
Saat melewati gerbang utama. Ada terdapat 2 buah rumah. Yang satu terlihat sebagai rumah utama. Sedangkan yang satu terlihat seperti rumah klasik gaya Eropa. Alya pun penasaran, tetapi sepertinya tidak ada seorang pun yang menempatinya. Disekelilingnya banyak sekali pria berjas hitam dan memakai kacamata hitam. Dari mulai memasuki gerbang sampai di depan rumah utama.
Saat turun dari mobil. Alya pun memandangi pemandangan sekitar. Melihat pepohonan yang tinggi dan rindang. Alya menghirup udara yang seakan ia membayangkan berada di pegunungan. Padahal rumah ini terletak dipinggir kota. Bukan di dalam komplek. Hanya dipinggir jalan.
Alya masih merasa takjub. Iky pun menggandeng Alya memasuki rumahnya. Semua pelayan sudah menyambut kedatangan mereka. Vino, hanya dia lah yang Alya kenal. Vino berdiri disamping kepala pelayan. Jika dihitung dari pintu gerbang sampai dengan pelayan yang menyambutnya rasanya Alya tak bisa menghitung jumlah mereka. Terlalu banyak.
Kemudian kepala pelayan memperkenalkan diri. Pak Supri namanya. Ia adalah kepala pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun dirumah ini. Rumah Iky benar-benar unik. Gaya vintage khas Eropa memberikan kesan nyaman. Beberapa bagian dinding rumah ini terbuat dari kaca ramah lingkungan. Alya sangat menyukainya. Bahagia sekali. Kesan pertama Alya yang datang kerumah barunya. Iky menyadari yang dirasakan Alya. Entah sejak kapan, Rasa cinta Iky kepada Alya semakin tumbuh dan bertambah setiap waktunya.
Saat tiba di kamar, Pak Supri pun menyampaikan agar Alya dan Tuannya beristirahat. Besok Pak Supri akan mengajak Alya jalan-jalan keliling rumahnya.
"Cool! Aku suka banget dengan rumahmu. Wah ini sih aku bakalan betah terus di rumah tanpa harus merengek minta kerja. Terima kasih suamikuu.." Alya pun memeluk Iky dari belakang.
Tapi tiba-tiba Alya baru menyadari apa yang barusan ia lakukan. Ia pun segera melepaskan tangannya dari pinggang Iky. Namun Iky menahannya.
"Maaaf Tuan.. Aku terlalu senang sampai aku lupa menjaga sikapku." ucap Alya
"Kau tidak perlu minta maaf. Tetaplah seperti ini. Aku menyukainya."
Alya pun tersenyum, dan menambahkan pelukannya. Kemudian Iky pun membalikkan badannya sehingga mereka saling membalas pelukan. Iky kemudian mencium kening Alya. Tak begitu lama dering ponsel Iky bun berbunyi. Iky mengambil ponsel yang berada di sakunya. Vino memanggil.
Masih memeluk Alya kemudian Iky meninggalkan Alya menuju ruang kerjanya. Alya sudah paham betul posisi suaminya yang sebenarnya sibuk. Alya kemudian berkeliling kamar megah milik Iky.
*Mengapa kamar ini sangat polos. Tak ada satupun foto yang terpampang. Dinding kamar ini begitu kesepian. Apa selama ini Tuan Iky sangat kesepian? Kasihan dia*
Alya terus menelusuri setiap inci kamarnya. Semua warna dikamar ini terlihat kelabu tanpa hiasan. Sangat berbeda dengan design diluar kamar. Hampir semua barang dikamar ini berwarna hitam dan abu-abu. Alya pun membuka jendela kamar. Dilihatnya rumah klasik yang tadi dia lewati. Alya sendiri bertanya-tanya dalam hati mengenai rumah itu.
Saat membuka nakas, Alya melihat buku tebal. Penasaran Alya membuka buku tersebut. Namun selembar foto jatuh dari dalam buku itu. Terlihat Iky sedang berfoto di rangkul oleh Clara. Ya. Alya mengingat Clara yang hadir di pesta pernikahannya. Tapi ada yang janggal wajah Iky terlihat acuh dengan Clara. Sedikit rasa lega melihatnya. Alya meraba wajah tampan Iky sambil tersenyum. Dibaliknya foto tersebut Alya kemudian lemas. Hatinya terasa sakit membacanya. My love dengan lambang cinta dua berjejer.
__ADS_1
*Mengapa hatiku terasa sakit membacanya.*
Alya segera menutup buku tersebut dan mengembalikannya kedalam nakas. Alya pun duduk diatas ranjang sambil menitikkan air mata. Tiba-tiba ponsel Alya berbunyi. Terpampang nama Reza di layarnya. Alya ragu mengangkatnya. Rasanya ingin mengangkat tp rasa takut menerpa dirinya. Ia selalu mengingat pesan Ibu. Jika sudah menikah tidak boleh menjalin hubungan dengan mantan walau hanya sebatas teman. Pikirannya pun terganggu. Ragu Alya kemudian mengangkatnya.
"Halo.." Sapa Reza.
"Sa.. eh maksudku iya Reza. Ada apa?" Jawab Alya.
"Hmm tidak apa. Aku hanya ingin mendengar suaramu. Aku merindukanmu." Ucap Reza.
Ingin rasanya Alya membalas juga merindukannya. Namun mulutnya enggan berkata apa-apa. Alya pun mematikan ponsel tersebut dan kembali menangis. Tak begitu lama Iky masuk kedalam kamarnya. Iky menyadari Alya sedang menangis. Iky pun duduk disamping Alya. Kemudian mencium bahu Alya dan memeluknya dari samping.
"Aku tidak akan bertanya apa yang sedang kau alami. Tapi percayalah aku sekarang milikmu. Kau tidak perlu menakuti hal yang tidak perlu kau takuti." Iky menenangkan.
Alya pun makin menangis. Yang dirasakan Alya saat itu sangat merindukan Reza. Hanya saja ia mulai merasakan kenyamanan jika berada disisi Iky. Kemudian Iky membaringkan Alya. Mengalaskan lengannya untuk kepala Alya. Membelai rambut Alya dan mengusap punggungnya. Alya pun terpulas menyisakan isakan tangis yang masih terdengar. Saat Alya tertidur, dering ponsel Alya kembali berbunyi. Sayangku. Nama itu tertulis dalam layar.
Tak ada jawaban dari Iky. Iky menuju ruang kerjanya sambil mendengar suara Reza. menutup kamar dengan pelan.
"Alya, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Aku benar-benar kehilanganmu. Tapi aku tidak sanggup jika harus melihatmu terluka. Aku merasakan sakit menyiksa dadaku saat aku mengetahui kamu menikah. Ada rasa lega karena kamu menikah bukan dengan orang yang salah. Aku yakin Iky akan bisa mencintaimu lebih dari Aku. Dan ia akan menjagamu tidak seperti aku."
"Sayang, apa masih pantas aku memanggilmu sayang? apa masih pantas aku berada dalam hati dan pikiranmu? apa masih pantas aku menjadi orang yang kamu cinta?"
Terdengar Lirih suara Reza.
Iky pun merekam semua pembicaraan tersebut. Namun Iky tidak menjawab sama sekali perkataan Reza. Biarlah Reza menganggap bahwa Alya mendengarnya. Iky kembali kekamar dan melihat Alya tertidur pulas. Ia pun ikut membaringkan tubuhnya disamping Alya dan ikut tertidur pulas.
...
__ADS_1
20.00
Alya pun terbangun dan melihat wajah Iky yang sedang tertidur pulas memeluknya. Ia pun menggeser tangan Iky dan kemudian membelai lembut wajahnya dan tak henti memandangnya. Iky menyadarinya dan menikmatinya sehingga ia pura-pura masih tidur.
*Perasaan apa ini? Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Ya walaupun sudah sepatutnya aku memang harus mencintai dia. Karena dia adalah suamiku. Dan aku harus melupakan Reza. Dialah masa depanku. Sedangkan Reza adalah masalaluku". suara hati Alya.
Alya segera bangkit dari ranjang. Namun tangannya ditahan oleh Iky. Iky kembali menghapus air mata Alya. Kemudian mengarahkan tubuh Alya diatas tubuhnya, mendorongnya dan kemudian wajah mereka sangat dekat. Iky mencium bibir Alya.
*Hahaha payah sekali suamiku dalam berciuman. Baiklah aku akan mengajarkan bagaimana caranya berciuman* ledek Alya dalam hati.
Iky memang tidak pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita manapun. Ia memang sering kali terlihat dekat dengan wanita. Namun tak sedikit pun Iky menyentuh wanita-wanita itu. Bahkan ciuman pun tidak pernah. Alya pun mulai beraksi. Iky sempat terkejut melihat perilaku Alya. Namun Iky kemudian membalikkan posisinya. Sekarang Alya lah yang dibawah Iky. Alya mulai ketakutan. Alya mencoba menghindar namun tenaga Iky lebih kuat. Iky mengunci tubuh Alya.
"Tuan.. Aku takut" Lirih Alya
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Aku suamimu sekarang. Aku bukan Tuanmu." Iky melanjutkan serangan lembut kepada Alya.
Alya yang awalnya merasa sakit semakin lama pun ikut menikmati. Malam itu menjadi malam pertama mereka berdua dan juga sebagai pengalaman pertama mereka. Berkali kali mereka melakukannya. Beberapa kali Iky melepaskan kepuasannya kepada Alya. Hingga dipertengahan malam suara perut Alya pun bergemuruh. Iky pun menghentikan aksinya dan mengajak Alya untuk makan malam.
.
.
Bersambung.
.
.
__ADS_1
Mohon bantu Like, rate, dan komennya ya teman-teman.. Terima kasih banyak dan selamat membaca