
Sinar matahari pagi masuk ke dalam kamar ketika rara membuka jendela, "pagi yang cerah" guman rara, bersemangat bagai mana tidak pagi ini azwar akan menjemput nya untuk joging ke sarana olah raga yang letak nya hanya satu kilo dari rumah rara, minggu pagi sarana olah raga selalu ramai, bukan hanya saja yang berolah raga, kebanyakan hanya sekedar jalan jalan, kulineran dan belanja, karena moment mingguan itu di manfaatkan oleh sebagian warga untuk menghasilkan cuan, tempat itu juga menjadi tujuan favorit karena barang yang di jual di sana murah dan komplit,
Rara memakai sedikit lipbalm sebagai sentuhan terakhir biar tidak terlalu polos, suara rell pagar di geser membuat rara mempercepat merapikan penampilan sederhana nya, rara yakin azwar yang datang dan benar saja suara khas nya memanggil nama nya...
"Assalamualaikum... neng"
"Waalaikum salam... " jawab rara sambil menuju teras rumah
"udah siap?"
"seperti yang aa lihat" rara memutar badan menunjukan penampilan nya
"lho aa ga Bawa motor?!" lanjut rara
"kan mau joging masa pake motor" jawabnya
" neng kira di sana aja joging nya langsung"
"ga jauh ini, ayo keburu panas" azwar meraih tangan rara, ya memang dekat,
"kita jalan aja, nanti di sana baru lari pagi" ujar azwar,
"nciaappp " rara mengangkat tangannya menghadap azwar memberi hormat, azwar tersenyum sambil mengusap kepala rara
kurang dari tiga puluh menit rara dan azwar sudah sampai, suasana belum begitu ramai karena baru jam enam pagi, biasanya akan mulai ramai dari setengah tujuh, pas acara senam di mulai
"mau langsung lari?" tanya azwar
"iya..."
"ga cape?"
"ga, belum ada apa apanya di banding hiking" jawab rara enteng,
"mau berapa putaran nih?" tanya azwar
"minimal lima" jawab rara
"Oke ayo"
rara dan azwar mulai joging, namun belum satu putaran rara sudah mengajak berhenti
"kenapa? cape?" tanya azwar, rara mengangguk
"beneran neng?, apa neng sakit?" azwar khawatir dia meraba kening rara "ga panas" lanjut nya
"ih ga papa, cuma haus, pengen beli minum" jawab rara beralasan, padahal yang sebenarnya di depan rara melihat anggi bersama rafli sepupu nya tengah joging juga azwar dan rara menepi membeli air mineral, rara mengajak duduk di dekat tempat basket, yang aga jauh dari arena lari, tapi rupanya azwar seperti tau rara sedang beralasan
"neng sebenernya ada apa, masa iya belum apa apa udah haus, dan kayak nya neng seperti yang ketakutan, ada apa?" curiga azwar, rara kaget, azwar beda banget dengan anggi yang selalu mudah ia bohongi, muka rara makin memerah... ia bingung kalo bilang ada anggi takut azwar cemburu, yaah.... azwar sudah tau tentang anggi, rara telah bercerita secara jujur, bahwa ia meninggal kan anggi demi azwar
"ada anggi" ucap rara akhirnya
"mana?" azwar mencoba mencari sosok anggi, tapi dia tak menemukan nya, ya.... karena azwar sendiri belum tau anggi itu yang mana
__ADS_1
"mana neng..."ulang nya
"itu yang pake topi biru sbelah yang topi merah" azwar mencari sosok yang ciri ciri nya rara sebut
"yang tinggi itu?" tanya azwar begitu di lihat nya sosok tersebut ada sekitar tiga meter di depan nya, rara mengangguk, "kenapa neng meninggal kan dia demi aa?" pertanyaan azwar membuat rara kaget, "ternyata anggi cakep juga tinggi lagi" nada cemburu terdengar dari kata kata penuh penekanan,
"karena neng sudah mendapat kan apa yang neng inginkan" lirih rara
"terima kasih neng udah mempercayai aa, ya udah kita pulang aja yu, kalo nang merasa ga nyaman" rara hanya me ngangguk mengikuti azwar yang menuntun nya keluar dari sarana olah raga itu
"mau naik apa?" tanya azwar
"jalan aja kan tadi belum sempat olah raga" kata rara
"Oke tapi setidak nya kita sarapan dulu yu, mau sarapan apa?" kata azwar,
"bubur kacang ijo enak kaya nya di tambah roti tawar" usul rara
"aa punya langganan tukang bubur kacang ijo yang enak deket perempatan depan sana" tunjuk azwar, ke sebelah kedai yang tak terlalu jauh, mereka berjalan menuju ke sana, kedai tampak ramai tapi untung lah masih ada tempat untuk mereka berdua walaupun deket pintu, pesanan pun datang, namun bubur kacang ijo sangat panas membuat tak bisa buru buru rara mengaduk ngaduk isi mangkok nya
"neng... minggu depan ikut aa ke undangan ya" kata azwar
"siapa yang menikah?"
"teman" jawab azwar singkat rara hanya menganggukan kepala, karena dia sedang sibuk mengunyah makanan nya
"rara...." tiba tiba saja seseorang di samping nya memanggil, rara mendongakan kepala menoleh ke arah sumber suara degg seketika jantung saresa berhenti berdetak Angga berdiri di depan nya dan dengan seseorang yang rara kenal, nanda si angkuh, bintang nya kelas yang selalu jadi idola karena kecantikan nya teman smp nya dulu,
" ga nyangka ra ternyata kamu begitu ... " terlihat sekali senyuman nanda sinis, rara tak mengerti
"Selamat ya... " ucap rara setelah perasaan kaget nya mereda
"terima kasih, kamu sama siapa?" tatapan angga beralih pada azwar
"saya saudara nya" jawab azwar cepat sambil mengulurkan tangan
"angga teman rara dulu" jawab nya
"ya udah ya kita duluan" nanda cepat cepat menarik tangan angga,
"kita duluan ya... " pamit angga
"iya " azwar menjawab sementara rara hanya terdiam
cocok sekali, angga yang tampan dan nanda yang cantik batin nya
"siapa mereka neng" tanya azwar
"nanda teman smp dulu dan angga"
"angga juga teman smp?" selidik azwar
"bukan"
__ADS_1
"mantan pacar?" kejar azwar
"kita belum pacaran...."
"maksud nya gimana teman bukan pacaran belum"
"dulu neng sempat dekat dengan dia...dan dia juga bilang suka...."
"terus kenapa ga pacaran, dia tampan lo beda dengan aa" suara azwar mulai tak mengenak
"kenapa aa bilang kalo aa sodara neng?" rara balik bertanya
"karena feeling aa dia seseorang yang special"
"so tau" rara memanyunkan bibir nya
"terlihat dari ekspresi kalian berdua, makanya takut nya neng malu kalo dia tau aa pacar nya neng, aa kan jelek sementara dia tampan, nanti harga diri jatoh" jawab azwar jujur
"neng bangga memiliki aa... neng ga malu"
"neng belum menjawab pertanyaan aa"
"yang mana?" rara bingung
"kenapa kalian tidak jadian padahal saling suka"
"neng denger kalo angga suka mempermainkan perempuan"
"terus kenyataan?"
"neng sendiri ga tau kebenaran nya, tapi neng pikir mungkin itu semua benar, dengan ketampanan dia mudah saja untuk gonta ganti pacar, dari situ neng menghindar, dan ternyata kini angga bersama nanda, cocok nanda dari dulu selalu jadi rebutan para cowok, cuma sayang dia sedikit angkuh" jelas rara
"ya kelihatan dari sikap dia tadi"
"pasti nya angga cerita tentang aku pada nanda, neng mundur karena neng takut kecewa nanti nya, atau karena tidak bisa bersikap dewasa, entah lah karena waktu itu neng masih smp , sedang dia sma"
"cinta pertama kayak nya" ujar azwar
"neng ga tau definisi cinta pertama itu seperti apa, apakah yang pertama kali merasakan cinta meski tak bersama, atau mearasakan cinta dan memiliki nya"
"dia cinta pertama neng" ujara azwar menyimpulkan
"dari mana tau?"
"dari cara neng mengungkapkan isi hati, terlihat ada sesuatu yang terpendam"
"semua itu ga penting lagi, sekarang dan nanti hanya aa dalam hati neng" ucap rara menahan perasaan nya, ya dia memang sangat menyukai angga, tapi itu dulu sekarang azwar bagi dia sudah lebih dari segala nya walaupun tak setampan angga
azwar meraih kepala rara untuk bersandar di bahunya dan membelai lembut kepala rara, se akan tak peduli dengan beberapa orang di samping dan belakang yang memperhatikan kemesraan mereka, rara dan azwar memang duduk di depan menghadap pintu dalan situasi seperti itu, tak di duga anggi lewat dengan rafli rupanya dia baru beres joging, dan dengan jelas melihat pemandangan itu, rara dan azwar pun melihat keberadaan anggi
ya tuhan cobaan apalagi ini tadi ketemu angga sekarang melihat anggi batin rara
azwar melepaskan tangan nya ber pura pura seolah tak melihat keberadaan anggi, sementara anggi pun dengan cepat berlalu
__ADS_1
"neng mantan neng cakep cakep ya"
"udah jangan mulai" kilah rara , ya angga memang tampan, anggi juga lumayan, beda dengan azwar tapi meski begitu rara merasa azwar istimewa