagi membangunkan Alya yang masih terbaring di RS. Ia melihat Iky tertidur dikursi dan menyandarkan kepala di tangan Alya. Alya membelai lembut rambut Iky dengan tangan satunya. Memandangi wajahnya dan mulai menelusuri wajah suaminya dengan jari telunjuk. Wajah blesteran dengan jenggot tipis yang memenuhi hampir sebagian pipinya, Alis tebal, bibir merah yang tipis, hidung yang sangat mancung, dan terus mengabsen bagian wajah lainnya. Tampan. Meski lelah, ketampanannya tidak memperlihatkannya. Wajah Iky memang sangat bertolak belakang dengan wajah Reza. Reza yang agak sedikit mirip orang Jepang campuran Jawa karena Kakeknya masih keturunan Jepang. Sedangkan Iky Wajah Eropa campuran Sunda.
__ADS_1
Iky membuka matanya. Tersenyum lembut kepada istrinya. Tak begitu lama datanglah keluarga Alya. Ibu pun terlihat heboh dan sibuk memarahi Alya. Untung saja Alya berada di kamar perawatan milik Iky yang kebisingannya tidak terdengar keluar. Lebih lagi kamar ini hanya ada satu dan hanya ada dibagian kanan gedung. Sedangkan kamar VIP lainnya berada disebrang sisi.
"Kamuuu mau bertindak konyol seperti apalagi anak nakal?" Mata ibu hampir keluar.
"Kamu memang Hobi ya bikin kami semua khawatir. Kamu pikir...." Panjang lebar Ibu memarahi Alya saat itu. Iky dan Ayah tertawa melihat tingkah mereka. Dilubuk hati Iky, Iky sangat bahagia memiliki orang tua lagi. Walaupun hanya mertua. Tapi Iky menganggap mereka sudah sebagai orangtuanya.
Sore ini Alya pun diperbolehkan pulang. Ayah dan Ibu ikut mengantarkan ke kediaman mereka. Takjub Ibu terlihat sedikit agak Norak melihat Rumah dan pekarangan luas Alya. Ibu berkali-kali terlihat kegirangan menggerakkan lengan Alya.
"Ibu jadi ingat jaman Ibu kecil di rumah Nenekmu Alyaa.. aaaahh Ibu senang sekali berada disini. Beruntungnya kamu Nak. Berada di kota tapi tetap bisa merasakan kesunyian." Ibu berseri-seri kagum.
"Iiihh udah bu.. Maluuu.. Ibu keliatan norak didepan suamiku. Lagi pula kita tinggal di pinggiran kota kok Bu.." Alya mencoba menghentikan tingkah Ibu.
Ayah hanya tertawa. Tak menghentikan mereka. Karena bagi Ayah jika ayah menyuruh Ibu berhenti malah akan membuatnya sedih. Jadi Ayah membiarkannya dan melanjutkan obrolannya dengan Iky. Iky pun terlihat sesekali menggarukkan kepalanya karena bingung menanggapi ocehan Ibu yang berulang kali takjub dengan rumah itu.
Mereka pun melanjutkan perbincangan diruang tamu. Sampai malam tiba, Iky meminta Ayah dan Ibu menginap. Namun ayah menolaknya karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikannya. Iky dan Alya mengantarkan kedua orangtuanya sampai kedepan pintu rumah utama. Padahal Ibu masih mau lama-lama disana. Ibu juga tak henti merengek pada Ayah untuk kembali lagi. Ibu penasaran dengan cerita Alya tentang peternakan dan kebun Anggrek milik Iky. Kemudian Alya dan Iky melambaikan tangan mereka yang disambut kepala ibu yang keluar dari jendela mobil sambil teriak.
"Jaga dirimu baik-baik ya Nak. Nanti kapan-kapan Ibu balik lagi. Daaaahhh" teriak Ibu.
"Kamu berdua saja seperti Ibu-Ibu yang sedang arisan." oceh Iky meninggalkan Alya.
"Apa maksudmu? Heeeii tunggu.." Alya mengejar Iky dan kemudian Iky menyambut dan menangkap Alya. Menggendongnya menuju kamar.
.
.
Bersambung
.
.
Jangan lupa tinggalkan like ya kak.
__ADS_1
Rate dan Vote nya juga..
Terima kasih 😘