Bukan Sekedar Fiksi

Bukan Sekedar Fiksi
Episode 21 Sibuk


__ADS_3

Setelah kejadian hari itu nembuat rara berubah menjadi sedikit pendiam, hal itu membuat orang di sekeliling rara sempat merasa aneh, teman rara, terutama indri... hingga suatu saat indri bertanya


"ra kamu lagi ada masalah di kluarga?"


"nggak" jawab rara singkat


"sama azwar baik baik aja kan?


"aku g papa cay... cuma lagi belajar untuk bersikap lebih dewasa dan sedikit feminin, azwar mau aku jadi anggun" kilah rara dia tak mampu berkata jujur, ia ingin masa kelam, sebuah dosa terindah yang rara rasa dan itu hanya ia dan azwar yang tau, sejak kejadian itu pula azwar tak pernah lagi melakukan nya, bahkan ciuman pun hanya sekedar melepas kangen tidak lagi di lakukan nya dengan intens, azwar berkata dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, ia ingin memperbaiki semua nya, lebih belajar menghargai rara, dan menyibukan diri dengan aktif mengikuti berbagai event demi menambah penghasilan, tapi Terkadang rara merasa kini seperti ada jarak antara dirinya dan azwar


"hebat bener pangeran mu itu membawa pengaruh besar dalam perubahan mu, tapi dari dulu kan kamu udah anggun, anak gunung maksud nya" ledek indri yang hanya di tanggapi senyum rara


"aku lagi mempersiapkan menjadi ibu rumah tangga cay" ucapan rara begitu saja keluar dari mulut nyaembuat indri bengong


"serius kamu mau nikah selepas lulus? ga mau ngejar cita cita kamu itu menjadi jurnalis, apalagi sekarang punya pacar annauncer kan cocok tuh" indri kaget


"serius amat ga segitu nya kali" rara rertawa berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya


"sekarang kayak nya kamu jarang bareng azwar" tanya indri


"dia jadwal siaran nya padet sekarang buat ngejar masa depan"


"pantesan kamu udah bersiap jadi nyonya azwar" cibir indri, ya apapun yang terjadi dia harus menikah dengan azwar harus

__ADS_1


...****************...


Rara turun dari bus jurusan jakarta, liburan semesteran rara habiskan di jakarta bersama orang tua juga adik nya, sekrang waktu liburan habis saat nya rara kembali, rara mencoba mencari sosok azwar yang tadi berjanji akan menjemput nya, ah mungkin masih di jalan pikir rara berjalan menunggu di deretan kursi di tempat kedatangan bus, dia mencoba menelpon tapi tak di angkat, mengirimkan pesan juga tak ada balasan, setengah jam menunggu membuat rara bosan akhir nya ia putuskan untuk merasa taksi online, tak lama taksi pesanan rar datang, dengan segera rara naik, hati nya gundah ada apa dengan azwar sesibuk apa dia hingga tak datang menjemput nya, masih teringat seminggu yang lalu waktu azwar mengantar kan ke terminal, dia memberi kan paper bag dan berpesan boleh di buka kalau bus nya sudah mulai jalan, setelah rara mendapat kan tempat duduk yang nyaman, dan mengecup kening rara, azwar turun, rara menyandarkan kepala nya di sandaran jok, se orang pedagang asongan mencolek tangan rara,


"neng itu aa nya..." katanya rara menoleh ternyata azwar masih berdiri melihat nya dia melambaikan tangan ketika rara menoleh ke arah nya, "so sweet sekalii neng pacar nya" pedagang asongan itu bak wartawan pencari gosip yang memperhatikan rara, akhir nya bus benar benar mulai melaju azwar melambai kan tangan nya di iringi senyum yang di balas rara, tak sabar rara membuka paper bag sesuai pesan azwar setelah melaju boleh di buka, isi nya beberapa makanan ringan dan sofdrink dengan catatan kecil


"jaga slalu hati neng untuk aa, sampai neng kembali" rara tersenyum mencium pesan itu


...****************...


"neng udah sampai" abang taksi online membuyarkan lamunan rara


" ya pak terima kasih" ucap rara sambil membuka pintu mobil ia segera turun dan masuk dengan kunci serep, kunci yang satu nya di pegang kaka nya, dia duduk di sofa melepaskan penat, karena kelelahan, tak lama kemudian rara tertidur, saking lelap nya rara tak mendengar pintu yang di ketuk azwar, akhirnya begitu tau pintu tak di kunci azwar masuk di lihat nya rara tengah terlelap azwar berjalan ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal untuk rara, ia mencoba membuat posisi tidur rara nyaman, namun begitu selimut itu menutup tubuh rara, justru membuat rara terbangun


"dari tadi?" tanya rara


"tidak juga, aa ngetok pintu ga ada yang buka, ya udah masuk, eh neng lagi tidur"


"lelah banget"


"ya udah tidur lagi aja" kata azwar sambil mengusap kepala rara"maafin aa ga sempat jemput, ada broadcast mendadak, sampe aa ga sempat ngabarin neng" lanjut nya


"ga apa apa kan neng nya juga udah sampai ini"

__ADS_1


"neng aa asar dulu ke mesjid ya" katanya sambil membuka jaket dan menyimpan tas ransel nya di meja, rara mengangguk, azwar yang patuh entah kenapa hal itu bisa terjadi, mungkin karena terbawa suasana, rara memandangi sosok azwar sampai akhirnya menghilang, entah kenapa akhir akhir ini rara merasa ada yang beda dengan azwar bukan kesibukan nya, bukan pula perhatian nya, karena meski sibuk azwar tetap memperhatikan nya, rara meraih ransel azwar yang berisikan laptop begitu rara hendak mengambil nya ada sebuah agenda kecil terjatuh di raih nya agenda kecil warna merah, di buka nya agenda kecil terpampang tulisan yang sangat rara kenal menuliskan inisial A & E rara membuka kembali lembar berikut nya dengan jelas di sana tulisan azwar saling berbalas dengan yang lainya yang jelas itu bukan tulisan rara seketika serasa tubuh rara tak bertulang lemas, tapi dia penasaran apa yang sebenarnya terjadi di halaman berikut nya, ada puisi cinta yang sempat rara tulis buat azwar, kini azwar tulis kembali untuk yang ber inisial E, dengan nama kesayangan baby dan nama panggilan kesayangan azwar, abang, hancur hati rara seketika tapi ia tak dapat menangis hanya dadanya yang terasa begitu sesak, ia memegang agenda kecil itu, sampai azwar kembali dari mesjid, azwar yang menyadari nya segera bersimpuh di hadapan rara


"jelasin a... apa.maksud nya semua ini?" suara rara bergetar hebat


"maafin aa.... "azwar kini bersujud di kaki rara, tapi rara menghentak kan nya


"aa tak bisa menolak nya dia sakit.."


"dia atau aku!" tegas rara


"please jangan suruh aa memilih" kata azwar memohon


"kenapa apa sama, dia juga talah kamu renggut kesucian nya?" tak ada lagi rara yang lembut dan penurut


"jangan bicara seperti itu neng ... kita telah berjanji untuk selalu bersama"


"bersama? dengan dia juga?"


"maafin aa neng.... " kini azwar bukan hanya memohon juga mengeluarkan air matanya


"simpan air mata buaya mu" dalam sekejap rara kembali kepada rara yang dulu, tegas pemberani dan sedikit liar rara berdiri menuju kamarnya, tapi langkah nya di hentikan azwar


"lepaskan...!" bentak rara,

__ADS_1


"tidak, sebelum neng memaafkan aa" azwar meraih tangan rara, tapi rara menghempaskan nya dengan kasar dengan segera ia masuk dan mengunci pintu kamar tak di hirau kan nya azwar yang terus mengetuk pintu memanggil nya dia menutup kedua telinga nya dengan guling, sekuat mungkin dia menahan agar tangis nya tidak pecah


__ADS_2