
"Lilith Rachet..."
Trap!
Pukul 11 malam. Sena terbangun dari lelapnya karena suara itu. Tidak, bukan suara yang berasal dari sekitarnya, tapi suara yang selalu muncul di dalam mimpinya itu. Jika diingat-ingat, ini tidak hanya terjadi sekali dua kali. Sena sudah terlalu sering terbangun karena suara aneh itu, suara yang seolah memintanya untuk datang. Lupakan, Sena bukan tipe orang yang terlalu peduli dengan mimpi. Ia pikir itu hanya mimpi buruk yang muncul karena dia selalu kelelahan. Setelah melirik jam weker yang ada di meja kecil disamping tempat tidurnya, Sena kembali menarik selimutnya berniat melanjutkan tidurnya. Ini memang belum waktunya untuk bangun. Kamar dengan cahaya remang itu kembali sunyi setelah bunyi terakhir Sena mengatur posisi tidurnya, sekarang hanya suara jarum jam yang berdetak.
TRASH!
Kilat cahaya yang berasal entah dari mana menembus jendela kaca kamar Sena berhasil membuatnya kembali terbangun. Sena menuruni ranjangnya dan berjalan ke arah jendela lalu mendongak memeriksa keluar jendela. Tidak ada apapun.
"Apa akan turun hujan?" Sena bergumam sendiri. Kilat tadi sungguh mengejutkan, tapi tak ada suara petir. Sena berusaha tak memperdulikannya, ia kembali berjalan menuju ranjangnya dan segera akan kembali tidur. Seakan malam ini tak mengizinkannya untuk kembali tidur, suara berdegum luar biasa berasal dari halaman belakang rumah Sena yang membuatnya tidak jadi menarik selimutnya. Sena membuang napas kesal karena ia harus memeriksa suara itu.
Di waktu yang sama, dua mahluk yang tak jelas bentuknya seperti tengah bertarung di udara. Entah apa itu, tapi yang jelas, itu bersayap. Keduanya saling beradu sengit hingga akhirnya salah satunya terjatuh menghantam dinding salah satu rumah. Bentuk itu menyeramkan. Dengan taring panjang yang saling melewati bibir atas dan bawahnya, bentuk wajah yang menyeramkan, mata merah, serta rambut yang tumbuh di sekujur tubuhnya dan sepasang sayap seperti sayap kelelawar yang menempel di punggungnya. Sosok itu tampak menahan rasa sakit dan berusaha bangkit. Namun secepatnya sesuatu yang bersinar merah menghantam tepat di dadanya berhasil membuatnya terpental lagi.
Bugh! Sebuah kaki kemudian mendarat menginjak dadanya.
"Katakan apa tujuanmu"
Sosok itu menatapnya dingin. Yang ini lebih terlihat seperti manusia, namun ia memiliki sepasang sayap di punggungnya, tentu tidak se-menyeramkan mahkluk yang sedang diinjak ini.
"Lucifer, aku tidak mengerti apa obsesi mu dengan dunia yang menjijikkan seperti ini".
Sosok itu tertawa sembari menggenggam kaki sosok yang ia sebut Lucifer itu, sesekali berusaha menyingkirkan nya dari dadanya.
Lucifer berdecih dingin. Ia mengangkat kakinya dari dada mahkluk yang sedang ia injak.
"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu. Untuk apa kau datang ke dunia yang menurutmu menjijikkan?".
"Kau bertanya untuk apa?. Itukah yang kau tanyakan pada bangsa Nost yang telah kalian buang dari Devildom?. Jika kau bertanya apa tujuanku, maka jawabannya adalah mendapatkan kekuatan untuk menghancurkan Devildom".
Nost. Itu adalah makhluk yang paling setia kepada demon di Devildom. Kedudukan mereka setara dengan panglima di Devildom, karena penghianatan yang dilakukan membuat mereka dibuang dari Devildom dan kemudian menjadi iblis tingkat bawah.
Lucifer menatap Nost itu tajam sementara hanya mendapat tawa ejekan dari Nost yang sudah berhasil bangun itu.
"Penghianat sepertimu tidak akan pernah mendapatkan kesenangan yang kau harapkan".
Tatapan Lucifer dingin dan menusuk sambil menodongkan pedang panjang itu tepat didepan wajah Nost. Nost itu hanya tersenyum meremehkan sambil mengangkat kedua tangannya, ia memang harus menyerah sekarang ini.
"Penghianat katamu?, haruskah kau mengatakan itu pada dirimu sendiri, Lucifer?"
Serangan terakhir dari Nost berhasil mengenai Lucifer sebelum akhirnya Nost itu menghilang dari hadapannya. Lucifer menarik napas menahan kesalnya. Serangan ini belum berarti apa-apa bagi tubuhnya. Namun perkataan terakhir dari Nost itu membuat pikiran nya melemah dan sejenak termenung. Ia berpikir apakah Nost mengetahui tujuan nya berada di dunia manusia ini?. Suara langkah kaki, Lucifer menyadari sekarang ia tengah berada di sebuah halaman belakang rumah seseorang. Lucifer menoleh pada pintu yang akan segera terbuka itu.
Sena membuka pintu dan memeriksa halaman belakang nya. Tidak ada apapun, ia yakin ia mendengar suara sesuatu menghantam dinding rumahnya. Ia juga memeriksa samping rumahnya namun tak ia temukan apapun disana. Sena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia mulai berpikir kalau ia hanya berhalusinasi karena bangun tengah malam seperti ini. Sena menepuk jidatnya "sepertinya aku harus banyak istirahat jika tidak mau terus berhalusinasi seperti ini" ujar sena sendirian. Sena kemudian masuk kerumahnya dan menutup pintu. Tepat di atap rumahnya, Lucifer bertengger disana dan segera menghilang menyisakan beberapa bulu hitam berterbangan hingga akhirnya menyentuh tanah, lalu lenyap.
Sudah sekitar 5 menit Sena duduk di halte untuk menunggu bis. Hari ini ia akan bertemu dengan teman-temannya di sebuah kafe yang sudah mereka janjikan kemarin. Hari ini adalah hari libur kerjanya karena akhir pekan, jadi ia memutuskan untuk menghabiskan waktu akhir pekan bersama dengan teman-temannya. Sena mengayun-ayunkan kaki mulusnya sembari duduk menatap ponselnya. Di kedua telinganya terpasang earphone, ia sedang mendengarkan musik favoritnya sesekali kakinya menciptakan hentakan dan tarian kecil. Tak butuh waktu lama, bis yang ia tunggu telah berhenti didepannya. Sena mengantongi ponselnya lalu memasuki bis, earphone itu masih menyangkut di kedua telinganya.
Sena duduk di samping gadis SMA yang mengenakan pakaian olahraga sekolah. Dari penampilannya, sepertinya ia hendak pergi ke sekolah untuk kegiatan klub akhir pekan. Sena tersenyum sekilas lalu kembali fokus ke depan.
Bis berhenti di depan halte berikutnya, tapi ini bukan pemberhentian Sena, ia masih perlu berhenti di halte depan berikutnya lagi. Gadis SMA yang duduk di sampingnya itu menepuk bahu sena. "Kak, aku perlu turun disini" ternyata sudah beberapa kali ia menegur Sena, karena Sena menggunakan earphone jadi Sena tidak mendengar.
"Oh, maaf aku tidak mendengarkan". Sena tersenyum tidak enak sembari mencopot earphone nya lalu mematikan lagu di ponselnya.
Gadis SMA itu tersenyum lalu berlalu melewati Sena. Tanpa sadar mata Sena mengikuti punggung gadis itu hingga turun bis. Ia melihat merek yang tertera pada baju olahraga yang gadis itu kenakan. SMA Nowari, Sena tersenyum karena itu adalah SMA tempatnya dulu bersekolah. Tapi seharusnya gadis itu tidak turun di pemberhentian ini jika ia ingin pergi ke sekolah. Lupakan, itu juga bukan urusan Sena.
Bis kembali berhenti di pemberhentian tujuan Sena. Ia tak lagi memakai earphone nya melainkan menyimpannya di tas kecil yang ia selempang kan.
"Ini membuatku tuli". Sena berkata sendiri sebelum menyimpan earphone itu lantas turun dari bis.
Sena duduk di salah satu meja kafe yang menghadap jalanan. Ia masih berkutat dengan ponselnya membalas pesan dari Shigeyo, salah satu temannya yang berjanjian di kafe ini.
'Kau mau satu? Ini sangat lucu,lihatlah'. Pesan itu masuk ke layar ponsel Sena setelah ia meneguk latte yang ia pesan setelah duduk di kafe ini. Sena tersenyum menyeringai melihat gambar yang dikirimkan oleh Shigeyo, ia tak menyangka teman laki-laki nya ini menyukai boneka kecil yang imut seperti itu. Boneka itu berbentuk seperti tupai dengan telinga kecil di kepalanya, dengan gigi khas tupai yang membuat boneka itu terlihat semakin menggemaskan, namun Sena tidak tertarik.
__ADS_1
'Beli untukmu saja, aku tidak mau'. Sena membalas pesan itu.
'Kalau begitu aku akan membelikan satu untuk Kana'. Shigeyo membalas lagi.
'Kau yakin dia mau?'.
'Mengapa tidak? Boneka ini sangat trend sekarang'.
Pesan terakhir itu hanya dibaca saja oleh Sena. Sekarang ia fokus menyeruput latte nya.
"Sena!".
Sena menoleh setelah mendengar suara yang ia kenali. Itu temannya, Kana. Temannya yang satu ini selalu terlihat ceria.
"Kau sudah lama menunggu?".
Kana duduk di bangku yang ada didepan Sena.
"Tidak juga, aku tiba sekitar 15 menit yang lalu"
"Shigeyo belum sampai, ya?".
Sena meraih ponselnya lalu membuka log pesan Shigeyo, menunjukkannya kepada Kana. Gadis didepannya itu meraih ponsel Sena lalu melihat pesan Shigeyo. Ia meng-klik gambar yang dikirim oleh Shigeyo beberapa waktu lalu lantas senyuman terpampang diwajahnya.
"Wah, ini boneka yang sedang trend itu,ya?". Kana mengembalikan ponsel Sena setelah membaca pesan-pesan itu. Sekarang ia tau mengapa Shigeyo terlambat.
"### Begitulah, dia bilang akan membelikan satu untukmu".
"Lalu mengapa kau tidak mau?"
"Hanya kurang tertarik saja, kau tau aku tidak terlalu suka memiliki barang yang sama dengan banyak orang"
"Teman-teman!". Sena dan Kana menoleh pada pria yang berjalan ke arah mereka. Itu Shigeyo, ia terlihat memeluk dua buah boneka berwarna cokelat dan putih di lengannya.
Shigeyo duduk lalu memberikan satu boneka yang berwarna cokelat itu kepada Kana.
"Ini untukmu, jangan khawatirkan Sena, gadis ini selalu jual mahal setiap kali aku ingin memberi hadiah kecil". Shigeyo mengatai orang yang jelas-jelas ada disampingnya.
Sena menokok kepala Shigeyo dengan tangannya. Kana hanya tertawa melihat Shigeyo yang mengaduh kesakitan.
"Terimakasih, Shigeyo". Kana menerima boneka itu. Shigeyo memang paling sering membelikan hadiah kecil untuk mereka. Tidak salah juga, Shigeyo berasal dari keluarga kaya dibanding Sena dan Kana yang hanya tinggal di rumah sewa dan memiliki banyak pekerjaan sampingan, jadi memberikan hadiah kecil untuk teman-temannya bukanlah hal yang berat untuknya. Meski begitu mereka bertiga selalu berteman baik sejak SMA.
"Omong-omong ada tempat yang ingin aku kunjungi. Ingin coba kesana?". Sena mulai membicarakan topik yang lain.
"Jangan bilang kau ingin pergi ke wahana rumah berhantu yang baru dibuka itu?". Shigeyo seenaknya saja menebak. Sebenarnya dia baru saja mengejek Sena karena ia tau selera Sena berbeda dari yang beda.
"Jadi kau ingin aku mengajakmu kesana?". Sena melempar wajah ejekan kepada Shigeyo. Ia tau teman laki-laki nya ini sangat penakut.
"Aku tidak mau pergi". Tentu pria ini menolak. Ia bahkan mengangkat kedua tangannya didepan dada membentuk tanda silang.
"Apa tempat yang ingin kau kunjungi, Sena?". Kana menanyakan itu setelah menyimpan bonekanya di dalam tasnya.
"Ada kafe tart yang baru saja buka beberapa hari yang lalu, kalau kulihat dari ratingnya sepertinya bagus. Mau mencoba?". Sena memperlihatkan layar ponsel nya yang menunjukkan beberapa gambar kue tart yang cantik dan terlihat enak.
"Wah, sudah lama aku tidak makan tart, aku akan ikut denganmu". Kana setuju.
"Mengapa para gadis sangat menyukai makanan manis seperti itu, lagipula desain interior kafe nya terlihat sangat membosankan". Shigeyo mengkritik kafe baru ini.
"Aku juga tidak mengajakmu jika kau tidak ingin ikut". Sena menarik ponselnya dari tangan Shigeyo.
"Siapa bilang aku ingin ikut, aku akan menjadi satu-satunya pria yang datang ke kafe merah muda itu. Tidak akan terjadi".
__ADS_1
Sena dan Kana saling berpandangan mengernyitkan dahi, apa yang dikatakan Shigeyo seolah dia adalah pria yang sangat maskulin namun pada realitanya sangat lemah terhadap hal imut. Seperti yang baru saja terjadi hari ini, ia bahkan membeli boneka tupai itu.
"Selamat makan!". Sena dan Kana tampak bahagia sembari menyendok tart yang ada didepan mereka. Ya, sekarang mereka sudah ada di kafe tart yang tadi mereka bicarakan.
"Aku tidak percaya aku akhirnya ikut dengan kalian". Shigeyo, pria ini akhirnya ikut bersama teman-temannya ke kafe merah muda yang ia sebut membosankan.
Sungguh, seperti yang tadi Shigeyo katakan, ia adalah satu-satunya pelanggan pria yang datang ke kafe itu sejak dibuka beberapa hari yang lalu. Perasaan malu sempat menyelimuti hati Shigeyo, namun kue-kue tart yang menggemaskan ini meluluhkan gengsinya. Sekarang ia bahkan tengah menikmati tart ukuran medium yang ia pesan bersama dengan Sena dan Kana. Ia mengulum senyumnya kala rasa manis tart itu memenuhi lidahnya, ingin rasanya Shigeyo terbang, namun ia harus tetap menjaga sikap sebagai seorang pria. Keimutan dan kelembutan berpadu dengan rasa manis ini sungguh menyiksa batin Shigeyo yang ingin terbang.
Sena dan Kana tertawa diam-diam melihat Shigeyo yang berada di meja lain di samping mereka. Mereka tau Shigeyo tidak akan tahan dengan tart-tart yang lucu ini. Karena setiap meja hanya memiliki dua buah kursi jadi Shigeyo duduk sendiri di meja sebelah Sena dan Kana.
Hari ini mereka mengunjungi banyak tempat, setelah selesai di kafe tart yang di rekomendasikan oleh Sena, mereka pergi ke museum astronomi untuk sekedar melihat-lihat koleksi benda langit yang ada disana. Mereka juga disuguhi ilustrasi pemandangan langit malam dengan bintang-bintang yang bertaburan memenuhi galaksi. Tak habis disana saja, mereka kemudian pergi ke akuarium terbesar yang ada di kota mereka. Mereka bisa menyaksikan ikan-ikan yang berenang dari dalam akuarium itu seolah berada ditengah-tengah laut. Mereka juga menyaksikan pertunjukan sirkus lumba-lumba yang menggemaskan, mencoba eskrim dengan porsi besar lalu bermain berbagai macam wahana di taman hiburan. Liburan akhir pekan ini terasa sangat menyenangkan karena mereka menghabiskan waktu bersama hingga tanpa sadar hari yang begitu panjang terasa sangat singkat.
Sekarang mereka berpisah menuju arah rumah masing-masing, hari ini sudah cukup menyenangkan. Pukul 5 sore Sena menunggu bis di halte untuk pulang. Sementara Shigeyo dan Kana sudah pergi duluan dengan bis yang datang beberapa waktu lalu. Sekarang Sena tengah menunggu bis nya datang. Agar tak terasa membosankan, Sena menggeser-geser layar ponsel nya melihat gambar-gambar yang mereka ambil hari ini. Tak lupa ia memposting gambar itu di akun sosial medianya.
Baru beberapa menit gambar itu terposting, terlihat nama Shigeyo muncul di log notifikasi.
'Shigeyo baru saja menyukai postingan anda'. Sena tersenyum melihat gambar-gambar yang ia posting, tak bisa dipungkiri, ia memang bersenang-senang hari ini.
Sena turun dari bis dan berjalan menyusuri jalanan untuk tiba di rumahnya. Sekarang sudah pukul 5.30, cahaya merah di ufuk barat sudah mulai terlihat jelas.
Sena segera masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, hari ini cukup melelahkan, tapi semua itu terbayar dengan kesenangan yang ia dapatkan hari ini bersama dengan teman-temannya. Ia merasa seperti sudah ter-charge kembali untuk menjalani pekerjaannya besok.
Tiba-tiba suara berisik dari belakang rumah nya menghentikan tangan Sena yang hendak membuka pintu kamar mandinya. Ia berjalan menuju halaman belakang rumah nya untuk memeriksa suara yang mengganggunya dari semalam. Ia penasaran apakah ada sesuatu. Sena membuka pintu belakang rumah nya dan segera berjalan ke halaman. Seperti semalam, ia tak menemukan apa-apa, padahal ia mendengar suara itu dengan sangat jelas. Suara seperti ada yang menghantam dinding rumahnya. Tiba-tiba suara kasak-kusuk terdengar dari samping rumahnya. Sena membulatkan keberanian untuk memeriksanya. Tak lupa ia meraih sapu halaman untuk berjaga-jaga. Beberapa kali sena menelan saliva nya sambil terus berjalan pelan. Ia menebak-nebak apa yang akan ia lihat.
"Mati kau! Pencuri!". Sena memantapkan dirinya dan memukul-mukul sembarangan setelah ia berhasil mencapai samping rumahnya dengan mata terpejam. Namun tak ada suara apa-apa. Jika itu benar pencuri seharusnya ia berteriak kesakitan saat dipukuli oleh Sena, jikapun itu hewan pasti juga akan bersuara.
Merasa aneh, Sena perlahan membuka matanya. Ia yakin gagang sapu yang ia gunakan ini menyentuh sesuatu.
Mata sena mendelik kaget, bibirnya terbuka kala melihat sosok yang ada didepannya saat ini. Bibirnya kelu untuk berteriak seolah suaranya tertahan di tenggorokan.
Sosok manusia bersayap hitam yang tengah meringkuk itu terlihat berusaha menghindari Sena, namun sepertinya ia tak bisa bergerak. Sena masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Siapa dia?, Apakah dia malaikat bersayap? Atau kah dia iblis seperti yang ada di film-film?. Tidak, Sena pasti sedang bermimpi. Sena mencubit pipinya sendiri dan menamparnya sesekali, sial ia tidak terbangun. Jadi ini bukan mimpi.
"Kau bisa melihatku?" Sosok itu berbicara. Sena malah tambah lebar membuka bibirnya seolah tak percaya.
"K-ka-kau...bisa berbicara". Sena menodongkan gagang sapu ke arah sosok itu seraya melangkah kebelakang beberapa langkah.
Sosok itu tiba-tiba bangkit membuat Sena ekstra siaga dengan kuda-kuda payahnya itu namun tak berani menyerang duluan, gagang sapu masih tertuju pada sosok itu.
Sayap hitamnya terlihat lusuh dan sangat kacau, terdapat guratan di pipi kanannya serta darah yang sudah mengering di sudut bibirnya. Persetan soal itu, Sena tidak mau tau dari mana mahkluk ini datang, ia hanya sedang menebak-nebak apakah mahkluk ini jahat
"S-siapa kau, dari mana kau datang". Tergagap-gagap Sena berusaha mengeluarkan suara.
Sosok itu tak menjawab. Sebaliknya ia mendekat pada Sena yang membuat gadis itu semakin takut tak karuan. Sena tak tau harus berbuat apa, kakinya seolah tak ingin diajak berlari, seluruh tubuhnya terasa kaku hingga akhirnya ia terjatuh, sekitarnya tampak kabur dimatanya, dan akhirnya berubah menjadi gelap. Sena jatuh pingsan.
"Lilith Rachet..."
Sena terbangun setelah mendengar suara yang berasal dari mimpinya. Lagi, suara aneh yang tidak ia kenali selalu muncul di mimpinya.
Kepala Sena terasa pusing, tubuhnya terasa sangat dingin. Ia memincingkan matanya yang belum terbuka sepenuhnya. Ia heran mengapa udara terasa sangat dingin menembus kamarnya. Tiba-tiba ia tersentak karena mendapati dirinya yang masih berada di halaman belakang rumah. Tak heran mengapa ia merasa sangat dingin, bahkan hari sudah gelap sekarang. Astaga, sudah berapa lama ia tertidur.
Sena baru ingat sekarang, ia pingsan setelah melihat mahkluk aneh yang ada di samping rumahnya. Sena kemudian berlari kecil masuk ke dalam rumahnya dan berusaha melupakan kejadian aneh yang ia alami sore ini. Ia melirik jam dinding yang terpajang saat ia sudah mencapai ruang tengah. Pukul 8 malam. Yang benar saja! Sena tertidur diluar selama 3 jam.
Sena masuk ke kamarnya dan segera membersihkan diri. Bayangan sosok yang baru saja ia lihat sore ini terus melintas di pikirannya. Ia bertanya-tanya siapa sosok itu sebenarnya, mengapa bisa sampai ada di sini, dari mana ia berasal, dan apa tujuannya datang ke dunia ini jika memang benar sosok itu datang dari dunia lain.
Jika diingat-ingat kembali, sosok itu terlihat sangat terluka. Sena bisa melihat kekacauan yang sudah terjadi pada tubuh sosok itu. Mulai dari sayapnya yang lusuh dan beberapa guratan luka diwajahnya. Sena melihat wajah sosok itu dengan jelas, dia terlihat seperti manusia biasa, namun bersayap.
Apa benar dia adalah malaikat atau iblis seperti yang ada di film-film?. Atau hanya orang yang iseng memakai kostum seperti itu?. Tapi ini bukan Halloween. Sena menjadi penasaran apakah yang ia lihat bukan hanya sekedar halusinasinya atau memang kenyataan.
Trap!
Lampu kamar sudah dimatikan. Sena berusaha tidur melupakan segalanya. Ia perlu bekerja besok, anggap saja ini terjadi karena ia kelelahan lalu berhalusinasi.
__ADS_1