Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)

Bukan Pernikahan Yang Ku Mau (Alya)
Hotel Milik Iky


__ADS_3

Iky menyadari saat Alya yang sedari tadi terlihat murung. Semenjak kedatangan Clara. Entah apa yang dipikirkan Alya. Clara kah atau Reza? Iky ikut termenung memperhatikan Alya. Iky pun mencoba menyentuh jemari Alya yang kemudian menggenggamnya erat. Alya yang menyadarinya pun menatap Iky lama. Namun Iky enggan balik menatap Alya. Jantung Alya pun berdegup kencang.


Pesta pernikahan pun usai. Semua tamu undangan kembali kerumah masing-masing. Iky yang sudah berencana kembali pulang mengurungkan niatnya tersebut. Vino sudah mempersiapkan kamar milik Iky di hotel ini. Ya. Pesta ini memang dirayakan di Aula salah satu Hotel terbesar milik Iky. Disini pula Iky memiliki kamar hotel khusus miliknya. Kamar itu terletak di lantai paling atas gedung ini. Satu lantai teratas sudah di set milik Iky. Tak ada satupun yang bisa asal memasuki ruangannya. Hanya orang tertentu dan pelayan khususlah yang memiliki aksesnya.


Ting..!


Pintu Lift terbuka langsung berada didalam kamar Iky. Vino pun pamit meninggalkan mereka. Biasanya Vino tidak akan meninggalkan Iky walau hanya sebentar.


Alya yang memasuki kamar Iky merasa takjub melihat pemandangan malam dari atas gedung. Lampu-lampu kota gemerlap seperti bintang. Semua terlihat begitu Indah. Alya pun meraba dinding kaca, menatap kagum dengan apa yang dilihatnya.


"Apa kamu menyukainya Nona" Iky membuka percakapan.


"Waaaaahhh.. Luar biasaa.. Aku benar-benar menyukainya. Apa ini tempat tinggalmu Tuan? Beruntung sekali dirimu"


"Bukan. Ini kamar hotelku. Rumahku berada di Bandung. Dan yaaa beberapa juga ada di sini sih. Tapi tidak banyak hanya ada 3 rumah dan beberapa kamar hotel pribadi milikku." jawab Iky


"Sombong sekali Tuan ini"


"Hei kamu sudah menjadi istriku. Jadi jangan bertingkah kurang ajar padaku!" Ledek Iky sambil tersenyum


"Iya Iya Tuan" Alya pun kembali menatap dinding kaca itu.


Iky pergi mengambil 2 gelas dan menuangkan minuman. Yang pasti bukan Alkohol. Sebelum itu ia melepaskan jasnya, membuka dasinya, menggulung lengan kemejanya hingga ke siku dan melepaskan dua kancing teratas kemeja putihnya. Iky pun membawa gelas tersebut mendekati Alya yang masih mengenakan gaun. Kemudian Ia meletakkan gelas diatas meja. Disentuhnya kedua bahu Alya yang terbuka karena gaunnya memiliki kerah sabrina. Alya pun terkejut dan agak menjauh dari Iky. Namun Iky kembali mendekat pada Alya.


"Ingat pesan Ibumu Nona. Jangan menolak ajakkan suamimu. Kamu akan mendapatkan dosa." Ledek Iky berbisik ditelinga Alya.


*Sial dari mana dia tahu?*


Alya pun hanya berbalik dan menunjukkan jejeran gigi putihnya. Bolehkah aku mengganti pakaianku dulu Tuan? Akan terlalu sulit melakukannya dalam keadaan seperti ini. Alya menghindar dan berlari mencari kamar mandi. Namun ia tak menemukannya. Wajah lucu nya mencari-cari ruangan dimana kamar mandi itu berada pun membuat Iky tertawa.


"Kamu mau kemana?" Tanya Iky menahan tawa.


"Dimana kamu menyembunyikan kamar mandi?" Tanya Alya balik dengan wajah merona.


" Satu lantai saja sudah lebih besar dari rumahku. Masa tidak ada kamar mandi disini? Kamar begitu banyak apa fungsinya?" Teriak Alya.


"Hei jangan berteriak pada suamimu Nona liar. Mintalah baik-baik maka akan ku tunjukkan tempatnya." Iky masih meledek Alya.


*Siaaalll* Gerutu Alya dalam hati sambil mencibirkan bibirnya

__ADS_1


"Hehe Baiklah.. Dimanakah kamu menyembunyikan kamar mandimu?" Mendekatinya dan menyentuh tangan kekar Iky sambil memberi kesan mengelus.


"Huh baru segitu saja kamu sudah menggodaku. Baiklah ayo aku antar!"


*Seenaknyaa saja Saudagar kaya ini*


...


30 menit.


Alya masih berada didalam kamar mandi. Iky pun sibuk dengan laptopnya memantau pekerjaannya dan grafik perkembangan projectnya. Berulang kali ia menengok ke kamar mandi dimana Alya tidak juga keluar dari tempat itu. Bermacam pikiran negatif keluar. Bahkan merasuki pikirannya bahwa Alya kabur atau bahkan bunuh diri. Iky pun segera bergegas mengecek Alya.


Tok.. Tok.. Tok


"Nona Liar. Kenapa lama sekali?"


"Kamu masih ada di kamar mandi atau pingsan" Tanya Iky panik.


Masih tidak ada jawaban. Hening dari dalam kamar mandi.


"Hei Nona liar. Buka pintunya!. Atau aku akan mendobrak pintu ini dan memaksa masuk" Iky terdengar begitu panik.


"Astaga. Ada apa dengan matamu? kenapa hitam sampai ke pipimu? Apa ada orang lain didalam sana yang membuatmu seperti itu? Biarku lihat." Iky menerobos masuk kekamar mandi. Namun tidak ada orang lain selain Alya.


Dilihatnya, Alya masih mengenakan gaun tanpa perubahan sama sekali. Hanya mata dan pipinya yang menghitam seperti lunturan cairan. Sedangkan matanya memerah seperti menangis.


"Katakan! Apa ada orang lain yang membuatmu seperti ini?" Iky panik.


Alya hanya menunduk menahan malu. Kemudian Iky menggeser tubuh Alya hingga duduk diatas Closet. Iky berjongkok dan melihat wajah Alya dengan panik. Menghapus air mata Alya yang berwarna hitam.


"Kamu baik-baik saja?"


Alya hanya menggelengkan kepalanya.


"Lalu kamu kenapa?" Iky penasaran.


"Aku sungguh malu mengatakannya. Sebenarnya tidak ada siapapun disini. Aku hanya tidak bisa melepaskan gaun ini. Terlalu sulit meraih kancing dipunggungku. Dan rasanya begitu menyesakkan. Jadi itulah sebabnya mengapa mataku hitam sampai ke pipiku" Alya menutup wajahnya.


"Mau ku bantu melepaskannya?" Iky pun meraba punggung Alya.

__ADS_1


Alya hanya diam saja. Mau tidak mau Alya butuh pertolongan Iky. Walaupun ia tidak pernah memperlihatkan bagian tubuhnya pada siapapun. Tapi bagaimanapun pikir Alya, Iky lah suaminya saat ini. Tidak mungkin jika ia meminta bantuan orang lain bahkan Vino sekalipun.


Iky melepaskan satu persatu ikatan kancing dibelakang tubuh Alya hingga memperlihatkan bagian putih mulus punggungnya. Iky hanya menelan saliva, menahan hasrat yang kian memuncak karena pemandangan didepannya. Walaupun semua ikatan kancing telah terbuka, Alya masih saja kesulitan membuka gaunnya. Akhirnya Iky membantu melepaskannya lagi. Diangkatnya kemben putih yang begitu keras mengikat tubuhnya. Hingga pasangan kembar terlihat tepat didepannya.


Iky yang merasa tidak pernah melihat tubuh wanita tanpa balutan kain secara langsung pun merasa terkejut dengan pemandangan didepannya. Alya yang memperhatikan tingkah Iky dengan sigap menutup kedua pasangan gunung miliknya. Pikiran Iky sudah menerjang kemana-mana. Setelah melepaskan semuanya, Iky pergi meninggalkan Alya diruangan itu tanpa melakukan sesuatu. Alya pun hanya terdiam.


*Sial! Apa yang aku lakukan barusan? Bukankah aku sudah resmi menjadi suaminya? Mengapa aku segan melakukannya* gerutu Iky menyesal dalam hati.


...


Beberapa menit kemudian Alya keluar dari dalam kamar mandi. Tubuhnya hanya terlilit handuk. Rambut basahnya juga terlilit handuk. Iky semakin resah melihat pemandangan didepannya.


"Kenapa kamu tidak memakai bajumu?" Tanya Iky yang melihat Alya hanya berdiri saja.


"Tu..Tuuuan aku lupa bilang aku tidak membawa baju.. Bolehkah aku meminjam bajumu Tuan?" Alya meminta dengan malu-malu.


Iky pun hanya meringis tertawa sengit. Kemudian mengajak Alya memasuki ruang ganti yang isinya semua pakaian beserta aksesoris miliknya. Alya tercengang melihat isi dalam ruangan tersebut.


"Apa ini semua milikmu? Ini semua barang mahal. Bukan di produksi dalam neg..." perkataan Alya terpotong karena Iky melemparkan kaos oblong miliknya dan diberikan kepada Alya.


Alya pun terkejut tak siap menangkap kaos itu. Lebih terkejut lagi ketika keduanya menyadari bahwa handuk yang di pakai Alya lepas dari kaitannya hingga semua tubuh Alya terlihat. Iky refleks mengambil handuk Alya dan kemudian memakaikannya kembali. Menutupi bagian yang harus ditutupi.


"Dasar Ceroboh!" Ucap Iky..


.


.


.


Bersambung


.


.


Kakak.. mohon beri like dan rate nya ya.. Lebih seneng lagi kalo dikasih Vote..


Terima kasih banyak 😘

__ADS_1


__ADS_2