
Happy reading😘😘😘
Seketika mereka semua menatap Soora bingung. Bahkan kakek Park pun berbalik badan menatap Soora.
"Apa maksudmu eonni?" tanya Soon ae.
"Yoongi oppa tidak melecehkanku. Dia tidak melakukannya harabeoji" lirih Soora menatap kakek Park dan Yoongi bergantian. Sementara Yoongi sendiri menatap Soora dengan tatapan yang sulit di artikan membuat Soora kembali melanjutkan kata-katanya.
"Saat itu Yoongi memang sengaja memutar tubuhku dan saat Soon ae dan lainnya melihat kami itu memang akan terlihat seperti kami berciuman tapi sebenarnya tidak seperti itu. Yoongi oppa hanya menyuruhku diam " jelas Soora.
Soora menatap Hoseok lalu melanjutkan ucapannya.
"Yoongi oppa tidak menciumku oppa. Dia tidak melakukan itu" lirih Soora. Hoseok mengejapkan sedikit matanya lalu menatap Yoongi. Masih terlihat jelas wajahnya yang terluka akibat pukulan brutalnya. Bahkan cara berjalan namja itu pun masih tertatih-tatih.
Soora melangkah mendekati kakek Park sambil menatapnya lekat. Dia menggosok kedua tangannya di depan namja itu.
"Aku mohon harabeoji beri kami kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Ini memang salah kami dan kami mengakuinya. Mianhae(maaf) sudah mengecewakanmu....hiks"
Seakan tidak peduli kakek Park malah membuang muka tak ingin menatap Soora.
"Bukankah sudah ku katakan aku tidak mau mendengar alasan apapun dari kalian. Yang ku inginkan sekarang kalian menadatangi dokumen itu dan segera berikan padaku. Arasso(mengerti)" ucap kakek Park lantang.
"Harabeoji mengertilah kami tidak ingin bercerai" pekik Soora.
"Cukup Soora......." bentak kakek Park lalu pergi dari sana tanpa memperdulikan tangis Soora yang sudah pecah.
"Oppa ottokeh(bagaimana ini) hiks...." ucap Soora memeluk Hoseok.
Hoseok hanya bisa membalas pelukan itu.
Sementara Eunmi hanya menunduk menyesali semuanya. Kenapa semuanya jadi kacau seperti itu? Dan lagi ke dua adiknya harus jadi korban akibat keegoisannya.
Yoongi menggenggam tangan Soon ae dan membawanya pergi dari sana. Sudah cukup.
Sepertinya semua akan berakhir sampai disini.
💜💜💜
Hoseok memberi Soora segelas air putih. Wanita itu masih segukan karna terlalu banyak menangis. Mereka sudah berada di rumah mereka sendiri.
"Gumawo(terima kasih) oppa" ucap Soora lesu.
"Ne(iya)" jawab Hoseok lalu duduk disamping Soora.
Soora menatap kosong gelas itu. Entah kenapa dia tidak berniat meminumnya sama sekali.
"Kenapa ini semua terjadi?" tanya Soora.
"Waeeeeeyooo??!!!"(kenapa) teriak Soora melempar gelas itu.
Tangisnya kembali pecah. Sesak didalam dadanya tak kunjung reda. Dia mencoba untuk tidak memikirkannya tapi sungguh itu sangat sulit. Belum lagi karna mereka belum mendapatkan jalan keluar dari masalah itu. Rasanya marah menjadi obat terbaik untuk saat ini.
"Soora-ya...." lirih Hoseok membawa Soora kedalam pelukannya.
"Waeyoooo oppaaaa........wae..?!!!" tangis Soora.
"Jebal(kumohon) aku tak ingin berpisah Darimu" lirih Soora makin terdengar menyakitkan.
"aku juga tidak bisa berpisah dari mu sayang.....aku dan yang lain akan mencari cara agar kita tidak ada yang berpisah. Kau jangan menangis lagi. Araci" sendu hoseok.
"Otte???!!!(bagaimana) Bahkan kakek tidak mau mendengar perjelasan kita. Apa yang bisa kita perbuat?" kata Soora.
Hoseok tak tau harus menjawab seperti apa. Soora benar kakek Park seperti menulikan telinganya untuk mendengar penjelasan mereka.
Lalu apa yang bisa mereka lakukan sekarang. Hoseok semakin mengeratkan pelukannya pada Soora yang masih menangis.
"Uljima(sudah) Soora-ya. Jebal(kumohon) " ucap Hoseok mengusap lembut punggung Soora untuk menenangkannya. Walaupun dia sendiri sudah tidak dapat tenang sekarang.
Bukan hanya masalah perceraian yang namja itu pikirkan sekarang tapi juga Yoongi. Dia merasa sangat bersalah sudah memukuli Yoongi. Hoseok bisa melihat jelas tadi bagaimana keadaan Yoongi. Perasaan Hoseok makin kacau sampai dia sendiri bingung bagaimana cara menghadapinya.
__ADS_1
Soora melepaskan pelukan Hoseok lalu menatapnya.
"Oppa kita minta bantuan pada orang tua kita saja. Otte?(bagaimana)" usul Soora.
Hoseok tertunduk lesu. "Aku sudah menghubungi mereka dan........mereka juga tau tentang semua hal ini. Mereka sama saja Soora kecewa pada kita"
Pupus sudah tidak harapan lagi untuk mempertahankan hubungan mereka. Walau tak ditunjukkan Soora tetap menyalahkan Eunmi atas semua yang terjadi. Jika saja hari itu dia tidak menyetujui perjanjian konyol itu pasti semuanya akan baik-baik saja.
"Ini semua karna Eunmi eonni" lirih Soora.
"apa maksudmu Soora?"
"Ne(iya)....jika saja Eunmi eonni tidak mengeluarkan ide gila itu pasti semuanya akan baik-baik saja sekarang" kesal Soora.
"Soora-ya cukup....Bukankah itu kesepakatan kalian? Kenapa sekarang kau malah melimpahkan semuanya pada Eunmi" Hoseok sedikit meninggikan suaranya.
Jujur saja dia tidak suka dengan sisi Soora yang egois dan selalu menyalahkan orang lain seperti ini.
Soora terdiam. Yang dikatakan Hoseok benar. Dia dan Soon Ae pun setuju akan perjanjian itu bukan?
Hoseok mendekat lalu meraup kedua pipi Soora.
"Aku tau kau marah tapi tidak baik menyalahkan orang lain atas apa yang kalian setujui bersama" ucap Hoseok mengusap lembut air mata Soora.
"Lalu nasib pernikahan kita bagaimana?"
"Entahlah......akupun sudah tidak bisa berfikir sekarang"
Hoseok dan Soora saling menghamburkan pelukan sambil berfikir jalan apa yang harus mereka tempuh sekarang. Semuanya terasa sangat gelap seperti tidak ada lagi jalan keluar.
Haruskah mereka berpisah seperti ini. Saat cinta mulai tumbuh mereka harus rela di pisahkan oleh orang yang telah menyatukan mereka.
Sungguh kenyataan yang sangat menyakitkan.
💜💜💜
Soon ae mengikuti Yoongi yang berjalan lesu menuju rumah, kakinya perlahan menaiki tangga saat mereka hendak ke kamar. Yoongi tak banyak bicara dan begitupun Soon ae. mereka sibuk memikirkan bagaimana caranya agar keluarga mereka tetap bersama. Hal yang mustahil jika harus menentang perintah kakek Park. Karena saat kau menentangnya maka kau akan kehilangan segalanya. Dan Yoongi tau Persis itu..
Yang dipanggil menoleh melihat Soon ae yang menunduk lalu mendekati nya. Soon ae dengan pelan menyandarkan kepalanya di bahu Yoongi. Tangannya masih berada di samping badan. Tak berniat untuk memeluk Yoongi atau semacamnya. Dan Yoongi hanya diam pun tak memeluk Soon ae.
"Apakah seperti ini akhir dari kisah kita? " Tanya Soon ae lesu.
Yoongi tak mampu menjawab.
"Kenapa Tuhan sangat kejam pada kita? Disaat kita hendak memulai semuanya dari awal.... Kenapa harus kita dipisahkan? " lirih Soon ae lagi.
Yoongi menunduk menatap Soon ae yang mengeluarkan air mata. Ini sudah yang kesekian kali ia melihat Soon ae menangis. Yoongi mengusap lembut air mata Soon Ae lalu menggeleng pelan.
"Apa Tuhan membenciku? " Tanya Soon ae lagi lirih.
"Aku tak ingin berpisah dari mu."
Yoongi masih setia mendengarkan dan untuk pertama kalinya namja itu meneteskan air matanya namun segera dia sapu dengan kasar. Tak ingin Soon ae tau itu.
"Yoongi-ssi apa yang harus aku lakukan?" Tubuh Soon ae bergetar dan Yoongi pun menariknya untuk ia peluk.
"Kau tak perlu melakukan apapun Soon Ae. Aku akan mencari jalan keluar.. Ssttt jangan menangis.. Kumohon.. " Yoongi mengelus rambut Soon ae pelan.
Lama mereka berpelukan. Tak banyak berbicara dan hanya menenangkan satu sama lain. Mencari pembelaan lewat pemikiran mereka dan mengumpati takdir yang begitu kejam. Membenci pun tak ada guna.. Soon ae dan Yoongi tak ingin menyerah pada hubungan mereka begitupun yang lainnya. Hanya lewat pelukan penuh luka mereka bisa tau ada ketulusan disetiap ucapan, tindakan dan muncul kepercayaan antara satu sama lain yang sempat meragu disuatu waktu.
💜💜💜
Hening. Tidak ada satupun dari pasangan Jeon ini yang ingin bersuara. Sejak dari mansion kakek dimobil hingga mereka berdua kembali lagi kerumah sakit. Masih ingat bukan Eunmi harus dirawat intens di rumah sakit, setidaknya sampai mereka menemukan donor sumsum tulang belakang dan melakukan operasi. Dan itu mengharuskan Eunmi dirawat dirumah sakit lebih lama.
Taehyung menuntun Eunmi kearah ranjang dan membaringkan tubuh Eunmi disana. Sambil menunggu dokter yang akan memeriksa keadaan fisik Eunmi. Terlebih sejak tadi aksi kakek marah, sakit Eunmi kembali kambuh. Namun dia tahan mati matian agar tidak satupun yang menyadari kalau saat itu Eunmi sedang menahan rasa sakitnya.
Eunmi menghela nafas nya dengan gusar. Menatap Taehyung yang saat ini duduk disofa. Memijit kepalanya yang dia tau namja itu pasti sangat stress memikirkan masalah tadi. Terlebih Eunmi menjawab perkataan sang kakek yang sangat bertentangan dengan keinginannya.
"Mian(maaf) oppa" Lirih Eunmi.
__ADS_1
"untuk apa ?" dengus Taehyung.
"Tentang jawaban ku tadi. Aku hanya merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kuperbuat " ucap Eunmi yang masih setia menatap Taehyung.
"bertanggung jawab? Dengan cara mengorbankan pernikahan kita begitu?" ketus Taehyung yang saat ini menatap tajam mata Eunmi dengan netra hazel miliknya.
"A-aku.. aku tidak-"
"Ya aku tau karna Kau tidak benar-benar mencintaiku bukan ?" nada Taehyung bahkan lebih dingin dari hari pertama mereka menjadi suami istri. Eunmi tak menduga Taehyung kembali bersikap dingin kepada nya.
"Aniyo(tidak) oppa, bukan itu maksud___"
"Aku saja yang bodoh mengharapkan cintamu yang tak mungkin bisa kudapatkan"gumam Taehyung.
Kenapa malah jadi seperti ini? Bukan ini yang Eunmi harapkan. Ingin sekali rasanya Taehyung memeluknya dan memberinya kekuatan tapi apa. Namja itu malah mengabaikan dan bersikap dingin padanya.
"Istirahatlah. Aku ingin keluar." Taehyung segera berlalu dari ruangan rawat inap itu tanpa sedikit pun melirik Eunmi yang saat ini meneteskan air matanya.
"Mian oppa. Mianhe. Aku mencintaimu. Sangat " tangis Eunmi pecah disaat pintu itu tertutup dengan sempurna tanpa menyadari Taehyung mendengarnya dan ikut menangis dibalik pintu tersebut.
Taehyung terduduk lesu di kursi depan ruang inap Eunmi.
Kecewa.
Ya itu yang sedang Taehyung rasakan sekarang. Kenapa Eunmi begitu cepat menyerah dan malah menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. Memang benar jika dia yang mengeluarkan ide itu tapi...... kenapa harus dia dan Eunmi yang berpisah.
Bukannya Taehyung ingin kedua kakaknya yang berpisah tapi seharusnya mereka saling mendukung bukan untuk mempertahankan rumah tangga mereka?
Entahlah Taehyung buntu. Namja itu terus bergulat dengan fikirannya sendiri tanpa dia sadari dia sudah seperti itu sekitar 30 menit.
"Taehyung-ssi...."
Taehyung mendongakkan kepalanya saat mendengar namanya di sebut.
"Dr Namjoon" gumam Taehyung menyapu air matanya lalu berdiri.
"Ada apa dokter? Kau akan memeriksa Eunmi?" tanya Taehyung.
"Aku sudah memeriksanya tadi" jawab Namjoon.
"Kapan? Aku tidak melihatmu?". Padahal namja itu duduk disana tapi dia sama sekali tidak melihat Namjoon datang.
"Kau terlalu banyak pikiran hingga tidak menyadari aku datang"
"Benar juga" ucap Taehyung agak kikuk.
"Taehyung-ssi.....ada suatu hal yang ingin ku katakan padamu" tutur Namjoon dengan nada seriusnya.
Taehyung menatap sambil mengerutkan dahi seakan bertanya.
"Kami sudah menemukan donor yang cocok untuk Eunmi" lanjut Namjoon.
Seketika wajah Taehyung berbinar. "Benarkah?"
"Ne(iya)...tapi....." Namjoon menunduk.
"Tapi apa?"
"Kita kalah telak. Pendonor tersebut sudah di ambil orang lain yang lebih berkuasa dari kita" jelas Namjoon.
"Nde?(apa)"
Apalagi ini? Disaat ada harapan kembali harapan itu di renggut.
Tbc.........
Huwaaaaaaa😭😭😭 siapa yang ikutan nangis juga??? Sungguh luar biasa kakek Park yah. Jempol dua untukmu kakek udah bikin kesayangan kami pada mewek😁
Ok see u next Chap👋👋👋
__ADS_1
By Rara Vina Lion💜💜💜