Bukan Sekedar Fiksi

Bukan Sekedar Fiksi
Episode 17 ANGGI


__ADS_3

Tiga bulan rara bersama azwar telah membuat rara berubah drastis, rara mulai tampil sedikit feminin, rara juga membatasi pergaulan nya, demi menjaga perasaan azwar, dan orang yang paling senang dengan perubahan rara adalah keluarga rara, mama rara merasa bahwa tia temannya telah memberikan orang yang tepat buat rara, tapi tidak dengan teman teman rara,terutama haykal, dia merasa azwar terlalu posesif terhadap rara, tapi ia sendiri tak bisa berbuat apa apa, melihat fakta kalo rara suka apapun yang azwar lakukan buat dia, termasuk mengatur pribadi rara


"thing" notifikasi whatsapp masuk ke hp rara


frida, gimana rara cepat cepat dia membuka pesan dari frida


"ra, apa lo tau anggi sakit udah hampir sebulan, tiga hari lalu dia baru keluar dari rumah sakit" isi pesan frida membuat rara kaget, sakit, ... sakit apa anggi sampai selama itu, rara pikir anggi baik baik saja, rara telah memblokir kontak anggi, dan anggi juga ga pernah apdet di sosmed nya jadi rara tak tau apa yang terjadi pada anggi belakang ini, rara menelpon balik frida, tapi ga di angkat, di sisi lain ia khawatir kalo semua ini gara gara dia, lalu dia membuka blokiran no anggi dan mencoba menelpon nya, sama ga aktif, atau jangan jangan anggi telah ganti nomor... ada sedikit rasa bersalah di hati rara, jangan jangan anggi sakit karena rara memutuskan nya, rara bingung, harus kah dia menemui anggi, tapi bagai mana kalo azwar tau, pasti bakal marah besar, tiba tiba rara inget dia masih menyimpan kontak rio pacar frida, yang juga teman anggi


"halo rio, ini rara.... ri beneran anggi sakit?" tanya rara begitu tersambung dengan rio tampa basa basi lagi


"iya udah sebulan lebih ga sekolah, mana udah mau ujian lagi" jawab rio di seberang sana


"sakit apa ko selama itu?" tanya rara


"typus ra... apa ga sebaik nya kamu tengok, kali aja dia semangat, cepat sembuh...." kata rio


"emhhh..... ya udah nanti aku kabarin ya bye...." rara menutup panggilan nya dia bingung harus bagai mana, kalo dia berangkat takut azwar tau, secara dia selalu pantau rara lewat vc, kalo di luar jam sekolah,


...****************...


Rara berjalan di koridor sekolah menuju gerbang, akhirnya dia menu juga cara aman, ijin dari sekolah dengan alasan mulas karena memang dia sedang datang bulan, ia segera memesan ojeg online menuju rumah anggi, meski dalam hati nya bingung harus ngomong apa, tapi gimana nanti lah, rara mampir dulu ke toko kue membeli beberapa cake sebagai buah tangan untuk menjenguk anggi, karena rara tidak sempat membuat nya, lima belas menit kemudian rara sampai di rumah anggi, yang ternyata rame sekali, rara sempat berfikiran buruk tentang anggi hati nya berdebar, namun akhir nya lega juga, setelah dia melihat yang berkerumun itu berseragam putih abu, mungkin teman anggi datang menjenguk, rara sempat ragu untuk masuk, apa ia pulang aja, kan malu banyak temen anggi... baru saja membalikan tubuh nya namun ia urungkan tatkala mendengar seseorang memanggilnya


"ra.... ko balik lagi" rara kenal itu suara rio, rara menoleh ke arah rio


"eh lain kali aja deh takut ganggu kan banyak temen nya" kata rio


"ko ganggu, anggi malah seneng lagi pula udah pada mau pulang, ya?!" rio bertanya pada teman nya,


"iya soalnya udah dari tadi juga kita" jawabnya


"ayo ra... "rio menarik tangan rara untuk masuk dan membawa nya ke ruang keluarga , terlihat anggi terbaring lemas di sofa bad, badan nya kurus, ada rasa bersalah yang rara rasakan melihat kondisi anggi seperti itu, rara mendekati anggi, dan duduk di kursi kecil di depan anggi


"kenapa ngi...?" rara mengusap lengan anggi, sementara anggi hanya tersenyum melihat ke arah rara,


"maaf aku baru dateng sekarang, aku baru tau kemarin dari frida" lanjut rara


"ga apa apa ra... aku juga udah baikan" jawab anggi


"gi.... kita semua pulang dulu ya...., kan udah ada kesayangan" ujar temen anggi sambil melirik rara yang tertunduk malu, teman anggi semua pulang, kecuali rio yang nunggu frida mau dateng jenguk anggi


"gw tunggu di teras aja, sambil nunggu frida lagian takut ganggu" rio menggoda


suasana kaku terasa, dari arah dapur keluar ka velia kaka tertua anggi, yang sudah menikah karena anggi empat bersaudara dan dia anak bungsu


"di minum rara..." katanya sambil meletakan secangkir teh


"iya ka terima kasih" jawab rara


"ra.... bisa kita bicara berdua saja?" ucap ka velia deggg, jantung rara berdegup, pasti ini ada hubungan nya dengan sakit nya anggi, rara hanya mengangguk,

__ADS_1


"ayo di ruang tamu aja" katanya sambil berjalan ke ruang tamu yang di ikuti rara,


"duduk ra.." rara menurut duduk berhadapan dengan ka velia


"sebenernya ada masalah apa dengan kalian, sampe anggi kehilangan semangat belajar, pola hidup nya berantakan, makan ga teratur, begadang sampe akhirnya dia sakit" kata ka velia


"maaf ka, kami memang ada sedikit masalah" rara hanya mampu memberi kan jawaban itu, dia bingung untuk bicara sejujurnya...


"apapun masalah kalian selesai kan lah, suport anggi biar cepet sembuh, sebentar lagi menghadapi ujian, ya sudah temanin anggi lagi" katanya sambil berdiri, masuk ke kamar nya, sementara rara kembali menemui anggi


"gi... maafin rara ya..." air mata rara tak terbendung lagi,


"ga usah minta maaf ra... kamu ga salah, aku ga apa apa bukan juga salah kamu" ucap anggi,


"kamu bagai mana sekarang?" lanjut nya lagi


"apanya?" rara tak mengerti,


"dengan dia, yang keponakan teman mama mu itu" jelas anggi, rara hanya terdiam, air mata nya kian deras berjatuhan, bingung, sedih, rasa bersalah berbaur jadi satu, tak tau harus jawab apa, masa iya dia harus jawab bahagia, bahkan sangat bahagia sekali, itu sama saja seperti menari di atas penderitaan anggi,


"kamu sabar, ini ujian, aku yakin suatu saat kita akan kembali bersama" kata anggi sambil mengusap air mata rara, yang semakin tak kuasa membendung, air mata nya, ia berhambur memeluk anggi, anggi yang polos dan tulus, anggi yang begitu sering ia bohongi,


"ngi aku pulang dulu ya.... kamu cepet sembuh" rara beringsut dari pelukan anggi


"ya hati hati ya ra... , maaf aku ga bisa nganterin" kata anggi


"rio frida belum dateng juga" tanya rara ketika di lihat nya rio masih sendiri di teras


"barusan dia chat katanya ga jadi ada tugas mendadak, ya udah kamu aku anterin pulang ya?" kata rio seraya berdiri, rara hanya mengangguk ragu, jujur saja dia takut azwar tau, dia di anterin cowok lain


"ya udah aku pamit ke anggi sekalian ijin nganterin kamu" rio berjalan masuk ke dalam rumah, tak lama ia sudah muncul lagi


"ra ayo" ajak nya


"ga pa pa nih... ntar frida ngira aku embat dokinnya" canda rara


"ya elahh kayak ama siapa aja, cepetan ra. ..."


"iya iya...." rara segera mengikuti rio yang telah masuk avanza nya, rara duduk di belakang,


"kamu pikir saya sopir mu, pindah ke depan" perintah rio


"bukan gitu ntar di kira selingkuh" bela rara, padahal yang sebenarnya adalah dia takut tiba tiba ketemu azwar, tapi akhir nya nurut juga pindah kedepan, tapi setelah rara pindah rio tidak segera melajukan mobil nya,


"ayo cepetan,tunggu apa?" tanya rara


"ra.... sebenernya ada yang mau aku omongin ke kamu, gimana mau di mana? di rumah mu atau di cafe?" kata rio


"serius amat tentang apa?" tanya rara

__ADS_1


"anggi" jawab nya cepat


"jangan bilang kamu nunggu frida cuma alesan" selidik rara


"iyaa, dan frida juga tau ko aku mau ngobrol sama kamu, jadi gimana?"


"apanya?" tanya rara


"kita biar enak ngobrol nya ke cafe aja ya?" ajak rio,


oh no...! batin rara


"di rumah kamu?" kata rio, rara mengeleng


"di mobil aja tapi jangan di sini, dekat taman aja" usul rara rio hanya mengangguk dan mulai memacu mobilnya, sepuluh menit kemudian mobil menepi di sebuah taman, rara membuka kaca jendela nya


"apa yang mau kamu omongin?" rara membuka pembicaraan


"ra tau ga anggi sakit kenapa?" tanya rio, rara mengangkat bahunya tanda ia tak tau


"karena ia gila?" rara terlonjak dengan perkataan rio


"what?, maksud nya gila gimana?"


"gila karena cinta"


"cinta, cinta siapa?"


"ya cinta kamu lah" rio terlihat kesal


"ga mungkin" sangkal rara


"ko ga mungkin?" rio menatap heran rara


"anggi tak pernah benar benar suka sama aku"


"kata siapa? kenapa kamu berfikir seperti itu?"


"karena dia tak dapat menunjukkan rasa cinta nya, dari dulu aku menunggu dia sekali saja bilang cinta, tapi tak pernah aku dapat, aku sering iri melihat teman teman ku yang dapat perhatian lebih, perlakuan manis, ... tapi anggi tak pernah membuat merasa nyaman" rara menyandarkan kepalanya sementara tatapan nya kosong seakan kembali ke masa di mana dia bersama anggi


"ra... tidak setiap cinta harus di ungkapkan tapi..."


"ya memang, tidak selalu, tapi bagai mana dengan aku, yang tidak pernah mendapatkan pernyataan cinta dan perlakuan pun biasa saja, apa yang bisa di harapkan dari hubungan seperti itu, aku wanita, butuh kepastian, butuh perhatian, ingin di manja dan semua itu tak pernah aku dapat" air mata rara kembali menetes


"ra anggi itu beda, dia tidak se ekspresif yang lain, tapi dia setia, memiliki rasa yang dalam, hanya saja kekurangan nya tak bisa mengapresiasikan nya," jelas rio


"rio aku harus pulang,... antarkan aku pulang"rara tak ingin lebih banyak mendengar cerita rio tentang anggi, ia pikir semua itu tak ada gunanya anggi harus belajar menerima kenyataan


to be continue.....

__ADS_1


__ADS_2