
Jam menunjukan pukul 21'16 rara menuju kamarnya hendak bersiap tidur "treng...treng ... treng..." suara kunci gembok beradu dengan pagar besi, rara berbalik arah menuju pintu depan mengintip dari balik jendela, "huhhh dia lagi" rutuk rara ketika ia lihat laki laki setengah baya berdiri di pintu pagar, rara kemabali ke kamar nya pura pura tak mendengar, tapi suara berisik bunyi gembok itu tak mau berhenti, dia adalah ifan mantan suami almarhum kakanya, belakang dia sering ke rumah rara, dengan alasan kemalaman mau ke rumah adiknya, tempat ifan menitipkan khilfan anak hasil pernikahan nya dengan kaka rara, karena adik ifan tidak mempunyai anak, pada awalnya, khilfan di bawa mama, tapi waktu itu terjadi pertengkaran hebat, antara ifan dan ayah rara, berawal dari khilfan yang demam, ayah rara sudah memberi tahu ifan, tapi dia tak kunjung datang, dia terlalu sibuk mengurus konveksi nya, mama menangis rara merasa sedih, kasihan dengan cucu satu satu nya itu, ibunya sudah tak ada ayah nya sama sekali tak mempedulikan nta, melihat mama rara menangis membuat ayah rara kasihan sekaligus marah pada ifan, dia mendatangi ifan, di luar dugaan ifan marah merasa kesibukan nya di ganggu, terjadi lah pertengkaran hebat, ifan membawa khilfan yang sedang demam, mama rara semakin sedih, terlebih khilfan merupakan cucu pertama, karena kinan menikah lebih dulu di banding agis, belakangan baru tau kalo ifan menitip kan anak nya di rumah adik nya yang terletak di kampung, sementara rumah rara yang jarak nya cuma satu kilo meter membuat dia sering mampir, terus terang itu membuat rara risih, mana kaka nya belum pulang dari rumah mertua nya lagi, akhirnya rara memutuskan untuk membuka pintu, setelah sebelum nya dia menyuruh kaka nya untuk segera pulang
"Assalamualaikum..." kata ifan begitu pintu pagar di buka rara
"Waalaikumsalam..." rara menjawab salam ifan sambil kembali masuk yang di ikuti ifan dan langsung duduk
"apa kabar ra?" tanya nya
"baik" jawab rara
"maaf ya ra ka ifan mengganggu, ka ifan mau ke rumah paman" kata ifan
"dan kemalaman? lagian kenapa ka tidak berangkat lebih awal biar ga kemalaman" rara memperlihatkan ketidak sukaan nya....
"ra sebenarnya ada yang mau ka ifan bicarakan" kata ifan
__ADS_1
"tentang apa?!" tanya rara mulai tak nyaman
"jujur aja, sebenernya setelah 4thn kaka kamu meninggal a ifan tak mau menikah lagi, karena takut nanti nya khilfan memiliki ibu tiri yang tak menyayangi nya...."
"trus apa hubungan nya dengan ku?" potong rara
"a ifan pengen khilfan bersama orang orang yang menyayangi nya, biar ga canggung, rara ngerti kan maksud a ifan?" tanya nya, rara menggeleng
"ka ifan mau rara jadi tante sekaligus ibu untuk khilfan" jelas ifan
"kalo kamu belum siap, sekarang, g apa apa, sekolah aja dulu, kalo mau kuliah ka ifan akan tanggung biaya kuliah mu," bujuk ifan
"tidak harus menjadi ibu untuk menyayangi khilfan" kata rara
"tidak harus memutuskan sekarang juga" kata ifan
__ADS_1
"sekarang atau nanti tidak akan merubah keputusan rara jawaban nya tetap tidak" kata rara " dan kalo mau nginap sebaiknya si rumah a agis saja, tidak baik kalo di sini" kata rara setengah mengusir
"ta apa ka ifan sudah menelpon sepupuku ka ifan untuk menjemput" kata nya
"baguslah" kata rara ketus rara tak dapat menyembunyikan ke tidak sukaan nya
Seminggu berlalu... sejak kedatangan ifan, rara tak dapat melupakan kata kata ifan yang meminta nya untuk jadi istri nya, rara pun menceritakan kejadian itu pada agis kak nya,
Hari ini mama rara pulang, ya dia memang rutin sebulan sekali menengok rara, biar bagai mana pun rara masih butuh perhatian dan pengawasan, sebenarnya kalo masalah materi, tidak mengkhawatir kan ayah rara mempunyai kontrakan 6 pintu, dan itu jatah bulanan rara, mama rara selalu pulang dengan banyak oleh oleh segala kebutuhan rara, azra, cucu nya, anak agis dan sinta, bahkan untuk khilfan, sekarang rara merasa malas karena seperti biasa nya ia yang bertugas untuk mengantarkan nya
"ra... mama sudah mendengar semua nya dari agis, tentang ifan, ....dan.... mama ga mau kamu mengalami nasib seperti kinan, jika kamu mau .... lebih baik kamu jangan menganggap mama ini adalah ibumu lagi" kata mama rara dengan berlinang air mata,
Gleekkk.... rara menelan ludah, antara menahan tangis nya yang mau pecah, dan hatinya yang marah...
"ma.... jangan kan sekarang, dulu aja rara sudah tak suka, mama ingat kan sebelum pernikahan teh kinan malam itu rara nangis, dulu rara pikir cuma karena fisik aja dia ga cocok sama teh kinan, dan belakang fakta nya baru tau manusia seperti apa ifan itu, jadi mama ga usah khawatir" ucap rara dengan mata berkaca kaca, sebegitu dalam nya luka yang di tereh kan laki laki itu di hati mamanya,
__ADS_1