
Semakin hari rara semakin merasa hubungan nya dengan anggi hambar, datar, anggi benar benar tak mengerti apa yang rara ingin kan, bukan ingin di bawakan bunga, seperti dalan film atau sinetron, terbersit Oleh rara untuk meng akhiri hubungan nya dengan anggi, tapi apa salah anggi? Terkadang rara merasa anggi terlalu baik, tapi, si sisi lain rara gadis normal ingin menjalani hidup seperti layak nya sepasang kekasih, rara ingin di perlakukan romantis, di mengerti dan itu semua rasanya tak di dapat kan dari anggi, entah cinta macam apa yang anggi miliki untuk rara, setiap malam minggu selalu datang, tapi lebih banyak saling diam, harus rara yang inisiatif memulai pembicaraan atau sekedar basa basi,
...***...
Anggi tengah tengah duduk di samping rara, ya ini malam minggu,dia tak pernah absen atau terlambat untuk datang ke rumah rara, namun semua itu bagi rara tak berarti apa apa.... rara telah membuat keputusan bahwa semua nya harus di akhiri malam ini
"Anggi.... " rara membuka pembicaraan
"ya" jawab anggi
"aku merasa hubungan ini terlalu datar, bukan aku tidak nyaman, namun aku merasa selama kita bersama tak ada hal yang membuat kita jadi istimewa,... jadi..... aku ingin kita ....... put....tuss" akhirnya keluar juga kata kata yang sekian lama telah rara rangkai, sementara anggi menatap rara tajam rara tertunduk menahan segala perasaan yang bergejolak...
"apa salahku? aku tidak pernah mendua, aku juga tidak pernah membatasi pergaulan mu dengan teman temanmu yang kebanyakan laki laki, padahal pada dasar nya aku cemburu waktu mu lebih banyak dengan dia, tapi aku sadar aku tidak sepenuhnya punya hak untuk mengatur mu, .... aku minta waktu untuk memikirkan nya.... dan aku harap kamu pun berfikir kembali ..... aku pulang dulu..." anggi bangkit dari duduknya dan meninggal kan rara, sementara rara hanya bisa diam hati nya menjadi tak karuan, ia tau anggi marah ...
...****************...
Baru saja rara menjatuhkan tubuh nya ke tempat tidur tiba tiba terdengar suara pintu di ketuk,
"gia.... tolong bukain pintu dong...." rara malas siapa sih yang bertamu jam 9malam jangan jangan ifan batin rara, tapi tak ada sahutan, mungkin adik semata wayang nya itu telah tidur pikir rara, akhirnya dia bangkit berjalan menuju ruang tamu,
Klik... rara membuka kunci sekaligus pintu
deg, rara kaget di depan nya anggi berdiri, dengan penampilan yang tidak biasa nya, sungguh berantakan, bukan anggi yang selalu dia lihat selama ini, ini bukan pula malam minggu, jadwal nya anggi datang belum lagi kaget rara hilang anggi langsung mendorong tubuh rara duduk di kursi
"ngi.. hmppttt" belum sempat rara meneruskan kata kata nya bibirnya di bungkam dengan sebuah ciuman yang begitu kasar, rara berusaha melepaskan nya namun sia sia anngi begitu kuat mencengkramnya... rara ketakutan melihat sikap anggi yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
"brakkkkkk" terdengar suara begitu keras nya, anggi melepas kan rara di lihat nya gia rupanya dia menggeprak meja tamu, kini ia tengah berdiri berkaca pinggang
"apa apan kalian, masih sekolah sudah berani" katanya sambil berlalu
rara shock tak biasa nya adik nya berani marah, sementara anggi seperti tak merasa kaget ia kembali menatap rara,
"ra jadi mau nya kamu apa?" tanya anggi yang kini telah duduk di samping rara, rara menatap anggi ia merasa ada yang tak beres, dan rara dapat merasa kan dari ciuman tadi, mulut anggi ber aroma lain, bau alkohol begitu menyengat
"kamu mabuk?" rara ingin memastikan, sambil mengusap wajah anggi, tapi tangan rara di tepiskan anggi dan memegang tangan rara
"mau kammu apaa,?" sorot mata nya melemah rara bingung harus berbuat apa ia ingin minta tolong panggilin kaka nya agis, kepada gia, tapi dia ingat gia sedang marah, rara melepaskan pegangan anggi dan segera bangkit, menuju ke rumah kaka nya yang berada di samping,
"A.... a agis.... a.... "belum sampai pintu rara berteriak teriak memanggil kaka nya, pintu terbuka kaka nya sendiri yang membuka kan pintu
"ada apa ra teriak teriak" tanya agis
"ada apa dengan dia? kecelakaan?" tanya agis lagi
"bukan ayo lihat saja..." rara menarik tangan kakanya menyeretnya masuk rumah rara di lihat ny anggi tengah duduk bersandar,
"apa dia sakit?"tanya agis
"rara ga tau, tapi seperti nya dia mabuk" jawab rara ragu agis membungkuk mendekati anggi
"kenapa kamu mabuk?" tanya agis kepada anggi
__ADS_1
"a... apa salah saya, rara selalu minta putus, padahal Selama ini saya tak pernah selingkuh, malah dia nya sering bersama teman laki laki, saya sebenarnya cemburu a tapi saya sadar saya tidak punya hak, saya selalu mengalah, kalo saya apel teman nya yang tidak tau etika itu datang saya ngalah saya pulang, kadang saya merasa rara keterlaluan lebih mementingkan teman nya, saya ke sini cuma seminggu sekali, masa rara tak bisa kasih pengertian buat teman nya itu" jelas anggi, agis mengangguk, kemudian melirik rara yang tertunduk
"ra... aa juga sebenernya ga suka temen temen mu sering kesini, biar bagaimana pun kamu di rumah ini tinggal sendiri, walaupun deket dengan aa, tetapi aa tidak bisa mengawasi mu terus,"
"ko aa jadi bela dia,... lagi pula aku ga pernah macem macem" rara memotong pembicaraan agis
"bukan masalah siapa membela siapa, cuma di sini aa mengatakan yang sepertinya, aa masalah nya kamu mau mutusin anggi?" tanya agis
"ga enak punya pacar kayak dia, ga romantis ga tau mau nya rara apa" jelas rara ketus
"trus kamu maunya gimana? mau di bawain bunga?" tanya agis
"ga gitu juga kali... ya gimana semestinya aja masa harus rara omongin apa mau nya rara, ga etis, inisiatif dong jadi cowok" rara mulai emosi
"ya kalo ga di omongin mana tau, lagi pula s ga semua cowok bisa bersikap begitu, tergantung sifat nya, tapi bukan berarti pula tidak menyukai pasangannya, ra belajar dewasa, dalam setiap hubungan yang terpenting saling menjaga, setia " kata agis
"bosen" kata rara tiba tiba, anggi terperanjat mendengar ucapan rara
"ra.... aku ga mau kita putus..., maaf kalau aku tidak seperti yang kamu inginkan aku tidak romantis atau apapun, aku mohon maaf dengan segala keterbatasanku, ra... tetaplah bersamaku ra.... " anggi memelas, rara merasa tersudut dengan situasi ini, ia ingin mengakhiri nya, tapi kaka nya seperti tak mendukung nya,
...****************...
"ra, sebenernya aa melihat anggi bukan lah seorang laki laki yang banyak tingkah, selama ini aa menilai dia baik" kata agis sepulangnya anggi,
"ah a, ga asik punya pacar kayak dia, ga bisa menikmati masa muda, temen temen rara selalu bercerita tentang pacar nya yang mengasikan, ko rara ngerasa ga ada indah indah nya pacaran sama dia" rara cemberut
__ADS_1
"coba lihat dari segi pandang yang lain, anggi begitu menghargai mu... pengertian" kata agis
"pengertian tapi ga ngerti percuma, dah ah rara ngantuk, " kata rara ber alasan sambil berdiri meninggal kan kakanya dan masuk ke dalam kamar nya, agis geleng geleng kepala mendengar ucapan adik nya itu l