
Setengah jam berlalu... mereka masih saling diam satu sama lain,.... ya ini adalah sabtu malam, alias malam minggu, dan rara dengan predikat baru nya yang ga jomblo lagi, sedang di apelin anggi, meski sebenarnya anggi bukan sosok ideal yang rara harap, tapi setidak nya lumayan lah.... tapi ya ampuuunnn..... cowok ini benar benar bak kanebo kering di bawah terik matahari kakuuu abis....
"ekhemmm..." rara berdehem memecah kesunyian, dan anggi hanya menatap sekilas lalu tertunduk kembali.... "OMG, ini manusia atau kutub" batin rara "gi... sejujur nya, aku tuh ga yakin dengan perasaan kamu terhadapku" ucap rara
"maksud nya?!" tanya anggi
"ya secara kamu dan aku di comblangin, bukan atas dasar saling suka" jawab rara
"kamu ga suka?" tanya anggi
rara bingung harus jawab apa, mau jujur takut tersinggung, tapi itu kebenaran nya,
"bukan begitu.... secara gitu....." rara tak meneruskan kata kata nya
"apa dengan datang nya aku ke sini bukan suatu pembuktian?!" tanya anggi
suasana kembali hening...
"ini belum terlalu malam,kita keluar yu?" ajak anggi memecah keheningan yang langsung di sambut anggukan rara, dia pikir dari pada di rumah lebih banyak diam nya ada baik nya keluar sekedar jalan jalan cari cemilan atau nongkrong di cafe
"pamit a agis dulu" kata rara, setelah mendapat ijin kak nya itu rara pun berangkat dengan sepeda motor anggi
"kamu mau beli apa?" tanya anggi
"mau ramen enak lagi dingin makan yang panas dan pedas" jawab rara
tampa bicara lagi anggi memacu motor nya dan berhenti di sebuah cafe korean food
seorang pramusaji menghampiri rara dan anggi
"malam kaka, silahkan di pilih" ucap nya sambil membungkuk hormat
"mau pesan apa?" tanya rara
__ADS_1
"apa aja yang penting jangan pedas" jawab anggi
"dua suki kuah soyu, satu level 3 satu nya ori saja" pesan rara
"minum nya" tanya pelayan itu
"thai tea dan..." rara menatap anggi
"air mineral aja" jawab anggi
"ok mohon di tunggu..." pelayanan pun berlalu
lima belas menit berlalu, mereka menunggu pesanan tampa bicara akhirnya pesanan pun datang tampa banyak basa basi rara menyantap makanan nya, sementara anggi hanya mengaduk ngaduk makanan nya, hanya sesekali memasukan ke dalam mulut nya, rara tau tapi mencoba tak mempedulikan nya... dan semangkuk makanan berkuah itu telah berpindah dalam sekejap ke dalam perut rara, setidak nya bisa menghangat kan nya, beda dengan anggi yang tetap kaya es balok, rara menunggu anggi menghabiskan makan nan nya, tapi seperti nya anggi tak menyukai makanan jenis korean food, akhir nya rara membuka hp nya dan lebih memainkan game...
"udah!? pulang yu?" kata anggi
apa pulang?! ga asik banget pikir rara padahal dia membayangkan keliling keliling dulu, nongkrong di alun alun kota, atau nongkrong di cafe yang menyuguhkan live musik tapi apa boleh buat, ya sudahlah rara hanya mengangguk....
rara mengikuti anggi yang berjalan di depan nya, uhhh, ga ada romantis romantis nya, gandeng ke, pegangan tangan ke... atau minimal jangan jalan duluan , kan cewek harus di depan cowok di belakang menjaga dan memperhatikan pasangan nya, mulut rara monyong monyong ngedumel sambil menjulurkan lidah nya, di luar dugaan anggi menoleh ke belakang, ke arah rara
"nggak ini e... ini kayak nya ada semut gigit pipi" jawab rara asal dan detik berikut nya anggi kembali melangkah menuju parkiran, di ikuti rara... anggi menyodorkan helm kepada rara, dengan sigap rara mengambil nya, "pakein napa!" dumel rara,fakta nya ini bukan seperti dalam film film yang ia lihat, ah ini bukan sinetron, pikir rara sambil memakai helem dan segera naik motor anggi,
"ke alun alun dulu ya?!" ajak rara anggi tak menjawab seperti biasa tapi dia membelokan motor nya menuju alun alun kota, setelah memarkirkan motor nya mereka duduk di kursi taman, rara menikmati gemerlap lampu di sekitar taman, sesekali mata nya memperhatikan orang di sekitar nya, beberapa di antara nya ada pasangan muda mudi, dan mereka sangat serasi juga romantis ... tidak seperti dirinya,
Tiga bulan berlalu... bagi rara tak ada yang istimewa dengan kehadiran anggi di hidup nya, ..... justru bagi rara malam minggu seperti rutinitas yang monoton, hanya datang, ngobrol sekedar nya, dan pada selama itu, tak pernah ada kontak fisik sekalipun, misalkan pegangan, pelukan, apalagi ciuman,
waktu rara curhat tentang hal ini kepada indri, jawaban indri sungguh membuat rara merasa geli,
"jangan jangan pacar kamu inpoten" jawab kata indri,
"ah apa peduliku? rasanya terlalu jauh, berfikir ke sana, ga mungkin kita sampai menikah" kata rara
"jodo siapa tau" celetuk indri
__ADS_1
"amit amit deh kalo sampai menikah dengan kanebo kering" rara bergidik
"kalo ga suka kenapa ga di putusin aja" kata indri
"ntar kalo udah ada ganti nya, lumayan lah ..." ucap rara
" ih ... jahat juga, udah ah kita ke kantin yu?" ajak indri
rara langsung mengangguk setuju, mereka pun berjalan menyusuri koridor menuju kantin,
"kamu mau pesen apa cay?" tanya rara
"kamu mau pesan baso ra?!" tebak indri balik ber tanya,
"Iya tu tau" jawab rara
"ya udah sama" kata indri
dua mangkuk baso sudah tersaji di depan rara dan indri, rara segera saja meracik makanan favorit nya itu,
"pantesan kamu blacksweat" ujar indri seraya mencicipi baso racikan rara
"kenapa?" tanya rara heran
"ini mah kecap sama pedes di baso in, tapi enak juga... " kata indri
"ya udah ikutin aja kaya aku, ih hampa banget hidup kamu, berasa makan suop baso di bening, kaya tetangga aku yang lagi nyuapin balita nya nasi di tambah kuah baso bening, tapi apa Iya gegara suka kecap, ngaruh ke kulit?!" tanya rara, ya rara memang sangat doyan kecap, bahkan sarapan pagi favorit nya telur negro, telur yang di kocok di campur kecap sampe item
"ga ah, ga kuat, nyicip aja ke kamu dikit..." kata indri
"hay.... para gadisku!" sapa haykal yang datang bersama viola pacar nya
"ihhh vi... pacar kamu tebar pesona tuh" kata rara sementara viola hanya tersenyum.... ya viola adalah, gadis anggun, keturunan bangsawan, tutur sapa nya lemah lembut, beruntung sekali haykal mendapatkan nya
__ADS_1
"jangan jadi propokator, vio gadis baik...." protes haykal... " sambil menarik tangan viola untuk duduk bergabung dengan rara juga indri...
Diam diam rara memperhatikan sikap manis haykal terhadap viola, dia iri.... dan dia merutuki nasibnya punya pacar seperti anggi,