Bukan Sekedar Fiksi

Bukan Sekedar Fiksi
Episode 20 Sisi lain azwar


__ADS_3

Rara telah bersiap dengan penampilan terbaik nya, sekarang dia selalu berusaha tampil feminim seperti yang azwar mau, terlebih sekarang dia mau menemani azwar ke undangan teman nya itu


Azwar memarkir motor nya di samping gedung, undangan sudah tampak ramai


"neng tapi aa ga makan ya, masih kenyang"


"kan tau mau kondangan jangan makan dulu"


"emang kenapa, lagi pula yang terpenting doa nya baut mempelai, aa ga enak aja kalo ga dateng"


"iya" rara meng iya kan sambil mengikuti azwar yang telah menuju ke dalam gedung, tumben dia ga gandeng tangan rara, tapi rara tak mempermasalahkan nya, di buku tamu azwar menuliskan nama nya seorang pagar ayu menyapa nya


"hay a... sama siapa?" azwar hanya menunjuk ke arah rara sambil tersenyum, rara.mengikuti azwar ke pelaminan untuk mengucapkan Selamat, tapi begitu di lihat reaksi orang tua juga pengantin perempuan nya terlihat jutek, ih pengantin kok jutek pekik rara


"Selamat ya sa... semoga samawa... do'a in biar aa cepet nyusul" kata nya sambil melirik rara pengantin wanita tersenyum ke arah rara


"semoga sampai pelaminan" kata nya


"terima kasih" jawab rara azwar dan rara berlalu meninggalkan pelaminan dan langsung pulang tiba tiba saja mereka mendengar sedikit kegduhan, "biar aku hajar bajingan tak tau malu itu" kata se orang pemuda, kira kira 16 tahunan, namun seorang wanita paruh baya mencegah nya, entah apa yang terjadi, namun sekilas rara melihat raut muka azwar yang entah apa, sulit untuk di artikan, azwar buru buru menarik tangan rara un segera keluar dari gedung itu, di luar dugaan rara bertemu dengan karin teman nya namun beda kelas, tidak terlalu akrab juga


"karin? ini yang nikah saudara kamu?" tanya rara ketika melihat karin mengenakan gaun bridesmaid


"ini pernikahan kaka ku, kamu kenal kaka ku" tanya karin


"tidak aku di ajak pacar ku " kata rara menuju ke arah azwar yang sudah lebih dulu berjalan ke arah parkiran


"azwar pacar kamu" kata karin


"iya kamu pasti kenal kan dia teman kaka mu"


"ya aku sangat mengenal nya... dimana kamu kenal dia" tanya karin


"di kenal kan sama teman lama mama,dia keponakan teman mama" jelas rara


"oh smoga kamu bahagia dengan nya" ucapan karin membuat rara sedikit aneh


"ya udah aku pulang dulu...." pamit rara

__ADS_1


"hati hati ra..."


"terima kasih" rara berlalu dari hadapan karin segera menghampiri azwar yang telah berada di atas motor, rara segera naik, dengan segera azwar memacu motor nya dengan kencang hampir menabrak pagar gedung


"a pelan dong" protes rara heran, tak biasa nya azwar ngebut, azwar pun melambatkan motor nya setelah aga jauh dari gedung tempat resepsi


"maaf neng ... aa sedikit kurang enak badan". jawab azwar


"ya udah langsung pulang istirahat sebentar sebelum nanti aa broadcast"


"neng ... pulang ke rumah aa aja, nanti aa anterin sekalian aa berangkat siaran"


"boleh..."


Lima belas menit kemudian motor azwar memasuki gang buntu menuju rumah nya


"ko sepi a... pada ke mana?" tanya rara waktu lewat depan rumah kaka nya yang pintu nya tertutup


"lagi ke bandung, ada nikahan saudara, ayo ..."azwar menarik tangan rara untuk masuk ke dalam rumah, rara masuk dan duduk di sofa sementara azwar ke atas ke kamar nya untuk ganti pakaian, dan tak lama kemudian dia turun dengan kaos dan celana boxer, dan langsung duduk di samping rara


"a....boleh neng nanya sesuatu"


"sebenernya yang nikah tadi siapa?"


"teman, ko neng nanya lagi, kan udah aa kasih tau"


"jujur a, neng merasa ada yang aneh"


"apa nya yang aneh?"


"banyak, pagar ayu itu kenal baik sama aa, tapi pas lihat neng, cuek, terus orang tua pengantin jutek, pengantin wanita nada omongan nya sinis, pas kita pulang ada keributan, dan di pintu keluar neng ketemu karin dia teman sekolah cuma beda kelas, yang ternyata adik pengantin wanita, omongan nya olah olah ada sesuatu pada diri aa" akhirnya keluar juga uneg uneg rara, azwar terdiam lalu dengan erat memeluk rara


"maafin aa neng, aa udah bohong... dia bukan teman aa dia mantan pacar aa"


"pantesan, kenapa putus?" rara berusaha melepaskan pelukan azwar


"orang tua nya menginginkan pendamping yang punya masa depan untuk dia,sementara aa hanya lah pengangguran" jelas azwar

__ADS_1


"udah lama?"


"enam bulan yang lalu"


"berarti sebulan sebelum kita ketemu?"


"iya"


"makanya... aa juga takut kalau neng akan meninggal kan aa demi laki laki yang kaya"


"a ... maaf kalau neng tidak mencari yang kaya, neng mencari yang benar benar menyayangi, dan mampu menjadi imam, dan neng merasa itu semua ada pada aa" rara menatap mata azwar sementara azwar kembali merengkuh rara ke dalam pelukan memebelai nya lembut dan menciumi pucuk kepala rara


"terima kasih neng .... " kini azwar menghujani waja rara dengan kecupan, mendekapnya erat, se akan tak ingin lepas suasana sepi membuat kedua nya terhanyut ... kini gerakan azwar mulai liar, menghujani setiap jengkal tubuh rara, perasaan rara melambung.... antara sadar dan tidak entah bagai mana kedua nya telah bergumul, tampa selembar benang pun yang menutupi nya saling mereguk nikmat nya surga dunia, meski rara sempat merasakan perih awalnya namun kini rara sangat menikmati nya, akhir nya tubuh azwar ambruk di atas tubuh rara, segera rara bangkit mengenakan lagi pakaian nya, dia duduk seperti terbangun dari mimpi


"a.... kenapa ini terjadi" rara mengguncangkan tubuh azwar, azwar bangkit meraih handuk untuk menutupi badan nya lalu memeluk rara....


"maafin aa neng...., telah menyakiti neng... " rara menatap azwar dengan nanar kemudian melihat ke arah sprei biru muda yang kontras dengan bercak darah


"jangan pernah tinggalin neng.... neng takut"


"ga akan pernah neng.... aa akan selalu bersama neng, apapun yang terjadi aa bertanggung jawab atas semua ini" yakin azwar


"janji?" tanya rara


"aa akan melamar neng secepatnya kita menikah"


"tidak itu bukan solusi terbaik, aku tak mau membuat mama kecewa"


"kita tak akan bilang tentang hal ini"


"tapi mama pasti curiga, aku masih ingin mengejar cita cita ku"


"terus neng mau nya apa?"


"tetaplah di samping neng, sampai saat itu tiba, saat di mana diri kita telah siap, tapi berjanjilah kita tidak akan mengulangi lagi kesalahan ini"


"aa janji, maafkan atas ke khilafan aa, sudah neng jangan menangis aa semakin sakit" azwar mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi rara,tapi justru tangisan rara semakin keras bahunya terguncang guncang, azwar merangkul nya, mengusap lembut punggung rara

__ADS_1


"kalau di rasa air mata itu dapat membuat neng lega, menangislah....maafkan aa yang telah membuat neng seperti ini" kini azwar pun menitikan air mata nya menyesal pun tiada guna tak akan bisa mengembalikan ke adaan


__ADS_2